Hadits Bukhari Tentang Haji dan Umroh

bangpro.xyz — Kumpulan Hadits Shahih Imam Al-Bukhari Tentang Haji dan Umroh.

HaditsShahih Al-Bukhari
KitabHaji
TentangHaji dan Umroh
Nomor1417 - 1469
No. VersiFathul Bari


Kewajiban haji dan keutamaannya
dari 'Abdullah bin 'Abbas radliallahu 'anhu berkata:

Suatu saat Al Fadhal membonceng di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu datang seorang wanita dari suku Khasy'am yang membuat Al Fadhal memandang kepada wanita tersebut. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memalingkan wajah Al Fadhal ke arah yang lain.

Wanita itu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah untuk berhaji bagi hamba-hamba-Nya datang saat bapakku sudah tua renta dan dia tidak akan kuat menempuh perjalanannya. Apakah aku boleh menghajikan atas namanya?".

Beliau menjawab: "Boleh".

Peristiwa ini terjadi ketika haji wada' (perpisahan).
(Hadits Bukhari No. 1417)

Firman Allah "...niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh…"
Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata;

"Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menunggang hewan tunggangannya di Dzul Hulaifah kemudian Beliau bertalbiyyah (memulia niat haji) ketika tunggangannya itu berdiri tegak".
(Hadits Bukhari No. 1418)

Firman Allah "...niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh…"
dari Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anhua:

"Sesungguhnya awal dimulainya haji (dengan niat dan bertalbiyah) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dimulai dari Dzul Hulaifah ketika tunggangannya itu sudah berdiri tegak".

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas dan Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhum.
(Hadits Bukhari No. 1419)

Berhaji dengan kendaraan
dari Tsumamah bin 'Abdullah bin Anas berkata:

"Anas berhaji dengan menunggang kendaraannya dan ketika itu ia bukanlah seorang yang kikir. Ia juga menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhaji mengendarai tunggangannya yang membawa perbekalannya."
(Hadits Bukhari No. 1420)

Berhaji dengan kendaraan
dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa dia berkata:

"Wahai Rasulullah, Kalian sudah ber'umrah sedangkan aku belum".

Maka Beliau berkata: "Wahai 'Abdurrahman, pergilah bersama saudaramu ini dan ber'umrahlah dari Tan'im".

Maka dia ('Abdurrahman) menaikkan 'Aisyah radliallahu 'anha ke atas untanya kemudian 'Aisyah radliallahu 'anha melaksanakan 'umrah.
(Hadits Bukhari No. 1421)

Keutamaan haji yang mabrur
dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata;

Ditanyakan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: "'Amal apakah yang paling utama?".
Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan rasul-Nya".

Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa?"
Beliau menjawab: "Al Jihad fii sabiilillah".

Kemudian ditanya lagi: "Kemudian apa lagi?"
Beliau menjawab: "Hajji mabrur".
(Hadits Bukhari No. 1422)

Keutamaan haji yang mabrur
dari 'Aisyah Ummul Mukminin radliallahu 'anha ia berkata:

"Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah sebaik-baiknya amal, maka apakah kami tidak boleh berjihad?".

Beliau bersabda: "Tidak, namun sebaik-baik jihad bagi kalian (para wanita) adalah haji mabrur".
(Hadits Bukhari No. 1423)

Keutamaan haji yang mabrur
Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa melaksanakan haji lalu dia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik maka dia kembali seperti hari saat dilahirkan oleh ibunya".
(Hadits Bukhari No. 1424)

Miqat-miqat haji
telah menceritakan kepada saya Zaid bin Jubair

bahwa dia menemui 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anha di tempat menginapnya berupa tenda yang besar lagi tertutup rapat. Maka aku bertanya kepadanya: "Dari manakah dibolehkan memulai 'umrah?".

Dia menjawab: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mewajibkan bahwa untuk penduduk Najed memulainya dari Qarnul Manazil, bagi penduduk Madinah dari Dzul Hulaifah dan bagi penduduk Syam dari Al Juhfah".
(Hadits Bukhari No. 1425)

Firman Allah "...Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…"
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma ia berkata;

Dahulu para penduduk Yaman berhaji namun mereka tidak membawa bekal dan mereka berkata, kami adalah orang-orang yang bertawakal. Ketika mereka tiba di Makkah, mereka meminta-minta kepada manusia.

Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat 197 dari QS Al Baqarah) yang artinya ("Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa".)
(Hadits Bukhari No. 1426)

Talbiyah penduduk Makkah untuk haji dan umrah
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata:

"Nabi Shallallahu'alaihiwasallam menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al Juhfah, bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam.

Itulah ketentuan masing-masing bagi setiap penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi mereka yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut bila melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk haji dan 'umrah.

Sedangkan bagi orang-orang selain itu (yang tinggal lebih dekat ke Makkah dari pada tempat-tempat itu), maka dia memulai dari kediamannya, dan bagi penduduk Makkah, mereka memulainya dari (rumah mereka) di Makkah".
(Hadits Bukhari No. 1427)

Miqat penduduk Madinah, dan mereka tidak membaca talbiyah sebelum Dzul Hulaifah
dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhua bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Bagi penduduk Madinah bertalbiyah (memulai haji) di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam bertalbiyah di Al Juhfah, bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil".

Berkata, 'Abdullah; telah sampai berita kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda: "Dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam".
(Hadits Bukhari No. 1428)

Miqat penduduk Syam
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata:

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al Juhfah, bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam.

Itulah ketentuan masing-masing bagi setiap penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut bila datang melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk haji dan 'umrah.

Sedangkan bagi orang-orang selain itu, maka mereka memulai dari tempat tinggalnya (keluarga) dan begitulah ketentuannya sehingga bagi penduduk Makkah, mereka memulainya (bertalbiah) dari (rumah mereka) di Makkah".
(Hadits Bukhari No. 1429)

Miqat penduduk Najed
dari Salim bin 'Abdullah dari bapaknya radliallahu 'anhu; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tempat memulai haji (bertalbiyah) bagi penduduk Madinah adalah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam bertalbiyah di Mahya'ah yaitu Al Juhfah, bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil".

Berkata, Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma; Orang-orang menganggap bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda sedangkan aku tidak mendengarnya langsung: "Dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam".
(Hadits Bukhari No. 1430)

Miqat bagi orang yang ada dalam garis miqat
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata:

"Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al Juhfah, bagi penduduk Yaman di Yalamlam dan bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil.

Itulah ketentuan masing-masing bagi setiap penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut bila datang melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk haji dan 'umrah.

Sedangkan bagi orang-orang selain itu, maka mereka memulai dari tempat tinggalnya (keluarga) dan begitulah ketentuannya sehingga bagi penduduk Makkah, mereka memulainya (bertalbiyah) dari (rumah mereka) di Makkah".
(Hadits Bukhari No. 1431)

Miqat penduduk Yaman
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkan miqat bagi penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, bagi penduduk Syam di Al Juhfah, bagi penduduk Najed di Qarnul Manazil dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam.

Tempat-tempat itu bagi masing-masing penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi mereka melewati tempat-tempat tersebut dan berniat untuk haji dan 'umrah.

Sedangkan bagi orang-orang selain itu, maka dia memulai dari kediamannya sehingga bagi penduduk Makkah, mereka memulainya (bertalbiyah) dari (rumah mereka) di Makkah".
(Hadits Bukhari No. 1432)

Miqat penduduk Irak dari Dzatu Irqin
dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata:

Ketika negeri Mesir telah ditaklukan, penduduknya datang menghadap 'Umar lalu mereka berkata: "Wahai Amirul Mukminin, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkan batas miqat bagi penduduk Nejd di Qarnul Manazil, dan itu sangat jauh bila dilihat dari jalan kami, dan bila kami ingin menempuh ke sana sangat memberatkan kami".

Maka dia ('Umar) berkata: "Perhatikanlah batas sejajarnya dari jalan kalian".

Lalu dia menetapkan miqat mereka di Dzatu 'Irqin.
(Hadits Bukhari No. 1433)

Miqat penduduk Irak dari Dzatu Irqin
dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhua

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam singgah di Bathha' di daerah Dzul Hulaifah lalu Beliau shalat disitu.

Dan 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhua juga melakukannya seperti itu.
(Hadits Bukhari No. 1434)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam keluar melewati Thariq Syajarah
dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhua

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah keluar (dari Madinah) melalui jalur Asy-Syajarah dan memasuki (Ka'bah) melalui jalur Al Mu'arras.

Dan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika keluar menuju Makkah, Beliau shalat di masjid Asy-Syajarah dan jika kembali Beliau shalat di Dzul Hulaifah di dasar lembah dan bermalam disana hingga shubuh.
(Hadits Bukhari No. 1435)

al Aqiq adalah lembah yang diberkahi
'Umar radliallahu 'anhu berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika berada di lembah Al 'Aqiq:

"Malaikat yang diutus oleh Rabbku datang kepadaku dan berkata: ˝Shalatlah di lembah yang penuh barakah ini dan katakanlah: Aku berniat melaksanakan 'umrah dalam 'ibadah haji ini˝."
(Hadits Bukhari No. 1436)

al Aqiq adalah lembah yang diberkahi
Salim bin 'Abdullah dari bapaknya radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

"Diperlihatkan kepada Beliau ketika Beliau singgah untuk beristirahat di Dzul Hulaifah di dasar lembah dan dikatakan kepada Beliau; ˝Sesungguhnya kamu sekarang sedang berada di Bathha' yang penuh berkah˝."

Saat itu Salim beristirahat bersama kami di tempat singgahnya 'Abdullah ketika sedang mencari tempat singgah yang tepat untuk peristirahatan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, yaitu pada posisi bawah dari masjid yang ada di dasar lembah itu. Yang letaknya berada di tengah antara mereka dan jalan yang mereka lalui.
(Hadits Bukhari No. 1437)

Memakai wewangian sebelum ihram dan apa yang dikenakan jika ingin ihram
dari Sa'id bin Jubair berkata;

Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma pernah meminyaki rambutnya dengan wewangian (saat berihram) lalu hal ini aku ceritaklan kepada Ibrahim.

Maka dia berkata: "Bagaimana pendapatmu dengan apa yang disampaikannya; telah menceritakan kepada saya Al Aswad dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata; ˝Seakan aku melihat kilau minyak wangi pada bagian rambut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat Beliau sedang berihram˝."
(Hadits Bukhari No. 1438)

Memakai wewangian sebelum ihram dan apa yang dikenakan jika ingin ihram
dari 'Aisyah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

"Aku pernah memakaikan wewangian kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk ihramnya saat Beliau berihram dan untuk hilalnya (tahallulnya) sebelum thawaf mengelilingi Ka'bah di Baitullah".
(Hadits Bukhari No. 1439)

Mengucapkan talbiyah dengan mengkucir rambut
dari Salim dari bapaknya radliallahu 'anhu berkata;

"Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca talbiyyah (saat memulai ihram) dalam keadaan merekatkan rambutnya".
(Hadits Bukhari No. 1440)

Talbiyah dari masjid Dzul Hulaifah
dari Salim bin 'Abdullah bahwa dia mendengar bapaknya berkata:

"Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memulai ihram (bertalbiyah) melainkan dari masjid yaitu masjid yang ada di Dzul Hulaifah".
(Hadits Bukhari No. 1441)

Pakaian yang tidak boleh dikenakan oleh orang yang ihram
dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhua

bahwa ada seorang laki-laki berkata, kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam: "Pakaian apa yang harus dikenakan oleh seorang muhrim (yang sedang berihram)?."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Dia tidak boleh mengenakan baju, topi (sorban), celana, mantel kecuali sesorang yang tidak memiliki sandal, dia boleh mengenakan sapatu tapi dipotongnya hingga berada dibawah mata kaki dan tidak boleh pula memakai pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan".
(Hadits Bukhari No. 1442)

Mengendarai dan membonceng kendaraan saat berhaji
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma

bahwa Usamah radliallahu 'anhu pernah berboncengan dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari 'Arafah hingga ke Al Muzdalifah, kemudian Beliau membonceng Al Fadhal dari Al Muzdalifah hingga ke Mina.

Dia berkata; Pada kedua perjalanan itu senantiasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertalbiyyah hingga Beliau melempar jumrah Al 'Aqabah.
(Hadits Bukhari No. 1443)

Pakaian yang dikenakan oleh orang yang ihram
dari 'Abdullah bin 'Abbas RAa berkata:

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berangkat dari Madinah setelah Beliau menyisir rambutnya dan memolesnya dengan minyak zaitun. Dan Beliau mengenakan baju dan rida'nya, begitu juga para sahabat Beliau. Beliau tidak melarang apapun mengenai rida' (selendang panjang) dan baju untuk dipakai kecuali minyak wangi (za'faran) yang masih tersisa pada kulit badan.

Ketika paginya berada di Dzul Hulaifah, Beliau berangkat dengan mengendarai tunggangannya hingga sampai di padang sahara saat siang hari. Maka disitulah Beliau memulai ihram dengan bertalbiyyah begitu juga para sahabatnya. Lalu Beliau menandai hewan qurbannya. Ini terjadi pada lima hari terakhir dari bulan Dzul Qa'dah.

Lalu Beliau sampai di Makkah pada malam keempat dari bulan Dzul Hijjah lalu Beliau melaksanakan thowaf di Baitulloh, lalu sa'i antara bukit Shafaa dan Marwah dan Beliau belum lagi bertahallul karena Beliau membawa hewan qurban yang telah ditandainya. Kemudian Beliau singgah di tempat yang tinggi di kota Makkah di Al Hajjun, yang dari tempat itu Beliau berniat memulai haji.

Beliau tidak mendekati Ka'bah setelah melaksanakan thowafnya disana hingga Beliau kembali dari 'Arafah lalu Beliau memerintahkan para sahabatnya agar melaksanakan thowaf di Baitulloh dan sa'iy antara bukit Shafaa dan Marwah kemudian memerintahkan pula agar mereka memotong rambut mereka lalu bertahallul. Ketentuan ini berlaku bagi mereka yang tidak membawa hewan sembelihan (qurban).

Maka barangsiapa yang ada isterinya bersamanya, isterinya itu halal baginya begitu juga memakai wewangian dan pakaian (baju)."
(Hadits Bukhari No. 1444)

Orang yang bermalam di Dzul Hulaifah hingga subuh
dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata;

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat di Madinah empat raka'at dan di Dzul Hulaifah dua raka'at kemudian bermalam di Dzul Hulaifah sampai pagi. Ketika Beliau berangkat dengan tunggangannya dan sampai siang hari, Beliau memulai ihram".
(Hadits Bukhari No. 1445)

Orang yang bermalam di Dzul Hulaifah hingga subuh
dari Abu Qalabah dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur di Madinah empat raka'at dan shalat 'Ashar di Dzul Hulaifah dua raka'at.

Dia (Abu Qalabah) berkata: "Aku menduga dia berkata; Beliau Shallallahu'alaihiwasallam bermalam disana hingga pagi".
(Hadits Bukhari No. 1446)

Mengeraskan suara saat talbiyah
dari Anas radliallahu 'anhu berkata;

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur di Madinah empat raka'at dan shalat 'Ashar di Dzul Hulaifah dua raka'at. Dan aku mendengar mereka melakukan talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya (haji dan 'umrah)."
(Hadits Bukhari No. 1447)

Talbiyah
dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhu

bahwa cara talbiyah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah:

"Labbaikallahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk. Laa syariika lak".

("Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat milik-MU begitu pula kerajaan. Tidak ada sekutu bagi-Mu").
(Hadits Bukhari No. 1448)

Talbiyah
dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata;

Sungguh aku mengetahui bagaimana cara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertalbiyah: bahwa cara talbiyah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah:

"Labbaikallahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata ".

("Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat milik-Mu").
(Hadits Bukhari No. 1449)

Tahmid, tasbih dan takbir dengan mengendarai sebelum talbiyah
dari Anas radliallahu 'anhu berkata;

Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur, sedangkan kami bersama Beliau, di Madinah empat raka'at dan shalat 'Ashar di Dzul Hulaifah dua raka'at. Kemudian Beliau Shallallahu'alaihiwasallam bermalam disana hingga pagi.

Kemudian mengendara tunggangannya hingga siang hari saat tiba di padang sahara lalu Beliau memuji Allah, bertasbih dan bertakbir kemudian berihram (berniat) haji dan 'umrah begitu juga orang-orang ikut berihram. Ketika kami telah tiba (di Makkah), Beliau memerintahkan orang-orang agar bertahallul hingga tiba hari tarwiah (tanggal 8 Dzul Hijjah), orang-orang berihram untuk niat haji.

Anas radliallahu 'anhu berkata: "Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkurban dua ekor sapi dengan tangan Beliau sendiri sambil berdiri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga menyembelih dua ekor kambing yang gemuk".
(Hadits Bukhari No. 1450)

Membaca talbiyah ketika kendaraan telah berjalan
dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma berkata;

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berihram ketika hewan tunggangannya sedang berdiri tegak".
(Hadits Bukhari No. 1451)

Membaca talbiyah dengan menghadap kiblat
dari Nafi' berkata;

Adalah Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma apabila hendak keluar menuju Makkah (untuk berhaji) dia memakai pakaian yang tidak menggunakan wewangian kemudian memasuki masjid Dzul Halaifah lalu shalat kemudian menaiki tunggangannya.

Dan apabila tunggangannya sudah berdiri tegak dia memulai ihram kemudian berkata: "Beginilah aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakannya" (memulai ihram untuk haji).
(Hadits Bukhari No. 1452)

Membaca talbiyah saat turun memasuki lembah
dari Mujahid berkata;

Kami pernah bersama Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma lalu orang-orang menyebut tentang Dajjal bahwasanya Beliau Shallallahu'alaihiwasallam menceritakan bahwa diantara kedua mata ad-Dajjal tertulis kata "kafir".

Maka Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Aku belum pernah mendengarnya. Akan tetapi Beliau bersabda: ˝Adapun Musa Alaihissalam seolah aku melihatnya ketika menuruni lembah dia bertalbiyah˝."
(Hadits Bukhari No. 1453)

Bagaimana orang yang haid dan nifas membaca talbiyah
dari 'Aisyah radliallahu 'anha, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

Kami keluar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat haji wada' lalu kami berihram untuk 'umrah. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian berkata:

"Barangsiapa yang membawa hewan sembelihan hendaklah dia berihram untuk haji sekaligus 'umrah kemudian dia tidak bertahallul hingga bertahallul untuk keduanya (haji dan 'umrah)".

Maka aku tiba di Makkah sedang aku dalam keadaan mengalami haid sehinga aku tidak melakukan thowaf di Baitulloh dan juga tidak melakuka sa'iy antara bukit Ash-Shafa dan Al Marwah. Lalu aku adukan kondisiku itu kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam.

Maka Beliau bersabda: "Uraikanlah rambutmu dan sisirlah dan berihramlah untuk haji dan tinggalkan 'umrah".

Maka kemudian aku laksanakan. Setelah kami selesai menunaikan manasik haji, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutusku bersama 'Abdurrahman bin Abu Bakar menuju Tan'im yang dari tempat itu aku harus memulai 'umrah.

Beliau berkata: "Ini pengganti umrahmu"

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Maka orang-orang yang berihram untuk 'umrah melakukan thowaf di Baitulloh dan sa'iy antara bukit Ash-Shafa dan Al Marwah lalu mereka bertahallul kemudian mereka thowaf yang lain lagi setelah kembali dari Mina. Adapun orang-orang yang menggabungkan haji dan 'umrah mereka hanya melakukan thowaf satu kali".
(Hadits Bukhari No. 1454)

Orang yang membaca talbiyah di masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam membaca
Jabir radliallahu 'anhu berkata;

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintah 'Ali radliallahu 'anhu agar tetap menjaga ihramnya, lalu Beliau menyebutkan ucapan Suraqah.

Muhammad bin Bakar menambahkan dari Ibnu Juraij Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadanya ('Ali): "Wahai 'Ali, bagaimana cara kamu berihram (memulai hajji)?".

Dia menjawab: "Aku berihram sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berihram".

Maka Beliau bersabda: "Berkurbanlah dan jagalah keadaanmu tetap dalam keadaan berihram".
(Hadits Bukhari No. 1455)

Orang yang membaca talbiyah di masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam membaca
dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata:

Ali radliallahu 'anhu tiba di Makkah dari Yaman mendahului Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Beliau bertanya kepadanya: "Bagaimana cara kamu berihram (memulai hajji)?".

Dia menjawab: "Aku berihram sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berihram".

Maka Beliau bersabda: "Seandainya aku tidak membawa hewan kurban pasti aku sudah bertahallul".
(Hadits Bukhari No. 1456)

Orang yang membaca talbiyah di masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam membaca
dari Abu Musa radliallahu 'anhu berkata;

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutusku kepada suatu kaum di negeri Yaman. Ketika aku sudah kembali aku menemui Beliau ketika Beliau berada di Batha'. Beliau berkata, kepadaku: "Bagaimana cara kamu berihram (memulai haji)?".

Aku menjawab: "Aku berihram sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berihram".

Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu ada membawa hewan kurban?."

Aku menjawab: "Tidak".

Maka Beliau memerintahkan aku agar aku melakukan thowaf di Baitulloh dan sa'iy antara bukit Ash-Shafa dan Al Marwah lalu memerintahkan aku pula agar aku bertahallul. Lalu aku temui seorang wanita dari keluargaku lalu dia menyisir rambutku atau membasuh kepalaku.

Lalu 'Umar radliallahu 'anhu datang dan berkata: "Jika kita mengambil pedoman dari Kitab Allah, sesungguhnya Dia memerintahkan kita agar kita menyempurnakannya (haji dan 'umrah). Allah subhanahu wata'ala berfirman (Qs Al Baqarah ayat 196) yang artinya: (˝Dan semprurnakanlah 'ibadah haji dan 'umrah kalian karena Allah˝), dan seandainya kita mengambil pedoman dari sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, sesungguhnya Beliau tidak bertahallul kecuali setelah menyembelih hewan kurban".
(Hadits Bukhari No. 1457)

Firman Allah "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi , barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats , berbuat fasik dan berbantah bantahan di dalam masa mengerjakan haji…"
dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata:

Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada bulan haji dan malam-malam bulan haji serta hari-hari haram haji hingga kami singgah di daerah Saraf.

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: Maka Beliau keluar menemui para sahabatnya lalu berkata: "Barangsiapa diantara kalian yang tidak membawa hewan kurban dan ia lebih suka bila menjadikan ihramnya sebagai 'umrah, maka lakukanlah dan barangsiapa yang membawa hewan kurban tidak apa".

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Maka diantara para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ada yang mengambilnya (apa yang diserukan oleh Beliau) dan ada juga yang meninggalkannya".

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Adapun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan beberapa orang dari para sahabatnya adalah termasuk orang-orang yang kuat dan mereka membawa hewan kurban maka mereka tidak mengambil ihram mereka sebagai 'umrah".

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menemuiku sedangkan aku ketika itu sedang menangis, maka Beliau bertanya: ˝Wahai gerangan, apa yang membuatmu menangis,?˝

Aku menjawab: "Aku telah mendengar apa yang anda katakan kepada para sahabat anda sehingga aku terhalang melakukan 'umrah".

Beliau bertanya: "Memang apa yang sedang kamu alami?".

Aku menjawab: "Aku tidak shalat".

Beliau berkata: "Tidak apa, karena kamu hanyalah seorang wanita dari putri-putri Adam yang Allah telah menetapkan untuk mereka ketentuan (maksudnya haid), maka laksanakanlah hajimu semoga Allah subhanahu wata'ala memberikan pahala dengannya".

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Maka kemudian kami keluar dalam pelaksanaan haji Beliau hingga kami tiba di Mina yang ketika itu aku telah kembali suci. Kemudian aku keluar dari Mina lalu menuntaskan manasik di Baitulloh".

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Kemudian aku keluar bersama Beliau pada nafar akhir hingga Beliau sampai di tempat melempar Jumrah dan kamipun ikut berhenti bersama Beliau.

Kemudian Beliau memanggil 'Abdurrahman bin Abu Bakar seraya berkata: ˝Keluarlah kamu bersama saudaramu ini dari tanah haram dan lakukanlah ihram untuk 'umrah lalu selesaikanlah manasik lalu datanglah kalian berdua kesini karena aku akan menunggu kalian hingga kalian datang˝."

'Aisyah radliallahu 'anha berkata; "Maka kami berdua keluar hingga saat aku sudah selesai (dari 'umrahku) dan menyelesaikan thowafku aku datang menemui Beliau pada waktu sahar (sepertiga akhir malam) lalu Beliau bertanya: ˝Apakah kalian sudah selesai?˝.
Aku menjawab: ˝Ya sudah˝.
Maka Beliau mengumumkan keberangkatan kepada para sahabatnya. Maka orang-orang berangkat dan berjalan menuju Madinah".

Sabda Nabi Shallallahu'alaihiwasallam "dhair": Kata kerja bisa berasal dari "dhaoro-yadhiiru" yang kesemuanya memiliki arti: "membahayakan" atau "merugikan".
(Hadits Bukhari No. 1458)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
dari 'Aisyah radliallahu 'anha;

"Kami berangkat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan setahu kami, tidaklah beliau berangkat melainkan untuk melaksanakan haji. Ketika kami telah sampai (di Makkah), kami melaksanakan thowaf di Baitulloh, maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan siapa yang tidak membawa hewan kurban agar bertahallul.

Maka orang yang tidak membawa hewan kurban bertahallul begitu juga isteri-isteri Beliau yang tidak membawa hewan kurban mereka bertahallul".

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Kemudian aku mengalami haid sedangkan aku belum melaksanakan thowaf di Baitulloh. Ketika pada malam saat para hujjaj keluar dari (Makkah setelah hari-hari Tasyriq),"

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Wahai Rasulullah, orang-orang kembali dengan 'umrah dan haji sedangkan aku hanya kembali dengan haji".

Beliau berkata: "Apakah kamu melaksanakan thowaf pada malam-malam bulan haji ketika kita sampai di Makkah?".

Aku jawab: "Tidak".

Beliau berkata: "Pergilah kamu bersama saudaramu ke Tan'im dan mulailah dari sana berihram untuk 'umrah kemudian tempat kamu begini begini".

Shafiyyah berkata: "Aku tidak melihat kecuali dia ('Aisyah radliallahu 'anha) telah menjadikan orang-orang tertahan (perjalanan pulangnya)".

Beliau Shallallahu'alaihiwasallam berkata: "Celaka" atau "Apakah kamu tidak thowaf pada hari Nahar".

'Aisyah radliallahu 'anha menjawab: "Benar"

Beliau berkata: "Tidak apa, nafarlah (keluar dari Mina setelah menuntaskan manasik haji)".

'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Kemudian aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat Beliau tiba dari Makkah sedangkan aku sudah lebih dulu singgah atau aku baru tiba sedang Beliau sudah singgah dari Makkah."
(Hadits Bukhari No. 1459)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata:

"Kami berangkat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada tahun haji wada' (perpisahan). Diantara kami ada yang berihram untuk 'umrah, ada yang berihram untuk haji dan 'umrah dan ada pula yang berihram untuk haji.

Sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berihram untuk haji. Adapun orang yang berihram untuk haji atau menggabungkan haji dan 'umrah maka mereka tidak bertahallul sampai hari nahar (tanggal 10 Dzul Hijjah)".
(Hadits Bukhari No. 1460)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
dari Marwan bin Al Hakam berkata:

Aku menyaksikan 'Utsman dan 'Ali radliallahu 'anhuma melarang mengerjakan haji dengan cara tamattu' dan agar pelaksanaan keduanya digabungkan. Ketika aku melihat 'Ali berihram untuk keduanya (dengan niat atau talbiyyah); "labbaika bi'umrah wa hajjah" (Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu dan aku berniat untuk 'umrah dan haji),

dia berkata: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hanya karena perkataan seseorang".
(Hadits Bukhari No. 1461)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata:

Orang-orang (Kaum Jahiliyah) menganggap melaksanakan 'umrah pada bulan-bulan haji adalah kejahatan yang paling besar di muka bumi dan mereka menjadiikan bulan haram adalah bulan Shafar dan mereka berkata: "Jika luka sudah sembuh (pada unta setelah melahirkan) dan sisa-sisa pelaksanaan haji sudah hilang dan bulan Shafar sudah berlalu maka baru dibolehkan 'umrah bagi mereka yang mau ber'umrah".

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya tiba di Makkah pada hari keempat bulan Dzul Hijjah, mereka bertalbiyyah untuk haji. Kemudian Beliau memerintahkan mereka agar menjadikannya sebagai niat 'umrah.

Hal ini menjadi perkara yang besar bagi mereka sehingga mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apa saja yang halal (dibolehkan)?".

Beliau menjawab: "Semuanya halal (boleh)".
(Hadits Bukhari No. 1462)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
dari Abu Musa radliallahu 'anhu berkata:

"Aku mendatangi Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Lalu Beliau memerintahnya untuk bertahallul".
(Hadits Bukhari No. 1463)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
dari Hafshah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa dia berkata:

"Wahai Rasulullah, bagaimana orang-orang telah bertahallul untuk 'umrah mereka sedang anda malah tidak bertahallul dari 'umrah anda?".

Beliau menjawab: "Sungguh aku sudah mengikat rambutku dan telah menandai hewan kurbanku dan aku tidak akan bertahallul kecuali setelah menyembelih hewan kurban (pada hari nahar)".
(Hadits Bukhari No. 1464)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
Syu'bah, telah mengabarkan kepada kami Abu Jamrah Nashr bin 'Imran Adh Dhuba'iy berkata:

Aku mengerjakan haji dengan tamattu' namun orang-orang melarangku maka aku tanyakan hal itu kepada Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma. Maka dia memerintahkan aku (melanjutkan tamattu').

Kemudian aku bermimpi yang dalam mimpiku aku melihat ada seseorang berkata kepadaku; "haji yang mabrur dan 'umrah yang diterima".

Lalu hal ini aku kabarkan kepada Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu. Maka dia berkata: "Sebagai suatu sunnah Nabi Shallallahu'alaihiwasallam".

Lalu dia berkata, kepadaku: "Berdirilah di hadapanku, karena aku akan memberimu bagian dari hartaku".

Syu'bah berkata: Maka aku tanyakan: "Mengapa?".

Dia (Abu Hamzah) berkata: "Karena mimpi yang aku alami itu".
(Hadits Bukhari No. 1465)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
Abu Sihab berkata:

Aku menuju Makkah dengan berihram untuk 'umrah sebagai pelaksanaan haji dengan tamattu'. Maka kami tiba tiga hari sebelum hari Tarwiyah. Maka orang-orang berkata, kepadaku: "Dari penduduk (rumah-rumah di) Makkah maka hajimu sekarang sebagai orang Makkah".

Kemudian aku menemui 'Atho' untuk meminta fatwa darinya. Maka dia berkata; Telah menceritakan kepada saya Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anhua bahwa dia pernah melaksanakan haji bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika Beliau menggiring hewan kurbannya ketika orang-orang sudah berihram untuk haji secara ifrad,

maka Beliau berkata, kepada mereka: "Halalkanlah ihram kalian ketika sudah thowaf di Baitulloh dan sa'iy antara bukit Ash-Shafa dan Al Marwah dan memotong rambut dan tinggalah (di Makkah) dalam keadaan halal hingga apabila tiba hari Tarwiyah berihramlah untuk haji dan jadikan apa yang sudah kalian lakukan dari manasik ini sebagai pelaksanaan haji dengan tamattu'."

Mereka bertanya: "Bagaimana kami menjadikannya sebagai tamattu' sedang kami sudah meniatkannya sebagai ihram haji?".

Maka Beliau berkata: "Laksanakanlah apa yang aku perintahkan kepada kalian. Seandainya aku tidak membawa hewan kurban tentu aku akan melaksanakan seperti yang aku perintahkan kepada kalian. Akan tetapi tidak halal bagiku apa-apa yang diharamkan selama ihram ini hingga hewan kurban sudah sampai pada tempat sembelihannya (pada hari nahar)".

Maka orang-orang melaksanakannya.
(Hadits Bukhari No. 1466)

Haji tamattu', qiran dan ifrad
dari Sa'id bin Al Musayab berkata:

'Ali dan 'Utsman radliallahu 'anhuma berbeda pendapat tentang pelaksanaan haji dengan tamattu' ketika keduanya berada di 'Usfan.

'Ali berkata: "Apa yang kamu inginkan sehingga kamu melarang sesuatu yang telah dikerjakan oleh Nabi Shallallahu'alaihiwasallam?".

Ketika 'Ali menyampaikan pendapatnya itu, maka dia memulai ihram dengan menggabungkan keduanya (haji dan 'umrah).
(Hadits Bukhari No. 1467)

Orang yang membaca talbiyah haji dengan menyebutnya
Jabir bin 'Abdullah radliallahu 'anhua berkata:

Kami berangkat menuju Makkah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan kami mengucapkan talbiyah (niat dalam ihram):

"Labbaikallahumma labbaika bilhajj" (Ya Allah kami memenuhi panggilan-Mu untuk berihram haji).

Maka kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami, maka kami menjadikannya sebagai ihram untuk 'umrah.
(Hadits Bukhari No. 1468)

Haji tamattu' di masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam
dari 'Imran radliallahu 'anhu berkata:

Kami melaksanakan haji dengan cara tamattu' pada masa hidup Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, Maka turunlah ayat Al Qur'an Al Baqarah ayat 195.

Dia ('Imran) berkata: "Seseorang berpendapat sesuai kehendak Allah".
(Hadits Bukhari No. 1469)

« Kota Makkah Zakat Fitrah »

Semua Hadits Shahih Bukhari Imam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama