Hadits Bukhari Tentang Mengurus Jenazah

bangpro.xyz — Kumpulan Hadits Shahih Imam Al-Bukhari Tentang Cara Mengurus Jenazah / Mayat.

HaditsShahih Al-Bukhari
KitabJenazah
TentangMengurus Jenazah
Nomor1175 - 1199
No. VersiFathul Bari


Mamandikan Mayat dan Mewudhukannya dengan Air Yang Dicampur dengan Daun Bidara
dari Ummu 'Athiyyah seorang wanita Anshar radliallahu 'anha berkata:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menemui kami saat kematian puteri kami, lalu bersabda:

"Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis. Dan bila kalian telah selesai beritahu aku".

Ketika kami telah selesai kami memberi tahu Beliau. Maka kemudian Beliau memberikan kain Beliau kepada kami seraya berkata: "Pakaikanlah ini kepadanya".
Maksudnya pakaian Beliau.
(Hadits Bukhari No. 1175)

Disunnahkan Ketika Memandikan Mayat Menguyurnya dengan Bilangan Ganjil
dari Ayyub dari Muhammad dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha berkata:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menemui kami ketika kami akan memandikan puteri. Beliau lalu bersabda:

"Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian). Dan bila kalian telah selesai beritahu aku".

Ketika kami telah selesai kami memberi tahu Beliau. Maka kemudian Beliau memberikan kain Beliau kepada kami seraya berkata: "Pakaikanlah ini kepadanya".

Berkata, Ayyub telah menceritakan kepada saya Hafshah seperti hadits Muhammad ini dimana pada hadits Hafshah berbunyi: "Mandikanlah dengan siraman air berjumlah ganjil".

Pada hadits itu juga ada disebutkan: "Tiga, lima atau tujuh kali siraman".

Dan juga didalamnya ada berbunyi: "Mulailah dengan anggota badan yang kanan dan badan anggota wudhu".

Pada hadits itu juga ada disebutkan bahwa Ummu 'Athiyyah berkata: "Kami menyisir rambut puteri Beliau dengan tiga kepang".
(Hadits Bukhari No. 1176)

Dalam Memandikan Mayat, Hendaknya Memulainya dari Anggota Badan Yang Kanan
dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anhu berkata;

Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika pemandian puteri Beliau yang meninggal dunia: "Mulailah dengan anggota badan yang kanan dan anggota wudhu dari badan".
(Hadits Bukhari No. 1177)

Mendahulukan Anggota Badan Wudhu
dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anhu berkata;

Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkenaan pemandian puteri Beliau yang meninggal dunia: "Mulailah dengan anggota badan yang kanan dan anggota wudhu' dari badan".
(Hadits Bukhari No. 1178)

Bolehkah Mayat Wanita Dikafani Dengan Kain Sarung Laki-laki
dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anhu berkata:

Ketika puteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam wafat Beliau berkata, kepada kami:

"Mandikanlah ia (dengan mengguyurkan air) tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan bila kalian telah selesai beritahu aku".

Ketika kami telah selesai kami memberi tahu Beliau. Maka kemudian Beliau memberikan kain Beliau kepada kami seraya berkata: "Pakaikanlah ini kepadanya".
(Hadits Bukhari No. 1179)

Menjadikan Air Yang Dicampur Kapur Barus Sebagai Air Guyuran Terakhir
dari Muhammad dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha berkata:

Ketika salah satu puteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam wafat, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar seraya berkata:

"Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis dari kapur barus (kamper). Dan bila kalian telah selesai beritahu aku".

Berkata, Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha: Ketika kami telah selesai, kami memberi tahu Beliau, kemudian Beliau memberikan kain, Beliau kepada kami seraya berkata: "Pakaikanlah ini kepadanya".

Dan dari Ayyub dari Hafshah dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha dan dia berkata, bahwa Beliau bersabda: "Mandikanlah ia tiga kali, lima kali, tujuh kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu ".

Berkata Hafshah, telah berkata Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha: "Kami kepang rambut kepala puteri Beliau dengan tiga kepang".
(Hadits Bukhari No. 1180)

Menyisir Rambut Mayat Wanita
Hafshah binti Sirin berkata, telah menceritakan kepada kami Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha;

"Bahwa mereka menjadikan (rambut) puteri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiga ikatan kemudian mereka melepaskannya lalu aku membasuhnya kemudian mereka jadikan kembali menjadi tiga ikatan (kepang) ".
(Hadits Bukhari No. 1181)

Bagaimana Cara Membungkus (mengkafani) Mayat
telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij bahwa Ayyub yang mengabarkan kepadanya berkata; Aku mendengar Ibnu Sirin berkata:

Telah datang Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha seorang diantara wanita Anshar yang pernah berbai'at kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sekembalinya dari Bashrah untuk menemui anaknya disana, namun dia tidak menemukannya lalu dia menceritakan kepada kami, katanya: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menemui kami saat kami sedang memandikan putri Beliau yang wafat lalu berkata:

"Mandikanlah ia dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus dan bila kalian telah selesai beritahu aku".

Berkata, Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha: "Ketika kami telah selesai, Beliau kemudian memberikan kain Beliau kepada kami seraya berkata: ˝Pakaikanlah ini kepadanya˝.
Dan Beliau tidak memerintahkan lebih dari itu dan aku sendiri sudah tidak ingat puteri Beliau mana yang meninggal saat itu".

Ayyub berpendapat memakaikan kain maksudnya adalah menutupi seluruh badan mayat perempuan.

Dan begitu juga bahwa Ibnu Sirin memerintahkan agar untuk jenazah perempuan ditutupi seluruh bagian badannya bukan hanya bagian bawahnya
(Hadits Bukhari No. 1182)

Apakah Rambut Mayat Wanita Harus Dikepang Tiga?
Telah menceritakan kepada kami Qabishah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam dari Ummu Al Hudzail dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha berkata:

"Kami menjalin (rambut) kepala putri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjadi tiga ikatan (kepang) ".

Berkata, Waki' berkata, Sufyan: "Diikat kepang dan diketakkan di belakangnya".
(Hadits Bukhari No. 1183)

Meletakkan Kepangan Rambut Mayat Wanita Ke Belakang
dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha berkata:

Ketika salah satu puteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam wafat, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi kami seraya berkata:

"Mandikanlah menggunakan daun bidara dengan ganjil, tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis dari kapur barus (kamper). Dan bila kalian telah selesai beritahu aku".

Ketika kami telah selesai, kami memberi tahu Beliau, kemudian Beliau memberikan kain Beliau kepada kami. Maka kami menyisir (dan menguraikan lalu mengepangnya) rambut kepalanya menjadi tiga kepang dan kami letakkan di belakangnya.
(Hadits Bukhari No. 1184)

Kain Berwarna Putih Untuk Kain Kafan
dari 'Aisyah radliallahu 'anha

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (ketika wafat) dikafani jasadnya dengan tiga helai kain yang sangat putih terbuat dari katun dari negeri Yaman dan tidak dikenakan padanya baju dan serban (tutup kepala)."
(Hadits Bukhari No. 1185)

Mengkafani Dengan Dua Potong Kain
Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu'man telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhum berkata;

"Ada seorang laki-laki ketika sedang wukuf di 'Arafah terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga ia terinjak"

atau dia Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Hingga orang itu mati seketika".

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (serban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah".
(Hadits Bukhari No. 1186)

Memberi Wangi-Wangian Pada Mayat
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayyub dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata;

"Ada seorang laki-laki yang sedang wukuf di 'Arafah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu dia terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga ia terinjak"

atau dia Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Hingga orang itu mati seketika".

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepalanya (serban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah".
(Hadits Bukhari No. 1187)

Bagaimana Cara Mengkafani Orang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Sedang Ihram?
dari Abu Bisyir dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas Ram;

Bahwa ada seorang laki-laki yang sedang berihram dijatuhkan oleh untanya yang saat itu kami sedang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (serban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah".
(Hadits Bukhari No. 1188)

Bagaimana Cara Mengkafani Orang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Sedang Ihram?
dari 'Amru dan Ayyub dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu berkata;

"Ada seorang laki-laki ketika sedang wukuf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di 'Arafah terjatuh dari hewan tunggangannya".

Berkata, Ayyub: "Maka hewannya itu mematahkan lehernya".
Dan berkata, 'Amru: "Maka hewannya itu menginjaknya".
Lalu orang itu meninggal. Sehingga ia terinjak"
atau dia Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Hingga orang itu mati seketika".

Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (serban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat…

Menurut Ayyub berkata: "sedang membaca talbiyyah".
Dan menurut 'Amru: "sebagai orang yang bertalbiyyah".
(Hadits Bukhari No. 1189)

Mengkafani Dengan Baju Gamis Yang Dijahit atau Tidak
dari Ibnu'Umar radliallahu 'anhuma

bahwa ketika 'Abdullah bin Ubay wafat, anaknya datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Berikanlah kepadaku baju anda untuk aku gunakan mengafani (ayahku) dan shalatlah untuknya serta mohonkanlah ampunan baginya".

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberikan bajunya kepadanya lalu berkata: "izinkanlah aku untuk menshalatkannya".

Ketika Beliau hendak menshalatkannya tiba-tiba 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu datang menarik Beliau seraya berkata: "Bukankah Allah telah melarang anda untuk menshalatkan orang munafiq?"

Maka Beliau bersabda: "Aku berada pada dua pilihan dari firman Allah Ta'ala (QS. At-Taubah ayat 80, yang artinya): ˝Kamu mohonkan ampun buat mereka atau kamu tidak mohonkan ampun buat mereka (sama saja bagi mereka). Sekalipun kamu memohonkan ampun buat mereka sebanyak tujuh puluh kali, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka˝."

Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menshalatkannya. Lalu turunlah ayat: (QS. At-Taubah ayat 84 yang artinya): "Janganlah kamu shalatkan seorangpun yang mati dari mereka selamanya dan janganlah kamu berdiri di atas kuburannya".
(Hadits Bukhari No. 1190)

Mengkafani Dengan Baju Gamis Yang Dijahit atau Tidak
Jabir radliallahu 'anhu berkata:

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi (jenazah) 'Abdullah bin Ubay setelah dimasukkan dalam kubur lalu Beliau mengeluarkannya, memberkahi dengan ludahnya dan memakaikan dengan baju Beliau kepadanya".
(Hadits Bukhari No. 1191)

Kain Kafan Tanpa Baju
dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata:

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (ketika wafat) dikafani jasadnya dengan tiga helai kain yang sangat putih terbuat dari katun dan tidak dikenakan padanya baju dan serban (tutup kepala)."
(Hadits Bukhari No. 1192)

Kain Kafan Tanpa Baju
dari 'Aisyah radliallahu 'anha

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (ketika wafat) dikafani jasadnya dengan tiga helai kain dan tidak dikenakan padanya baju dan serban (tutup kepala)."
(Hadits Bukhari No. 1193)

Kain Kafan Tanpa Sorban
dari 'Aisyah radliallahu 'anha

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (ketika wafat) dikafani jasadnya dengan tiga helai kain yang sangat putih terbuat dari katun dan tidak dikenakan padanya baju dan serban (tutup kepala)."
(Hadits Bukhari No. 1194)

Membeli Kain Kafan dengan Harta Peninggalan Mayat
dari Saad dari bapaknya ia berkata;

"Pada suatu hari 'Abdurrahman bin 'Auf dihidangkan makanan kepadanya, lalu ia berkata, Mus'ab bin Umair telah terbunuh. Ia adalah orang yang lebih baik dariku, namun saat (hendak dikafani) tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali hanyalah burdah (kain bergaris).

Dan Hamzah terbunuh atau orang lain yang lebih baik dariku lalu tidak ada kain yang bisa dijadikan kafan untuknya kecuali burdah.

Aku khawatir jika kebaikan-kebakan kita disegerakan didunia ini. Lalu ia mulai menangis."
(Hadits Bukhari No. 1195)

Jika Tidak Ada Kain Kafan Kecuali Sehelai Kain
dari Sa'ad bin Ibrahim dari bapaknya Ibrahim bahwa;

Pada suatu hari 'Abdurrahman bin 'Auf dihidangkan makanan kepadanya saat itu ia sedang berpuasa. Lalu ia berkata, Mus'ab bin Umair telah terbunuh.

Ia adalah orang yang lebih baik dariku, namun saat (hendak dikafani) tidak ada kain kafan yang bisa membungkusnya kecuali hanyalah burdah (kain bergaris) yang apabila kepalanya akan ditutup, kakinya terbuka (karena kain yang pendek) dan bila kakinya yang hendak ditutup kepalanyalah yang terbuka.

Dan aku melihat dia berkata, pula; "Hamzah pun atau orang lain yang lebih baik dariku telah terbunuh. Kemudian setelah itu dunia telah dibukakan buat kami atau katanya kami telah diberi kenikmatan dunia dan sungguh kami khawatir bila kebaikan-kebaikan kami disegerakan balasannya buat kami (berupa kenikmatan dunia)."

Lalu ia pun mulai menangis.
(Hadits Bukhari No. 1196)

Jika Tidak Ada Kain Kafan Kecuali Sehelai Kain Yang Hanya Dapat Menutupi Kepala atau Kaki Mayat, Maka Yang Ditutup Adalah Kepalanya
Khabab radliallahu 'anhu berkata;

"Kami berhijrah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan hanya mengharapkan ridha Allah dan kami telah mendapatkan pahala di sisi Allah. Lalu diantara kami ada yang meninggal lebih dahulu sebelum menikmati pahalanya sedikitpun (di dunia ini), diantaranya adalah Mus'ab bin Umair.

Dan diantara kami ada yang buah (perjuangannya) sudah masak lalu dia memetiknya dengan terbunuh sebagai syahid di medan Perang Uhud namun kami tidak mendapatkan kain untuk mengafaninya kecuali burdah (kain bergaris) yang kain tersebut bila kami gunakan untuk menutup kepalanya, kakinya terbuka dan bila kakinya yang hendak kami tutup kepalanyalah yang terbuka.

Maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menutup kepalanya dengan kain tersebut sedangkan kakinya kami tutup dengan dedaunan".
(Hadits Bukhari No. 1197)

Orang Yang Mempersiapkan Kain Untuk Kafan di Zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam dan Beliau Tidak Mengingkarinya
dari Sahal radliallahu 'anhu

bahwa ada seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan membawa burdah yang pinggirnya berjahit.

(Sahal) berkata; "Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan burdah?"
Mereka menjawab: "Bukankah itu kain selimut?"
Dia berkata: "Ya benar".

Wanita itu berkata: "Aku menjahitnya dengan tanganku sendiri, dan aku datang untuk memakaikannya kepada anda".

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengambilnya karena Beliau memerlukannya. Kemudian Beliau menemui kami dengan mengenakan kain tersebut. Diantara kami ada seseorang yang tertarik dengan kain tersebut lalu berkata: "Alangkah bagusnya kain ini".

Orang-orang berkata, kepada orang itu: "Mengapa kamu memuji apa yang dipakai oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu kamu memintanya padahal kamu tahu bahwa Beliau tidak akan menolak (permintaan orang).

Orang itu menjawab: "Demi Allah, sungguh aku tidak memintanya untuk aku pakai. Sesungguhnya aku memintanya untuk aku jadikan sebagai kain kafanku".

Sahal berkata: "Akhirnya memang kain itu yang jadi kain kafannya".
(Hadits Bukhari No. 1198)

Larangan Mengantar Jenazah Bagi Wanita
dari Ummu 'Athiyyah radliallahu 'anha berkata:

"Kami dilarang mengantar jenazah namun Beliau tidak menekankan hal tersebut kepada kami".
(Hadits Bukhari No. 1199)

« Menangisi Mayit
Tentang Kematian »

Semua Hadits Shahih Bukhari Imam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama