Hadits Bukhari Tentang Shalat Berjamaah

bangpro.xyz — kumpulan Hadits Shahih Imam Al-Bukhari Hadits Tentang Shalat Berjamaah (Kitab Adzan), termasuk tentang imam dan mamum.

HaditsShahih Al-Bukhari
KitabAdzan
TentangShalat Berjamaah
Nomor599 - 689
No. VersiFathul Bari


Ucapan seseorang, "Kami ketinggalan shalat"
dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya ia berkata,

Ketika kami shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau mendengar suara gaduh orang-orang.

Maka setelah selesai, beliau bertanya: "Ada apa dengan kalian?"
Mereka menjawab, "Kami tergesa-gesa mendatangi shalat."

Beliau pun bersabda: "Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika kalian mendatangi shalat maka datanglah dengan tenang, apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah."
(Hadits Bukhari No. 599)

Larangan tergesa-gesa menuju shalat namun hendaklah berjalan dengan tenang dan perlahan
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa.

Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah."
(Hadits Bukhari No. 600)

Kapan sebaiknya jamaah berdiri ketika melihat imam saat dikumandangkan iqamah
dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika iqamah telah dikumandangkan maka janganlah berdiri hingga kalian melihat aku."
(Hadits Bukhari No. 601)

Tidak berdiri tergesa-gesa untuk menunaikan shalat namun hendaknya berdiri dengan tenang dan perlahan
dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika iqamah telah dikumandangkan maka janganlah berdiri hingga kalian melihat aku, dan hendaklah kalian melakukannya dengan tenang."
(Hadits Bukhari No. 602)

Apakah boleh keluar dari masjid saat shalat didirikan karena satu alasan
dari Abu Hurairah,

"bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar sementara iqamat sudah dikumandangkan dan shaf-shaf sudah diluruskan, hingga ketika beliau telah berdiri di tempat shalatnya dan kami menunggunya untuk segera takbir, beliau berlalu sambil berkata: ˝Tetaplah di tempat kalian˝.

Maka kami tetap berdiri di tempat semula hingga beliau kembali kepada kami dengan kepala basah karena sebab mandi."
(Hadits Bukhari No. 603)

Jika imam mengatakan; "Tetaplah pada tempat kalian" hingga dia kembali, maka tunggulah
dari Abu Hurairah berkata,

"Suatu hari iqamat sudah dikumandangkan dan orang-orang sudah merapikan shaf-shaf mereka, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dan maju ke depan untuk memimpin shalat padahal waktu itu beliau sedang junub.

Beliau lantas berkata; "Tetaplah di tempat kalian."

Beliau pun kembali ke rumah untuk mandi dan datang kepada kami dalam keadaan kepalanya basah, kemudian beliau shalat bersama mereka."
(Hadits Bukhari No. 604)

Ucapan seseorang; "Kami belum shalat"
telah mengabarkan kepada kami Jabir bin 'Abdullah,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam didatangi oleh 'Umar bin Al Khaththab saat terjadinya perang Khandaq.

Umar berkata, "Wahai Rasulullah! Demi Allah, aku belum melaksanakan shalat 'Ashar kecuali setelahg Matahari hampir tenggelam. Dan itu ketika orang-orang yang berpuasa telah berbuka!"

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Demi Allah, aku juga belum melakasanakannya."

Kemudian beliau turun menuju aliran air (sungai), dan aku ikut bersama beliau. Belau lalu berwudhu dan shalat, yaitu shalat Ashar setelah matahari terbenam. Kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Maghrib."
(Hadits Bukhari No. 605)

Bila imam ada kepentingan di luar setelah iqamah dikumandangkan
dari Anas bin Malik berkata,

"Pada suatu hari ketika iqamat sudah dibacakan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masih berbicara dengan seseorang di sisi masjid. Beliau belum juga melaksanakan shalat hingga sebagian para sahabat tertidur."
(Hadits Bukhari No. 606)

Berbicara setelah iqamah dikumandangkan
Humaid berkata,

Aku bertanya kepada Tsabit Al Bunani tentang seorang laki-laki yang berbincang-bincang setelah iqamat dikumandangan.

Maka ia pun menceritakan kepadaku dari Anas bin Malik ia berkata,

"Ketika iqamah telah dikumandangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dihampiri oleh seorang laki-laki hingga menghalanginya dari menunaikan shalat."
(Hadits Bukhari No. 607)

Wajibnya shalat berjamaah
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama'ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka.

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperoleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat Isya berjama'ah."
(Hadits Bukhari No. 608)

Keutamaan shalat berjamaah
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Shalat berjama'ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat."
(Hadits Bukhari No. 609)

dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Shalat berjama'ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh lima derajat."
(Hadits Bukhari No. 610)

Abu Hurairah berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Shalat seorang laki-laki dengan berjama'ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat.

Yang demikian itu karena bila dia berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama'ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya.

Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo'akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ˝Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia˝.

Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti palaksanaan shalat."
(Hadits Bukhari No. 611)

Keutamaan shalat Subuh berjamaah
Abu Hurairah berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Shalat berjama'ah lebih utama dibanding shalatnya salah seorang dari kalian dengan sendirian dengan dua puluh lima bagian.
Dan Malaikat malam dan Malaikat siang berkumpul pada shalat fajar."

Abu Hurairah kemudian berkata, "Jika mau silahkan baca: ˝(Sesungguhnya shalat fajar disaksikan (oleh para Malaikat)˝ (Qs. Al Israa: 78)."

Jalur Lain
dari 'Abdullah bin 'Umar ia berkata, "(Shalat berjama'ah) dilebihkan dengan dua puluh tujuh derajat."
(Hadits Bukhari No. 612)

Ummu Darda' berkata,

Abu Darda' datang menemuiku dalam keadaan marah. Aku lalu bertanya kepadanya, "Apa yang membuatmu marah?"

Maka dia menjawab, "Demi Allah, tidak ada yang aku kenal dari umat Muhammad kecuali bahwa mereka selalu shalat berjama'ah."
(Hadits Bukhari No. 613)

Keutamaan shalat Shubuh berjama'ah
dari Abu Musa berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Orang yang paling banyak mendapatkan pahala dalam shalat adalah mereka yang paling jauh (jarak rumahnya ke masjid), karena paling jauh dalam perjalanannya menuju masjid.

Dan orang yang menunggu shalat hingga dia melaksanakan shalat bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang melaksanakan shalat kemudian tidur."
(Hadits Bukhari No. 614)

dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ketika seorang laki-laki berjalan pada suatu jalan dan menemukan dahan berduri lalu ia membuangnya maka Allah menyanjungnya dan mengampuni dosanya."

Kemudian beliau bersabda: "Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang mati karena penyakit kusta, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati kerena tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang terbunuh di jalan Allah."

Beliau melanjutkan sabdanya: "Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak dapat meraihnya kecuali dengan cara mengundi tentulah mereka akan mengundi. Dan seandainya mereka mengetahui apa yang terdapat pada bersegera menuju shalat, tentulah mereka akan berlomba-lomba.

Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat Atamah (shalat Isya) dan Shubuh, tentulah mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak."
(Hadits Bukhari No. 615)

Mengharapkan pahala dari langkah-langkah kaki
dari Anas bin Malik berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Wahai Bani Salamah, tidakkah kalian mengharap pahala dari langkah-langkah kalian?"

Mujahid ketika menerangkan firman Allah: ˝(Dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan)˝ (Qs. Yasin: 12) mengatakan, "Yakni langkah-langkah mereka."

Jalur Lain
Anas ia berkata,

Bani Salamah pernah berkeinginan untuk pindah dari tempat tinggal mereka dan mendekat dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak memperkenankan mereka mengosongkan Madinah dengan bersabda: ˝Tidakkah kalian mengharap pahala dari langkah-langkah kalian?˝

Mujahid berkata, "Langkah-langkah mereka adalah bekas-bekas perjalanan mereka di muka bumi ketika berjalan dengan kaki mereka."
(Hadits Bukhari No. 616)

Keutmaan shalat Subuh dan Isya berjamaah
dari Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang-orang Munafik kecuali shalat shubuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui (kebaikan) yang ada pada keduanya tentulah mereka akan mendatanginya walau harus dengan merangkak.

Sungguh, aku berkeinginan untuk memerintahkan seorang mu'adzin sehingga shalat ditegakkan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat, lalu aku menyalakan api dan membakar (rumah-rumah) orang yang tidak keluar untuk shalat berjama'ah (tanpa alasan yang benar)."
(Hadits Bukhari No. 617)

Dua orang atau lebih sudah cukup untuk mendirikan shalat berjama'ah
dari Malik bin Al Huwairits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Jika telah datang waktu shalat maka adzan dan iqamatlah, kemudian hendaklah yang mengimami shalat adalah yang paling tua di antara kalian berdua."
(Hadits Bukhari No. 618)

Orang yang duduk di dalam masjid menunggu pelaksanaan shalat dan keutamaan (berdiam di) masjid
dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Para Malaikat berdo'a untuk salah seorang dari kalian selama dia masih pada posisi shalatnya dan belum berhadats, ˝Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia˝.

Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti palaksanaan shalat. Dimana tidak ada yang menghalangi dia untuk kembali kepada keluarganya kecuali shalat itu."
(Hadits Bukhari No. 619)

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya;

pemimpin yang adil,

seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabbnya,

seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid,

dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah,

seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, ˝Aku takut kepada Allah˝,

dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya,

serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis."
(Hadits Bukhari No. 620)

Orang yang duduk di dalam masjid menunggu pelaksanaan shalat dan keutamaan (berdiam di) masjid
dari Humaid berkata,

Anas bin Malik ditanya, "Apakah Rasulullah ada mengenakan cincin?"

Maka dia menjawab, "Ya. Beliau pernah mengakhirkan shalat Isya hingga pertengahan malam, kemudian selesai shalat beliau menghadap ke arah kami seraya bersabda: ˝Manusia sudah selesai shalat dan tidur, sementara kalian akan senantiasa dalam hitungan shalat kalian menunggu pelaksanaannya˝."

Anas bin Malik berkata, "Sungguh saat itu aku melihat kilau sinar cincin beliau."
(Hadits Bukhari No. 621)

Keutamaan orang yang pergi ke masjid baik pagi maupun sore hari
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa datang ke masjid di pagi dan sore hari, maka Allah akan menyediakan baginya tempat tinggal yang baik di surga setiap kali dia berangkat ke masjid di pagi dan sore hari."
(Hadits Bukhari No. 622)

Jika iqamat sudah dikumandangkan maka tidak ada shalat melainkan shalat fardhu
dari Al Azdi yang dikenal dengan Malik Ibnu Buhainah berkata,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat seorang laki-laki shalat dua rakaat padahal iqamah telah dikumandangkan.

Setelah selesai shalat, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya: "Apakah kamu shalat Shubuh empat rakaat? Apakah kamu shalat Shubuh empat rakaat?"
(Hadits Bukhari No. 623)

Batasan sakit untuk (tidak) menghadiri shalat jamaah
telah menceritakan kepada kami Al A'masy
dari Ibrahim
dari Al Aswad berkata,

Kami pernah bersama 'Aisyah ketika kami menceritakan tentang masalah menekuni shalat berjama'ah dan mengutamakannya.

Maka Aisyah pun berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang sakit yang membawa pada ajalnya, waktu shalat tiba dan dikumandangkanlah adzan.

Beliau lalu bersabda (kepada para isterinya): ˝Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat bersama orang-orang.˝

Lalu dikatakan kepada beliau, ˝Sesungguhnya Abu Bakr adalah orang yang lemah dan mudah menangis (saat membaca Al Qur'an). Dia tidak akan mampu menggantikan posisi Tuan untuk memimpin orang-orang shalat.˝

Beliau kembali mengulangi ucapannya, dan mereka juga memberi jawaban yang sama. Hal itu terus berulang hingga tiga kali, akhirnya beliau pun bersabda: ˝Kalian ini seperti isteri-isteri Yusuf! Perintahkanlah Abu Bakr agar memimpin shalat.˝

Maka keluarlah Abu Bakr memimpin shalat jama'ah. Beliau kemudian merasa agak segar badannya, sehingga beliau keluar ke masjid dengan diapit oleh dua orang, seolah aku kedua kaki beliau menyentuh tanah karena sakit.

Melihat kehadiran beliau, Abu Bakar berniat untuk mundur namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencegahnya dengan isyarat agar ia tetap pada posisinya. Kemudian beliau di dudukkan di sisi Abu Bakar."

Dikatakan kepada Al A'masy, "Apakah beliau shalat kemudian Abu Bakar shalat mengikuti shalatnya beliau, dan orang-orang shalat dengan mengikuti shalatnya Abu Bakar?"

Lalu Al A'masy menjawab " ˝Ya˝ dengan anggukkan kepalanya."

Jalur Lain
dari Al A'masy sebagiannya, dan Abu Mu'awiyah menambahkan, "Beliau shalat dengan duduk di sebelah kiri Abu Bakar, sementara Abu Bakr shalat dengan berdiri."
(Hadits Bukhari No. 624)

Batasan sakit untuk (tidak) menghadiri shalat jama'ah
Ubaidullah bin 'Abdullah berkata,

Aisyah berkata, "Ketika sakit Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah dan berat, beliau minta izin kepada para isterinya untuk dirawat di rumahku. Lalu beliau pun diizinkan. Beliau kemudian keluar dengan dipapah oleh dua orang laki-laki sementara keduan kakinya berjalan di tanah. Kedua laki-laki itu adalah 'Abbas dan seorang lagi."

Ubaidullah berkata, "Apa yang dikisahkan oleh Aisyah itu kemudian aku ceritakan kepada 'Abdullah bin 'Abbas,

maka dia pun berkata kepadaku, ˝Tahukah kamu, siapakah lelaki lain yang tidak disebutkan namanya oleh 'Aisyah itu?˝
Aku jawab, ˝Tidak.˝
Ibnu Abbas berkata, ˝Dia adalah 'Ali bin Abu Thalib˝."
(Hadits Bukhari No. 625)

Rukhshah (keringanan) untuk shalat di kendaraan masing-masing bila terjadi hujan atau sebab lainnya
dari Nafi',

bahwa Ibnu 'Umar pernah mengumandangkan adzan pada suatu hari yang dingin dan berangin.

Kemudian ia berkata, "Shalatlah di tempat tinggal kalian."

Ia melanjutkan perkataannya, "Jika malam sangat dingin dan hujan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan seorang mu'adzin untuk mengucapkan: ˝Hendaklah kalian shalat di tempat tinggal kalian˝."
(Hadits Bukhari No. 626)

dari Mahmud bin Ar Rabi' Al Anshari

"bahwa 'Itban bin Malik selalu menjadi imam shalat bagi kaumnya. Dan pada suatu hari dia berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

˝Wahai Rasulullah, sering terjadi malam yang gelap gulita dan jalanan becek sedangkan aku orang yang sudah lemah penglihatan. Untuk itu aku mohon shalatlah Tuan pada suatu tempat di rumahku yang akan aku jadikan tempat shalat.˝

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya di rumahnya. Beliau lalu berkata: ˝Mana tempat yang kau sukai untuk aku shalat padanya.˝

Maka dia menunjuk suatu tempat di rumahnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian shalat pada tempat tersebut."
(Hadits Bukhari No. 627)

Bolehkah imam memimpin shalat hanya dengan orang yang sudah hadir dan apakah imam menyapaikan khutbah jumat ketika turun hujan
Abdullah bin Al Harits berkata,

Pada suatu hari ketika jalan penuh dengan air dan lumpur akibat hujan, Ibnu 'Abbas menyampaikan khuthbah kepada kami. Saat mu'adzin mengucapkan ˝Hayya 'Alashshalaah (Marilah mendirikan shalat)˝
ia perintahkan kepadanya untuk mengucapkan: ˝Shalatlah di tempat tinggal masing-masing˝.

Maka orang-orang pun saling memandang satu sama lain seakan mereka mengingkarinya.

Maka Ibnu 'Abbas berkata, "Seakan kalian mengingkari masalah ini. Sesungguhnya hal yang demikian ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku, yakni Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan sesungguhnya itu merupakan kewajiban ('azimah) dan aku enggan untuk mengungkapkannya kepada kalian."

Jalur Lain
menambahkan bahwa Ibnu Abbas berkata, "Aku tidak mau untuk membuat kalian berdosa, kalian mendatangi shalat sementara lutut kaki kalian penuh dengan lumpur."
(Hadits Bukhari No. 628)

Bolehkah imam memimpin shalat hanya dengan orang yang sudah hadir dan apakah imam menyapaikan khutbah jum'at ketika turun hujan
dari Abu Salamah berkata,

"Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudri (tentang Lailatul Qadar)."

Ia lalu menjawab, "Pada suatu hari ada banyak awan (mendung) lalu turun hujan lebat hingga atap Masjid menjadi bocor oleh air hujan. Waktu itu atap masih terbuat dari daun pohon kurma.

Ketika shalat dilaksanakan, aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud di atas air dan lumpur hingga tampak sisa tanah becek pada dahi beliau."
(Hadits Bukhari No. 629)

Anas bin Malik berkata,

"Seorang laki-laki Anshar berkata, ˝Aku tidak dapat shalat bersama Tuan.˝
Lelaki tersebut seorang yang besar badannya. Dia menyiapkan makanan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu dia mengundang beliau datang ke rumahnya, kemudian dia menghamparkan tikar dan memercikinya dengan air untuk beliau gunakan shalat. Setelah itu beliau shalat dua rakaat di atas tikar tersebut."

Seorang lelaki dari keluarga Al Jarud berkata kepada Anas bin Malik, "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tadi melaksanakan shalat Dhuha?"

Anas bin Malik menjawab, "Aku belum pernah melihat beliau mengerjakannya kecuali pada hari itu."
(Hadits Bukhari No. 630)

Jika makanan dihidangkan sementara shalat sudah dikumandangkan iqamatnya
Aisyah radliallahu 'anhu berkata, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Apabila makan malam sudah dihidangkan sedangkan shalat jamaah sudah dibacakan iqamatnya, maka dahulukanlah makan".
(Hadits Bukhari No. 631)

dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Apabila makan malam sudah dihidangkan, maka makanlah terlebih dahulu sebelum kalian melaksanakan shalat Maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dalam menyelesaikan makan kalian".
(Hadits Bukhari No. 632)

dari Ibnu 'Umar radliallahu 'anhu berkata,; Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Apabila makan malam seseorang dari kalian sudah dihidangkan sedangkan shalat sudah didirikan, maka dahulukanlah makan malam dan janganlah tergesa-gesa hingga dia menuntaskannya".

Ibnu 'Umar juga pernah dihidangkan padanya suatu makanan sedangkan shalat sedang dilaksanakan, namun dia tidak mengikuti shalat tersebut hingga selesai, padahal saat itu dia juga mendengar bacaan imam.

Jalur Lain
Ibnu 'Umar radliallahu 'anhu berkata,; Telah bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

"Apabila seseorang dari kalian sedang makan janganlah dia tergesa-gesa hingga dia menyelesaikan kebutuhan (makan) nya sekalipun shalat jama'ah sedang dilaksanakan".
(Hadits Bukhari No. 633)

Jika imam dipanggil untuk memimpin shalat sementara di tangannya masih ada makanan
telah mengabarkan kepada saya Ja'far bin 'Amru bin Umayyah bahwanya bapaknya telah berkata;

"Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memakan daging paha lalu memotongnya. Kemudian beliau diserukan untuk shalat.

Maka Beliau berdiri lalu meletakkan pisau kemudian shalat tanpa berwudhu lagi".
(Hadits Bukhari No. 634)

Orang yang sedang ada pekerjaan pada keluarganya lalu shalat didirikan maka dia keluar untuk shalat
dari Al Aswad berkata,

Aku pernah bertanya kepada 'Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika berada di rumah.

Maka 'Aisyah pun menjawab, "Beliau selalu membantu keluarganya, jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakannya."
(Hadits Bukhari No. 635)

Orang yang mengimami shalat berjama'ah, sementara dia tidak ingin kecuali hanya untuk mengajarkan tata cara shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam
dari Abu Qilabah berkata,

Malik bin Al Huwairits datang menemui kami di Masjid kami ini, ia lalu berkata, "Aku akan melaksanakan shalat dengan kalian. Dan aku tidak ingin mengerjakan suatu shalat selain cara shalat yang pernah aku lihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakannya."

Aku pun bertanya kepada kepada Abu Qilabah, "Bagaimanakah cara shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?"

Ia menjawab, "Seperti guru kita ini. Setelah mengangkat kepalanya dari sujud, ia duduk sebentar sebelum bangkit di rakaat pertama."
(Hadits Bukhari No. 636)

Orang yang berilmu dan memiliki keutamaan lebih berhak menjadi imam shalat
dari Abu Musa ia berkata,

"Ketika sakit Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah, beliau berkata, ˝Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang.˝

'Aisyah berkata, ˝Sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang lemah (hatinya; mudah menangis) jika harus menggantikan posisi Tuan, dia tidak akan mampu untuk memimpin shalat bersama orang-orang.˝

Beliau berkata lagi: ˝Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang.˝
'Aisyah kembali mengulangi jawabannya.

Maka beliau pun bersabda: ˝Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang. Kalian ini seperti isteri-isteri Yusuf!˝

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian mendatangi Abu Bakar dan shalat bersama manusia di akhir masa hidupnya."
(Hadits Bukhari No. 637)

dari 'Aisyah Ummul Mikminin, bahwasanya ia berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata saat sakit menjelang kewafatannya: ˝Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang˝."

'Aisyah berkata, "Aku lalu berkata, ˝Jika Abu Bakar menggantikan posisi Tuan, maka suaranya tidak akan bisa didengar oleh orang-orang karena tangisnya. Sebaiknya suruhlah Umar untuk memimpin shalat orang-orang˝."

'Aisyah berkata, "Aku lalu sampaikan kepada Hafshah, ˝Katakanlah kepada Beliau, ˝Jika Abu Bakar menggantikan posisi Tuan, maka suaranya tidak akan dapat didengar oleh orang-orang karena tangisannya, maka perintahlah Umar untuk memimpin shalat orang-orang˝.

Maka Hafshah pun melaksanakannya. Kemudian bersabdalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: ˝Celakalah kalian!. Sungguh kalian ini seperti isteri-isterinya Yusuf. Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang.˝

Hafshah kemudian berkata kepada 'Aisyah, ˝Sungguh aku tidak mendapatkan kebaikan darimu˝."
(Hadits Bukhari No. 638)

dari Az Zuhri berkata,

telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik Al Anshari salah seorang dari sahabat yang pernah mengikuti, melayani dan mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

"Bahwa Abu Bakar pernah mengimami mereka shalat di saat sakitnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang membawanya pada kewafatannya.

Hingga pada suatu hari, pada hari Senin, saat orang-orang sudah berada pada barisan (shaf) shalat, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyingkap tabir kamar dan memandang ke arah kami sambil berdiri, sementara wajah beliau pucat seperti kertas.

Beliau tersenyum dan tertawa. Hampir saja kami terkena fitnah (keluar dari barisan) karena sangat gembiranya melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Abu Bakar lalu berkeinginan untuk berbalik masuk ke dalam barisan shaf karena menduga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam akan keluar untuk shalat.

Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat kepada kami agar: ˝Teruskanlah shalat kalian.˝
Setelah itu beliau menutup tabir dan wafat pada hari itu juga."
(Hadits Bukhari No. 639)

Orang yang berilmu dan memiliki keutamaan lebih berhak menjadi imam shalat
dari Anas bin Malik berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah tiga hari tidak keluar rumah untuk shalat. Dan selama itu shalat dilaksanakan dengan Abu Bakar maju sebagai imam memimpin shalat.

Suatu hari Nabi Allah shallallahu 'alaihi wasallam menyingkap tabir kamar dan mengangkatnya. Tatkala tampak wajah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sungguh belum pernah kami memandang wajah beliau yang lebih menakjubkan kami, selain wajahnya saat waktu itu menampakkan kepada kami.

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat dengan tangannya kepada Abu Bakar lalu kembali menutup tabirnya dan masuk. Dan sejak saat itu kami tidak lagi melihat beliau hingga wafat."
(Hadits Bukhari No. 640)

dari Hamzah bin 'Abdullah ia mengabarkan kepadanya dari Bapaknya ia berkata,

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah sakitnya, dan disampaikan kepadanya tentang shalat berjama'ah.

Maka beliau berkata, "Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang."

'Aisyah berkata, "Abu Bakar itu hatinya sangat lembut, jika membaca Al Qur'an maka ia akan menangis."

Beliau berkata lagi: "Suruhlah dia untuk memimpin shalat."
Lalu 'Aisyah kembali mengulanggi jawabannya.

Maka beliau pun bersabda: "Suruhlah dia untuk memimpin shalat. Kalian ini seperti isteri-isteri Yusuf!"
(Hadits Bukhari No. 641)

Orang yang berdiri shalat di samping imam karena suatu alasan
Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya
dari 'Aisyah ia berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan Abu Bakar unruk memimpin shalat jama'ah bersama orang-orang saat beliau sakit. Maka Abu Bakar pun memimpin shalat mereka."

'Urwah berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merasakan ringan pada tubuhnya, beliau pun keluar sementara Abu Bakar sedang mengimami orang-orang shalat. Ketika Abu Bakar melihat beliau datang, dia pun berkeinginan untuk mundur. Tetapi beliau memberi isyarat kepadanya (dengan katanya): ˝Tetaplah kamu pada posisimu.˝

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk di samping Abu Bakar, sehingga dia shalat mengikuti shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang mengikuti shalatnya Abu Bakar."
(Hadits Bukhari No. 642)

Siapa yang datang mengimami shalat lalu imam rawatib datang maka imam rawatib mengikuti shalat tersebut
dari Sahal bin Sa'd As Sa'idi,

bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pergi menemui Bani 'Amru bin 'Auf untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.

Kemudian tiba waktu shalat, lalu ada seorang mu'adzin menemui Abu Bakar seraya berkata, "Apakah engkau mau memimpin shalat berjama'ah sehingga aku bacakan iqamatnya?"
Abu Bakar menjawab, "Ya."

Maka Abu Bakar memimpin shalat. Tak lama kemudian datang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedangkan orang-orang sedang melaksanakan shalat.
Lalu beliau bergabung dan masuk ke dalam shaf. Orang-orang kemudian memberi isyarat dengan bertepuk tangan namun Abu Bakar tidak bereaksi dan tetap meneruskan shalatnya.

Ketika suara tepukan semakin banyak, Abu Bakar berbalik dan ternyata dia melihat ada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat yang maksudnya: ˝Tetaplah kamu pada posisimu˝.

Abu Bakar mengangkat kedua tangannya lalu memuji Allah atas perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tersebut. Kemudian Abu Bakar mundur dan masuk dalam barisan shaf lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maju dan melanjutkan shalat.

Setelah shalat selesai, beliau bersabda: "Wahai Abu Bakar, apa yang menghalangimu ketika aku perintahkan agar kamu tetap pada posisimu?"

Abu Bakar menjawab, "Tidaklah patut bagi anak Abu Qahafah untuk memimpin shalat di depan Rasulullah".

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Mengapa kalian tadi banyak bertepuk tangan?. Barangsiapa menjadi makmum lalu merasa ada kekeliruan dalam shalat, hendaklah dia membaca tasbih. Karena jika dibacakan tasbih, dia (imam) akan memperhatikannya. Sedangkan tepukan untuk wanita."
(Hadits Bukhari No. 643)

Apabila kemampuan membaca al-Qur'an sama, maka yang berhak menjadi imam adalah yang lebih tua diantara mereka
dari Malik bin Al Huwairits berkata,

Kami pernah mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, saat itu kami adalah para pemuda dan kami tinggal bersama beliau selama dua puluh malam. Kami dapati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang sangat penyayang.

Beliau bersabda kepada kami: "Jika kalian kembali kepada ke negeri kalian, maka ajarilah mereka, dan perintahkanlah mereka shalat ini pada waktu begini, shalat ini pada waktu begini.

Dan apabila telah datang waktu shalat, maka hendaklah seseorang dari kalian adzan dan hendaklah yang mengimami shalat adalah yang paling tua di antara kalian."
(Hadits Bukhari No. 644)

Jika seorang imam mengunjungi suatu kaum lalu dia mengimami shalat mereka
'Itban bin Malik Al Anshari berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta izin masuk ke rumahku, lalu aku izinkan.

Beliau kemudian bersabda: "Mana tempat yang kau sukai dari rumahmu hingga aku bisa shalat di sana?"

Maka aku memberi isyarat kepada satu tempat yang aku sukai. Beliau lalu berdiri shalat dan kami berbaris mengikuti di belakang beliau, setelah salam beliau kamipun memberi salam."
(Hadits Bukhari No. 645)

"Sesungguhnya imam diadakan untuk diikuti"
dari 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah berkata,

Aku masuk menemui 'Aisyah aku lalu berkata kepadanya, "Maukah engkau menceritakan kepadaku tentang peristiwa yang pernah terjadi ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang sakit?"

'Aisyah menjawab, "Ya. Pernah suatu hari ketika sakit Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semakin berat, beliau bertanya: ˝Apakah orang-orang sudah shalat?˝
Kami menjawab, ˝Belum, mereka masih menunggu tuan.˝
Beliau pun bersabda: ˝Kalau begitu, bawakan aku air dalam bejana.˝

Maka kamipun melaksanakan apa yang diminta beliau. Beliau lalu mandi, lalu berusaha berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan.

Ketika sudah sadarkan diri, beliau kembali bertanya: "Apakah orang-orang sudah shalat?"
Kami menjawab, "Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan."
Kemudian beliau berkata lagi: "Bawakan aku air dalam bejana."

Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh pingsan lagi.

Ketika sudah sadarkan diri kembali, beliau berkata: "Apakah orang-orang sudah shalat?"
Kami menjawab lagi, "Belum wahai Rasulullah, mereka masih menunggu tuan."
Kemudian beliau berkata lagi: "Bawakan aku air dalam bejana."

Beliau lalu duduk dan mandi. Kemudian beliau berusaha untuk berdiri dan berangkat, namun beliau jatuh dan pingsan lagi.

Ketika sudah sadarkan diri, beliau pun bersabda: "Apakah orang-orang sudah shalat?"
Saat itu orang-orang sudah menunggu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di masjid untuk shalat 'Isya di waktu yang akhir.

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menemui Abu Bakar dan memintanya untuk mengimami shalat.

Maka utusan tersebut menemui Abu Bakar dan berkata, kepadanya, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan anda untuk mengimami shalat jama'ah!"

Lalu Abu Bakar -orang yang hatinya lembut- berkata, "Wahai 'Umar, pimpinlah orang-orang melaksanakan shalat."
Umar menjawab, "Anda lebih berhak dalam masalah ini."

Maka Abu Bakar memimpin shalat pada hari-hari sakitnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tersebut. kemudian ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendapati tubuhnya lebih segar, beliau pun keluar rumah sambil berjalan dipapah oleh dua orang laki-laki, satu diantaranya adalah 'Abbas untuk melaksanakan shalat Zhuhur.

Ketika itu Abu Bakar sedang mengimami shalat, ketika ia melihat beliau datang, Abu Bakar berkehendak untuk mundur dari posisinya namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat supaya dia tidak mundur.

Kemudian beliau bersabda: "Dudukkanlah aku disampingnya."
Maka kami mendudukkan beliau di samping Abu Bakar."

Perawi berkata, "Maka jadilah Abu Bakar shalat dengan mengikuti shalatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sementara orang-orang mengikuti shalatnya Abu Bakar, dan saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat sambil duduk".

'Ubaidullah berkata, "Aku menemui ' Abdullah bin 'Abbas dan berkata kepadanya, "Maukan anda saya ceritakan sebuah hadits tentang sakitnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti yang disampaikan 'Aisyah?"

Dia menjawab, "Sampaikanlah!"
Maka aku ceritakan hadits yang disampaikan 'Aisyah.

'Abdullah bin 'Abbas tidak mengingkari sedikitpun apa yang aku ceritakan selain dia bertanya kepadaku, "Apakah 'Aisyah menyebutkan nama laki-laki yang bersama 'Abbas?"

Aku menjawab, "Tidak."
Ia pun berkata, "Dia adalah 'Ali bin Abu Thalib."
(Hadits Bukhari No. 646)

"Sesungguhnya imam diadakan untuk diikuti"
dari 'Aisyah Ummul Mukminin, bahwa ia berkata,

Saat sakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di rumahnya sambil duduk. Dan segolongan kaum shalat di belakang beliau dengan berdiri. Maka beliau memberi isyarat kepada mereka agar duduk.

Ketika shalat sudah selesai beliau bersabda: "Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti, apabila dia rukuk maka rukuklah kalian, bila dia mengangkat kepalanya maka angkatlah kepala kalian. Dan bila dia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk."
(Hadits Bukhari No. 647)

"Sesungguhnya imam diadakan untuk diikuti"
Abdullah bin Yusuf berkata,
telah mengabarkan kepada kami Malik
dari Ibnu Syihab
dari Anas bin Malik,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari mengendarai kudanya lalu terjatuh dan terhempas pada bagian lambungnya yang kanan. Karena sebab itu beliau pernah melaksanakan shalat sambil duduk di antara shalat-shalatnya. Maka kamipun shalat di belakang Beliau dengan duduk.

Ketika selesai Beliau bersabda: "Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti, jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri. Jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengangkat kepalanya maka angkatlah kepala kalian.

Dan jika ia mengucapkan ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH˝ (Semoga Allah merndengar orang yang memuji-Nya),
maka ucapkanlah; ˝RABBANAA WA LAKAL HAMDU˝ (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian).

Dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri, dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semuanya dengan duduk."

Abu 'Abdullah berkata, Al Humaidi ketika menerangkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ˝Dan bila dia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk˝ dia berkata, "Kejadian ini adalah saat sakitnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di waktu yang lampau.

Kemudian setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan duduk sedangkan orang-orang shalat di belakangnya dengan berdiri, dan beliau tidak memerintahkan mereka agar duduk.

Dan sesungguhnya yang dijadikan ketentuan adalah berdasarkan apa yang paling akhir dan terakhir dari perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 648)

Kapan sebaiknya sujud bila shalat di belakang imam
Al Bara' -dan ia bukanlah pendusta- ia berkata,

"Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH˝, tidak ada seorangpun dari kami yang membungkukkan punggungnya sebelum Nabi shallallahu 'alaihi wasallam benar-benar (meletakkan kepalanya) bersimpuh dalam sujud, barulah setelah itu kami bersujud."
(Hadits Bukhari No. 649)

Dosa orang yang mengangkat kepalanya dari sujud sebelum imam
Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidakkah salah seorang dari kalian takut, atau apakah salah seorang dari kalian tidak takut, jika ia mengangkat kepalanya sebelum Imam, Allah akan menjadikan kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah akan menjadikan rupanya seperti bentuk keledai?"
(Hadits Bukhari No. 650)

Keimaman seorang budak atau maula (bekas budak)
dari 'Abdullah bin 'Umar berkata,

"Ketika rombongan Muhajirin yang pertama sampai di 'Ushbah, suatu tempat di Quba', sebelum kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yang mengimami shalat mereka adalah Salim mantan budak Abu Hudzaifah.

Dia adalah seorang sahabat yang paling banyak bacaan (hafalan) Al Qur'annya di antara mereka."
(Hadits Bukhari No. 651)

Keimaman seorang budak atau maula (bekas budak)
dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Dengar dan taatlah kalian, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi yang berambut keriting seperti buah kismis."
(Hadits Bukhari No. 652)

Jika seorang imam shalatnya tidak sempurna (salah) sedangkan para ma'mum shalat dengan sempurna
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Para imam shalat memimpin kalian. Maka jika dia benar, mereka mendapat pahala dan kalian juga mendapatkan bagian pahalanya. Namun bila dia salah kalian tetap mendapatkan pahala dan mereka mendapatkan dosa."
(Hadits Bukhari No. 653)

Keimaman seorang yang terfitnah (dituduh fasik) atau seorang ahli bid'ah
telah menceritakan kepada kami Az Zuhri
dari Humaid bin 'Abdurrahman
dari 'Ubaidullah bin 'Adi bin Khiyar,

bahwa dia masuk menemui 'Utsman bin 'Affan saat ia terkepung seraya berkata, "Engkau adalah pemimpin Kaum Muslimin namun tuan tengah mengalami kejadian seperti yang kita saksikan. Sedangkan shalat akan dipimpin oleh imam yang terkena fitnah dan kami jadi khawatir terkena dosa."

Maka 'Utsman bin 'Affan pun berkata, "Shalat adalah amal terbaik yang dilakukan manusia. Oleh karena itu apabila orang-orang melakukan kebaikan (dengan mendirikan shalat), maka berbuat baiklah (shalat) bersama mereka. Dan jika mereka berbuat keburukan (kesalahan), maka jauhilah keburukan mereka."

Az Zubaidi berkata, Az Zuhri berkata, "Kami tidak membenarkan shalat bermakmum di belakang seorang banci kecuali dalam keadaan sangat terpaksa."
(Hadits Bukhari No. 654)

Anas bin Malik berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkata kepada Abu Dzar:

"Dengar dan taatlah sekalipun terhadap seorang budak Habasyi yang berambut keriting seperti buah anggur kering."
(Hadits Bukhari No. 655)

Berdiri sejajar di sebelah imam jika shalat berduaan
dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pergi shalat 'Isya kemudian kembali ke rumah dan shalat sunnat empat rakaat, kemudian beliau tidur.

Saat tengah malam beliau bangun dan shalat malam, aku lalu datang untuk ikut shalat bersama beliau dan berdiri di samping kiri beliau.

Kemudian beliau menggeserku ke sebelah kanannya, lalu beliau shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar suara dengkur Beliau. Setelah itu Beliau kemudian keluar untuk shalat (shubuh)."
(Hadits Bukhari No. 656)

Jika seseorang shalat berdiri di sebelah kiri imam, lalu imam menggesernya ke sebelah kanan maka shalatnya tidak rusak
telah menceritakan kepada kami 'Amru
dari 'Abdu Rabbih bin Sa'id
dari Makhramah bin Sulaiman
dari Kuraib mantan budak Ibnu 'Abbas,
dari Ibnu 'Abbas ia berkata,

"Suatu malam aku pernah tidur di sisi Maimunah, sementara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidur di sebelahnya pada malam itu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian berwudhu lalu berdiri menunaikan shalat.
Maka aku datang dan berdiri shalat di samping kiri beliau.
Namun beliau memegangku dan menggeserku ke sebelah kanannya.
Setelah itu beliau shalat tiga belas rakaat, kemudian tidur hingga terdengar nafasnya.
Dan memang beliau apabila tidur (terdengar suara) nafas beliau.
Kemudian seorang mu'adzin datang kepada beliau, maka beliau pun keluar untuk menunaikan shalat (Shubuh) tanpa berwudhu lagi."

'Amru berkata, "Aku ceritakan riwayat ini kepada Bukair, lalu ia berkata, ˝Kuraib juga telah menceritakan kepadaku seperti itu˝."
(Hadits Bukhari No. 657)

Jika seseorang shalat tidak berniat sebagai imam lalu datang orang di belakang mengikuti shalatnya hingga dia mengimaminya
dari Ibnu 'Abbas ia berkata,

"Aku pernah menginap di rumah bibiku. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam. Maka aku datang untuk ikut shalat bersama beliau, aku berdiri di samping kirinya, lalu beliau memegang kepalaku dan menggeserku ke sebelah kanannya."
(Hadits Bukhari No. 658)

Jika seorang imam memanjangkan shalat lalu ada orang yang ada keperluan maka dia boleh keluar lalu shalat sendirian
dari Jabir bin 'Abdullah,

"bahwa Mu'adz bin Jabal pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian dia kembali pulang dan mengimami shalat kaumnya."
(Hadits Bukhari No. 659)

Jika seorang imam memanjangkan shalat lalu ada orang yang ada keperluan maka dia boleh keluar lalu shalat sendirian
dari 'Amru berkata, Aku mendengar Jabir bin 'Abdullah berkata,

"Mu'adz bin Jabal pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia lalu kembali pulang dan mengimami kaumnya shalat 'Isya dengan membaca surah Al Baqarah. Kemudian ada seorang laki-laki keluar dan pergi, Mu'adz seakan menyebut orang tersebut dengan keburukan.

Kejadian ini kemudian sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda: "Apa engkau akan membuat fitnah? Apa engkau akan membuat fitnah? Apa engkau akan membuat membuat fitnah?"
Beliau ucapkan hingga tiga kali.

Atau kata beliau: "Apakah kamu menjadi pembuat fitnah? Apakah kamu menjadi pembuat fitnah? Apakah kamu menjadi pembuat fitnah?"

Lalu beliau memerintahkannya (Mu'adz) untuk membaca dua surah saja dari pertengahan Al Mufashshal."

Amru berkata, 'Namun aku tidak hafal kedua surat tersebut."
(Hadits Bukhari No. 660)

Imam hendaklah meringankan bacaan ketika berdiri namun tetap menyempurnakan ruku' dan sujudnya
telah mengabarkan kepadaku Abu Mas'ud bahwa ada seseorang berkata,

"Wahai Rasulullah, demi Allah! Aku mengakhirkan shalat shubuh berjama'ah karena fulan yang memanjangkan bacaan dalam shalat bersama kami."

Maka aku belum pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam marah dalam memberi pelajaran melebihi marahnya pada hari itu.

Beliau kemudian bersabda: "Sungguh di antara kalian ada orang yang dapat menyebabkan orang lain berlari memisahkan diri. Maka bila seseorang dari kalian memimpin shalat bersama orang banyak hendaklah dia melaksanakannya dengan ringan.

Karena di antara mereka ada orang yang lemah, lanjut usia dan orang yang punya keperluan."
(Hadits Bukhari No. 661)

Jika shalat sendirian, silahkan seseorang memanjangkan shalatnya sesukanya
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika seseorang dari kalian memimpin shalat orang banyak, hendaklah dia meringankannya.

Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang yang sakit dan orang berusia lanjut. Namun bila dia shalat sendiri silahkan dia panjangkan sesukanya."
(Hadits Bukhari No. 662)

Orang yang mengadukan imamnya karena suka memanjangkan shalat
dari Abu Mas'ud berkata,

Seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, sungguh aku tidak ikut shalat shubuh berjama'ah disebabkan fulan yang memanjangkan bacaan saat shalat bersama kami."

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam marah, dan aku belum pernah melihat beliau marah sebelumnya melebihi marahnya pada hari itu.

Kemudian Beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, sungguh di antara kalian ada orang yang dapat menyebabkan orang lain berlari memisahkan diri. Maka barangsiapa memimpin shalat bersama orang banyak hendaklah dia melaksanakannya dengan ringan.

Karena di belakang dia ada orang yang lemah, orang tua yang lanjut usia dan orang yang punya keperluan."
(Hadits Bukhari No. 663)

Orang yang mengadukan imamnya karena suka memanjangkan shalat
Jabir bin 'Abdullah Al Anshari berkata,

"Seorang laki-laki datang dengan membawa dua unta yang baru saja diberinya minum saat malam sudah gelap gulita. Laki-laki itu kemudian tinggalkan untanya dan ikut shalat bersama Mu'adz.

Dalam shalatnya Mu'adz membaca surah Al Baqarah atau surah An Nisaa' sehingga laki-laki tersebut meninggalkan Mu'adz. Maka sampailah kepadanya berita bahwa Mu'adz mengecam tindakannya.

Akhirnya laki-laki tersebut mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mengadukan persoalannya kepada beliau.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Wahai Mu'adz, apakah kamu membuat fitnah?"

Atau kata Beliau: "Apakah kamu menjadi pembuat fitnah? -Beliau ulangi perkataannya tersebut hingga tiga kali- Mengapa kamu tidak membaca saja surat ˝Sabbihisma rabbika˝, atau dengan ˝Wasysyamsi wa dluhaahaa˝ atau ˝Wallaili idzaa yaghsyaa˝?

Karena yang ikut shalat di belakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah atau orang yang punya keperluan."

Perawi berkata, "Menurutku sampai inilah kalimat hadits ini."
(Hadits Bukhari No. 664)

Memendekkan shalat dan menyempurnakannya
dari Anas bin Malik berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan pendek dan sempurna."
(Hadits Bukhari No. 665)

Orang yang mempercepat shalatnya karena mendengar tangisan bayi
dari bapaknya Abu Qatadah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Aku pernah ingin memanjangkan shalat, namun aku mendengar tangisan bayi. Maka aku pendekkan shalatku karena khawatir akan memberatkan ibunya."
(Hadits Bukhari No. 666)

Anas bin Malik berkata,

"Belum pernah aku shalat di belakang seorang Imam pun yang lebih ringan dan lebih sempurna shalatnya daripada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Jika mendengar tangisan bayi, maka beliau ringankan shalatnya karena khawatir ibunya akan terkena fitnah."
(Hadits Bukhari No. 667)

Anas bin Malik menceritakan kepadanya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Saat aku shalat dan ingin memanjangkan bacaanku, tiba-tiba aku mendengar tangisan bayi sehingga aku pun memendekkan shalatku, sebab aku tahu ibunya akan susah dengan adanya tangisan tersebut."
(Hadits Bukhari No. 668)

dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Saat aku shalat dan ingin memanjangkan bacaanku, tiba-tiba aku mendengar tangisan bayi sehingga aku pun memendekkan shalatku, sebab aku tahu ibunya akan susah dengan adanya tangisan tersebut."
(Hadits Bukhari No. 669)

Jika seseorang sudah shalat kemudian shalat lagi sebagai imam bersama orang lain
dari Jabir bin 'Abdullah berkata,

"Mu'adz bin Jabal pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian dia pulang menemui kaumnya dan shalat mengimami mereka."
(Hadits Bukhari No. 670)

Menyambung (memperdengarkan) suara takbir imam
dari 'Aisyah berkata,

"Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam kondisi sakit yang membawa kepada kematiannya, Bilal datang menemui beliau mengabarkan bahwa waktu shalat telah datang.

Beliau lalu berkata: "Kalian suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat."

Aku berkata, "Sesungguhnya Abu Bakar orang yang lemah lembut, jika ia menggantikan posisi tuan, maka dia akan menangis dan tidak akan bisa membaca Al Qur'an."

Beliau berkata lagi: "Kalian suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat."

Aku lalu menyampaikan jawaban yang sama. Maka pada ketiga atau keempat kalinya beliau bersabda: "Sungguh kalian ini seperti isteri-isterinya Yusuf. Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat."

Akhirnya Abu Bakar pun shalat (sebagai Imam). Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dengan diapit oleh dua orang laki-laki dan seolah aku melihat beliau berjalan dengan menyeret kakinya di atas tanah.

Ketika Abu Bakar melihat kedatangan beliau, dia pun berniat mundur. Tetapi beliau memberi isyarat kepadanya seolah berkata: "Tetaplah shalat."

Abu Bakar kemudian bergeser dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam duduk disampingnya, lalu Abu Bakar memperdengarkan suara takbir kepada jama'ah."
(Hadits Bukhari No. 671)

Seseorang yang mengikuti shalat imam lalu orang-orang di belakang mengikuti shalatnya
dari 'Aisyah,

"Ketika sakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah, Bilal datang menemui beliau mengabarkan bahwa waktu shalat telah tiba.

Beliau lalu berkata: "Kalian suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat jama'ah bersama orang banyak."

Aku lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar seorang laki-laki yang lemah lembut, jika ia menggantikan tuan, maka suaranya tidak akan bisa didengar oleh orang-orang. Alangkah lebih baik bila tuan menyuruh 'Umar."

Maka beliau pun bersabda: "Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat bersama orang-orang."

Kemudian aku sampaikan kepada Hafshah, "Katakanlah kepada beliau 'Abu Bakar adalah seorang laki-laki yang lemah lembut, jika ia menggantikan posisi tuan, maka ia tidak akan dapat memperdengarkan suara bacaannya kepada orang-orang. Alangkah lebih baik bila tuan menyuruh 'Umar, sebab Abu Bakar mudah menangis (dalam shalat). Untuk itu, sebaiknya suruhlah 'Umar untuk memimpin shalat orang-orang."

Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Sungguh kalian ini seperti isteri-isterinya Yusuf. Suruhlah Abu Bakar shalat bersama orang-orang."

Kemudian ketika Abu Bakar sudah memulai shalat, tubuh beliau telah nampak enak, beliau pun keluar rumah dengan diapit oleh dua orang laki-laki. Dan seolah aku melihat beliau berjalan dengan menyeret kakinya di atas tanah, hingga masuk ke dalam masjid. Tatkala Abu Bakar mendengar kedatangan beliau maka ia pun berkeinginan untuk mundur. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat kepadanya.

Lalu tibalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hingga beliau duduk di samping kiri Abu Bakar. Abu Bakar shalat dengan bediri sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan duduk, Abu Bakar shalat mengikuti shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan orang-orang mengikuti shalatnya Abu Bakar."
(Hadits Bukhari No. 672)

Apakah seorang imam harus mengikuti koreksi makmum bila dia ragu?
dari Abu Hurairah berkata,

"Ketika Rasulullah telah selesai dari shalat dua rakaat, Dzul Yadain berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, shalatnya sengaja diqashar atau tuan yang lupa?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: "Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain?"
Orang-orang menjawab: "Benar."

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bediri dan mengerjakan shalat dua rakaat yang kurang kemudian salam. Kemudian beliau takbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi."
(Hadits Bukhari No. 673)

dari Abu Hurairah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat Zhuhur dua rakaat. Lalu dikatakan kepada beliau, "Tuan shalat hanya dua rakaat!"

Maka beliau mengerjakan shalat dua rakaat yang kurang kemudian salam, setelah itu beliau sujud dua kali."
(Hadits Bukhari No. 674)

Jika seorang imam menangis dalam shalatnya
dari 'Aisyah Ummul Mukminin,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata saat dalam kondisi sakitnya: "Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat orang-orang."

'Aisyah berkata, "Aku lalu berkata, "Jika Abu Bakar menggantikan posisi tuan, tidak akan mampu memperdengarkan suara bacaannya kepada orang banyak karena dia mudah menangis (dalam shalat). Sebaiknya suruhlah 'Umar untuk memimpin orang-orang shalat berjama'ah."

Beliau bersabda: "Suruhlah Abu Bakar memimpin shalat."

'Aisyah lalu berkata kepada Hafshah, "Katakanlah kepada Beliau, 'Jika Abu Bakar menggantikan posisi tuan, maka dia tidak akan mampu memperdengarkan suara bacaannya kepada orang banyak karena dia sering menangis (dalam shalat). Untuk itu, suruhlah 'Umar untuk memimpin orang-orang shalat berjama'ah."

Maka Hafshah melaksanakannya. Kemudian bersabdalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Celakalah kalian! Sungguh kalian ini seperti isteri-isteri Yusuf. Suruhlah Abu Bakar memimpin orang-orang shalat."

Hafshah lantas kepada 'Aisyah, "Sungguh aku tidak mendapatkan kebaikan darimu."
(Hadits Bukhari No. 675)

Meluruskan barisan shaf ketika dikumandangkan iqamah atau sesudahnya
An Nu'man bin Basyir berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Luruskanlah shaf kalian, atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian."
(Hadits Bukhari No. 676)

dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Luruskanlah shaf, sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik punggungku."
(Hadits Bukhari No. 677)

Imam menghadap ke arah makmum ketika meluruskan shaf
Anas bin Malik ia berkata,

Ketika iqamah shalat telah dikumandangkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbalik menghadapkan mukanya kepada kami seraya bersabda:

"Luruskanlah shaf dan rapatkanlah, sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik punggungku."
(Hadits Bukhari No. 678)

Keutamaan shaf terdepan
dari Abu Hurairah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Orang-orang yang mati syahid itu adalah; orang yang mati kerena tenggelam, karena penyakit kusta, karena sakit perut, dan orang yang mati karena tertimpa reruntuhan."

Beliau juga bersabda: "Seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera menuju shalat, tentulah mereka akan berlomba-lomba.

Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada waktu 'atamah (shalat 'Isya) dan shubuh, tentulah mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak, dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang ada pada shaf pertama tentulah mereka akan berlomba meraihnya."
(Hadits Bukhari No. 679)

Meluruskan shaf merupakan kesempurnaan shalat
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Dijadikannya Imam adalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihnya.

Jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengucapkan ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH˝ maka ucapkanlah, ˝RABBANAA LAKAL HAMDU˝.

Jika ia sujud maka sujudlah kalian, jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semuanya dengan duduk, dan luruskanlah shaf, karena lurusnya shaf merupakan bagian dari sempurnanya shalat."
(Hadits Bukhari No. 680)

dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Luruskanlah shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah bagian dari ditegakkannya shalat."
(Hadits Bukhari No. 681)

Dosa orang yang tidak menyempurnakan (meluruskan dan merapatkan) shaf
dari Anas bin Malik,

bahwa dia datang ke Madinah, lalu dikatakan kepadanya, "Apakah ada sesuatu yang kamu ingkari dari perbuatan kami sejak kamu hidup bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?"

Anas bin Malik menjawab, "Tidak ada sesuatu yang aku ingkari dari kalian kecuali kalian tidak meluruskan shaf dalam shalat."
(Hadits Bukhari No. 682)

Merapatkan bahu dan kaki dalam barisan shalat
dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Luruskanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik punggungku."

Dan setiap orang dari kami merapatkan bahunya kepada bahu temannya, dan kakinya pada kaki temannya.
(Hadits Bukhari No. 683)

Jika seseorang shalat berdiri di sebelah kiri imam, lalu imam menggesernya ke sebelah kanan maka shalatnya tetap sah
dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Pada suatu malam aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku berdiri di samping kirinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian memegang kepalaku dari arah belakangku, lalu menempatkan aku di sebelah kanannya.

Beliau kemudian shalat dan tidur setelahnya. Setelah itu datang mu'adzin kepada beliau, maka beliau pun berangkat shalat dengan tidak berwudlu lagi."
(Hadits Bukhari No. 684)

Seorang Wanita Shalat Sendirian Dianggap Sebagai Shaf
dari Anas bin Malik ia berkata,

"Aku dan seorang anak yatim yang tinggal di rumah kami, pernah ikut shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Sementara ibuku, Ummu Sulaim, shalat di belakang kami."
(Hadits Bukhari No. 685)

Bagian Kanan Masjid dan Imam
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu berkata,

"Pada suatu malam aku pernah shalat di samping kanan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu memegang tanganku atau bahuku kemudian memindahkan aku ke sebelah kirinya."

Ibnu 'Abbas berkata, "Beliau memegangku dengan menggunakan tangannya dari arah belakangku."
(Hadits Bukhari No. 686)

Jika Antara Imam dan Ma'mum Ada Dinding atau Pembatas
dari 'Aisyah berkata,

"Pada suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri shalat sendirian.

Orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau, hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. Kemudian pada malam keduanya beliau kembali shalat, dan orang-orangpun mengikuti shalat beliau kembali. Mereka melakukan ini selama dua atau tiga malam hingga setelah malam itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk di rumahnya dan tidak keluar melaksanakan shalat seperti malam sebelumnya.

Pada pagi harinya orang-orang mempertanyakannya, lalu beliau bersabda: "Aku khawatir bila shalat malam itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian."
(Hadits Bukhari No. 687)

Shalat Malam (Tahajud berjamaah?)
dari 'Aisyah,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki tikar yang di waktu siang digelar, sedang pada waktu malam dijadikannya seperti dinding yang menutupi Beliau dari orang lain. Saat sedang shalat, orang-orang berkumpul ikut shalat di belakang Beliau."
(Hadits Bukhari No. 688)

Shalat Malam (Tahajud berjamaah?)
dari Busr bin Sa'id
dari Zaid bin Tsabit,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membuat satu ruangan."

Busr berkata, "Aku menduga Zaid bin Tsabit berkata, ˝Membuat tikar pada bulan Ramadan, lalu beliau melaksakan shalat malam di (kamar atau tikar) tersebut dalam beberapa malam. Kemudian para sahabat mengikuti shalat beliau.

Ketika mengetahui apa yang mereka lakukan beliau pun berdiam di rumah, setelah itu beliau keluar seraya bersabda kepada mereka:

"Sungguh aku telah mengetahui sebagaimana aku lihat apa yang kalian lakukan. Wahai manusia, shalatlah kalian di rumah-rumah kalian, sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya seseorang yang dilakukannya di rumahnya, kecuali shalat fardhu."
(Hadits Bukhari No. 689)

« Bacaan Shalat Adzan dan Iqomah »

Tentang Shalat
Shalat 5 Waktu
Semua Hadits Shahih BukhariImam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama