Hadits Bukhari Tentang Adzan dan Iqamah

bangpro.xyz — kumpulan Hadits Shahih Imam Al-Bukhari Hadits Tentang Adzan & iqamah (Kitab Adzan).

HaditsShahih Al-Bukhari
KitabAdzan
TentangAdzan & iqamah
Nomor568 - 598
No. VersiFathul Bari


Permulaan (diperintahkannya) adzan
dari Anas bin Malik berkata,

"Orang-orang menyebut-nyebut tentang api dan lonceng (dalam mengusulkan cara memanggil shalat). Lalu ada juga di antara mereka yang mengusulkan seperti kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nahrani.

Maka Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dengan dua kali dua kali dan iqomah dengan bilangan ganjil."
(Hadits Bukhari No. 568)

bahwa Ibnu 'Umar berkata,

Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat.

Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan lonceng seperi loncengnya Kaum Nashrani dan sebagaian lain mengusulkan untuk meniup terampet sebagaimana Kaum Yahudi.

Maka 'Umar pun berkata, "Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat."
(Hadits Bukhari No. 569)

Adzan dua kali dua kali
dari Anas bin Malik berkata,

"Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan kalimat adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat, kecuali kalimat iqamat ˝Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan)˝."
(Hadits Bukhari No. 570)

dari Anas bin Malik berkata,

"Ketika manusia sudah banyak (yang masuk Islam), ada yang mengusulkan cara memberitahu masuknya waktu shalat dengan sesuatu yang mereka bisa pahami.

Maka ada yang mengusulkan dengan menyalakan api dan ada juga yang mengusulkan dengan memukul lonceng.

Lalu diperintahlah Bilal untuk mengumandangkan kalimat adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat."
(Hadits Bukhari No. 571)

Iqamah satu kali satu kali kecuali kalimat "qad qaamatish shalah"
Isma'il bin Ibrahim
telah menceritakan kepada kami Khalid
dari Abu Qilabah
dari Anas bin Malik berkata,

"Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan kalimat adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat."

Isma'il berkata, "Aku sampaikan masalah ini kepada Ayyub, lalu ia berkata, ˝Kecuali kalimat iqamat 'Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan)˝."
(Hadits Bukhari No. 572)

Keutamaan mengumandangkan adzan
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali.

Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, ˝Ingatlah ini dan itu˝.

Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."
(Hadits Bukhari No. 573)

Mengeraskan suara (panggilan) adzan
Abu Sa'id Al Khudri berkata kepadanya,

"Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (pengenmbalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu.

Karena tidak ada yang mendengar suara mu'adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat."

Abu Sa'id berkata, "Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 574)

Menangguhkan penyerangan atas suatu kaum bila terdengar suara adzan
dari Anas bin Malik,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jika memerangi suaku kaum bersama kami, maka beliau tidak menyerang kaum tersebut hingga datangnya waktu shubuh (menunggu).
Jika mendengar suara adzan, beliau mengurungkannya. Namun bila tidak terdengar suara adzan maka beliau menyerangnya."

Anas bin Malik berkata, "Maka pada suatu hari kami keluar untuk menyerbu perkampungan Khaibar, kami lantas menunggu hingga malam hari.
Ketika datang waktu pagi dan beliau tidak mendengar suara adzan, maka beliau menaiki tunggangannya sementara aku membonceng di belakang Abu Thalhah. Sungguh kakiku menyentuh kaki Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."

Anas bin Malik melanjutkan kisahnya, "Penduduk Khaibar keluar ke arah kami dengan membawa keranjang dan sekop-sekop mereka, ketika mereka melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka mereka berkata, ˝Muhammad! Demi Allah, Muhammad dan pasukannya (datang)!˝."

Kata Anas, "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat mereka, beliau bersabda:

˝Allahu Akbar, Allahu Akbar, hancurlah Khaibar! Sesungguhnya kami, apabila mendatangi perkampungan suatu kaum, maka amat buruklah pagi hari yang dialami orang-orang yang diperingatkan tersebut)˝ (Qs. Ash Shaffaat: 177)."
(Hadits Bukhari No. 575)

Apa yang diucapkan ketika mendengar suara mu'adzin
dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Apabila kalian mendengar adzan, maka jawablah seperti apa yang diucapkan mu'adzin."
(Hadits Bukhari No. 576)

Apa yang diucapkan ketika mendengar suara mu'adzin
'Isa bin Thalhah,

"bahwa pada suatu hari dia mendengar Mu'awiyyah mengucapkan seperti (apa yang diucapkan mu'adzin) hingga ucapannya: ˝Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah˝."
(Hadits Bukhari No. 577)

Apa yang diucapkan ketika mendengar suara mu'adzin
Yahya berkata, dan telah menceritakan kepadaku Sebagian saudara kami bahwa dia berkata,

"Jika mu'adzin mengucapkan, ˝Hayya 'Alash shalah˝ (Marilah melaksanakan shalat),
dia menjawab, ˝Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah˝ (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah)."

Dia berkata, "Demikianlah kami mendengar Nabi kalian shallallahu 'alaihi wasallam bersabda."
(Hadits Bukhari No. 578)

Doa setelah panggilan adzan
dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa berdo'a setelah mendengar adzan:
ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA'WATIT TAMMAH WASHSHALAATIL QAA'IMAH. AATI MUHAMMADANIL WASIILATA WALFADLIILAH WAB'ATSHU MAQAAMAM MAHMUUDANIL LADZII WA'ADTAH
(Ya Allah. Rabb Pemilik seruan yang sempurna ini, dan Pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah wasilah (perantara) dan keutamaan kepada Muhammad. Bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji sebagaimana Engkau telah jannjikan).

Maka ia berhak mendapatkan syafa'atku pada hari kiamat."
(Hadits Bukhari No. 579)

Berlomba untuk mengumandangkan adzan
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan melakukannya.

Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat dalam bersegera (menuju shalat), niscaya mereka akan berlomba-lomba.

Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak."
(Hadits Bukhari No. 580)

Berbicara ketika adzan
dari 'Abdullah bin Al Harits berkata,

Pada suatu hari ketika jalan penuh dengan air dan lumpur (becek) akibat hujan, Ibnu 'Abbas pernah menyampaikan khuthbah kepada kami.

Ketika mu'adzin sampai pada ucapan: ˝Hayya 'Alash shalaah (Marilah mendirikan shalat).˝

ia perintahkan mu'adzin tersebut untuk menyerukan: ˝Shalatlah di tempat tinggal masing-masing.˝
Lalu orang-orang saling memandang satu sama lain karena heran.

Maka Abdullah bin Al Harits pun berkata, "Hal yang demikian ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik darinya, dan itu merupakan kewajiban Mu'akkad (yang ditekankan)."
(Hadits Bukhari No. 581)

Adzannya orang yang buta jika diberitahu masuknya waktu shalat
dari Salim bin 'Abdullah dari Bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan saat masih malam, maka makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum."

Perawi berkata, "Ibnu Ummi Maktum adalah seorang sahabat yang buta, ia tidak akan mengumandangkan adzan (shubuh) hingga ada orang yang mengatakan kepadanya, ˝Sudah shubuh, sudah shubuh˝."
(Hadits Bukhari No. 582)

Adzan setelah Subuh
dari 'Abdullah bin 'Umar berkata, Hafshah mengabarkan kepadaku,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika mu'adzin telah selesai mengumandangkan adzan Shubuh, beliau melaksanakan shalat dua rakaat ringan sebelum mendirikan shalat Shubuh."
(Hadits Bukhari No. 583)

Adzan Setelah Subuh
dari 'Aisyah,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnah dua rakaat ringan antara adzan dan iqamat dalam shalat Shubuh."
(Hadits Bukhari No. 584)

Adzan setelah Shubuh
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan saat masih malam. Maka makan dan minumlah sampai ada seruan adzan oleh Ibnu Ummi Maktum."
(Hadits Bukhari No. 585)

Adzan sebelum Subuh
Zuhair berkata,
telah menceritakan kepada kami Sulaiman At Taimi
dari Abu 'Utsman Al Hindi
dari 'Abdullah bin Mas'ud dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Adzannya Bilal tidaklah menghalangi seorang dari kalian, atau seseorang dari makan sahurnya, karena dia mengumandangkan adzan saat masih malam supaya orang yang masih shalat malam dapat pulang untuk mengingatkan mereka yang masih tidur. Dan Bilal adzan tidak bermaksud memberitahukan masuknya waktu fajar atau shubuh."

Beliau berkata dengan isyarat jarinya, beliau angkat ke atas dan menurunkannya kembali hingga berkata seperti ini.

Zuhair menyebutkan, "Beliau berisyarat dengan kedua jari telunjuknya, salah satu jarinya beliau letakkan di atas yang lainnya, kemudian membentangkannya ke kanan dan kirinya."
(Hadits Bukhari No. 586)

Adzan sebelum Shubuh
dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan saat masih malam, maka makan dan minumlah sampai ada seruan adzan oleh Ibnu Ummi Maktum."
(Hadits Bukhari No. 587)

Berapa lama waktu antara adzan dan iqamah dan orang yang mananti pelaksanaan shalat
dari 'Abdullah bin Mughaffal Al Muzni, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Di dua adzan (adzan dan iqamat) ada shalat sunah -beliau ucapkan tiga kali- bagi yang mau."
(Hadits Bukhari No. 588)

dari Anas bin Malik berkata,

"Jika seorang mu'adzin sudah mengumandangkan adzan (Maghrib), maka para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berebut mendekati tiang-tiang (untuk shalat sunnat) sampai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar, sementara mereka tetap dalam keadaan menunaikan shalat sunnat dua rakaat sebelum Maghrib.

Dan di antara adzan dan iqamat Maghrib sangatlah sedikit (waktunya)."

Jalur Lain
menyebutkan dari Syu'bah, "Antara keduanya (adzan dan iqamat) tidak ada waktu kecuali sedikit."
(Hadits Bukhari No. 589)

Orang yang menanti iqomah
Aisyah berkata,

"Jika mu'adzin selesai mengumandangkan adzan pertama dari adzan shalat Shubuh, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat dua rakaat ringan sebelum melaksanakan shalat fajar, yaitu ketika fajar sudah jelas masuknya.

Kemudian beliau berbaring pada sisi kanan badannya hingga mu'adzin mendatangi beliau untuk mengumandangkan iqamat."
(Hadits Bukhari No. 590)

Diantara dua adzan (adzan dan iqamat) ada shalat bagi siapa yang mau
dari 'Abdullah bin Mughaffal berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunah)."

Kemudian pada ucapan beliau yang ketiga kalinya, beliau menambahkan: "Bagi yang mau."
(Hadits Bukhari No. 591)

Pendapat yang mengatakan hendaknya dalam perjalanan pun ada satu mu'adzin yang mengumandangkan adzan
dari Malik bin Al Huwairits,

"Aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam rombongan kaumku, kami lalu tinggal di sisi beliau selama dua puluh hari. Beliau adalah seorang yang sangat penuh kasih dan sayang. Ketika beliau melihat ada kerinduan kami kepada keluarga kami, beliau bersabda:

"Kembalilah kalian kepada mereka, bergabunglah bersama mereka, ajari mereka dan shalat bersama mereka. Jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan dan hendaklah yang mengimami shalat kalian adalah yang paling tua di antara kalian."
(Hadits Bukhari No. 592)

Adzan dan iqamah bagi musafir bila shalat berjama'ah begitu juga di 'Arafah dan Mudzdalifah
dari Abu Dzar Al Ghifari berkata,

Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Ketika ada mu'adzin yang hendak mengumandangkan adzan, beliau berkata kepadanya: "Tundalah."

Sesaat kemudian mu'adzin itu kembali akan melakukan adzan, beliau kembali berkata,: "Tundalah."

Kemudian ketika mu'adzin itu kembali hendak melakukan adzan untuk ketiga kalinya, beliau kembali berkata: "Tundalah hingga kita melihat bayang-bayang bukit."

Setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya panas yang sangat menyengat itu berasal dari hembusan api jahannam."
(Hadits Bukhari No. 593)

dari Malik bin Al Huwairits berkata,

Dua orang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, keduanya ingin melakukan suatu perjalanan.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Jika kalian berdua sudah keluar, maka (bila hendak shalat) adzan dan iqamatlah. Dan yang menjadi Imam hendaklah yang paling tua di antara kalian."
(Hadits Bukhari No. 594)

dari Abu Qilabah berkata, telah menceritakan kepada kami Malik,

Kami datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, saat itu kami adalah para pemuda yang usianya sebaya. Maka kami tinggal bersama beliau selama dua puluh hari dua puluh malam. Beliau adalah seorang yang sangat penuh kasih dan lembut.

Ketika beliau menganggap bahwa kami telah ingin, atau merindukan keluarga kami, beliau bertanya kepada kami tentang orang yang kami tinggalkan. Maka kami pun mengabarkannya kepada beliau. Kemudian beliau bersabda:

"Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka dan perintahkan (untuk shalat)."

Beliau lantas menyebutkan sesuatu yang aku pernah ingat lalu lupa. Beliau mengatakan:

"Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. Maka jika waktu shalat sudah tiba, hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan hendaklah yang menjadi Imam adalah yang paling tua di antara kalian."
(Hadits Bukhari No. 595)

Nafi' berkata,

Ibnu 'Umar pernah adzan di malam yang dingin di bukit Dlajnan. Kemudian ia berkata, "Shalatlah di tempat tinggal kalian!"

Lalu dia mengabarkan kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah memerintahkan seorang mu'adzin untuk mengumandangkan adzan,

kemudian berseru setelah selesai adzan, "Hendaklah kalian shalat di tempat tinggal kalian pada malam yang dingin, atau saat turun hujan dalam perjalanan."
(Hadits Bukhari No. 596)

dari 'Aun bin Abu Juhaifah dari Bapaknya berkata,

"Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Abthah, lalu Bilal datang dan memberitahukan kepada beliau bahwa waktu shalat telah tiba.

Kemudian Bilal keluar dengan membawa sebatang kayu (tongkat) dan menancapkannya di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Beliau kemudian melaksanakan shalat di tempat tersebut."
(Hadits Bukhari No. 597)

Haruskan seorang muadzin meliuk-liukkan mulutnya dan menoleh ke kanan dan kiri ketika mengumandangkan adzan?
dari 'Aun dari Bapaknya,

"bahwa dia melihat Bilal mengumandangkan adzan. Aku lalu memperhatikan mulutnya bergerak ke sana dan ke sini saat mengumandangkan adzan."
(Hadits Bukhari No. 598)

« Shalat Berjamaah Shalat 5 Waktu »

Tentang Wudhu
Tentang Mandi
Tentang Haid
Tentang Tayamum
Bacaan Shalat
Kitab Shalat
Semua Hadits Shahih BukhariImam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama