Hadits Bukhari Tentang Shalat 5 Waktu

bangpro.xyz — Kumpulan Hadits Shahih Iman Al-Bukhari Kitab Tentang Waktu-Waktu Shalat / Salat / Solat / Sholat 5 Waktu.

HaditsShahih Al-Bukhari
KitabWaktu-waktu Shalat
Nomor491 - 567
No. VersiFathul Bari

Keutamaan Shalat 5 Waktu
Shalat Zhuhur Shalat Ashar
Shalat Maghrib Shalat Isya
Shalat Subuh Lain - Lain

Keutamaan Shalat 5 Waktu

Waktu-waktu shalat dan keutamaannya
dari Ibnu Syihab

bahwa 'Umar bin 'Abdul 'Aziz pada suatu hari mengakhirkan pelaksanaan shalat.

Kemudian 'Urwah bin Az Zubair datang menemuinya dan mengabarkan kepadanya bahwa Al Mughirah bin Syu'bah pada suatu hari juga pernah mengakhirkan shalat, dan saat itu dia tinggal di 'Irak.

Kemudian Abu Mas'ud Al Anshari datang menemuinya seraya berkata, "Apa yang kamu lakukan ini wahai Al Mughirah?
Bukankah kamu telah mengetahui bahwa Malaikat Jibril shallallahu 'alaihi wasallam pernah turun kemudian melaksanakan shalat, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga ikut melaksanakan shalat?
Kemudian Jibril shalat lagi dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga ikut shalat kembali?
Kemudian Jibril shalat lagi dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga ikut shalat kembali?
Kemudian Jibril shalat lagi dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga ikut shalat kembali?
Kemudian Jibril shalat lagi dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga ikut shalat kembali?
Kemudian Jibril berkata, "Inilah waktu-waktu yang diperintahkan kepadaku (agar engkau melaksanakannya)."

'Umar lalu berkata kepada 'Urwah, "Ketahuilah apa yang kamu ceritakan! Sesungguhnya Jibril datang untuk menjelaskan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat."
'Urwah berkata, "Begitulah adanya. bahwasanya Basyir bin Abu Mas'ud menceritakan dari Bapaknya.

Urwah berkata, " Aisyah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat 'Ashar, sementara cahaya matahari yang ada dalam kamarnya belum nampak."
(Hadits Bukhari No. 491)

Firman Allah SWT "Dengan kembali bertaubat kepada-Nya, bertaqwa dan dirikanlah shalat …"
-Al Hantam (bejana yang terbuat dari tembikar)
- Ad Dubba' (wadah bundar dari pohon labu yang digunakan untuk membuat perasan anggur)
- Al Muzaffat (wadah yang dipolesi dengan ter)
- An naqir (wadah dari pohon kurma yang dilubangi)
dari Ibnu 'Abbas berkata,

Utusan 'Abdul Qais datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Sesungguhnya kami dari suku Rabi'ah, dan kami tidak dapat mengunjungi tuan kecuali pada bulan haram. Maka perintahlah kepada kami dengan sesuatu yang kami ambil dari tuan dan dapat kami sampaikan kepada penduduk kami."

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku perintahkan kalian dengan empat perkara dan aku larang dari empat perkara; Iman kepada Allah.

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan kepada mereka;
yaitu persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah,
menegakkan shalat, menunaikan zakat, pusa Ramadan dan kalian keluarkan seperlima dari harta rampasan perang.

Dan aku larang kalian dari Ad Duba`, Al Hantam, Al Muqayyar dan An Naqir."
(Hadits Bukhari No. 492)

Berbaiat untuk menegakkan shalat
dari Jarir bin 'Abdullah berkata,

"Aku membai'at Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat dan untuk setia kepada setiap Muslim."
(Hadits Bukhari No. 493)

Shalat adalah kafarah (penebus kesalahan)
Hudzaifah berkata,

Kami pernah bermajelis bersama 'Umar, lalu ia berkata, "Siapa di antara kalian yang masih ingat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang masalah fitnah?"

Aku lalu menjawab, "Aku masih ingat seperti yang beliau sabdakan!"
'Umar bertanya, "Kamu dengar dari beliau atau kamu mendengar perkataan itu dari orang lain?"

Aku menjawab, "Yaitu fitnah seseorang dalam keluarganya, harta, anak dan tetangganya. Dan fitnah itu akan terhapus oleh amalan shalat, puasa, sedekah, amar ma'ruf dan nahi munkar."

'Umar berkata, "Bukan itu yang aku mau. Tapi fitnah yang dahsyat seperti dahsyatnya air laut."

Hudzaifah berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya fitnah itu tidak akan membahayakan engkau! antara engkau dengannya terhalang oleh pintu yang tertutup."

'Umar bertanya; "Pintu yang rusak atau terbuka?"
Hudzaifah menjawab, "Rusak."
'Umar pun berkata, "Kalau begitu tidak akan bisa ditutup selamanya!"

Kami (perawi) bertanya, "Apakah 'Umar mengerti pintu yang dimaksud?"
Hudzaifah menjawab, "Ya. Sebagaimana mengertinya dia bahwa setelah pagi adalah malam hari. Aku telah menceritakan kepadanya suatu hadits yang tidak ada kerancuannya."

Namun kami takut untuk bertanya kepada Hudzaifah, lalu aku suruh Masruq untuk, lalu ia pun menanyakannya kepadanya.
Hudzaifah lalu menjawab, "Pintu itu adalah Umar."
(Hadits Bukhari No. 494)

Shalat adalah kafarah (penebus kesalahan/dosa)
dari Ibnu Mas'ud,

bahwa ada seorang laki-laki mencium seorang wanita, ia lalu mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mengabarkan kepada beliau.

Maka turunlah firman Allah: "(Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk)" (Qs. Huud: 114).

Laki-laki itu lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah ini khusus buatku?"
beliau menjawab: "Untuk semua umatku."
(Hadits Bukhari No. 495)

Keutamaan shalat pada waktunya
Abu 'Amru Asy Syaibani berkata,

Pemilik rumah ini menceritakan kepada kami -seraya menunjuk rumah 'Abdullah - ia berkata, ˝Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?"

Beliau menjawab: "Shalat pada waktunya."

'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?"
Beliau menjawab: "Kemudian berbakti kepada kedua orangtua."
'Abdullah bertanya lagi, "Kemudian apa lagi?"
Beliau menjawab: "Jihad fi sabilillah (di jalan Allah)."

'Abdullah berkata, "Beliau sampaikan semua itu, sekiranya aku minta tambah, niscaya beliau akan menambahkannya untukku."
(Hadits Bukhari No. 496)

Shalat lima waktu sebagai kafarah (penebus kesalahan)
dari Abu Hurairah, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu dia mandi lima kali setiap hari? Apakah kalian menganggap masih akan ada kotoran (daki) yang tersisa padanya?"

Para sahabat menjawab, "Tidak akan ada yang tersisa sedikitpun kotoran padanya."

Lalu beliau bersabda: "Seperti itu pula dengan shalat lima waktu, dengannya Allah akan menghapus semua kesalahan."
(Hadits Bukhari No. 497)

Menyia-nyiakan shalat dari waktunya
dari Anas berkata,

"Aku tidak pernah mengenal sasuatupun di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti apa yang terjadi sekarang."

Dikatakan kepadanya, "Apakah yang kau maksud shalat?"
Anas berkata, "Bukankah memang benar kalian telah melalaikannya?"
(Hadits Bukhari No. 498)

Az Zuhri berkata,

Aku pernah menemui Anas bin Malik di Damaskus, sementara saat itu ia sedang menangis.
Aku lalu bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?"

Anas lalu menjawab, "Aku tidak pernah mengenal sasuatupun di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti apa yang aku temui sekarang selain masalah shalat. Shalat sekarang ini sudah dilalaikan."
(Hadits Bukhari No. 499)

Orang yang sedang shalat adalah orang yang sedang munajat (berkomunikasi) kepada Allah
Hisyam dari Qatadah dari Anas bin Malik berkata, ˝Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian shalat bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah dia meludah ke sebelah kanannya, tetapi henklah ke sebelah kiri atau bawah kaki kirinya."

Sa'id menyebutkan dari Qatadah, "Janganlah dia meludah ke arah depannya, tetapi ke sebelah kiri atau di bawah kedua kakinya."

Syu'bah menyebutkan: "Janganlah ia meludah ke arah depan atau sebelah kanannya, tetapi hendaklah ke sebelah kiri atau di bawah kaki kirinya."

Dan Humaid menyebutkan dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Janganlah ia meludah ke arah kiblat atau sebelah kanannya, tetapi hendaklah ke sebelah kiri atau di bawah kakinya."
(Hadits Bukhari No. 500)

dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Seimbanglah dalam sujud dan janganlah seseorang meletakkan tangannya seperti anjing.
Dan jika meludah, maka jangan sekali-kali ia meludah ke arah depan atau ke sebelah kanannya.
Karena dia sedang berhadapan dengan Rabbnya."
(Hadits Bukhari No. 501)

Hadits Tentang Shalat Zhuhur

Menunggu cuaca sejuk untuk mengerjakan shalat Zhuhur ketika matahari panas menyengat
dari Abu Hurairah dan Nafi' mantan budak 'Abdullah bin 'Umar, dari 'Abdullah bin 'Umar bahwa keduanya menceritakan kepadanya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

"Jika udara sangat panas menyengat maka tundalah shalat, karena panas yang sangat menyengat itu berasal dari hembusan api neraka jahannam."
(Hadits Bukhari No. 502)

dari Abu Dzar berkata,

Seorang mu'adzin Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengumandangkan adzan Zhuhur.
Kemudian beliau bersabda: "Tundalah, tundalah."
Atau beliau katakan: "Tunggulah, tunggulah."

Beliau kemudian melanjutkan: "Panas yang menyengat ini berasal dari hembusan api jahannam. Jika udara sangat panas menyengat maka tundalah shalat hingga kita melihat bayangan suatu benda."
(Hadits Bukhari No. 503)

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Apabila panas sangat menyengat maka tundalah shalat hingga panasnya mereda. Sebab panas yang sangat menyengat itu berasal dari hembusan api jahannam.

Neraka jahannam mengadu kepada Rabbnya seraya berkata, ˝Wahai Rabb, sebagian kami telah makan sebagian yang lain!˝

maka Allah pun memberinya izin dengan dua tarikan nafas;
sekali saat musim dingin dan sekali saat musim panas.

Maka apa yang kalian rasakan berupa udara panas berasal darinya, begitu juga udara dingin yang kalian rasakan berasal darinya."
(Hadits Bukhari No. 504)

dari Abu Sa'id berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tundalah shalat Zhuhur (hingg panas mereda), karena panas yang sangat menyengat berasal dari hembusan jahannam."
(Hadits Bukhari No. 505)

Menunggu cuaca sejuk untuk mengerjakan shalat Zhuhur dalam perjalanan
dari Abu Dzar Al Ghifari berkata,

Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, ketika ada mu'adzin yang hendak mengumandangkan adzan Zhuhur,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tundalah."

Sesaat kemudian mu'adzin itu kembali akan mengumandangkan adzan.
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun kembali bersabda: "Tundalah hingga kita melihat bayang-bayang bukit."

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya panas yang sangat menyengat itu berasal dari hembusan api jahannam. Maka apabila udara sangat panas menyengat tundalah shalat (hingga panas) mereda."

Ibnu 'Abbas berkata, "Maksud dari firman Allah: tataqayya'u (Qs. An Nahl: 48) adalah condong."
(Hadits Bukhari No. 506)

telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik,

ketika matahari panas terik Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar rumah melaksanakan shalat Zhuhur, kemudian beliau naik ke atas mimbar dan menyebutkan tentang hari kiamat. Beliau sebutkan bahwa pada saat itu terdapat perkara yang besar,

kemudian beliau katakan: "Siapa ingin bertanya maka bertanyalah. Dan tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku akan kabarkan kepada kalian selama aku masih berada di tempatku ini."

Tiba-tiba para sahabat menangis, dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terus mengulangi: "Bertanyalah kepadaku."

Maka berdirilah 'Abdullah bin Khudzafah As Sahmi seraya berkata, "Siapakah ayahku?"
Beliau menjawab: "Ayahmu Hudzafah."
Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta lagi: "Bertanyalah kepadaku."

Maka bangkitlah 'Umar dari posisi duduk berlututnya lantas berkata, "Kami ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi."

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam sejenak kemudian bersabda: "Barusan diperlihatkan kepadaku surga dan neraka dari balik dinding ini, aku tidak lihat kebaikan sebagaimana keburukan."
(Hadits Bukhari No. 507)

Waktu shalat Zhuhur adalah setelah matahari condong (ke barat) dan tentang waktu-waktu Sholat 5 waktu)
Hafsh bin 'Umar berkata,
telah menceritakan kepada kami Syu'bah
telah menceritakan kepada kami Abu Al Minhal
dari Abu Barzah,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat shubuh, dan salah seorang dari kami dapat mengetahui siapa orang yang ada di sisinya. Dalam shalat tersebut beliau membaca antara enam puluh hingga seratus ayat.
Dan beliau shalat Zhuhur saat matahari sudah condong,
shalat 'Ashar saat salah seorang dari kami pergi ke ujung kota dan matahari masih terasa panas sinarnya.
Dan aku lupa apa yang dibaca beliau saat shalat Maghrib.
Dan beliau sering mengakhirkan pelaksanaan shalat 'Isya hingga sepertiga malam lalu melaksanakannya sampai pertengahan malam."

Mu'adz berkata, Syu'bah berkata; "Aku pernah berjumpa denganya pada suatu hari, berkata, ˝Atau sepertiga malam˝."
(Hadits Bukhari No. 508)

dari Anas bin Malik ia berkata,

"Jika kami shalat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada shalat Zhuhur saat udara panas, kami sujud beralaskan pakaian kami untuk menghindari panasnya pasir."
(Hadits Bukhari No. 509)

Mengakhirkan pelaksanaan shalat Zhuhur sampai (menjelang) waktu 'Ashar
dari Ibnu 'Abbas,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat di Madinah sebanyak tujuh dan delapan, yaitu shalat Zhuhur, 'Ashar, Maghrib dan 'Isya'."

Ayyub berkata, "Barangkali hal itu ketika pada malam itu hujan."
Ibnu Abbas berkata, "Bisa jadi."
(Hadits Bukhari No. 510)

Hadits Tentang Shalat Ashar No.511-525

Waktu Shalat Ashar
Anas bin 'Iyadl dari Hisyam dari Bapaknya bahwa
'Aisyah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat 'Ashar sedangkan matahari belum berlalu dari kamarnya (rumah 'Aisyah)."

Abu Umamah menyebutkan dari Hisyam, "Dari dalam kamarnya (posisi cahayanya)."
(Hadits Bukhari No. 511)

dari 'Aisyah,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat 'Ashar sementara matahari yang ada dikamarnya belum menampakkan bayang-bayang."
(Hadits Bukhari No. 512)

dari 'Urwah
dari 'Aisyah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat 'Ashar sementara matahari muncul dari dalam kamarku dan belum nampak bayang-bayang."

Jalur Lain
menyebutkan, "Sementara matahari belum lagi nampak bayangannya."
(Hadits Bukhari No. 513)

dari Sayyar bin Salamah berkata,

Aku dan bapakku datang menemui Abu Barzah Al Aslami.
Lalu bapakku berkata kepadanya, "Bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat yang diwajibkan?"

Abu Barzah menjawab, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur, yang kalian sebut sebagai waktu utama, saat matahari telah tergelincir,
shalat 'Ashar ketika salah seorang dari kami kembali dengan kendaraannya di ujung Kota sementara matahari masih terasa panas sinarnya.
Dan aku lupa apa yang dibaca beliau saat shalat Maghrib.
Beliau lebih suka mengakhirkan shalat 'Isya yang kalian sebut dengan shalat 'atmah, dan beliau tidak suka tidur sebelum shalat Isya dan (tidak suka) berbincang-bincang sesudahnya.
Dan beliau melaksanakan shalat Shubuh ketika seseorang dapat mengetahui siapa yang ada di sebelahnya, beliau membaca enam hingga seratus ayat."
(Hadits Bukhari No. 514)

dari Anas bin Malik berkata,

"Kami pernah shalat 'Ashar kemudian orang-orang keluar menuju Bani 'Amru bin 'Auf, dan kami dapati mereka sedang melaksanakan shalat 'Ashar."
(Hadits Bukhari No. 515)

Abu Umamah bin Sahl berkata,

"Kami pernah shalat Zhuhur bersama 'Umar bin 'Abdul 'Aziz. Setelah selesai kami keluar mendatangi Anas bin Malik, dan saat itu kami dapati mereka sedang melaksanakan shalat 'Ashar.

Maka aku pun bertanya, "Wahai paman, shalat apakah yang kamu kerjakan ini?"

Dia menjawab, "Shalat 'Ashar. Saat seperti inilah shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pernah kami lakukan bersamanya."
(Hadits Bukhari No. 516)

Anas bin Malik berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat 'Ashar saat matahari masih meninggi. Dan jika ada seseorang pergi menemui keluarganya kemudian kembali, maka ia akan mendapati matahari masih tinggi.

Sedangkan sebagian desa jaraknya dengan Madinah ada yang berjarak sampai empat mil (6,4KM) atau sekitar itu."
(Hadits Bukhari No. 517)

dari Anas bin Malik berkata,

"Kami pernah melakanakan shalat 'Ashar, dan jika salah seorang dari kami pergi ke Quba mendatangi mereka (penduduk), maka matahari masih tinggi."
(Hadits Bukhari No. 518)

Dosa orang yang kehilangan shalat 'Ashar
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Orang yang kehilangan shalat 'Ashar (dengan berjama'ah) seperti orang yang kehilangan keluarga dan hartanya."

Saat menafsirkan ayat: "(Dia sekali-kali tidak akan mengurangi)" (Qs. Muhammad: 35)
Abu Abdullah berkata, "Bila kamu membunuh seseorang atau kamu mengambil hartanya."
(Hadits Bukhari No. 519)

Orang yang meninggalkan shalat 'Ashar
dari Al Malih berkata,

Kami pernah bersama Buraidah pada suatu peperangan saat cuaca mendung, lalu ia berkata, "Segeralah laksanakan shalat 'Ashar! Karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:

"Barangsiapa meninggalkan shalat 'Ashar sungguh hapuslah amalnya."
(Hadits Bukhari No. 520)

Keutamaan shalat Ashar
telah menceritakan kepada kami Isma'il
dari Qais
dari Jarir bin 'Abdullah berkata,

Pada suatu malam kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda:

"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan untuk melaksanakan shalat sebelum terbit matahri dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah."

Beliau kemudian membaca ayat: "(Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya)" (Qs. Qaaf: 39).

Isma'il menyebutkan, "Kerjakanlah dan sekali-kali jangan sampai kalian terlewatkan."
(Hadits Bukhari No. 521)

dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Para Malaikat malam dan Malaikat siang silih berganti mendatangi kalian. Dan mereka berkumpul saat shalat Fajar (Subuh) dan 'Ashar.

Kemudian Malaikat yang menjaga kalian naik ke atas hingga Allah Ta'ala bertanya kepada mereka, dan Allah lebih mengetahui keadaan mereka (para hamba-Nya), ˝Dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hambaKu?˝

Para Malaikat menjawab, ˝Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sedang mendirikan shalat. Begitu juga saat kami mendatangi mereka, mereka sedang mendirikan shalat˝."
(Hadits Bukhari No. 522)

Orang yang mendapatkan satu rakaat shalat 'Ashar sebelum masuk waktu Maghrib
dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika seeorang dari kalian mendapatkan sujud shalat 'Ashar sebelum terbenam matahari maka sempurnakanlah, dan jika mendapatkan sujud shalat Subuh sebelum terbit matahari maka sempurnakanlah."
(Hadits Bukhari No. 523)

dari Salim bin 'Abdullah dari Bapaknya ia mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya keberadaan kalian dibandingakan ummat-ummat sebelum kalian seperti masa antara shalat 'Ashar dan terbenamnya matahari.

Ahlu Taurat diberikan Kitab Taurat, kemudian mereka mengamalkannya hingga apabila sampai pertengahan siang hari mereka menjadi lemah (tidak kuat sehingga melalaikannya). Maka mereka diberi pahala satu qirath satu qirath.

Kemudian Ahlu Injil diberikan Kitab Injil, lalu mereka mengamalkannya hingga waktu shalat 'Ashar, dan mereka pun melemah. Maka merekapun diberi pahala satu qirath satu qirath.

Sedangkan kita diberikan Al Qur'an, lalu kita mengamalkannya hingga matahari terbenam, maka kita diberi pahala dua qirath dua qirath.

kedua Ahlul Kitab tersebut berkata, ˝Wahai Rabb kami, bagaimana Engkau memberikan mereka dua qirath dua qirath dan Engkau beri kami satu qirath satu qirath. Padahal kami lebih banyak beramal!˝."

Beliau melanjutkan kisahnya:
"Maka Allah 'azza wajalla bertanya: ˝Apakah Aku menzhalimi sesuatu dari bagian pahala kalian?˝
Mereka menjawab, ˝Tidak˝.

Maka Allah 'azza wajalla berfirman: ˝Itulah karunia-Ku yang Aku berikan kepada siapa yang Aku kehendaki˝."
(Hadits Bukhari No. 524)

dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Perumpaman Kaum Muslimin, Yahudi dan Nashara seperti seseorang yang memperkerjakan suatu Kaum, mereka harus bekerja untuknya hingga malam hari, sementara mereka hanya beramal hingga siang hari. Mereka berkata, ˝Kami tidak patut menerima upah darimu.˝

Akhirnya orang itu memperkerjakan Kaum yang lain dan berkata, ˝Sempurnakanlah sisa hari yang ada, nanti kalian mendapatkan bagian upah sesuai persyaratanku.˝

Maka mereka mengerjakan pekerjaan hingga hanya sampai waktu 'Ashar, mereka lalu berkata, ˝Kami kembalikan pekerjaan kepadamu.˝

Lalu orang itu memperkerjakan Kaum yang lain lagi. Maka Kaum tersebut bekerja menuntaskan sisa hari sampai matahari terbenam. Jadilah Kaum ini menyempurnakan pahala dua Kaum sebelumnya."
(Hadits Bukhari No. 525)

Hadits Tentang Shalat Maghrib

Waktu shalat Maghrib
Abu An Najasyi Shuhaib mantan budak Rafi' bin Khadij, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rafi' bin Khadij berkata,

"Kami pernah shalat Maghrib bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ketika salah seorang dari kami berlalu pergi, maka ia masih dapat melihat tempat sandal kami."
(Hadits Bukhari No. 526)

dari Muhammad bin 'Amru bin Al Hasan bin 'Ali berkata,

Al Hajjaj pernah menunda pelaksanaan shalat, maka kami bertanya kepada Jabir bin 'Abdullah. Maka dia menjawab,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur ketika matahari telah condong,
shalat 'Ashar saat matahari masih terasa panas sinarnya,
shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam,
dan shalat 'Isya terkadang beliau mengikuti kedaan jama'ah; jika beliau lihat sudah berkumpul maka beliau segerakan, dan jika mereka belum berkumpul maka beliau akhirkan.
Sementara untuk shalat Subuh, mereka atau beliau melaksanakannya saat pagi masih gelap."
(Hadits Bukhari No. 527)

dari Salamah berkata,

"Kami pernah shalat Maghrib bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika matahari sudah tenggelam tidak terlihat."
(Hadits Bukhari No. 528)

Jamak shalat (maghrib+isya) (zhuhur+ashar)
dari 'Abdullah bin 'Abbas berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat tujuh rakaat dengan jama' dan delapan rakaat dengan jama'."
(Hadits Bukhari No. 529)

Tidak disukainya menyebut Maghrib sebagai 'Isya
telah menceritakan kepadaku 'Abdullah bin Mughaffal Al Muzani, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah kalian dikalahkan oleh orang Badui dalam menamakan (melaksanakan) shalat Maghrib kalian."

'Abdullah bin Mughaffal Al Muzani berkata, "Orang Badui menyebut Maghrib dengan 'Isya (kerena mereka menunda pelaksanaan Maghrib hingga masuk waktu 'Isya)."
(Hadits Bukhari No. 530)

Hadits Tentang Shalat Isya

Masalah shalat Isya dan waktu 'atamah (sepertiga malam pertama) dan mereka yang berpendapat bahwa waktu shalat 'Isya panjang
Abdullah mengabarkan kepadaku, ia berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memimpin kami melaksanakan shalat 'Isya pada waktu yang orang-orang menyebutnya dengan sebutan 'Atamah.

Selesai shalat beliau berpaling dan menghadap ke arah kami seraya bertanya:

˝Tidakkah kalian melihat malam kalian ini?
Ketahuilah, sesungguhnya pada setiap seratus tahun tidak ada seorang pun yang hidup di atas bumi akan tersisa˝."
(Hadits Bukhari No. 531)

Waktu shalat Isya jika manusia sudah berkumpul atau belum datang.
dari Muhammad bin 'Amru -yaitu Ibnu Al Hasan bin 'Ali- ia berkata,

Kami pernah bertanya kepada Jabir bin 'Abdullah tentang shalatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ia lalu menjawab,

"Beliau melaksanakan shalat Zhuhur jika matahari sudah condong,
shalat 'Ashar saat matahari masih terasa panasnya (masih terang),
shalat Maghrib ketika matahari sudah tenggelam,
sedangkan shalat Isya; jika orang-orang sudah berkumpul maka beliau segerakan, dan jika belum maka beliau akhirkan.
Dan waktu untuk shalat Subuh saat pagi masih gelap."
(Hadits Bukhari No. 532)

Keutamaan Shalat Isya (sepertiga akhir malam)
dari 'Urwah bahwa 'Aisyah mengabarkan kepadanya, ia katakan,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat 'Isya ketika malam telah masuk sepertiga akhir malam ('Atamah), dan itu terjadi ketika Islam belum luas tersebar.

Beliau tidak juga keluar hingga 'Umar berkata, ˝Para wanita dan anak-anak sudah tidur!˝

Maka beliau pun keluar dan bersabda kepada orang-orang yang ada di Masjid: ˝Tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat ini selain kalian˝."
(Hadits Bukhari No. 533)

Keutamaan shalat Isya (pertengahan malam)
dari Abu Burdah
dari Abu Musa ia berkata,

Aku dan sahabat-sahabatku yang pernah ikut dalam perahu singgah pada tanah lapang yang memiliki aliran air, sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada di Madinah. Di antara mereka ada beberapa orang yang saling bergantian mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat 'Isya di setiap malamnya.

Hingga pada suatu malam, aku dan para sahabatku menjumpai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu sedang sibuk dengan urusannya, sehingga beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat Isya hingga pada pertengahan malam.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk menunaikan shalat bersama mereka. Selesai shalat beliau bersabda kepada orang-orang yang hadir: ˝Tetaplah kalian di tempat kalian, dan bergemberilah. Sesungguhnya termasuk dari nikmat Allah kepada kalian adalah didapatinya seorang pun saat ini yang melaksanakan shalat (Isya) selain kalian.˝

Atau Beliau bersabda: ˝Tidak ada yang melaksanakan shalat pada waktu seperti ini kecuali kalian.˝

Namun ia terlupa mana dari dua kalimat ini yang dikatakan beliau.

Abu Burdah berkata, Abu Musa, "Maka kami kembali dengan gembira dengan apa yang kami dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 534)

Tidak disukainya tidur sebelum shalat Isya
dari Abu Barzah,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak suka tidur sebelum shalat Isya dan (tidak suka) berbincang-bincang setelahnya."
(Hadits Bukhari No. 535)

Tidur sebelum shalat Isya bagi orang yakin tidak akan ketiduran (sampai pagi)
'Aisyah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengakhirkan shalat Isya hingga sepertiga malam yang akhir.

Lalu 'Umar pun berseru kepada beliau, ˝(Laksanakanlah) shalat, sebab para wanita dan anak-anak telah terlelap tidur.˝

Maka keluarlah beliau seraya berkata: ˝Tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat Isya ini selain kalian.˝

Beliau tidaklah melaksanakan shalat seperti ini kecuali di Madinah. Dan mereka melaksanakan shalat antara hilangnya syafaq (cahaya kemerahan di langit) hingga sepertiga awal dari malam."
(Hadits Bukhari No. 536)

Tidur sebelum shalat Isya bagi orang yang yakin tidak akan ketiduran (sampai pagi)
Ibnu Juraij berkata,
telah mengabarkan kepadaku Nafi' berkata,
telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin 'Umar,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah suatu malam disibukkan dengan urusan sehingga mengakhirkan shalat Isya.
Dan karenanya kami tertidur di dalam masjid. Lalu kami terbangun, lalu tertidur, lalu terbangun lagi hingga akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami seraya bersabda: "Tidak ada seorangpun dari penduduk bumi yang menunggu shalat seperti ini selain kalian."

Dan Ibnu 'Umar tidak mempermasalahkan apakah Beliau memajukannya atau mengakhirkan. Pelaksanakaannya. Dan Ibnu Umar tidur dahulu sebelum shalat Isya.

Ibnu Juraij berkata, "Aku bertanya kepada 'Atha', lalu dia berkata, "Aku mendengar Ibnu 'Abbas berkata, "Pernah suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengakhirkan shalat Isya hingga banyak orang tertidur, kemudian mereka terbangun, lalu tertidur lagi, kemudian terbangun lagi."

'Umar bin Al Khaththab lalu berdiri dan berkata, "Shalat."

'Atha' berkata, Ibnu 'Abbas, "Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian keluar dengan meletakkan tangan pada kepala, seakan aku melihat rambut beliau basah meneteskan air.

Beliau kemudiaan bersabda: "Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan perintahkan mereka melaksanakan shalat Isya seperti waktu sekarang ini."

Aku (Ibnu Juraij) kemudian menanyakan kepada 'Atha untuk memastikan kenapa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan tangannya di kepalanya sebagaimana yang diberitakan oleh Ibnu 'Abbas.

Maka 'Atha merenggangkan sedikit jari-jarinya kemudian meletakkan ujung jarinya di atas sisi kepala, kemudian ia menekannya sambil menggerakkan ke sekeliling kepala hingga ibu jarinya menyentuh ujung telinga yang dimulai dari pelipis hingga pangkal jenggot. Dia melakukannya tidak pelan juga tidak cepat, kecuali sedang seperti itu.

Lalu Beliau bersabda: "Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan perintahkan mereka melaksanakan shalat seperti waktu sekarang ini."
(Hadits Bukhari No. 537)

Waktu shalat Isya sampai pertengahan malam
dari Anas bin Malik berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengakhirkan shalat Isya hingga pertengahan malam, setelah melaksanakan shalat beliau bersabda:

"Manusia semuanya sudah selesai shalat lalu mereka tidur. Dan kalian akan senantiasa dalam hitungan shalat selama kalian menunggu pelaksanaannya."

Jalur Lain
Anas bin Malik berkata, "Pada malam itu aku seolah melihat cahaya cincin Beliau."
(Hadits Bukhari No. 538)

Hadits Tentang Shalat Subuh

Keutamaan shalat Fajar (Subuh)
Jarir bin 'Abdullah berkata kepadaku,

Kami sedang bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau melihat rembulan di malam purnama. Kemudian beliau bersabda:

"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihatnya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah, "

Kemudian beliau membaca: ˝(Maka bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya)˝ (Qs. Qaaf: 38).
(Hadits Bukhari No. 539)

Keutamaan shalat Fajar (Shubuh)
dari Abu Bakar bin Abu Musa dari Bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa mengerjakan shalat pada dua waktu dingin, maka dia akan masuk surga."
(Hadits Bukhari No. 540)

Waktu shalat Subuh
dari Anas bin Malik bahwa Zaid bin Tsabit telah menceritakan kepadanya,

"bahwa mereka pernah sahur bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian mereka berdiri untuk melaksanakan shalat."

Aku bertanya, "Berapa jarak antara sahur dengan shalat subuh?"
Dia menjawab, "Antara lima puluh hingga enam puluh ayat."
(Hadits Bukhari No. 541)

Waktu shalat Shubuh
dari Anas bin Malik,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit makan sahur bersama. Setelah keduanya selesai makan sahur, beliau lalu bangkit melaksanakan shalat."

Kami bertanya kepada Anas, "Berapa rentang waktu antara selesainya makan sahur hingga keduanya melaksanakan shalat?"

Anas bin Malik menjawab, "Kira-kira waktu seseorang membaca lima puluh ayat."
(Hadits Bukhari No. 542)

Waktu shalat Subuh
Sahl bin Sa'd berkata,

"Suatu kali aku pernah makan sahur bersama keluargaku, kemudian aku bersegera agar dapat melaksanakan shalat Subuh bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 543)

Waktu shalat Subuh (Fajar)
Aisyah mengabarkan kepadanya, ia mengatakan,

"Kami, wanita-wanita Mukminat, pernah ikut shalat fajar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan menutup wajahnya dengan kerudung, kemudian kembali ke rumah mereka masing-masing setelah selesai shalat tanpa diketahui oleh seorangpun karena hari masih gelap."
(Hadits Bukhari No. 544)

Orang yang mendapatkan satu raka'at shalat Subuh pada waktunya
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat subuh sebelum terbit matahari berarti dia mendapatkan subuh.

Dan siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat 'Ashar sebelum terbenam matahari berarti dia telah mendapatkan 'Ashar."
(Hadits Bukhari No. 545)

Orang yang mendapatkan satu raka'at dari shalat
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari shalat berarti dia telah mendapatkan shalat."
(Hadits Bukhari No. 546)

Shalat setelah Subuh sampai matahari telah meninggi
dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Orang-orang yang diridhoi mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhoi adalah 'Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang shalat setelah Subuh hingga matahari terbit, dan setelah 'Ashar sampai matahari terbenam."

Jalur Lain
Ibnu 'Abbas berkata, "Orang-orang (para sahabat) menceritakan hadits ini kepadaku."
(Hadits Bukhari No. 547)

Ibnu 'Umar berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah kalian sengaja melaksanakan shalat ketika matahari sedang terbit dan juga ketika terbenamnya."

Dan telah menceritakan kepadaku Ibnu 'Umar berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika matahari sedang terbit maka tundalah shalat hingga telah meninggi, dan jika matahari sedang terbenam maka tundalah shalat hingga menghilang."
(Hadits Bukhari No. 548)

-Shama (membungkus seluruh tubuh tanpa ada celah untuk tangan keluar)
-ihtiba (duduk di atas bokong dan mendekap kedua lutut menempel dada)
-al munabadzah (masing-masing pihak melempar/menawarkan pakaiannya kepada temannya dan masing-masing mereka tidak melihat pakaian temannya)
-al mulamasah (Kain mana saja yang engkau sentuh, maka kain tersebut menjadi milikmu dengan harga sekian)
dari Abu Hurairah,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang dari dua macam jual beli, dua cara berpakaian dan dua shalat.

Beliau melarang shalat setelah Subuh sampai terbit matahari dan setelah 'Ashar sampai matahari terbenam.

Melarang dari pakaian shama` dan duduk ihtiba` dengan satu kain sehingga menghadapkan kemaluannya ke langit.

Dan beliau juga melarang dari jual beli Al Munabadzah dan Al Mulamasah."
(Hadits Bukhari No. 549)

Hadits Waktu-Waktu Shalat Lainnya

Hendaklah jangan shalat sebelum matahari terbenam
dari Ibnu 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah salah seorang dari kalian sengaja shalat ketika matahari sedang terbit dan atau ketika saat terbenam."
(Hadits Bukhari No. 550)

Abu Sa'id Al Khudri berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada shalat setelah Subuh hingga matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah 'Ashar hingga matahari menghilang."
(Hadits Bukhari No. 551)

Mu'awiyyah berkata,

"Sungguh kalian telah mengerjakan suatu shalat (yang dilarang). Kami telah mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan kami tidak pernah melihat beliau melaksanakannya. Beliau telah melarang keduanya, yaitu dua rakaat setelah shalat 'Ashar."
(Hadits Bukhari No. 552)

dari Abu Hurairah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang dari dua macam shalat; dua rakaat setelah Subuh hingga terbit matahari dan dua rakaat setelah 'Ashar hingga matahari terbenam."
(Hadits Bukhari No. 553)

Pendapat yang tidak memakruhkan shalat kecuali setelah Ashar dan Subuh
dari Ibnu 'Umar berkata,

"Aku melaksanakan shalat sebagaimana aku melihat para sahabatku melaksanakannya.

Aku tidak melarang seorangpun untuk melaksanakan shalat baik di malam hari maupun di siang hari, kecuali bila kalian sengaja mengerjakannya saat matahari sedang terbit atau ketika sedang terbenamnya."
(Hadits Bukhari No. 554)

Mengerjakan shalat yang tertinggal atau lainnya setelah 'Ashar
Aisyah berkata,

"Demi Dzat yang telah mewafatkan beliau, beliau tidak pernah meninggalkan keduanya hingga beliau berjumpa Allah, dan tidaklah beliau bertemu Allah hingga terasa berat mengerjakan shalat (tua).

Beliau sering mengerjakan shalat dengan duduk, yakni dua rakaat setelah 'Ashar. Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengerjakannya di masjid karena khawatir akan memberatkan ummatnya, sebab beliau lebih suka meringankan mereka."
(Hadits Bukhari No. 555)

Mengerjakan shalat yang tertinggal atau lainnya setelah Ashar
Hisyam berkata, telah mengabarkan kepadaku Bapakku - Aisyah berkata; yaitu anak saudara perempuanku-,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan dua rakaat setelah shalat 'Ashar."
(Hadits Bukhari No. 556)

dari 'Aisyah berkata,

"Dua rakaat yang tidak pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tinggalkan baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan adalah dua rakaat sebelum Subuh dan dua rakaat setelah Ashar."
(Hadits Bukhari No. 557)

Aisyah ia berkata,

"Tidaklah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatangiku dalam suatu hari setelah 'Ashar kecuali beliau shalat dua rakaat."
(Hadits Bukhari No. 558)

Menyegerakan shalat saat cuaca mendung
dari Abu Qilabah bahwa Abu Al Malih menceritakan kepadanya, ia berkata,

Kami pernah bersama Buraidah pada suatu hari yang mendung, ia lalu berkata, "Segeralah laksanakan shalat, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:

"Barangsiapa meninggalkan shalat 'Ashar, sungguh telah hapuslah amalnya."
(Hadits Bukhari No. 559)

Adzan setelah lewat waktunya
dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya berkata,

"Kami pernah berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu malam. Sebagian kaum lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sekiranya Tuan mau istirahat sebentar bersama kami?"

Beliau menjawab: "Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat."
Bilal berkata, "Aku akan membangunkan kalian."

Maka merekapun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggannganya, tapi rasa kantuknya mengalahkannya dan akhirnya iapun tertidur. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terbangun ternyata matahari sudah terbit,

maka beliau pun bersabda: "Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan!"
Bilal menjawab: "Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya."

Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla memegang ruh-ruh kalian sesuai kehendak-Nya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendak-Nya pula. Wahai Bilal, berdiri dan adzanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk shalat!"

kemudian beliau berwudhu, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan shalat."
(Hadits Bukhari No. 560)

Shalat berjama'ah bersama setelah waktunya lewat
dari Jabir bin 'Abdullah,

"bahwa 'Umar bin Al Khaththab datang pada hari peperangan Khandaq setelah matahari terbenam hingga ia mengumpat orang-orang kafir Quraisy,

lalu ia berkata, ˝Wahai Rasulullah, aku belum melaksanakan shaat 'Ashar hingga matahari hampir terbenam!˝

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: ˝Demi Allah, aku juga belum melakasanakannya.˝

Kemudian kami berdiri menuju aliran air (sungai), beliau berwudhu dan kami pun ikut berwudhu, kemudian beliau melaksanakan shalat 'Ashar setelah matahari terbenam, dan setelah itu dilanjutkan dengan shalat Maghrib."
(Hadits Bukhari No. 561)

Orang yang lupa mengerjakan shalat hendaklah mengerjakannya ketika dia ingat dan tidak mengulangi kecuali shalat yang tertinggal itu
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim dan Musa bin Isma'il keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Barangsiapa lupa suatu shalat, maka hendaklah dia melaksanakannya ketika dia ingat. Karena tidak ada tebusannya kecuali itu.

Allah berfirman: ˝(Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku)˝ (Qs. Thaahaa: 14).

Musa berkata, Hammam berkata, ˝Setelah itu aku mendengar beliau mengucapkan: ˝(Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku)˝."
(Hadits Bukhari No. 562)

Menqadha beberapa shalat dengan cara mengerjakan secara urut waktu
dari Jabir bin 'Abdullah berkata,

Pada peperangan Khandaq 'Umar bin Al Khaththab mengumpat orang-orang kafir, lalu ia berkata, "Hampir saja aku tidak melaksanakan shalat 'Ashar kecuali setelah Matahari hampir tenggelam."

Umar melanjutkan, "Maka kami berdiri menuju aliran air (sungai), kemudian beliau melaksanakan shalat 'Ashar setelah matahari terbenam, dan dilanjutkan dengan shalat Maghrib."
(Hadits Bukhari No. 563)

Makruhnya mengobrol setelah Isya
Abu Al Minhal berkata,

Aku dan bapakku pergi berangkat menemui Abu Barzah Al Aslami, bapakku lalu berkata kepadanya, "Bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat yang Maktubah (Wajib)?"

Abu Barzah menjawab, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur yang kalian sebut sebagai waktu utama saat Matahari tergelincir,

shalat 'Ashar ketika seseorang dari kami pulang menemui keluarganya di ujung Kota, maka matahari masih terasa panas sinarnya.

Dan aku lupa apa yang dibaca beliau saat shalat Maghrib.

Dan beliau lebih suka mengakhirkan pelaksanaan shalat 'Isya yang kalian sebut sebagai waktu 'Atamah, beliau tidak suka tidur sebelum 'Isya dan (tidak suka) berbincang-bincang setelahnya.

Dan beliau melaksanakan shalat Shubuh ketika salah seorang dari kami dapat mengetahui siapa yang berada di sampingnya, beliau membaca antara enam hingga seratus ayat."
(Hadits Bukhari No. 564)

Membahas masalah fiqih dan hal-hal yang baik setelah Isya
Qurrah bin Khalid berkata,

Kami pernah menunggu Al Hasan hingga memperlambat kami hingga sudah dekat dengan waktu ditegakkannya shalat.
Lalu dia datang dan berkata, "Kami diundang tetangga kami."

Kemudian dia melanjutkan, Anas bin Malik menyebutkan, "Pada suatu malam kami pernah menunggu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hingga sampai pertengahan malam. Lalu Beliau shalat bersama kami kemudian menyampaikan khuthbah kepada kami, sabda beliau:

"Manusia sudah selesai melaksanakan shalat lalu mereka tidur. Dan kalian akan senantiasa dalam hitungan shalat selagi kalian menunggu pelaksanaannya."

Al Hasan berkata, "Sesungguhnya suatu kaum senantiasa akan berada dalam kebaikan selagi mereka mananti kebaikan."

Qurrah berkata, "Ini adalah hadits dari Anas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 565)

Membahas masalah fiqih dan hal-hal yang baik setelah Isya
Abdullah bin 'Umar berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat 'Isya pada suatu malam di akhir hayatnya. Selesai salam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dan bersabda,

"Tidakkah kalian melihat malam kalian ini? Ketahuilah, sesungguhnya setelah seratus tahun tidak akan ada orang pun di muka bumi ini yang tersisa dari mereka yang hadir pada malam ini."

Kemudian orang-orang mengalami kerancuan dalam memahami pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tersebut hingga mereka memperbincangkannya, yakni apa yang maksud dengan seratus tahun tersebut?"

'Abdullah bin 'Umar berkata, "Sesungguhnya maksud sabda Nabi, ˝Tidak akan ada orang yang tersisa di atas bumi ini˝ adalah berakhirnya generasi tersebut."
(Hadits Bukhari No. 566)

Mengobrol bersama keluarga dan tamu
dari 'Abdurrahman bin Abu Bakar,

bahwa para Ashhabush Shuffah adalah orang-orang yang berasal dari kalangan fakir miskin. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Barangsiapa memiliki makanan cukup untuk dua orang, maka ajaklah orang yang ketiga. Jika memiliki makanan untuk empat orang hendaklah mengajak orang yang kelima atau keenam."

Maka Abu Bakar datang dengan membawa makanan yang cukup untuk tiga orang. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lalu datang dengan membawa makanan yang cukup untuk sepuluh orang."

'Abdurrahman bin Abu Bakar berkata, "Mereka itu adalah aku, bapakku, ibuku, -perawi berkata; aku tidak tahu ia mengatakan- isteriku dan pelayan yang biasa membantu kami dan keluarga Abu Bakar. Saat itu Abu Bakar makan malam di sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hingga waktu isya, dan ia tetap di sana hingga shalat dilaksanakan.

Ketika Abu Bakar pulang di waktu yang sudah malam isterinya (ibuku) berkata, "Apa yang menghalangimu untuk menjamu tamu-tamumu?"

Abu Bakar balik bertanya, "Kenapa tidak engkau jamu mereka?"
Isterinya menjawab, "Mereka enggan untuk makan hingga engkau kembali, padahal mereka sudah ditawari."

'Abdurrahman berkata, "Kemudian aku pergi dan bersembunyi."
Abu Bakar lantas berkata, "Wahai Ghuntsar (kalimat celaan)!"

Abu Bakar terus saja marah dan mencela (aku).
Kemudian ia berkata (kepada tamu-tamunya), "Makanlah kalian semua."

Kemudian tamunya mengatakan, "Selamanya kami tidak akan makan. Demi Allah, tidaklah kami ambil satu suap kecuali makanan tersebut justru bertambah semakin banyak dari yang semula."

'Abdurrahman berkata, "Mereka kenyang semua, dan makanan tersebut menjadi tiga kali lebih banyak dari yang semula. Abu Bakar memandangi makanan tersebut tetap utuh bahkan lebih banyak lagi.

Kemudian ia berkata kepada isterinya, "Wahai saudara perempuan Bani Firas, bagaimana ini?"
Isterinya menjawab, "Tak masalah, bahkan itu suatu kebahagiaan, ia bertambah tiga kali lipatnya."
Abu Bakar kemudian memakannya seraya berkata, "Itu pasti dari setan-yakni sumpah yang ia ucapkan-."

Kemudian ia memakan satu suap lantas membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Waktu itu antara kami mempunyai perjanjian dengan suatu kaum dan masanya pun telah habis.

Kemudian kami membagi orang-orang menjadi dua belas orang, dan setiap dari mereka diikuti oleh beberapa orang -dan Allah yang lebih tahu berapa jumlah mereka-. Kemudian mereka menyantap makanan tersebut hingga kenyang."
(Hadits Bukhari No. 567)

« Adzan dan Iqomah Kitab Shalat »

Shalat Berjamaah
Bacaan Shalat
Semua Hadits Shahih BukhariImam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama