Hadits Bukhari Tentang Wudhu

bangpro.xyz — Kumpulan Hadits Shahih Imam Al-Bukhari Kitab Tentang Wudhu / Wudu / Wudlu.

HaditsShahih Al-Bukhari
KitabWudhu
Nomor132 - 239
No. VersiFathul Bari

Sholat tidak diterima tanpa Wudhu
Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadas hingga dia berwudhu."

Seorang laki-laki dari Hadlramaut berkata, "Apa yang dimaksud dengan hadas wahai Abu Hurairah?"

Abu Hurairah menjawab, "Kentut baik dengan suara atau tidak."
(Hadits Bukhari No. 132)

Keutamaan wudhu dan cahaya di wajah karena wudhu
dari Nu'aim bin Al Mujmir berkata, "Aku mendaki masjid bersama Abu Hurairah, lalu dia berwudhu dan berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudhu, barangsiapa di antara kalian bisa memperpanjang cahayanya hendaklah ia lakukan."
(Hadits Bukhari No. 133)

Keraguan apakah wudhunya belum batal? (karena kentut)
'Abbad bin Tamim dari Pamannya, bahwa ada seseorang yang mengadukan keraguannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa seakan-akan ia mendapatkan sesuatu dalam shalatnya.

Beliau lalu bersabda: "Janganlah kamu pindah atau pergi hingga kamu mendengar suara atau mencium baunya."
(Hadits Bukhari No. 134)

Ringan (hemat) dalam berwudhu
dari Ibnu 'Abbas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidur sampai mendengkur kemudian bangun dan mengerjakan shalat.

Atau ia mengatakan, "Nabi berbaring hingga mendengkur, kemudian beliau berdiri shalat.

Kemudian Sufyan secara berturut-turut meriwayatkan hadits tersebut kepada kami, dari 'Amru dari Kuraib dari Ibnu 'Abbas ia berkata, "Pada suatu malam aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu melaksanakan shalat malam.

Hingga pada suatu malam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun dan berwudhu dari bejana kecil dengan wudlu yang ringan, setelah itu berdiri dan shalat.

Aku lalu ikut berwudhu dari bejana yang beliau gunakan untuk wudhu, kemudian aku menghampiri beliau dan ikut shalat di sisi kirinya -Sufyan juga menyebutkan sebelah kiri-, beliau lalu menggeser aku ke sisi kanannya.

Setelah itu beliau shalat sesuai yang dikehendakinya, kemudian beliau berbaring dan tidur hingga mendengkur.

Kemudian seorang tukang adzan datang memberitahukan beliau bahwa waktu shalat telah tiba, beliau lalu pergi bersamanya dan shalat tanpa berwudhu lagi."

Kami lalu katakan kepada Amru, "Orang-orang mengatakan bahwa mata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidur, namun tidak dengan hatinya."

Amru lalu berkata, "Aku pernah mendengar Ubaid bin Umair berkata, "Mimpinya para Nabi adalah wahyu."

Kemudian ia membaca: '(Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku akan menyembelihmu..) ' (Qs. Ash Shaaffat: 102).
(Hadits Bukhari No. 135)

Menyempurnakan wudhu
dari Kuraib mantan budak Ibnu 'Abbas, dari Usamah bin Zaid bahwa ia mendengarnya berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertolak meninggalkan 'Arafah hingga setelah sampai di lembah (jalan di sisi gunung) beliau turun buang air kecil, kemudian beliau berwudhu namun dengan wudhu yang ringan.

Aku lalu bertanya, "Apakah akan shalat wahai Rasulullah? '
beliau menjawab: "Shalat masih ada di depanmu."

Beliau lalu mengendarai tunggangannya hingga sampai di Muzdalifaah beliau turun dan wudlu' secara sempurna, kemudian iqamah dikumandangkan, dan beliau pun melaksanakan shalat Maghrib.

Kemudian orang-orang menambatkan unta-unta mereka pada tempatnya, lalu iqamat isya` dikumandangkan, beliau lalu mengerjakan shalat isya` tanpa mengerjakan shalat yang lain di antara keduanya."
(Hadits Bukhari No. 136)

Membasuh muka dengan kedua belah tangan dari satu cidukan
dari Ibnu 'Abbas, bahwa dia berwudlu', ia mencuci wajahnya, lalu mengambil air satu cidukan tangan dan menggunakannya untuk berkumur dan istintsaq (memasukan air ke hidung),

lalu ia kembali mengambil satu cidukan tangannya dan menjadikannya begini -menuangkan pada tangannya yang lain-,

lalu dengan kedua tangannya ia membasuh wajahnya, lalu mengambil air satu cidukan dan membasuh tangan kanannya, lalu kembali mengambil air satu cidukan dan membasuh tangannya yang sebelah kiri.

Kemudian mengusap kepala, lalu mengambil air satu cidukan dan menyela-nyela kaki kanannya hingga membasuhnya, lalu mengambil air satu cidukan lagi dan membasuh kaki kirinya.

Setelah itu ia berkata, "Seperti inilah aku lihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu."
(Hadits Bukhari No. 137)

Membaca basmalah dalam segala kegiatan termasuk berhubungan dengan istri
dari Ibnu 'Abbas dan sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian ingin mendatangi isterinya (untuk bersetubuh), maka hendaklah ia membaca; 'ALLAHUMMA JANNIBNASY SYAITHAANA WA JANNIBISY SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA
(Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rizkikan (anak) kepada kami) '.

Jika dikaruniai anak dari hubungan keduanya maka setan tidak akan dapat mencelakakan anak itu."
(Hadits Bukhari No. 138)

Bacaan doa memasuki kamar kecil (WC)
Anas berkata,
"Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam WC, maka beliau berdo'a: ALLAHUMMA INNI A'UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHBA`ITS
(Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan) '.
(Hadits Bukhari No. 139)

Menyiapkan air di tempat buang hajat
dari Ibnu 'Abbas, bahwa pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk kedalam WC, lalu aku letakkan bejana berisi air.

Beliau lantas bertanya: "Siapa yang meletakkan ini?"
Aku lalu memberitahukannya,
maka beliau pun bersabda: "Ya Allah pandaikanlah dia dalam agama."
(Hadits Bukhari No. 140)

Tidak menghadap kiblat ketika buang air besar atau kecil kecuali di dalam bangunan atau di balik dinding
dari Abu Ayyub Al Anshari berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian masuk ke dalam WC untuk buang hajat, maka janganlah menghadap ke arah kiblat membelakanginya. Hendaklah ia menghadap ke arah timurnya atau baratnya."
(Hadits Bukhari No. 141)

Orang yang buang hajat besar di atas dua batu
Malik telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Muhammad bin Yahya bin Hibban dari pamannya Wasi' bin Hibban

dari 'Abdullah bin 'Umar bahwa ia berkata, "Orang-orang berkata, "Jika kamu menunaikan hajatmu maka janganlah menghadap kiblat atau menghadap ke arah Baitul Maqdis."

'Abdullah bin 'Umar lalu berkata, "Pada suatu hari aku pernah naik atap rumah milik kami, lalu aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam buang hajat menghadap Baitul Maqdis di antara dua dinding.

Lalu ada seseorang yang berkata, "Barangkali kamu termasuk dari orang-orang yang shalat dengan mendekatkan paha (ke tanah)?"
Maka aku jawab, "Demi Allah, aku tidak tahu."
Malik berkata, "Yaitu orang yang shalat namun tidak mengangkat (paha) dari tanah ketika sujud, yakni menempel tanah."
(Hadits Bukhari No. 142)

Keluarnya wanita ke tempat buang hajat
dari 'Aisyah, bahwa jika isteri-isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ingin buang hajat, mereka keluar pada waktu malam menuju tempat buang hajat yang berupa tanah lapang dan terbuka.

Umar pernah berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Hijabilah isteri-isteri Tuan."
Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak melakukannya.

Lalu pada suatu malam waktu Isya` Saudah binti Zam'ah, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, keluar (untuk buang hajat). Dan Saudah adalah seorang wanita yang berpostur tinggi.

'Umar lalu berseru kepadanya, "Sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah!
'Umar ucapkan demikian karena sangat antusias agar ayat hijab diturunkan.
Maka Allah kemudian menurunkan ayat hijab."

Jalur Lain
dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
beliau bersabda: "Allah telah mengizinkan kalian (isteri-isteri Nabi) keluar untuk menunaikan hajat kalian."
Hisyam berkata, "Yakni buang air besar."
(Hadits Bukhari No. 143)

Buang hajat besar di rumah
dari 'Abdullah bin 'Umar berkata, "Aku pernah naik di rumah Hafshah karena suatu urusanku.

Maka aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam buang hajat membelakangi kiblat menghadap Syam."
(Hadits Bukhari No. 144)

'Abdullah bin 'Umar mengabarkan kepadanya, ia berkata,

"Pada suatu hari aku pernah berada di atas rumah milik kami, saat itu aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk (buang hajat) di atas dua batu bata menghadap Baitul Maqdis."
(Hadits Bukhari No. 145)

Istinja' (cebok) dengan air
Anas bin Malik berkata,

"Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk buang hajat, maka aku dan seorang temanku membawakan bejana berisi air, yakni agar beliau bisa beristinja` dengannya."
(Hadits Bukhari No. 146)

Membawakan air untuk orang yang bersuci
Anas berkata,

"Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk buang hajat, maka aku dan seorang temanku mengikutinya dengan membawa bejana berisi air."
(Hadits Bukhari No. 147)

Membawa tongkat beserta air untuk beristinja' (cebok)
Anas bin Malik berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam WC untuk buang hajat, lalu aku dan seorang temanku membawa bejana berisi air dan sebatang kayu (tongkat) untuk beliau gunakan beristinja".

Hadits ini kuatkan oleh An-Nadlr dan Syadzan dari Syu'bah, "Al Anazah adalah tongkat yang ujungnya ada besi."
(Hadits Bukhari No. 148)

Larangan beristinja' (cebok) menggunakan tangan kanan
dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian minum, maka janganlah ia bernafas dalam gelas. Dan jika masuk ke dalam WC janganlah dia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya dan jangan membersihkan dengan tangan kanannya."
(Hadits Bukhari No. 149)

Tidak memegang kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing
'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian kencing maka janganlah ia memegang kemaluannya dengan tangan kanan, jangan beristinja' dengan tangan kanan dan jangan bernafas dalam gelas saat minum."
(Hadits Bukhari No. 150)

Beristinja' (cebok) menggunakan batu
dari Abu Hurairah ia berkata,

"Aku mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau keluar untuk buang hajat, dan beliau tidak menoleh (ke kanan atau ke kiri) hingga aku pun mendekatinya.

Lalu Beliau bersabda: "Carikan untukku batu untuk aku gunakan beristinja' dan jangan bawakan tulang atau kotoran hewan."

Lalu aku datang kepada beliau dengan membawa kerikil di ujung kainku, batu tersebut aku letakkan di sisinya, lalu aku berpaling darinya. Setelah selesai beliau gunakan batu-batu tersebut."
(Hadits Bukhari No. 151)

Larangan beristinja' (cebok) menggunakan kotoran binatang
'Abdullah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pergi ke WC, lalu beliau memerintahkan aku membawakan tiga buah batu.

Aku hanya mendapatkan dua batu, lalu aku mencari batu yang ketiga, namun aku tidak mendapatkannya hingga aku pun mengambil kotoran hewan yang sudah kering. Kemudian semua itu aku bawa ke hadapan Nabi.

Namun beliau hanya mengambil dua batu dan membuang kotoran hewan yang telah kering tersebut seraya bersabda: "Ini najis."
(Hadits Bukhari No. 152)

Berwudhu (membasuh anggota wudhu) satu kali satu kali
dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu sekali sekali."
(Hadits Bukhari No. 153)

Berwudhu (membasuh anggota wudhu) dua kali dua kali
dari 'Abdullah bin Zaid,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu dua kali dua kali."
(Hadits Bukhari No. 154)

Berwudhu (membasuh anggota wudhu) tiga kali tiga kali
Humran mantan budan 'Utsman mengabarkan kepadanya, bahwa ia telah melihat 'Utsman bin 'Affan minta untuk diambilkan bejana (berisi air).

Lalu dia menuangkan pada telapak tangannya tiga kali lalu membasuh keduanya, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangan hingga siku tiga kali, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kakinya tiga kali hingga kedua mata kaki.

Setelah itu ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni."

Jalur Lain
Dan dari Ibrahim berkata, Shalih bin Kaisan berkata, Ibnu Syihab berkata. Tetapi 'Urwah menceritakan dari Humran,

"Ketika 'Utsman berwudhu, dia berkata,
"Maukah aku sampaikan kepada kalian sebuah hadits yang kalau bukan karena ada satu ayat tentu aku tidak akan menyampaikannya? Aku pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidaklah seorang laki-laki berwudhu dengan membaguskan wudhunya kemudian mengerjakan shalat, kecuali akan diampuni (dosa) antara wudhunya dan shalatnya itu hingga selesai shalatnya."

'Urwah berkata, "Ayat yang dimaksud adalah: '(Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah kami turunkan…) ' (Qs. Al Baqarah: 159).
(Hadits Bukhari No. 155)

al-Istintsar (mengeluarkan air yang dimasukkan kedalam hidung) dalam berwudhu
Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

"Barangsiapa berwudhu hendaklah mengeluarkan (air dari hidung), dan barangsiapa beristinja' dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil."
(Hadits Bukhari No. 156)

Bersuci menggunakan batu dengan jumlah ganjil
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian berwudhu hendaklah dengan memasukkan air ke dalam hidung, barangsiapa beristinja' dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil.

Dan jika salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah membasuh kedua telapak tangannya sebelum memasukkannya dalam bejana air wudhunya, sebab salah seorang dari kalian tidak tahu ke mana tangannya bermalam."
(Hadits Bukhari No. 157)

Membasuh kedua kaki dan bukan mengusap kedua telapak kaki
dari Abdullah bin 'Amru berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu perjalanan yang kami lakukan, beliau lalu dapat menyusul saat kami hampir kehabisan waktu shalat 'Ashar sehingga kami berwudhu dengan hanya mengusap kaki kami.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berseru dengan suara yang keras: "Tumit-tumit yang tidak terkena air wudhu akan masuk ke dalam neraka."

Beliau ucapkan itu hingga tiga kali."
(Hadits Bukhari No. 158)

al-Madhmadhah (berkumur-kumur) dalam berwudhu
dari Humran mantan budak 'Utsman bin 'Affan, bahwa ia melihat 'Utsman bin 'Affan minta untuk diambilkan air wudhu.

ia lalu menuang bejana itu pada kedua tangannya, lalu ia basuh kedua tangannya tersebut hingga tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhunya, kemudian berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Kemudian membasuh mukanya tiga kali, membasuh kedua lengannya hingga siku tiga kali, mengusap kepalanya lalu membasuh setiap kakinya tiga kali.

Setelah itu ia berkata, "Aku telah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini, beliau lalu bersabda:

"Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara antara keduanya, maka Allah mengampuni dosanya yang telah lalu."
(Hadits Bukhari No. 159)

Membasuh tumit
Muhammad bin Ziyad berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berkata saat dia lewat di hadapan kami, sementara saat itu orang-orang sedang berwudhu,

"Sempurnakanlah wudhu kalian! Sesungguhnya Abul Qasim shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tumit-tumit yang tidak terkena air wudhu akan masuk neraka."
(Hadits Bukhari No. 160)

Membasuh kaki yang menggunakan sandal bukan mengusap (sandal) nya
dari 'Ubaid bin Juraij bahwa dia berkata kepada 'Abdullah bin 'Umar, "Wahai Abu 'Abdurrahman, aku melihat anda mengerjakan empat hal yang tidak aku lihat seorangpun dari sahabatmu melakukannya!"

'Abdullah bin 'Umar berkata, "Apa sajakah itu wahai Ibnu Juraij?"

Ibnu Juraij berkata, "Aku melihat anda tidak menyentuh rukun-rukun (Ka'bah) kecuali rukun Yamani, aku melihat anda mengenakan sandal terbuat dari kulit, aku melihat anda mengecat (rambut) dengan berwarna kuning, dan saat manusia di Makkah melakukan talbiyah setelah melihat hilal aku melihat anda tidak melakukannya kecuali pada hari tarwiyah?"

'Abdullah bin 'Umar pun berkata, "Adapun tentang rukun Ka'bah, sungguh aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengusapnya kecuali rukun Yamani.
Sedangkan mengenai sandal dari kulit, sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga mengenakan sandal kulit yang tidak berbulu, dan berwudhu dengan tetap mengenakannya, dan aku suka bila tetap mengenakannya.
Adapun tentang warna kuning, sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencelup dengan warna tersebut dan aku juga suka melakukannya.
Dan tentang talbiyah, sungguh belum pernah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertalbiyah kecuali setelah kendaraannya melaju (menuju Mina)."
(Hadits Bukhari No. 161)

Mendahulukan yang kanan dalam berwudhu
dari Hafshah dari Ummu 'Athiyah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada mereka saat memandikan puterinya:

"Hendaklah kalian mulai dari yang sebelah kanan dan anggota wudhunya."
(Hadits Bukhari No. 162)

dari 'Aisyah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan selainnya."
(Hadits Bukhari No. 163)

Berwudhu ketika datang waktu sholat
dari Anas bin Malik berkata,

"Ketika waktu shalat Ashar tiba, orang-orang mencari air wudhu namun tidak mendapatkannya. Lalu aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diberi air wudlu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian meletakkan tangannya di atas bejana tersebut seraya memerintahkan orang-orang untuk berwudhu darinya."

Anas berkata, "Aku melihat air keluar dari jari-jari beliau hingga semua orang sampai yang terakhir dapat berwudhu."
(Hadits Bukhari No. 164)

dari Ibnu Sirin berkata, "Aku berkata kepada Abidah, "Kami memiliki rambut Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang kami dapat dari Anas, atau keluarga Anas.'

ia lalu berkata, "Sekiranya aku memiliki satu helai rambut Rasulullah, maka itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya."
(Hadits Bukhari No. 165)

dari Ibnu Sirin dari Anas,

bahwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencukur rambutnya, maka Abu Thalhah adalah orang yang pertama mengambil rambut beliau."
(Hadits Bukhari No. 166)

wadah yang dijilat anjing dicuci 7x
dari Abu Hurairah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika anjing menjilat bejana seorang dari kalian, maka hendaklah ia cuci hingga tujuh kali."
(Hadits Bukhari No. 167)
anjing tidak seburuk itu
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

"bahwa ada seorang laki-laki melihat seekor anjing menjilat-jilat tanah karena kehausan, lalu orang itu mengambil sepatunya dan mengisinya air untuk kemudian diminumkan kepada anjing tersebut hingga kenyang. Allah lalu berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga."

Jalur Lain
"bahwa pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ada beberapa anjing yang kencing dan membuang kotoran di dalam masjid, namun para sahabat tidak menyiramnya dengan sesuatu."
(Hadits Bukhari No. 168)

Tentang anjing
dari 'Adi bin Hatim berkata, "Aku bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

beliau lalu menjawab: "Jika kamu melepas anjing buruanmu yang telah terlatih lalu ia mendapatkan hasil buruan, maka makanlah hasil buruannya. Jika anjing itu memakannya maka kamu jangan memakannya, sebab ia menangkap untuk dirinya sendiri."

Aku lalu bertanya lagi, "Aku melepas anjing buruanku, lalu aku mendapati anjing lain bersama dengan anjingku?"

Beliau menjawab: "Jangan kamu makan, karena kamu membaca basmalah untuk anjingmu dan tidak untuk anjing yang lain."
(Hadits Bukhari No. 169)

Mereka yang berpendapat bahwa wudhu tidak batal selain dari apa yang keluar dari dua jalan, melalui qubul (kemaluan) atau dubur
dari Abu Hurairah berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Seorang hamba akan selalu dihitung shalat selama ia di masjid menunggu shalat dan tidak berhadas."

Lalu ada seorang laki-laki non-Arab berkata, "Apa yang dimaksud dengan hadas wahai Abu Hurairah?"
Abu Hurairah menjawab, "Suara." Yaitu kentut.
(Hadits Bukhari No. 170)

Tentang kentut
dari 'Abbad bin Tamim dari Pamannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

beliau bersabda: "Janganlah kamu pergi hingga engkau mendengar suara atau mencium bau."
(Hadits Bukhari No. 171)

Tentang madzi (cairan putih lengket yang keluar dari seseorang ketika ada hasrat seksual yang tidak terlalu kuat. bukan mani)
Ali berkata, "Aku adalah seorang laki-laki yang mudah mengeluarkan madzi, karena malu untuk bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka aku suruh Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya.

Lalu ia pun bertanya,
beliau kemudian menjawab: "Cukup baginya berwudhu."
(Hadits Bukhari No. 172)

Pendapat Seks tanpa keluar mani cukup dengan wudhu (tidak mandi)
Zaid bin Khalid mengabarkan kepadanya, bahwa ia pernah bertanya 'Utsman bin 'Affan radliallahu 'anhu,

Aku bertanya, "Apa pendapatmu jika seorang laki-laki berhubungan badan dengan isterinya namun tidak keluar air mani?"

'Utsman menjawab, "Hendaknya ia berwudhu seperti wudhunya untuk shalat, lalu membasuh kemaluannya."

Utsman melanjutkan, "Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku menanyakan hal itu kepada 'Ali, Zubair, Thalhah, dan Ubay bin Ka'b? radliallahu 'anhum. Mereka semua menyuruh untuk melakukannya."
(Hadits Bukhari No. 173)

dari Abu Sa'id Al Khudri,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengirim seorang utusan kepada seorang laki-laki Anshar. Maka laki-laki Anshar itu pun datang sementara kepalanya basah.

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Sepertinya kami telah membuat kamu tergesa-gesa?"
Laki-laki Anshar itu menjawab, "Benar."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Jika kamu dibuat tergesa-gesa atau tertahan (tidak mengeluarkan mani), maka cukup bagimu berwudhu."
(Hadits Bukhari No. 174)

Menuangkan air untuk membantu temannya berwudhu
dari Usamah bin Zaid,

bahwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertolak meninggalkan 'Arafah beliau menuju bukit dan menunaikan hajatnya."

Usamah bin Zaid berkata, "Aku lalu menuangkan air untuknya hingga beliau pun berwudhu.

Aku lalu berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan shalat di sini?"
Beliau menjawab: "Tempat shalat ada di depanmu."
(Hadits Bukhari No. 175)

dari Al Mughirah bin Syu'bah,

bahwa dia pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan.

Beliau lalu pergi untuk buang hajat, sementara Al Mughirah menuangkan air untuk beliau hingga beliau pun berwudhu, membasuh muka, mengusap kepala dan sepasang sepatunya."
(Hadits Bukhari No. 176)

Pendapat bolehnya membaca Al-Quran tanpa wudhu
dari Kuraib mantan budak Ibnu 'Abbas, bahwa 'Abdullah bin 'Abbas mengabarkan kepadanya,

bahwa ia pada suatu malam pernah bermalam di rumah Maimunah, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan bibinya dari pihak ibu.

Katanya, "Aku berbaring di sisi bantal sementara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan isterinya berbaring pada bagian panjang (tengahnya).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu tidur hingga pada tengah malam, atau kurang sedikit, atau lewat sedikit, beliau bangun dan duduk sambil mengusap sisa-sisa kantuk yang ada di wajahnya dengan tangan.

Beliau kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali 'Imran. Kemudian berdiri menuju tempat wudhu, beliau lalu berwudhu dengan memperbagus wudhunya, lalu shalat."

Ibnu 'Abbas berkata, "Maka akupun ikut dan melakukan sebagaimana yang beliau lakukan, aku lalu berdiri di sampingnya.

Beliau kemudian meletakkan tangan kanannya di kepalaku seraya memegang telingaku hingga menggeserku ke sebelah kanannya.

Kemudian beliau shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian witir.

Setelah itu beliau tidur berbaring hingga tukang adzan mendatanginya, beliau lalu berdiri dan shalat dua rakaat ringan, kemudian keluar untuk menunaikan shalat Subuh."
(Hadits Bukhari No. 177)

Pendapat Orang yang tidur tidak perlu berwudhu lagi kecuali tidur yang berat (lama)
dari neneknya Asma` binti Abu Bakar bahwa ia berkata,

"Aku pernah menemui 'Aisyah, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu orang-orang sedang melaksanakan shalat dan saat itu iapun berdiri shalat.

Setelah itu aku katakan kepadanya, "Apa yang dilakukan orang-orang?"
Aisyah lalu memberi isyarat dengan tangannya ke arah langit seraya berkata, "Maha suci Allah."

Aku lalu berkata, "Satu tanda kekuasaan Allah."
Lalu dia mengiyakan dengan memberi isyarat.

Maka akupun ikut shalat sementara timbul perkara yang membingungkanku, hingga aku siram kepalaku dengan air.

Selesai shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan puja dan puji kepada Allah, kemudian beliau bersabda:

"Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku, kecuali aku sudah melihatnya dari tempatku ini hingga surga dan neraka. Dan telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan terkena fitnah dalam qubur kalian seperti, atau hampir serupa dengan fitnah Dajjal yang aku sendiri tidak tahu fitnah apakah itu."

Asma` berkata, "Setiap salah seorang dari kalian akan didatangkan (dalam sidang), lalu dikatakan kepadanya, 'Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini (Rasulullah)? '

Adapun orang beriman atau orang yang yakin -aku tidak tahu mana yang Asma' ucapkan-,
lalu orang tersebut akan menjawab, 'Dia adalah Muhammad utusan Allah. Ia datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk. Kami lalu menyambutnya, beriman dan mengikuti seruannya.'

Maka kepada orang itu dikatakan, 'Tidurlah kamu dengan baik, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang beriman.'

Adapun Munafik atau pelaku dosa besar -Aku tidak tahu mana yang diucapkan Asma'-
akan menjawab, 'Aku tidak tahu siapa dia, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu maka aku pun mengikuti ucapan tersebut'."
(Hadits Bukhari No. 178)

Mengusap seluruh kepala
dari 'Amru bin Yahya Al Mazini dari Bapaknya bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada 'Abdullah bin Zaid -dia adalah kakek 'Amru bin Yahya-,

"Bisakah engkau perlihatkan kepadaku bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu?"
'Abdullah bin Zaid lalu menjawab, "Tentu."

Abdullah lalu minta diambilkan air wudlu, lalu ia menuangkan air pada kedua tangannya dan membasuhnya dua kali, lalu berkumur dan mengeluarkan air dari dalam hidung sebanyak kali, kemudian membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangan dua kali dua kali sampai ke siku, kemudian mengusap kepalanya dengan tangan, dimulai dari bagian depan dan menariknya hingga sampai pada bagian tengkuk, lalu menariknya kembali ke tempat semula. Setelah itu membasuh kedua kakinya."
(Hadits Bukhari No. 179)

Mengusap kedua kaki hingga kedua mata kaki
dari 'Amru dari Bapaknya berkata, "Aku pernah menyaksikan 'Amru bin Abu Hasan bertanya kepada 'Abdullah bin Zaid tentang wudhunya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Lalu ia minta diambilkan satu gayung air, kemudian ia memperlihatkan kepada mereka cara wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Ia menuangkan air dari gayung ke telapak tangannya lalu mencucinya tiga kali, kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu berkumur-kumur, lalu memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali dengan tiga kali cidukan, kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku.

Kemudian memasukkan tangannya ke dalam gayung, lalu mengusap kepalanya dengan tangan; mulai dari bagian depan ke belakang dan menariknya kembali sebanyak satu kali, lalu membasuh kedua kakinya hingga mata kaki."
(Hadits Bukhari No. 180)

Menggunakan sisa air wudhu orang lain
Al Hakam berkata, aku pernah mendengar Abu Juhaifah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah keluar mendatangi kami di waktu tengah hari yang panas. Beliau lalu diberi air wudhu hingga beliau pun berwudhu, orang-orang lalu mengambil sisa air wudlu beliau seraya mengusap-ngusapkannya.

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat zhuhur dua rakaat dan 'ashar dua rakaat sedang di depannya diletakkan tombak kecil."

Abu Musa berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta bejana berisi air, beliau lalu membasuh kedua tangan dan mukanya di dalamnya,

lalu menyentuh air untuk memberkahinya seraya berkata kepada keduanya (Abu Musa dan Bilal): "Minumlah darinya dan usapkanlah pada wajah dan leher kalian berdua."
(Hadits Bukhari No. 181)

dari Ibnu Syihab berkata, Mahmud bin Ar Rabi' mengabarkan kepadaku,

ia berkata, "Dialah orang yang diberkahi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di wajahnya saat dia masih kecil dari sumur mereka."

Dan 'Urwah menyebutkan dari Al Miswar, dan Selainnya -setiap dari keduanya saling membenarkan satu sama lain-, bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu, hampir saja mereka berkelahi memperebutkan bejana bekas wudhu beliau."
(Hadits Bukhari No. 182)

As Sa'ib bin Yazid berkata, Bibiku pergi bersamaku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya putra saudara perempuanku ini sedang sakit."

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengusap kepalaku dan memohonkan keberkahan untukku. Kemudian beliau berwudhu, maka aku pun minum dari sisa air wudlunya, kemudian aku berdiri di belakangnya hingga aku melihat ada tanda kenabian sebesar telur burung di pundaknya."
(Hadits Bukhari No. 183)

Berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan air satu cidukan
dari 'Abdullah bin Zaid,

bahwa ia menuangkan air dari gayung ke telapak tangannya lalu mencucinya, atau berkumur-kumur, lalu memasukkan air ke hidung dari satu cedukan telapak tangannya.
Dia lakukan ini tiga kali.
Kemudian membasuh kedua tangannya sampai ke siku dua kali dua kali.
Kemudian mengusap kepalanya dengan tangan dan menariknya (ke belakang kepala) lalu mengembalikannya sekali,
lalu membasuh kedua kakinya hingga ke mata kaki.

Setelah itu ia berkata, "Begitulah wudhunya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 184)

Mengusap kepala satu kali saja
dari 'Amru bin Yahya dari Bapaknya berkata; Aku pernah menyaksikan 'Amru bin Abu Hasan bertanya kepada 'Abdullah bin Zaid tentang wudhunya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Abdullah lalu minta diambilkan bejana berisi air, lalu ia memperlihatkan kepada mereka cara wudhu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Lalu ia memulai dengan menuangkan air dari bejana ke telapak tangannya lalu mencucinya tiga kali.
Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu berkumur-kumur, lalu memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya kembali dengan tiga kali cidukan.
Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana dan membasuh mukanya tiga kali,
kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana dan membasuh kedua tangannya sampai ke siku dua kali dua kali.
Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam bejana dan mengusap kepalanya dengan tangan, ia mulai dari bagian depan ke belakang lalu mengembalikannya lagi (ke arah depan),
kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana dan membasuh kedua kakinya."

Dan telah menceritakan kepada kami Musa berkata, telah menceritakan kepada kami Wuhaib berkata, "Ia mengusap kepalanya satu kali."
(Hadits Bukhari No. 185)

Seorang suami yang berwudhu bersama istrinya dan sisa air wudhu wanita
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa ia berkata,

"Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, laki-laki dan perempuan semuanya minta diajari berwudhu."
(Hadits Bukhari No. 186)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam menuangkan sisa air wudhunya kepada orang yang pingsan
Jabir berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang menjenguk saat aku sedang sakit yang mengakibatkan aku tidak sadar. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu berwudhu dan menyiramkan sisa air wudhunya hingga aku pun sadar.

Aku lalu bertanya, 'Wahai Rasulullah, untuk siapakah warisan itu? Sebab aku tidak mewariskan kalalah (tidak punya anak)? '
maka turunlah ayat tentang waris."
(Hadits Bukhari No. 187)

Mandi dan wudhu menggunakan air dalam bejana yang terbuat dari gelas, kayu atau batu.
dari Anas berkata,

"Waktu shalat telah masuk, bagi orang-orang yang rumahnya dekat mereka pulang untuk wudhu, sementara yang lain masih di dalam masjid. Lalu diberikan sebuah bejana kecil yang terbuat dari kayu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Namun bejana itu tidak cukup untuk dimasuki oleh telapak tangan beliau, hingga orang-orang pun berwudhu (dari jari tangan beliau) semua."

Kami lalu bertanya, "Berapa jumlah kalian saat itu?"
Anas menjawab, "Lebih dari delapan puluh orang."
(Hadits Bukhari No. 188)

dari Abu Musa,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam minta diambilkan bejana berisi air, beliau lalu mencuci kedua tangan dan wajahnya dalam bejana tersebut dan mendoakan keberkahan."
(Hadits Bukhari No. 189)

dari 'Abdullah bin Zaid berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang, lalu kami menyiapkan air dalam sebuah bejana yang terbuat dari tembaga.

Beliau lalu berwudhu; membasuh muka tiga kali, lalu membasuh tangan dua kali dua kali, lalu mengusap kepalanya dimulai dari depan ke belakang dan menariknya kembali ke depan. Kemudian membasuh kedua kakinya."
(Hadits Bukhari No. 190)

'Aisyah berkata,

"Tatkala sakit Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semakin berat, beliau minta izin kepada isteri-isterinya agar beliau dirawat di rumahku, lalu mereka pun mengizinkannya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu keluar berjalan dengan dipapah oleh dua orang; 'Abbas dan seorang lagi."

'Ubaidullah berkata, "Aku lalu kabarkan hal itu kepada 'Abdullah bin 'Abbas,
lalu dia berkata, "Tahukah kamu, siapakah lelaki yang lain itu?"
Aku jawab, "Tidak".
Dia lantas berkata, "Orang itu adalah 'Ali bin Abu Thalib? radliallahu 'anhu."

'Aisyah menceritakan bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sudah berada di rumahnya dan sakitnya makin berat, beliau mengatakan: "Siramkan air kepadaku dari tujuh geriba yang belum dilepas ikatannya, sehingga aku dapat memberi pesan kepada orang-orang."

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam didudukkan untuk mandi dengan ember milik Hafshah, isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Maka kami segera menyiram beliau hingga beliau memberi isyarat sudah cukup. Setelah itu beliau keluar menemui orang-orang."
(Hadits Bukhari No. 191)

Wudhu dengan air dalam bejana kecil
'Amru bin Yahya dari Bapaknya berkata, " Pamanku berlebihan dalam berwudhu,

lalu ia berkata kepada 'Abdullah bin Zaid, "Beritahu kami berdua bagaimana kamu melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam wudhu.

'Abdullah bin Zaid minta bejana berisi air, lalu ia menuangkan ke telapak tangannya dan mencucinya tiga kali.
Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana tersebut, lalu berkumur dan mengeluarkan air dari dalam hidung sebanyak tiga kali dari satu cidukan tangan.
Kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana menciduk air dan membasuh mukanya tiga kali.
Kemudian membasuh tangannya sampai siku dua kali-dua kali.
Kemudian mengambil air dengan tangannya dan mengusap kepalanya, ia tarik tangannya ke belakang kepala lalu dikembalikan ke depan.
Kemudian membasuh kakinya.

Setelah itu berkata, "Begitulah aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu."
(Hadits Bukhari No. 192)

dari Anas bin Malik,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam minta untuk diambilkan bejana berisi air kepada orang-orang, maka diberikanlah satu bejana besar dan beliau meletakkan tangannya ke dalam bejana tersebut."

Anas berkata, 'Aku sengaja memperhatikan air yang keluar dari selah-selah jari beliau."

Anas melanjutkan, "Aku menduga bahwa orang-orang yang berwudhu saat itu berjumlah antara tujuh puluh hingga delapan puluh orang."
(Hadits Bukhari No. 193)

Wudhu dengan air sebanyak satu mud (0.688 Liter) (1 sha=4 mud)
Anas berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membasuh, atau mandi dengan satu sha' hingga lima mud, dan berwudhu dengan satu mud."
(Hadits Bukhari No. 194)

Mengusap khuff (sepatu yang menutupi mata kaki)
dari 'Abdullah bin 'Umar dari Sa'd bin Abu Waqash dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

"bahwa beliau mengusap sepasang sepatunya."

'Abdullah bin 'Umar menanyakan hal ini kepada 'Umar
ia lalu menjawab, "Ya. Jika Sa'd menceritakan kepadamu sebuah hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka janganlah kamu bertanya kepada selainnya."
(Hadits Bukhari No. 195)

Al Mughirah bin Syu'bah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

"bahwa beliau keluar untuk buang hajat, lalu Al Mughirah mengikutinya dengan membawa bejana berisi air.
Selesai buang hajat, Al Mughirah menuangkan air kepada beliau hingga beliau pun berwudhu dan mengusap sepasang sepatunya."
(Hadits Bukhari No. 196)

dari Ja'far bin 'Amru bin Umayyah Al Dlamri, bahwa Bapaknya mengabarkan kepadanya,

"bahwa ia pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengusap sepasang sepatunya."
(Hadits Bukhari No. 197)

dari Ja'far bin 'Amru bin Umayyah dari Bapaknya ia berkata,

"Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengusap sorban dan sepasang sepatunya."
(Hadits Bukhari No. 198)

Sesorang memasukkan kakinya ke dalam khuff dalam keadaan suci
dari 'Urwah bin Al Mughirah bin Syu'bah dari Bapaknya ia berkata,

"Aku pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, aku lalu merunduk untuk melepas kedua sepatunya, namun beliau bersabda: "Biarkan saja, karena aku mengenakannya dalam keadaan suci."

Dan beliau hanya mengusap sepatunya.
(Hadits Bukhari No. 199)

Tidak perlu berwudhu lagi seseorang yang memakan daging domba atau tepung sawiq
dari 'Abdullah bin 'Abbas,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam makan paha kambing kemudian shalat dan tidak berwudhu lagi."
(Hadits Bukhari No. 200)

Ja'far bin 'Amru bin Umayyah bahwa Bapaknya mengabarkan kepadanya,

"bahwa ia pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memotong daging paha kambing, saat panggilan shalat tiba beliau langsung meletakkan pisaunya dan shalat tanpa berwudhu lagi."
(Hadits Bukhari No. 201)

Orang yang cukup berkumur setelah makan sawiq dan tidak perlu berwudhu
dari Busyair bin Yasar mantan budak Bani Haritsah, bahwa Suwaid bin An Nu'man mengabarkan kepadanya,

"bahwa ia pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada tahun pendudukan Khaibar, hingga ketika mereka sampai di Shahba', suatu wilayah di pinggiran Khaibar, beliau mengerjakan shalat Ashar.

Lalu beliau minta diambilkan makanan dari perbekalan yang mereka bawa, namun tidak didapatkan kecuali makanan yang terbuat dari kurma dan gandum. Beliau kemudian memerintahkan untuk menghidangkannya, maka dicampurlah makanan tersebut dengan air hingga menjadi adonan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam makan dan kami pun ikut makan.

Setelah itu beliau berdiri untuk shalat Maghrib, beliau lalu berkumur-kumur dan kami juga ikut berkumur-kumur, lalu beliau shalat tanpa berwudhu lagi."
(Hadits Bukhari No. 202)

dari Maimunah,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah makan daging paha (kambing) di sisinya kemudian shalat tanpa berwudhu lagi."
(Hadits Bukhari No. 203)

Apakah perlu berkumur setelah meminum susu?
dari Ibnu 'Abbas,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam minum susu kemudian berkumur-kumur,
beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya susu mengandung lemak."
(Hadits Bukhari No. 204)

dari 'Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat hendaklah ia tidur hingga hilang kantuknya, karena bila shalat dalam keadaan mengantuk ia tidak menyadari, mungkin ia bermaksud beristighfar padahal bisa jadi ia mencaci dirinya."
(Hadits Bukhari No. 205)

dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat, hendaklah tidur (dahulu) hingga ia mengetahui apa yang ia baca."
(Hadits Bukhari No. 206)

Anjuran berwudhu setiap sholat fardhu
Anas bin Malik berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudhu setiap kali akan shalat."

Aku bertanya, "Bagaimana cara kalian melaksanakannya?"
Anas bin Malik menjawab, "Setiap orang dari kami mencukupkan dengan sekali wudhu selama tidak berhadas (batal)."
(Hadits Bukhari No. 207)

Suwaid bin An Nu'man berkata,

"Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada tahun penaklukan Khaibar, hingga ketika kami sampai di suatu tempat bernama Shahba', beliau mengimami kami shalat Ashar.

Selesai shalat beliau minta disajikan makanan, namun tidak ada kecuali makanan yang terbuat dari kurma dan gandum, lalu kami makan dan minum.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beranjak untuk melaksanakan shalat Maghrib, beliau berkumur lalu memimpin kami melaksanakan shalat maghrib tanpa berwudhu lagi."
(Hadits Bukhari No. 208)

Kisah siksa kubur karena tidak membersihkannya setelah kencing
dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati perkebunan penduduk Madinah atau Makkah, lalu beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa dalam kubur mereka.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun berkata: "Keduanya sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan dosa besar."

Lalu beliau menerangkan: "Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya lagi disiksa karena suka mengadu domba."

Beliau kemudian minta diambilkan sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelah menjadi dua bagian, kemudian beliau menancapkan setiap bagian pada dua kuburan tersebut.

Maka beliau pun ditanya, "Kenapa Tuan melakukan ini?"
Beliau menjawab: "Mudah-mudahan siksanya diringankan selama dahan itu masih basah."
(Hadits Bukhari No. 209)

dari Anas bin Malik berkata,

"Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam buang hajat aku selalu mendatanginya dengan membawa bejana berisi air, sehingga beliau bisa bersuci dengannya."
(Hadits Bukhari No. 210)

dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lewat di dekat dua kuburan, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya suka mengadu domba."

Kemudian beliau mengambil sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelahnya menjadi dua bagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut.

Para sahabat pun bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini?"
beliau menjawab: "Semoga siksa keduanya diringankan selama batang pohon ini basah."

Jalur Lain
Mujahid menyebutkan seperti itu, "Tidak bersuci setelah kencing."
(Hadits Bukhari No. 211)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam dan para shahabat membiarkan seorang Badui yang kencing di dalam masjid.
dari Anas bin Malik

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat seorang 'Arab badui kencing di dalam masjid,
beliau lalu bersabda: "Biarkanlah."

Setelah orang itu selesai, beliau meminta air dan menyiram bekasnya."
(Hadits Bukhari No. 212)

Abu Hurairah berkata,

"Seorang 'Arab badui berdiri dan kencing di Masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka:

"Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan."
(Hadits Bukhari No. 213)

Anas bin Malik berkata,

"Seorang 'Arab badui datang lalu kencing di sudut Masjid, maka orang-orang pun ingin mengusirnya, tetapi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang mereka.

Setelah orang itu selesai dari kencingnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam minta setimba air lalu menyiram pada bekasnya."
(Hadits Bukhari No. 214)

Tentang kencing bayi
dari 'Aisyah Ummul Mukminin, ia berkata,

"Pernah seorang bayi dibawa ke hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu bayi tersebut kencing hingga mengenai pakaiannya. Beliau lalu minta air dan mengusapinya dengan auir tersebut."
(Hadits Bukhari No. 215)

dari Ummu Qais binti Mihshan,

"bahwa dia datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan membawa anaknya yang masih kecil dan belum makan makanan.

Rasulullah lalu mendudukkan anak kecil itu dalam pangkuannya sehingga ia kencing dan mengenai pakaian beliau.

Beliau kemudian minta diambilkan air lalu memercikkannya dan tidak mencucinya."
(Hadits Bukhari No. 216)

Kencing sambil berdiri atau duduk
dari Hudzaifah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum, beliau lalu kencing sambil berdiri. Kemudian beliau meminta air, maka aku pun datang dengan membawa air, kemudian beliau berwudhu."
(Hadits Bukhari No. 217)

Kencing di samping teman atau berlindung di balik dinding
dari Hudzaifah berkata,

"Aku berjalan-jalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum di balik tembok dan kencing sambil berdiri sebagaimana kalian berdiri.

Aku lalu menjauh dari beliau, namun beliau memberi isyarat kepadaku agar mendekat, maka aku pun mendekat dan berdiri di belakangnya hingga beliau selesai."
(Hadits Bukhari No. 218)

Kencing di tempat pembuangan sampah umum
dari Abu Wa'il ia berkata,
"Abu Musa Al Asy'ari sangat berlebihan dalam urusan kencing, ia berkata, "Jika Bani Israil kencing lalu mengenai pakaiannya, maka mereka memotong pakaiannya."

Maka Hudzaifah pun berkata, "Aku tidak setuju! Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah kencing sambil berdiri di tempat pembuangan sampah."
(Hadits Bukhari No. 219)

Mencuci darah haid
dari Asma' berkata,

"Seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya "Bagaimana pendapat Tuan jika salah seorang dari kami darah haidnya mengenai pakaiannya. Apa yang harus dilakukannya?"

Beliau menjawab: "Membersihkan darah yang menggenai pakaiannya dengan menggosoknya dengan jari, lalu memercikinya dengan air. Kemudian shalat dengan pakaian tersebut."
(Hadits Bukhari No. 220)

Tentang darah istihadah (darah yang keluar dari kemaluan wanita di luar waktu haid, serta bukan disebabkan karena melahirkan)
dari 'Aisyah berkata,
"Fatimah binti Abu Hubaiys datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita yang keluar darah istihadlah (darah penyakit) hingga aku tidak suci. Apakah aku boleh meninggalkan shalat?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu menjawab: "Jangan, sebab itu hanyalah semisal keringat dan bukan darah haid. Jika datang haidmu maka tinggalkan shalat, dan jika telah terhenti maka bersihkanlah sisa darahnya lalu shalat."

Hisyam berkata, "Bapakku (Urwah) menyebutkan, "Berwudhulah kamu setiap akan shalat hingga waktu itu tiba."
(Hadits Bukhari No. 221)

Mencuci air mani dan mengeriknya dan mencuci yang terkena sesuatu dari wanita
dari 'Aisyah ia berkata,

"Aku mencuci kain Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sisa dari janabat, kemudian beliau keluar untuk shalat, sementara kainnya masih nampak basahnya."
(Hadits Bukhari No. 222)

dari Sulaiman bin Yasar berkata,
"Aku bertanya kepada 'Aisyah tentang mani yang mengenai pakaian.

ia lalu menjawab, "Aku pernah mencuci air mani dari pakaian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu keluar untuk shalat sementara sisa cucian masih nampak pada pakaian beliau."
(Hadits Bukhari No. 223)

'Amru bin Maimun berkata, "Aku bertanya kepada Sulaiman bin Yasar tentang pakaian yang terkena janabat (mani),

ia menjawab,
"Aisyah pernah berkata, "Aku pernah mencuci air mani dari pakaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian beliau keluar untuk shalat dan sisa cucian masih nampak pada pakaian beliau."
(Hadits Bukhari No. 224)

dari 'Aisyah,
"bahwa ia pernah mencuci air mani dari pakaian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian aku masih melihat bekas sisa cucian itu."
(Hadits Bukhari No. 225)

Kencing unta, binatang ternak dan kambing serta kandangnya.
dari Anas bin Malik berkata,

"Beberapa orang dari 'Ukl atau 'Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit.

Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air seni dan susunya.

Maka mereka pun berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan membawa unta-untanya.

Kemudian berita itu pun sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelang siang. Maka beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka.

Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, maka tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi."

Abu Qilabah mengatakan, "Mereka semua telah mencuri, membunuh, murtad setelah keimanan dan memerangi Allah dan rasul-Nya."
(Hadits Bukhari No. 226)

dari Anas berkata,
"Sebelum masjid dibangun, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di kandang kambing."
(Hadits Bukhari No. 227)

Najis yang jatuh ke dalam minyak samin atau air
dari Maimunah,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang bangkai tikus yang jatuh ke dalam lemak (minyak samin).

Maka Beliau menjawab: "Buanglah bangkai tikus itu ada apa yang ada di sekitarnya, lalu makanlah lemak kalian."
(Hadits Bukhari No. 228)

dari Maimunah,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang bangkai tikus yang jatuh ke dalam lemak (minyak samin).

Beliau lalu menjawab: "Buanglah bangkai tikus itu dan lemak yang ada di sekitarnya."
(Hadits Bukhari No. 229)

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Setiap luka yang didapatkan seorang Muslim di jalan Allah, maka pada hari kiamat keadaannya seperti saat luka tersebut terjadi. Warnanya warna darah dan harumnya sewangi misik."
(Hadits Bukhari No. 230)

Abu Hurairah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Kita adalah orang yang datang terakhir dan akan menjadi yang pertama pada hari kiamat."
(Hadits Bukhari No. 231)

Jangan kencing pada air yang tergenang
dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing pada air yang tidak mengalir, lalu mandi darinya."
(Hadits Bukhari No. 232)

Apabila diletakkan kotoran ke atas punggung orang yang sedang sholat maka sholatnya tidak batal
'Abdullah bin Mas'ud menceritakan kepadanya,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di dekat Ka'bah sementara Abu Jahal dan teman-temannya duduk di dekat beliau.

Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, 'Siapa dari kalian yang dapat mendatangkan isi perut (jerohan) unta milik bani fulan, lalu ia letakkan di punggung Muhammad saat dia sujud? '

Maka berangkatlah orang yang paling celaka dari mereka, ia lalu datang kembali dengan membawa kotoran unta tersebut.

Orang itu lantas menunggu dan memperhatikan, maka ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sujud kotoran itu ia letakkan di punggung beliau di antara kedua pundaknya.
Sementara aku hanya bisa melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Duh, sekiranya aku bisa mencegah!

'Abdullah bin Mas'ud melanjutkan kisahnya, "Lalu mereka pun tertawa-tawa dan saling menyindir satu sama lain sedang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan sujud, beliau tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fatimah.

Fatimah lalu membersihkan kotoran itu dari punggung beliau, setelah itu baru Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat kepalanya seraya berdo'a: "Ya Allah, aku serahkan (urusan) Quraisy kepada-Mu." Sebanyak tiga kali.
Maka do'a tersebut membuat mereka ketakutan."

'Abdullah bin Mas'ud meneruskan, "Sebab mereka yakin bahwa do'a yang dipanjatkan tempat itu akan diterima.

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebut satu persatu nama-nama mereka: "Ya Allah, aku serahkan (urusan) Abu Jahal kepada-Mu, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Al Walid bin 'Utbah, Umayyah bin Khalaf dan 'Uqbah bin Abu Mu'aith." Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebut yang ke tujuh tapi aku lupa."

'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Sungguh aku melihat orang-orang yang disebut Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tersebut, terbantai di pinggiran lembah Badar (dalam perang Badar)."
(Hadits Bukhari No. 233)

Ludah, ingus dan yang sejenisnya bila mengenai pakaian
dari Anas bin Malik berkata,
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meludah di dalam kainnya."
(Hadits Bukhari No. 234)

Larangan berwudhu menggunakan air perasan anggur atau sesuatu yang dapat memabukkan
dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Setiap minuman yang memabukkan adalah haram."
(Hadits Bukhari No. 235)

Seorang wanita mencuci darah yang ada pada wajah ayahnya
Sahl bin Sa'd As Sa'idi ditanya oleh manusia -sedang saat itu antara aku dan dia tidak ada seorangpun yang lebih mendengar tentang pengobatan luka yang diderita Nabi shallallahu 'alaihi wasallam-,

ia menjawab, "Tidak ada seorang sahabat yang masih hidup yang lebih tahu tentang itu daripada aku. Pernah 'Ali datang membawa perisai berisi air, lalu Fatimah membersihkan darah yang ada di wajah beliau, lalu diambilnya tikar kemudian dibakar dan ditempelkan pada lukanya."
(Hadits Bukhari No. 236)

Bersiwak
dari Abu Burdah dari Bapaknya ia berkata,

"Aku datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan aku dapati beliau sedang menggosok gigi dengan siwak di tangannya. Beliau mengeluarkan suara, "U' U'."
sementara kayu siwak berada di mulutnya seolah ingin muntah."
(Hadits Bukhari No. 237)

dari Hudzaifah berkata,

"Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bangun di malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak."
(Hadits Bukhari No. 238)

Keutamaan orang yang tidur dalam keadaan punya wudhu
dari Al Bara' bin 'Azib berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudlulah seperti wudlu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu dan ucapkanlah: ALLAHUMMA ASLAMTU WAJHII ILAIKA WA FAWWADLTU AMRII ILAIKA WA ALJA`TU ZHAHRII ILAIKA RAGHBATAN WA RAHBATAN ILAIKA LAA MALJA`A WA LAA MANJAA ILLAA ILAIKA ALLAHUMMA AAMANTU BIKITAABIKALLADZII ANZALTA WANNABIYYIKALLADZII ARSALTA
(Ya Allah, aku pasrahkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan perasaan senang dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksa-Mu melainkan kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus).

Jika kamu meninggal pada malammu itu, maka kamu dalam keadaan fitrah dan jadikanlah do'a ini sebagai akhir kalimat yang kamu ucapkan."

Al Bara' bin 'Azib berkata, "Maka aku ulang-ulang do'a tersebut di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hingga sampai pada kalimat: ALLAHUMMA AAMANTU BIKITAABIKALLADZII ANZALTA (Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan),

aku ucapkan: WA RASUULIKA (dan rasul-Mu),
beliau bersabda: "Jangan, tetapi WANNABIYYIKALLADZII ARSALTA (dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus)."
(Hadits Bukhari No. 239)

« Tentang Mandi
Tentang ilmu »

Shalat 5 Waktu
Kitab Shalat
Bacaan Shalat
Shalat Berjamaah
Adzan dan Iqomah
Tentang Haid
Tentang Tayamum
Semua Hadits Shahih BukhariImam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama