Hadits Bukhari Kitab Shalat

bangpro.xyz — Kumpulan Hadits Shahih Iman Al-Bukhari Kitab Tentang Shalat / Sholat / Salat / Solat.

HaditsShahih Al-Bukhari
KitabShalat
Nomor336 - 490
No. VersiFathul Bari


Bagaimana shalat diwajibkan pada malam Isra'
dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik berkata, Abu Dzar menceritakan bahwa

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam.
Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam.

Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali.
Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia.

Tatkala aku sudah sampai di langit dunia,
Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga langit, 'Bukalah'.
Malaikat penjaga langit berkata, 'Siapa Ini? '
Jibril menjawab, 'Ini Jibril'.
Malaikat penjaga langit bertanya lagi, 'Apakah kamu bersama orang lain? '
Jibril menjawab, ˝Ya, bersamaku Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.˝
Penjaga itu bertanya lagi, 'Apakah dia diutus sebagai Rasul? '
Jibril menjawab, 'Benar.'

Ketika dibuka dan kami sampai di langit dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu ada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya.
Apabila dia melihat kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke kirinya ia menangis.

Lalu orang itu berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.'
Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? '
Jibril menjawab, "Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya.
Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahli surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli neraka.
Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis."

Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua, Jibril lalu berkata kepada penjaganya seperti terhadap penjaga langit pertama. Maka langit pun dibuka'."

Anas berkata, "Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, 'Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka.

Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam."

Anas melanjutkan, "Ketika Jibril berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia melewati Idris.
Maka Idris pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.'
Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? '
Jibril menjawab, 'Dialah Idris.'

Lalu aku berjalan melewati Musa, ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.'
Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? '
Jibril menjawab, 'Dialah Musa.'

Kemudian aku berjalan melewati 'Isa, dan ia pun berkata, 'Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.'
Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah 'Isa.'

Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.'
Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? '
Jibril menjawab, ˝Dialah Ibrahim shallallahu 'alaihi wasallam.˝

Ibnu Syihab berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu 'Abbas dan Abu Habbah Al Anshari keduanya berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Kemudian aku dimi'rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara pena yang menulis."

Ibnu Hazm berkata, "Anas bin Malik menyebutkan,
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Kemudian Allah 'azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali.

Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa,
lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? '
Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.'
Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! '

Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya.
Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya.
Tapi ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.'

Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.'
Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.'

Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala,
Allah lalu berfirman: ˝Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh.
Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku!˝

Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembailah kepada Rabb-Mu! '
Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabb-ku.'

Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu.
Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi."
(Hadits Bukhari No. 336)

dari 'Aisyah Ibu kaum Mu'minin, ia berkata,

"Allah telah mewajibkan shalat, dan awal diwajibkannya adalah dua rakaat dua rakaat, baik saat mukim atau saat dalam perjalanan.

Kemudian ditetapkanlah ketentuan tersebut untuk shalat safar (dalam perjalanan), dan ditambahkan lagi untuk shalat di saat mukim."
(Hadits Bukhari No. 337)

Wajibnya melaksanakan shalat dengan menggunakan pakaian
dari Ummu 'Athiyah berkata,

"Kami diperintahkan untuk mengajak keluar (wanita) haid dan wanita yang sedang dipingit pada dua hari raya, sehingga mereka bisa menyaksikan jama'ah kaum Muslimin dan mendo'akan mereka, lalu menjauhkan wanita-wanita haid dari tempat shalat mereka."

Seorang wanita lalu, "Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?"
Beliau menjawab: "Hendaklah temannya meminjamkan jilbab miliknya kepadanya."
(Hadits Bukhari No. 338)

Mengikatkan sarung di tengkuk ketika shalat
dari Muhammad bin Al Munkadir berkata,

"Jabir mengerjakan shalat dengan mengenakan sarung yang ia ikatkan pada leher (tengkuk), sementara pakaiannya ia gantungnya di gantungan baju.

Seseorang lalu berkata kepadanya, "Kenapa kamu shalat dengan menggunakan satu kain!"

Jabir bin Samurah menjawab, "Aku lakukan itu agar bisa dilihat oleh orang bodoh seperti kamu.
Sebab mana ada pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, di antara kami yang memiliki dua kain!"
(Hadits Bukhari No. 339)

shalat dengan 1 kain (celana dan baju jadi satu)
dari Muhammad bin Al Munkadir berkata,

"Aku melihat Jabir bin 'Abdullah melaksanakan shalat dengan mengenakan satu pakaian.

Lalu dia berkata, "Aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan mengenakan (satu) kain."
(Hadits Bukhari No. 340)

dari 'Umar bin Abu Salamah,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan mengenakan satu kain yang diikatkan pada kedua sisinya."
(Hadits Bukhari No. 341)

dari 'Umar bin Abu Salamah

"bahwa dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di rumah Ummu Salamah dengan mengenakan satu kain yang kedua sisinya digantungkan pada kedua pundaknya."
(Hadits Bukhari No. 342)

penjelasan shalat dengan 1 kain yang setidaknya menutupi pundak-lutut
'Umar bin Abu Salamah mengabarkan kepadanya, ia berkata,

"Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat di rumah Ummu Salamah dengan mengenakan satu kain yang menutupi seluruh badannya yang diletakkan pada kedua pundaknya."
(Hadits Bukhari No. 343)

Ummu Hani' binti Abu Thalib berkata, "Aku berkunjung kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada hari pembebasan Makkah, aku dapati beliau mandi sementara Fatimah, puteri beliau menutupinya dengan tabir."

Ummu Hani' binti Abu Thalib berkata, "Aku lantas memberi salam kepada beliau,
lalu beliau bertanya: "Siapakah ini?"
Aku menjawab, "Aku Ummu Hani' binti Abu Thalib."
Lalu beliau bertanya, "Selamat datang wahai Ummu Hani'."

Setelah selesai mandi beliau shalat delapan rakaat dengan berselimut pada satu baju.

Setelah selesai shalat aku berkata, "Wahai Rasulullah, anak ibuku mengatakan dia telah membunuh seseorang dan aku telah memberi ganti rugi kepada seseorang yakni Abu Hubairah."
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Kami telah setuju apa yang engkau berikan wahai Ummu Hani'!"

Ummu Hani' berkata, "Saat itu adalah waktu dhuha."
(Hadits Bukhari No. 344)

shalat dengan 1 kain bukanlah keharusan, tapi untuk memudahkan
dari Abu Hurairah

bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang shalat menggunakan satu baju.

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apakah setiap orang dari kalian memiliki dua baju?"
(Hadits Bukhari No. 345)

Jika shalat menggunakan sehelai pakaian hendaklah mengikatkannya ke pundaknya
dari Abu Hurairah berkata,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian shalat dengan menggunakan satu kain, hingga tidak selembar pun kain yang menutupi kedua pundaknya."
(Hadits Bukhari No. 346)

Abu Hurairah berkata,

Aku bersumpah bahwa aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa shalat dengan menggunakan satu kain, maka hendaklah ia serempangkan pada kedua pundaknya."
(Hadits Bukhari No. 347)

Apabila pakaian yang dikenakan untuk shalat sempit
dari Sa'id bin Al Harits berkata,

Kami bertanya kepada Jabir bin 'Abdullah tentang shalat dengan mengenakan satu lembar kain.

Maka ia menjawab, "Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam salah satu perjalanannya.
Pada suatu malamnya aku datang untuk keperluanku.
Saat itu aku dapati beliau sedang shalat dengan mengenakan satu kain.
Maka aku bergabung dengan beliau dan shalat disampingnya.

Setelah selesai beliau bertanya: "Ada urusan apa (malam-malam begini) kamu datang wahai Jabir?"
Maka aku sampaikan keperluanku kepada beliau.

Setelah aku selesai, beliau berkata: "Kenapa aku lihat kamu menyelimutkan (kain) seperti ini?"
Aku jawab, "Kainku sempit!"

Beliau bersabda: "Jika kain itu lebar maka diikatkanlah dari pundak, namun bila sempit maka cukup dikenakan (sebatas untuk menutup aurat)."
(Hadits Bukhari No. 348)

dari Sahal bin Sa'd berkata,

"Kaum laki-laki shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan mengikatkan kain pada leher-leher mereka seperti bayi.

Lalu dikatakan kepada kaum wanita: "Janganlah kalian mengangkat kepala kalian hingga para laki-laki telah duduk."
(Hadits Bukhari No. 349)

Shalat dengan menggunakan jubah buatan negeri Syam
dari Mughirah bin Syu'bah berkata,

"Aku pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan,

beliau bersabda: "Wahai Mughirah, ambilkan segayung air."

Aku lalu mencarikan air untuk beliau, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pergi menjauh hingga tidak terlihat olehku untuk buang hajat.
Saat itu beliau mengenakan jubah lebar, beliau berusaha mengeluarkan tangannya lewat lubang lengan namun terlalu sempit.

Lalu beliau mengeluarkan tangannya lewat bawah jubahnya,
lantas aku sodorkan segayung air kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat dengan mengusap kedua sepatunya lalu shalat."
(Hadits Bukhari No. 350)

Tidak disukainya badan terbuka (selain penutup aurat) ketika shalat dan juga di luar shalat
Jabir bin 'Abdullah menceritakan bahwa

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersama orang-orang Quraisy memindahkan batu Ka'bah sementara saat itu beliau mengenakan kain lebar.

Pamannya, Al 'Abbas, lalu berkata kepadanya, "Wahai anak saudaraku, seandainya kainmu engkau letakkan pada pundakmu tentu batu akan lebih ringan."

Maka beliau lepas dan dipakaikannya di pundaknya, tiba-tiba beliau terjatuh dan pingsan.

Setelah peristiwa itu tidak pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terlihat telanjang."
(Hadits Bukhari No. 351)

Shalat dengan menggunakan kemeja, celana panjang, celana dalam, dan selendang
dari Abu Hurairah berkata,

"Seorang laki-laki datang dan bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang shalat dengan menggunakan satu lembar baju.

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Apakah setiap kalian memiliki dua helai baju?"

Kemudian ada seseorang bertanya kepada 'Umar,
lalu ia menjawab, "Jika Allah memberi kelapangan (kemudahan), maka pergunakanlah."

Bila seseorang memiliki banyak pakaian, maka dia shalat dengan pakaiannya itu.
Ada yang shalat dengan memakai kain dan rida (selendang besar),
ada yang memakai kain dan gamis (baju panjang sampai kaki),
ada yang memakai kain dan baju,
ada yang memakai celana panjang dan rida',
ada yang memakai celana panjang dan gamis,
ada yang memakai celana panjang dan baju,
ada yang memakai celana pendek dan rida',
ada yang memakai celana pendek dan gamis."

Abu Hurairah berkata, "Menurutku 'Umar mengatakan, ˝Dan ada yang memakai celana pendek dan rida'."
(Hadits Bukhari No. 352)

dari Ibnu 'Umar berkata,

"Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ˝Apa yang harus dikenakan oleh seseorang saat ihram?˝

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Dia tidak boleh mengenakan baju, celana, mantel dan tidak boleh pula pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan.
Dan siapa yang tidak memiliki sandal, ia boleh mengenakan sepatu tapi hendaklah dipotong hingga berada dibawah mata kaki."
(Hadits Bukhari No. 353)

Sesuatu yang digunakan untuk menutup aurat
dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa ia berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang seseorang mengenakan pakaian shama` (berselimut sehingga seluruh bagian badannya tertutup)
dan melarang seseorang duduk ihtiba`(duduk memeluk lutut) dengan selembar kain hingga tidak ada yang menutupi bagian kemaluannya."
(Hadits Bukhari No. 354)

-Al Limas (bagi orang yang telah memegang, maka ia harus membeli)
-An Nibadz (seseorang yg berkata; jika produk ini telah aku lempar ke arahmu, maka engkau harus membelinya)
-Shama (membungkus seluruh tubuh tanpa ada celah untuk tangan keluar)
-ihtiba (duduk di atas bokong dan mendekap kedua lutut menempel dada)
dari Abu Hurairah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang dua macam jual beli;
jual beli Al Limas dan An Nibadz.

Dan melarang dari dua cara berpakaian;
berpakaian shama` dan seorang laki-laki duduk ihtiba dengan mengenakan satu kain."
(Hadits Bukhari No. 355)

Sesuatu yang digunakan untuk menutup aurat
telah mengabarkan kepadaku Humaid bin 'Abdurrahman bin 'Auf bahwa

Abu Hurairah berkata, "Pada hari Nahr (Idul Adha) Abu Bakar mengutusku kepada para pemberi pengumuman saat pelaksanaan haji, di Mina kami umumkan bahwa orang Musyrik tidak boleh berhaji setelah tahun ini dan tidak boleh thawaf dengan keadaan telanjang."

Humaid bin 'Abdurrahman berkata, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membonceng Ali pada tunggangannya dan memerintahkannya untuk mengumumkan surat Al Bara'ah (At-Taubah)."

Abu Hurairah berkata, "Ali lalu mengumumkan bersama kami pada penduduk Mina di hari Nahr, bahwa orang Musyrik tidak boleh berhaji setelah tahun ini dan tidak boleh thawaf dengan keadaan telanjang."
(Hadits Bukhari No. 356)

Shalat tanpa meggunakan rida' (selendang yang lebar)
dari Muhammad bin Al Munkadir berkata,

"Aku masuk menemui Jabir bin 'Abdullah yang saat itu sedang shalat dengan menggunakan kain sarung yang diikatkannya pada tengkuk, sedangkan pakaiannnya diletakkan pada gantungan baju.

Setelah selesai kami bertanya, ˝Wahai Abu 'Abdullah, bagaimana kamu shalat sedangkan kain rida' (selendang) mu kau gantung pada gantungan baju?˝

Maka Jabir menjawab, ˝Benar. Sesungguhnya aku senang bila berbuat seperti itu agar bisa dilihat oleh orang bodoh seperti kamu.
Aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan cara seperti itu."
(Hadits Bukhari No. 357)

Masalah berkenaan paha (apakah termasuk aurat?)
telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Shuhaib
dari Anas bin Malik bahwa

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berperang di Khaibar.
Maka kami melaksanakan shalat shubuh di sana di hari yang masih sangat gelap, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Thalhah mengendarai tunggangannya, sementara aku memboncenmg Abu Thalhah.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu melewati jalan sempit di Khaibar dan saat itu sungguh lututku menyentuh paha Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Lalu beliau menyingkap sarung dari pahanya hingga aku dapat melihat paha Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang putih.

Ketika memasuki desa beliau bersabda: ˝Allahu Akbar, binasalah Khaibar dan penduduknya! Sungguh, jika kami mendatangi halaman suatu Kaum, maka (amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu) ' (Qs. Asf Shaffaat: 177).
Beliau mengucapkan kalimat ayat ini tiga kali.˝

Anas bin Malik melanjutkan, "(Saat itu) orang-orang keluar untuk bekerja, mereka lantas berkata, ˝Muhammad datang!˝

'Abdul 'Aziz berkata, "Sebagian sahabat kami menyebutkan, ˝Pasukan (datang)!˝ Maka kami pun menaklukan mereka, para tawanan lantas dikumpukan.

Kemudian datanglah Dihyah Al Kalbi seraya berkata, "Wahai Nabi Allah, berikan aku seorang wanita dari tawanan itu!"

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, "Pergi dan bawalah seorang tawanan wanita."
Dihyah lantas mengambil Shafiyah binti Huyai.

Tiba-tiba datang seseorang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Nabi Allah, Tuan telah memberikan Shafiyah binti Huyai kepada Dihyah! Padahal dia adalah wanita yang terhormat dari suku Quraizhoh dan suku Nadlit. Dia tidak layak kecuali untuk Tuan."

Beliau lalu bersabda: "Panggillah Dihyah dan wanita itu."

Maka Dihyah datang dengan membawa Shafiah.
Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat Shafiah, beliau berkata, ˝Ambillah wanita tawanan yang lain selain dia.˝
Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerdekakan wanita tersebut dan menikahinya."

Tsabit berkata kepada Anas bin Malik, "Apa yang menjadi maharnya?"
Anas menjawab, "Maharnya adalah kemerdekaan wanita itu, beliau memerdekakan dan menikahinya."

Saat berada diperjalanan, Ummu Sulaim merias Shafiah lalu menyerahkannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat malam tiba, sehingga jadilah beliau pengantin.

Beliau lalu bersabda: "Siapa saja dari kalian yang memiliki sesuatu hendaklah ia bawa kemari."

Beliau lantas menggelar hamparan terbuat dari kulit, lalu berdatanganlah orang-orang dengan membawa apa yang mereka miliki.
Ada yang membawa kurma dan ada yang membawa keju/lemak."

Anas mengatakan, "Aku kira ia juga menyebutkan sawiq (makanan yang dibuat dari biji gandung dan adonan tepung gandum).
Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mencampur makanan-makanan tersebut.
Maka itulah walimahan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 358)

Dalam berapa lembar pakaian seharusnya wanita melaksanakan shalat?
'Aisyah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat fajar dan ikut juga wanita-wanita Mu'minat yang wajahnya tertutup dengan kerudung, kemudian kembali ke rumah mereka masing-masing tanpa diketahui oleh seorangpun."
(Hadits Bukhari No. 359)

Jika seseorang shalat dengan pakaian yang ada gambarnya lalu dia memperhatikan gambar tersebut
dari 'Aisyah bahwa

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di atas kain yang bergambar.
Lalu beliau melihat kepada gambar tersebut.

Selesai shalat beliau berkata: "Pergilah dengan membawa kain ini kepada Abu Jahm dan gantilah dengan pakaian polos dari Abu Jahm.
Sungguh kain ini tadi telah mengganggu shalatku."

Jalur Lain
'Aisyah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ˝Aku melihat pada gambarnya dan aku khawatir gambar itu menggangguku."
(Hadits Bukhari No. 360)

dari Anas bin Malik,

bahwa kain tipis milik 'Aisyah digunakan untuk gorden, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Singkirkanlah kain ini dari kita, karena gambar-bambarnya selalu menggangguku dalam shalatku."
(Hadits Bukhari No. 361)

Shalat mengenakan baju luar yang terbuat dari sutera lalu menanggalkannya
dari 'Uqbah bin 'Amir berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diberi hadiah berupa kain yang terbuat dari sutra, lalu beliau memakainya dan shalat.

Setelah selesai, beliau menyingkirkannya dengan keras seakan tidak suka, beliau bersabda: ˝Ini tidak patut bagi orang yang bertakwa."
(Hadits Bukhari No. 362)

Shalat mengenakan baju berwarna merah
dari 'Aun bin Abu Juhaifah dari Bapaknya berkata,

"Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam kemah merah yang terbuat dari kulit yang disamak.

Dan aku lihat Bilal mengambilkan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku lihat orang-orang saling berebut air tersebut.

Orang yang mendapatkanya maka ia langsung mengusapkannya, dan bagi yang tidak maka ia mengambilnya dari dari tangan temannya yang basah.

Kemudian aku lihat Bilal mengambil tombak kecil dan menancapkannya di tanah, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dengan mengenakan pakaian merah menghadap ke arah tombak kecil dan memimpin orang-orang shalat sebanyak dua raka'at.

Dan aku lihat orang-orang dan hewan berlalu melewati depan tombak tersebut."
(Hadits Bukhari No. 363)

Shalat di atap, di atas mimbar dan atau di atas kayu
Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan berkata, telah menceritakan kepada kami

Abu Hazim berkata, "Orang-orang bertanya kepada Sahal bin Sa'd tentang terbuat dari apa mimbar Rasulullah?

Maka dia berkata, "Tidak ada seorangpun yang masih hidup dari para sahabat yang lebih mengetahui masalah ini selain aku.
Mimbar itu terbuat dari batang pohon hutan yang tak berduri, mimbar itu dibuat oleh seorang budak wanita untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Ketika selesai dibuat dan diletakkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri pada mimbar tersebut menghadap kiblat.
Beliau bertakbir dan orang-orang pun ikut shalat dibelakangnya, beliau lalu membaca surat lalu rukuk, dan orang-orang pun ikut rukuk di belakangnya.
Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu mundur ke belakang turun dan sujud di atas tanah.
Kemudian beliau kembali ke atas mimbar dan rukuk, kemudian mengangkat kepalnya lalu turun kembali ke tanah pada posisi sebelumnya dan sujud di tanah. Itulah keberadaan mimbar."

Abu 'Abdullah berkata, 'Ali Al Madini berkata, Ahmad bin Hambal rahimahullah bertanya kepadaku tentang hadits ini.

Ia katakan, "Yang aku maksudkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam posisinya lebih tinggi daripada orang-orang.
Maka tidak mengapa seorang imam posisinya lebih tinggi daripada Makmum berdasarkan hadits ini."

Sahl bin Sa'd berkata, "Aku katakan, "Sesungguhnya Sufyan bin 'Uyainah sering ditanya tentang masalah ini, ˝Apakah kamu tidak pernah mendengarnya?˝
Ahmad bin Hambal rahimahullah menjawab, "Tidak."
(Hadits Bukhari No. 364)

dari Anas bin Malik,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah terjatuh dari kudanya hingga mengakibatkan betisnya atau bahunya terluka.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjauhi isteri-isterinya selama sebulan. Beliau lalu duduk di ruangan yang agak tinggi yang tangganya terbuat dari kayu.

Para sahabatnya lalu mengunjunginya, Beliau lalu shalat mengimami mereka dengan duduk sedangkan para sahabatnya shalat dengan berdiri.

Setelah salam, beliau bersabda: "Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti.
Jika imam bertakbir maka takbirlah kalian,
jika rukuk maka rukuklah kalian,
jika sujud maka sujudlah kalian,
dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri."

Kemudian Beliau shallallahu 'alaihi wasallam turun kembali setelah dua puluh sembilan hari.

Mereka pun berkata, "Wahai Rasulullah, bukankah engkau mengasingkan diri selama satu bulan?"
Beliau menjawab: "Satu bulan itu dua puluh sembailan hari."
(Hadits Bukhari No. 365)

Jika orang yang shalat ketika sujud pakaiannya menyentuh istrinya
dari Maimunah ia berkata,

"Pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat sementara aku berada di sampingnya,
dan saat itu aku sedang haid.

Dan setiapkali beliau sujud, pakaian beliau mengenai aku.
Dan beliau shalat di atas tikar kecil."
(Hadits Bukhari No. 366)

Shalat di atas tikar
dari Anas bin Malik

bahwa neneknya(Anas), Mulaikah, mengundang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menghadiri hidangan yang ia masak untuk beliau.

Beliau kemudian menyantap makanan tersebut kemudian bersabda: ˝Berdirilah, aku akan pimpin kalian shalat.˝

Anas berkata, "Maka aku berdiri di tikar milik kami yang sudah lusuh dan hitam akibat sering digunakan. Aku lalu memercikinya dengan air, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri diatasnya.

Aku dan seorang anak yatim lalu membuat barisan di belakang beliau, sementara orang tua (nenek) berdiri di belakang kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu shalat memimpin kami sebanyak dua rakaat lalu pergi."
(Hadits Bukhari No. 367)

Shalat di atas al-khumrah (alas kecil khusus untuk tempat sujud)
dari Maimunah ia berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di atas tikar kecil."
(Hadits Bukhari No. 368)

Shalat di atas alas tidur (kasur)
dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata,

"Aku pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sementara kedua kakiku di arah Qiblat (shalatnya).

Jika sujud beliau menyentuh kakiku, maka aku tarik kedua kakiku. Dan jika berdiri aku kembali meluruskan kakiku."

'Aisyah berkata, "Pada saat itu di rumah-rumah belum ada lampu penerang."
(Hadits Bukhari No. 369)

'Aisyah mengabarkan kepadanya,

"bahwa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang shalat Aisyah pernah tidur di arah kiblat beliau, ia tidur di atas kasur dengan posisi seperti jenazah."
(Hadits Bukhari No. 370)

dari 'Urwah,

"bahwa ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang shalat, 'Aisyah berbaring antara beliau dengan arah kiblatnya, di atas tempat tidur yang digunakan untuk tidur keduanya."
(Hadits Bukhari No. 371)

Sujud di atas kain dalam cuaca sangat panas
dari Anas bin Malik berkata,

"Kami shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu salah seorang dari kami meletakkan salah satu dari ujung bajunya di tempat sujudnya karena panasnya tempat sujud."
(Hadits Bukhari No. 372)

Shalat dengan memakai sandal
Abu Maslamah Sa'id bin Yazid Al Azdi berkata,

Aku bertanya kepada Anas bin Malik, "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat dengan memakai sandal?"
Dia menjawab, "Ya."
(Hadits Bukhari No. 373)

Shalat dengan memakai khuff (sepatu yang menutupi maka kaki)
Ibrahim menceritakan
dari Hammam bin Al Harits berkata,

Aku pernah melihat Jarir bin 'Abdullah kencing, lalu ia berwudhu dan mengusap dua sepatunya lalu berdiri shalat.

Maka hal itu ditanyakan kepadanya, ia lantas menjawab, "Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbuat seperti ini."

Ibrahim berkata, "Yang jadi mengherankan mereka adalah karena Jarir adalah termasuk di antara orang yang masuk Islam belakangan".
(Hadits Bukhari No. 374)

Shalat dengan memakai khuff
dari Al Mughirah bin Syu'bah berkata,

"Aku memberi air wudhu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu mengusap kedua sepatunya dan shalat."
(Hadits Bukhari No. 375)

Shalat bila tidak menyempurnakan sujud
dari Hudzaifah,

bahwa ia melihat seorang laki-laki tidak sempurna dalam rukuk dan sujudnya. Setelah orang itu selesai shalat, Hudzaifah berkata kepadanya, "Kamu belum shalat!"

Orang itu berkata, "Aku rasa sudah cukup."

Hudzaifah berkata lagi, "Seandainya kamu meninggal, maka kamu meninggal dunia bukan di atas sunah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 376)

Menampakkan ketiak dan merenggangkan lengan saat sujud
dari 'Abdullah bin Malik bin Buhainah,

"bahwa jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat, beliau membentangkan kedua lengannya hingga tampak putih ketiaknya."
(Hadits Bukhari No. 377)

Keutamaan menghadap qiblat
dari Anas bin Malik ia berkata,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa shalat seperti shalat kita,
menghadap ke arah kiblat kita dan memakan sembilan kita,
maka dia adalah seorang Muslim,
ia memiliki perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya.
Maka janganlah kalian mendurhakai Allah dengan mencederai perlindungan-Nya."
(Hadits Bukhari No. 378)

dari Anas bin Malik berkata,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) '.

Jika mereka mengucapkannya kemudian mendirikan shalat seperti shalat kita, menghadap ke kiblat kita dan menyembelih seperti cara kita menyembelih, maka darah dan harta mereka haram (suci) bagi kita kecuali dengan hak Islam dan perhitungannya ada pada Allah."
(Hadits Bukhari No. 379)

Arah kiblat bagi penduduk Madinah, Syam dan penduduk Timur ( dari Ka'bah)
dari Abu Ayyub Al Anshari,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Jika kalian mendatangi masuk ke dalam WC, maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya. Tetapi menghadaplah ke timurnya atau ke baratnya."

Abu Ayyub berkata, "Ketika kami datang ke Syam, kami dapati WC rumah-rumah di sana dibangun menghadap kiblat. Maka kami alihkan dan kami memohon ampun kepada Allah Ta'ala."
(Hadits Bukhari No. 380)

Firman Allah SWT "Dan jadikanlah sebagian dari maqam Ibrahim sebagai tempat shalat"
telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Dinar berkata,

"Kami pernah bertanya kepada Ibnu 'Umar tentang seseorang yang thawaf di Ka'bah untuk 'Umrah tetapi tidak melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah.
Apakah dia boleh berhubungan (jima') dengan isterinya?"

Maka Ibnu 'Umar berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang Makkah, lalu thawaf mengelilingi Ka'bah tujuh kali, shalat di sisi Maqam dua rakaat, lalu sa'i antara antara Shafa dan Marwah.
Dan sungguh bagi kalian ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah."

Dan kami pernah bertanya kepada Jabir bin 'Abdullah tentang masalah ini.
Maka ia menjawab, "Jangan sekali-kali ia mendekati isterinya hingga ia melaksanakan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah."
(Hadits Bukhari No. 381)

Mujahid berkata,

Ibnu 'Umar pernah di datangi dan ditanya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah.

Maka Ibnu 'Umar berkata,"Aku lalu mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun beliau telah keluar, dan aku mendapati Bilal sedang berdiri di antara dua pintu.
Aku lalu bertanya kepada Bilal, "Apakah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat di dalam Ka'bah?"

Bilal menjawab, "Ya, dua rakaat antara dua sisi dua tiang sebelah kiri dari arah kamu masuk, lalu beliau keluar dan shalat menghadap Ka'bah dua rakaat."
(Hadits Bukhari No. 382)

dari 'Atha' berkata, aku mendengar Ibnu 'Abbas berkata,

"Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah, beliau berdo'a di seluruh sisinya dan tidak melakukan shalat hingga beliau keluar darinya.

Beliau kemudian shalat dua rakaat dengan memandang Ka'bah lalu bersabda: "Inilah kiblat."
(Hadits Bukhari No. 383)

Menghadap kiblat bagaimanapun keadaannya
dari Al Bara' bin 'Azib radliallahu 'anhuma berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat mengahdap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menginginkan kiblat tersebut dialihkan ke arah Ka'bah.

Maka Allah menurunkan ayat: (˝Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit)˝ (Qs. Al Baqarah: 144).

Maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghadap ke Ka'bah.

Lalu berkatalah orang-orang yang kurang akal, yaitu orang-orang Yahudi: ˝(Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?˝

Katakanlah: ˝Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus)˝ (As. Al Baqarah: 144).

Kemudian ada seseorang yang ikut shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, orang itu kemudian keluar setelah menyelesikan shalatnya.

Kemudian orang itu melewati Kaum Anshar yang sedang melaksanakan shalat 'Ashar dengan menghadap Baitul Maqdis.

Lalu orang itu bersaksi bahwa dia telah shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan menghadap Ka'bah.
Maka orang-orang itu pun berputar dan menghadap Ka'bah."
(Hadits Bukhari No. 384)

dari Jabir bin 'Abdullah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat diatas tunggangannya menghadap kemana arah tunggangannya menghadap.

Jika Beliau hendak melaksanakan shalat yang fardhu, maka beliau turun lalu shalat menghadap kiblat."
(Hadits Bukhari No. 385)

Sujud Sahwi
dari Ibrahim dari 'Alqamah berkata, Abdullah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat."

Ibrahim melanjutkan, "Tapi aku tidak tahu apakah beliau kelebihan rakaat atau kurang.

Setelah salam, beliau pun ditanya: "Wahai Rasulullah, telah terjadi sesuatu dalam shalat!."
Beliau bertanya: "Apakah itu?"
Maka mereka menjawab, "Tuan shalat begini dan begini."

Beliau kemudian duduk pada kedua kakinya menghadap kiblat, kemudian beliau sujud dua kali, kemudian salam.

Ketika menghadap ke arah kami, beliau bersabda:
"Sesungguhnya bila ada sesuatu yang baru dari shalat pasti aku beritahukan kepada kalian.
Akan tetapi aku ini hanyalah manusia seperti kalian yang bisa lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa, maka jika aku terlupa ingatkanlah.

Dan jika seseorang dari kalian ragu dalam shalatnya maka dia harus meyakini mana yang benar, kemudian hendaklah ia sempurnakan, lalu salam kemudian sujud dua kali."
(Hadits Bukhari No. 386)

Masalah kiblat
dari Anas bin Malik berkata,

'Umar bin Al Khaththab, "Aku memiliki pemikiran yang aku ingin jika itu dikabulkan oleh Rabbku dalam tiga persoalan.

Maka aku sampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ˝Wahai Rasulullah, seandainya Maqam Ibrahim kita jadikan sebagai tempat shalat?˝
Lalu turunlah ayat: '(Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat) ' (Qs. Al Baqarah: 125).

Yang kedua tentang hijab.
Aku lalu berkata, ˝Wahai Rasulullah, seandainya Tuan perintahkan isteri-isteri Tuan untuk berhijab karena yang berkomunikasi dengan mereka ada orang yang shalih dan juga ada yang fajir (suka bermaksiat).˝
Maka turunlah ayat hijab.

Dan yang ketiga, saat isteri-isteri beliau cemburu kepada beliau (sehingga banyak yang membangkang),
aku katakan kepada mereka, ˝Semoga bila Beliau menceraikan kalian Rabbnya akan menggantinya dengan isteri-isteri yang lebih baik dari kalian.˝
Maka turunlah ayat tentang masalah ini."
(Hadits Bukhari No. 387)

mereka yang memandang tidak perlu mengulang shalat bagi siapa yang telah shalat namun keliru arah kiblatnya
dari 'Abdullah bin 'Umar berkata,

"Ketika orang-orang shalat subuh di Quba',
tiba-tiba datang seorang laki-laki dan berkata, ˝Sungguh, tadi malam telah turun ayat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau diperintahkan untuk menghadap ke arah Ka'bah.˝

Maka orang-orang yang sedang shalat berputar menghadap Ka'bah, padahal pada saat itu wajah-wajah mereka sedang menghadap negeri Syam.
Mereka kemudian berputar ke arah Ka'bah."
(Hadits Bukhari No. 388)

Jika lupa dalam shalat (sujud sahwi)
dari 'Abdullah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat Zhuhur lima rakaat.

Maka orang-orang berkata, ˝Apakah ada tambahan dalam shalat?˝
Beliau balik bertanya: ˝Apakah yang terjadi?˝
Mereka menjawab, ˝Tuan telah shalat sebanyak lima rakaat.˝

Maka beliau pun duduk di atas kedua kakinya lalu sujud dua kali."
(Hadits Bukhari No. 389)

Mengerik dahak yang ada di masjid dengan tangan
dari Anas bin Malik

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat ada dahak di dinding kiblat, beliau lalu merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya.

Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda: ˝Jika seseorang dari kalian berdiri shalat sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan kiblat, maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi lakukanlah ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya).˝

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau membalik posisi kainnya lalu berkata, atau beliau melakukan seperti ini."
(Hadits Bukhari No. 390)

Etika meludah saat shalat
dari 'Abdullah bin 'Umar,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah di dinding kiblat, lalu beliau menggosoknya kemudian menghadap ke arah orang banyak seraya bersabda:

"Jika seseorang dari kalian berdiri shalat janganlah dia meludah ke arah depannya, karena Allah berada di hadapannya ketika dia shalat."
(Hadits Bukhari No. 391)

dari 'Aisyah Ummul Mukminin,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah atau ingus pada dinding kiblat, beliau lalu menggosoknya."
(Hadits Bukhari No. 392)

Mengerik dahak/ludah yang ada di masjid dengan kerikil
Abu Hurairah dan Abu Sa'id keduanya menceritakan,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah pada dinding masjid, beliau lalu mengambil batu kerikil kemudian menggosoknya.

Setelah itu beliau bersabda: "Jika salah seorang dari kalian meludah maka janganlah ia membuangnya ke arah depan atau sebelah kanannya, tetapi hendaklah ia lakukan ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya)."
(Hadits Bukhari No. 393)

Tidak boleh meludah ke arah kanan dan kedepan ketika shalat
Abu Hurairah dan Abu Sa'id keduanya mengabarkan kepadanya

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat ludah pada dinding masjid, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengambil batu kerikil dan menggosoknya.

Kemudian beliau bersabda: "Jika salah seorang dari kalian meludah janganlah ia meludah ke arah kiblat atau ke sebelah kanannya, tapi hendaklah ia lakukan ke arah kiri atau di bawah kaki kirinya."
(Hadits Bukhari No. 394)

Anas bin Malik berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian meludah ke arah depan atau samping kanannya, tapi hendaklah ke arah kiri atau di bawah kakinya."
(Hadits Bukhari No. 395)

Hendaklah membuang dahak ke sebeleh kiri atau di bawah kaki kiri ketika shalat
Anas bin Malik berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seorang Mukmin sedang shalat, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan Rabbnya.

Maka janganlah ia meludah ke arah depan atau sebelah kanannya, namun hendaklah ia melakukannya ke arah kiri atau di bawah kakinya."
(Hadits Bukhari No. 396)

dari Abu Sa'id

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah pada arah kiblat masjid, beliau lalu menggosoknya dengan batu kerikil.

Kemudian beliau melarang seorang laki-laki meludah ke arah depan atau sebelah kanannya.

Tetapi hendaklah ia melakukannya ke arah kiri atau ke bawah kaki kirinya."
(Hadits Bukhari No. 397)

Kafarat (tebusan) akibat membuang dahak di dalam masjid
Anas bin Malik berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Meludah di dalam Masjid adalah suatu dosa. Maka kafarahnya (tebusannya) adalah menguburnya."
(Hadits Bukhari No. 398)

Menutupi (mengubur) dahak di masjid
Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian berdiri shalat, maka janganlah meludah ke arah depannya sebab ia sedang berhadapan dengan Allah selagi ia berada di tempat shalatnya, dan jangan ke sebelah kanannya karena di sana ada Malaikat.

Tetapi hendaklah ia meludah ke arah kiri atau di bawah kakinya, kemudian dikuburnya."
(Hadits Bukhari No. 399)

Jika terpaksa meludah hendaklah meludahnya dengan menggunakan ujung pakaiannya
dari Anas bin Malik,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat dahak di dinding kiblat lalu menggosoknya dengan tangannya. Dan nampak kebencian dari beliau, atau kebenciannya terlihat karena hal itu.

Beliau pun bersabda: ˝Jika salah seorang dari kalian berdiri shalat, sesungguhnya ia sedang berhadapan dengan Rabbnya, atau sesungguhnya Rabbnya berada antara dia dan arah kiblatnya, maka janganlah ia meludah ke arah kiblat.
Tetapi hendaklah ia lakukan ke arah kiri atau di bawah kaki (kirinya).˝

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memegang tepi kainnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau membalik posisi kainnya lalu berkata, atau beliau melakukan seperti ini."
(Hadits Bukhari No. 400)

Nasehat imam kepada para ma'mum tentang menyempurnakan shalat dan mengingatkan kiblat
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Apakah kalian lihat kiblatku disini? Demi Allah, tidaklah tersembunyi bagiku khusyuk dan rukuk kalian.

Sungguh, aku dapat melihatnya dari belakang punggungku."
(Hadits Bukhari No. 401)

dari Anas bin Malik berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau naik mimbar dan bersabda:

"Sesungguhnya saat shalat dan rukuk, aku dapat melihat kalian dari belakangku sebagaimana sekarang aku melihat kalian."
(Hadits Bukhari No. 402)

Bolehkah menamakan masjid dengan Masjid Suku anu?
dari 'Abdullah bin 'Umar,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mempertandingkan antara kuda yang dipersiapkan untuk pacuan yang jaraknya dimulai dari Al Hafya' sampai Tsaniyatul Wada', dan kuda yang tidak disiapkan untuk pacuan yang dimulai dari Al Hafya' hingga Masjid Bani Zuraiq."

'Abdullah bin 'Umar adalah termasuk orang yang mengikuti pacuan tersebut."
(Hadits Bukhari No. 403)

Orang yang mengundang makan di masjid dan orang yang memenuhi undangan tersebut
Anas berkata,

"Aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau sedang berada di Masjid bersama orang banyak.

Maka aku menghadap kepada beliau,
lalu beliau bertanya kepadaku: ˝Apakah kamu diutus oleh Abu Thalhah?˝
Aku menjawab, "Ya."
Beliau bertanya lagi: "Untuk undangan makan?"
Aku menjawab: "Benar."
Kemudian beliau bersabda kepada orang-orang yang bersama beliau: "Mari berangkat!"

Maka beliau pun berangkat dan aku juga berangkat bersama mereka."
(Hadits Bukhari No. 404)

Memutuskan perkara-perkara dan li'an (sumpah dan saling melaknat) antara suami dan istri di masjid
dari Sahal bin Sa'd,

bahwa ada seorang laki-laki datang dan berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika seorang suami mendapati laki-laki lain bersama isterinya?
Lalu keduanya saling melaknat di dalam masjid, sementara aku menyaksikannya."
(Hadits Bukhari No. 405)

Jika seseorang memasuki suatu rumah apakah ia boleh shalat dimana saja dia mau atau dimana diperintahkan tanpa menyelidiki terlebih dahulu?
dari 'Itban bin Malik,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya di rumahnya seraya bersabda: "Mana tempat di rumahmu yang kau sukai untuk aku pimpin shalat?"

Maka aku menunjukkan suatu tempat, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam takbir dan kami membuat shaf di belakangnya, kemudian beliaupun shalat dua rakaat."
(Hadits Bukhari No. 406)

Masjid-masjid yang ada di rumah-rumah
telah menceritakan kapadaku Mahmud bin Ar Rabi' Al Anshari

bahwa 'Itban bin Malik seorang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang pernah ikut perang Badar dari kalangan Anshar,

dia pernah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, pandanganku sudah buruk sedang aku sering memimpin shalat kaumku. Apabila turun hujun, maka air menggenangi lembah yang ada antara aku dan mereka sehingga aku tidak bisa pergi ke masjid untuk memimpin shalat. Aku menginginkan Tuan dapat mengunjungi aku lalu shalat di rumahku yang akan aku jadikan sebagai tempat shalat."

Mahmud berkata, "Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: ˝Aku akan lakukan insyaallah."

'Itban berkata, "Maka berangkatlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakar ketika siang hari, beliau lalu meminta izin lalu aku mengizinkannya, dan beliau tidak duduk hingga beliau masuk ke dalam rumah.
Kemudian beliau bersabda: ˝Mana tempat di rumahmu yang kau sukai untuk aku pimpin shalat.˝

Maka aku tunjukkan tempat di sisi rumah. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu berdiri dan takbir. Sementara kami berdiri membuat shaf di belakang beliau, beliau shalat dua rakaat kemudian salam."

'Itban melanjutkan, "Lalu kami suguhkan makanan dari daging yang kami masak untuk beliau. Maka berkumpullah warga desa di rumahku dalam jumlah yang banyak.

Salah seorang dari mereka lalu berkata, "Mana Malik bin Ad-Dukhaisyin atau Ibnu Ad Dukhsyun?"

Ada seorang yang menjawab, "Dia munafik, dia tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya."

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Janganlah kamu ucapkan seperti itu. Bukankan kamu tahu dia telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan mengharap ridla Allah?"
Orang itu menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."

'Itban berkata, "Kami lihat pandangan dan nasehat beliau itu untuk kaum Munafikin. Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ˝Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dengan mengharap ridha Allah?"
(Hadits Bukhari No. 407)

Mendahului kaki kanan ketika memasuki masjid dan lainnya
dari 'Aisyah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam suka mendahulukan yang kanan dalam setiap perbuatannya. Seperti dalam bersuci, menaiki kendaraan dan memakai sandal."
(Hadits Bukhari No. 408)

jangan menjadikan kuburan orang shaleh sebagai masjid (tempat beribadah)
dari 'Aisyah Ummul Mukminin,

bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa mereka melihat gereja di Habasyah yang didalamnya terdapat gambar.

Maka beliau pun bersabda: "Sesungguhnya jika orang shalih dari mereka meninggal, maka mereka mendirikan masjid di atas kuburannya dan membuat patungnya di sana. Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat."
(Hadits Bukhari No. 409)

Bolehkah membongkar kuburan orang musyrik jahiliyyah lalu membangun masjid di atasnya?
dari Anas bin Malik berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah lalu singgah di perkampungan bani 'Amru bin 'Auf, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tinggal di sana selama empat belas malam.

Kemudian beliau mengutus seseorang menemui bani Najjar, maka mereka pun datang dengan pedang di badan mereka.

Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di atas tunggangannya sedangkan Abu Bakar membonceng di belakangnya dan para pembesar bani Najjar berada di sekelilingnya hingga sampai di sumur milik Abu Ayyub.

Beliau suka segera shalat saat waktu shalat sudah masuk, maka beliau pun shalat di kandang kambing. Kemudian beliau memerintahkan untuk membangun masjid, beliau mengutus seseorang menemui pembesar bani Najjar.

utusan itu menyampaikan: "Wahai bani Najjar, sebutkan berapa harga kebun kalian ini?"
Mereka menjawab, "Tidak, demi Allah. Kami tidak akan menjualnya kecuali kepada Allah!"

Anas berkata, "Aku beritahu kepada kalian bahwa pada kebun itu banyak terdapat kuburan orang-orang musyrik, juga ada sisa-sisa reruntuhan rumah dan pohon-pohon kurma.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk membongkar kuburan-kuburan tersebut, reruntuhan rumah diratakan dan pohon-pohon kurma ditumbangkan lalu dipindahkan di depan arah kiblat masjid.

Maka lalu membuat pintu masjid dari pohon dan mengangkut batu bata sambil menyanyikan nasyid.

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ikut bekerja pula bersama mereka sambil mengucapkan: "Ya Allah. Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin."
(Hadits Bukhari No. 410)

Shalat di kandang kambing
dari Abu At Tayyah

dari Anas bin Malik berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di kandang kambing."

Setelah itu aku mendengar Anas mengatakan, "Beliau shalat di kandang kambing sebelum masjid di bangun."
(Hadits Bukhari No. 411)

Shalat di kandang unta
dari Nafi' berkata,

Aku melihat Ibnu 'Umar shalat menghadap untanya, dan ia mengatakan, "Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukannya."
(Hadits Bukhari No. 412)

Orang yang melakukan shalat di hadapan tungku atau api atau sesuatu yang biasa disembah orang sedangkan dia melaksanakan shalat karena Allah Ta'ala
dari 'Abdullah bin 'Abbas berkata,

Ketika terjadi gerhana matahari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat (gerhana), kemudian beliau bersabda:

"Neraka telah diperlihatkan kepadaku, dan belum pernah sekalipun aku melihat suatu pemandangan yang lebih mengerikan dari pada hari ini."
(Hadits Bukhari No. 413)

Dibencinya shalat di kuburan
dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jadikanlah (sebagian dari) shalat kalian ada di rumah kalian, dan jangan kalian jadikan ia sebagai kuburan."
(Hadits Bukhari No. 414)

Shalat di tempat reruntuhan atau tempat yang pernah terkena siksa
dari 'Abdullah bin 'Umar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah kalian memasuki tempat yang penghuninya disiksa kecuali kalian menangis, jika tidak bisa menangis maka janganlah kalian memasukinya agar kalian tidak mendapat musibah sebagaimana mereka mendapatkannya."
(Hadits Bukhari No. 415)

Shalat di dalam gereja (atau tempat ibadah orang Yahudi dan Nashrani)
dari 'Aisyah,

bahwa Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebuah gereja yang dia lihat di suatu tempat di negeri Habasyah (Eithofia) yang disebut Mariyah.
Kemudian dia ceritakan apa yang dilihatnya bahwa didalamnya ada gambar (patung).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Mereka adalah suatu kaum yang jika ada hamba shalih atau laki-laki shalih dari mereka meninggal, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan membuatkan patung untuknya.
Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah."
(Hadits Bukhari No. 416)

'Aisyah dan 'Abdullah bin 'Abbas keduanya berkata,

"Ketika sakit Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam semakin parah, beliau memegang bajunya dan ditutupkan pada mukanya.
Bila telah terasa sesak, beliau lepaskan dari mukanya.

Ketika keadaannya seperti itu beliau bersabda: ˝Semoga laknat Allah tertimpa kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.˝

Beliau memberi peringatan (kaum Muslimin) atas apa yang mereka lakukan."
(Hadits Bukhari No. 417)

dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Allah melaknat Yahudi dan Nashara karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid."
(Hadits Bukhari No. 418)

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam: "Dan bumi telah dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan tempat bersuci"
Jabir bin 'Abdullah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun dari Nabi-Nabi sebelumku;

aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sepanjang sebulan perjalanan,

bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan suci; maka dimana saja seorang laki-laki dari ummatku mendapati waktu shalat hendaklah ia shalat.

Dihalalkan harta rampasan untukku,

para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia,

dan aku diberikan (hak) syafa'at".
(Hadits Bukhari No. 419)

Tidurnya seorang wanita di dalam masjid
dari 'Aisyah,

"bahwa ada seorang budak perempuan hitam milik suatu kaum orang 'Arab telah mereka merdekakan."

Aisyah mengatakan, "Pada suatu hari sahaya ini keluar bersama seorang bayi perempuan dengan membawa kain tikar tenunan berwarna merah terbuat dari kulit yang dihiasi dengan permata."

Berkata, 'Aisyah radliallahu 'anhu: "Maka sahaya itu meletakkan tikar tersebut atau duduk diatasnya. Lalu tiba-tiba ada burung terluka yang jatuh. Sahaya itu menganggapnya sebagai daging maka diambilnya. Lalu orang-orang itu mencari burung tersebut tapi tidak menemukannya."

Berkata, 'Aisyah radliallahu 'anhu: "Lalu orang-orang itu menanyakannya kepadaku."

Berkata 'Aisyah radliallahu 'anhu: "lalu orang-orang itu menggeledah sampai pada bagian depan sahaya tersebut."

'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: "Demi Allah, aku ada bersama mereka saat butung itu jatuh lalu dia mengambilnya. Maka terjadilah apa yang terjadi diantara mereka."

'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: "Aku katakan: Inilah yang kalian duga aku berada di balik ini semua padahal orang ini lah yang berbuat dan aku berlepas diri darinya".

'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: "Lalu sahaya ini menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. dan masuk Islam."

Berkata, 'Aisyah radliallahu 'anhu: "Sahaya ini memiliki rumah kecil di dekat masjid."

'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: "Dan setiap dia menemui aku dia menceritakan disampingku."

'Aisyah radliallahu 'anhu berkata,: " Tidaklah dia duduk disisiku melainkan selalu bersya'ir"

Berkata, 'Aisyah radliallahu 'anhu: aku katakana kepadanya: "Apa alasanmmu setiap kali bermajelis denganku kamu bersya'ir seperti itu?"

'Aisyah radliallahu 'anhu berkata, "Maka dia ceritakan seperti kejadian dalam hadits ini".
(Hadits Bukhari No. 420)

Tidurnya seorang laki-laki di dalam masjid
telah mengabarkan kepadaku 'Abdullah bin 'Umar,

"bahwa ia pernah tidur di masjid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat dia masih pemuda lajang dan belum punya keluarga."
(Hadits Bukhari No. 421)

dari Sahl bin Sa'd berkata,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang ke rumah Fatimah namun 'Ali tidak ada di rumah.

Beliau lalu bertanya: "Kemana putera pamanmu?"
Fatimah menjawab, "Antara aku dan dia terjadi sesuatu hingga dia marah kepadaku, lalu dia pergi dan tidak tidur siang di rumah."

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada seseorang: "Carilah, dimana dia!"
Kemudian orang itu kembali dan berkata, "Wahai Rasulullah, dia ada di masjid sedang tidur."

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya, ketika itu Ali sedang berbaring sementara kain selendangnya jatuh di sisinya hingga ia tertutupi debu.

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membersihkannya seraya berkata: "Wahai Abu Thurab, bangunlah. Wahai Abu Thurab, bangunlah."
(Hadits Bukhari No. 422)

dari Abu Hurairah berkata,

"Sungguh, aku pernah melihat sekitar tujuh puluh orang dari Ashhabush Shuffah. Tidak ada seorangpun dari mereka yang memiliki rida' (selendang), atau kain, atau baju panjang kecuali mereka ikatkan dari leher mereka.

Di antara mereka ada yang kainnya sampai ke tengah betisnya dan ada yang sampai ke mata kaki. Kemudian dia lipatkan dengan tangannya karena khawatir auratnya terlihat."
(Hadits Bukhari No. 423)

Shalat sekembalinya dari bepergian
Mis'ar berkata, telah menceritakan kepada kami Muharib bin Ditsar dari Jabir bin 'Abdullah berkata,

"Aku datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau berada di masjid -Mis'ar berkata, ˝Menurutku Jabir berkata, ˝Saat waktu dhuha.˝-

Jabir bin 'Abdullah berkata, "Beliau bersabda: ˝Shalatlah dua rakaat.˝

Ketika itu beliau mempunyai hutang kepadaku. Maka beliau membayarnya dan memberi tambahan kepadaku."
(Hadits Bukhari No. 424)

Jika seorang dari kalian memasuki masjid hendaklah shalat dua rakaat sebelum dia duduk
dari Abu Qatadah As Salami, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah ia shalat dua rakaat sebelum ia duduk."
(Hadits Bukhari No. 425)

Berhadas di dalam masjid
dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Para Malaikat selalu memberi shalawat (mendo'akan) kepada salah seorang dari kalian selama ia masih di tempat ia shalat dan belum berhadas.

Malaikat berkata, ˝Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia˝."
(Hadits Bukhari No. 426)

Membagun masjid
'Abdullah bin 'Umar mengabarkan kepadanya,

bahwa pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Masjid dibangun dengan menggunakan tanah liat yang dikeraskan (bata). Atapnya dari dedaunan sedangkan tiangnya dari batang pohon kurma.

Pada masanya Abu Bakar tidak memberi tambahan renovasi apapun,

kemudian pada masanya Umar bin Al Khaththab ia memberi tambahan renovasi, Umar merenovasi dengan batu bata dan dahan barang kurma sesuai dengan bentuk yang ada di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Tiang utama ia ganti dengan kayu.

Kemudian pada masa Utsman ia banyak melakukan perubahan dan renovasi, dinding masjid ia bangun dari batu yang diukir dan batu kapur. Kemudian tiang dari batu berukir dan atapnya dari batang kayu pilihan."
(Hadits Bukhari No. 427)

Tolong menolong dalam membangun masjid
dari 'Ikrimah, Ibnu 'Abbas kepadaku dan kepada Ali, anaknya, "Pergilah kalian bedua menemui Abu Sa'id dan dengarlah hadits darinya!"

Maka kami pun berangkat. Dan kami dapati dia sedang membetulkan dinding miliknya, ia mengambil kain selendangnya dan duduk ihtiba`.

Kemudian ia mulai berbicara hingga menyebutkan tentang pembangunan masjid.
Ia mengkisahkan, "Masing-masing kami membawa bata satu persatu, sedangkan 'Ammar membawa dua bata dua bata sekaligus. Saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, beliau berkata sambil meniup debu yang ada padanya: "Kasihan 'Ammar, dia akan dibunuh oleh golongan durjana. Dia mengajak mereka ke surga sedangkan mereka mengajaknya ke neraka."

Ibnu 'Abbas berkata, "'Ammar lantas berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari fitnah tersebut."
(Hadits Bukhari No. 428)

Meminta bantuan tukang kayu dan tukang bangunan dalam membuat mimbar dan mendirikan masjid
dari Sahl berkata,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus seorang wanita dan berkata, "Perintahkan budakmu yang tukang kayu itu membuat tangga mimbar untukku, hingga aku bisa duduk di atasnya."
(Hadits Bukhari No. 429)

dari Jabir bin 'Abdullah,

"bahwa ada seorang wanita berkata, ˝Wahai Rasulullah, bolehkah aku buatkan sesuatu untuk Tuan, sehingga Tuan bisa duduk di atasnya? Karena aku punya seorang budak yang ahli dalam masalah pertukangan kayu.˝

Beliau menjawab: ˝Silakan, kalau kamu mau.˝
Maka wanita itu membuat sebuah mimbar."
(Hadits Bukhari No. 430)

Balasan pahala orang yang membangun masjid
Bukair menceritakan kepadanya, bahwa 'Ashim bin 'Umar bin Qatadah menceritakan kepadanya, bahwa dia mendengar 'Ubaidullah Al Khaulani mendengar

'Utsman bin 'Affan berkata di tengah pembicaraan orang-orang sekitar masalah pembangunan masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,

ia katakan, "Sungguh, kalian telah banyak berbicara, padahal aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

˝Siapa yang membangun masjid -Bukair berkata, "Menurutku beliau mengatakan- karena mengharapkah ridha Allah, maka Allah akan membangun untuknya yang seperti itu di surga."
(Hadits Bukhari No. 431)

Memegangi mata panah ketika memasuki masjid
Jabir bin 'Abdullah berkata,

Ada seorang laki-laki berjalan di dalam masjid dengan membawa panah.

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Jagalah ujung panahmu!"
(Hadits Bukhari No. 432)

Senjata tajam?
Abu Burdah dari Bapaknya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa lewat dengan membawa panah di masjid atau pasar kita, maka hendaklah dipegang ujung panahnya dengan tangannya agar tidak melukai seorang muslim."
(Hadits Bukhari No. 433)

Membaca syair di dalam masjid
Hassan bin Tsabit Al Anshari meminta kesaksian Abu Hurairah,

"Semoga Allah memberimu kebaikan, apakah anda mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ˝Wahai Hassan, penuhilah panggilan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (permintaan untuk melawan kaum kafir). Ya Allah, kuatkanlah dia dengan Ruhul Qudus (Malaikat Jibril)˝.

Abu Hurairah menjawab, "Ya."
(Hadits Bukhari No. 434)

Bermain tombak di dalam masjid
'Aisyah berkata,

"Pada suatu hari aku penah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di pintu rumahku sedangkan budak-budak Habasyah sedang bermain di dalam Masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menutupiku dengan kain selendangnya saat aku menyaksikan permainan mereka."

Jalur Lain
'Aisyah berkata, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyaksikan budak-budak Habasyah mempertunjukkan permainan tombak mereka."
(Hadits Bukhari No. 435)

Membicarakan perdagangan dan jual beli di atas mimbar di dalam masjid
Sufyan dari Yahya dari 'Amrah

dari 'Aisyah berkata, "Barirah datang kepadanya dan meminta tolong dalam masalah pembebasannya dirinya (sebagai budak)."

'Aisyah lalu berkata, "Kalau kamu mau, aku berikan tebusan kepada tuanmu dan perwalianmu milikku."

Tuannya berkata, "Kalau mau, engkau bisa berikan sisanya (harga budak tersebut)."
Sekali waktu Sufyan menyebutkan, "Kalau kamu mau, bebaskanlah dia dan perwalian milik kami."

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang, Aisyah menceritakan hal itu kepada beliau.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Belil dan merdekakanlah. Sesungguhnya perwalian itu bagi orang yang memerdekakannya."

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dekat mimbar,
sekali waktu Sufyan menyebutkan "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam naik mimbar lalu bersabda: ˝Kenapa suatu kaum membuat persyaratan dengan syarat-syarat yang tidak ada pada Kitabullah. Barangsiapa membuat syarat yang tidak ada pada Kitabullah, maka tidak berlaku sekalipun dia membuat persyaratan seratus kali."

Jalur Lain
... dari Yahya dari 'Amrah "bahwa Bararah….namun ia tidak menyebut bahwa (Rasulullah) naik mimbar."
(Hadits Bukhari No. 436)

Menagih hutang dan meminta kepastian pelunasan di dalam masjid
dari Ka'b,

bahwa ia pernah menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad di dalam Masjid hingga suara keduanya meninggi yang akhirnya didengar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang berada di rumah.

Beliau kemudian keluar menemui keduanya sambil menyingkap kain gorden kamarnya,

Beliau bersabda: "Wahai Ka'b!"
Ka'b bin Malik menjawab: "Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu."

Beliau bersabda: "Bebaskanlah hutangmu ini."
Beliau lalu memberi isyarat untuk membebaskan setengahnya.
Ka'b bin Malik menjawab, "Sudah aku lakukan wahai Rasulullah."

Beliau lalu bersabda (kepada Ibnu Abu Hadrad): "Sekarang bayarlah."
(Hadits Bukhari No. 437)

Petugas kebersihan masjid dan membuang kotoran dari masjid
dari Abu Hurairah,

"Ada seorang laki-laki kulit hitam atau wanita kulit hitam yang menjadi tukang sapu Masjid meninggal dunia. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu bertanya tentang keberadaan orang tersebut.

Orang-orang pun menjawab, "Dia telah meninggal!"
Beliaupun bersabda: "Kenapa kalian tidak memberi kabar kepadaku? Tunjukkanlah kuburannya padaku!"

beliau kemudian mendatangi kuburan orang itu kemudian menshalatinya."
(Hadits Bukhari No. 438)

Haramnnya memperdagangkan miras di dalam masjid (sebelum turun ayat pengharaman meminumnya)
dari 'Aisyah berkata,

"Ketika turun ayat-ayat dalam Surah Al Baqarah tentang masalah riba, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar ke masjid lalu membacakan ayat-ayat tersebut kepada manusia.

Kemudian beliau mengharamkan perdagangan khamer."
(Hadits Bukhari No. 439)

Pelayan (marbot) masjid
dari Abu Hurairah,

"Seorang laki-laki atau perempuan mengurusi (kebersihan) Masjid, dan aku tidak melihat kecuali bahwa ia adalah seorang wanita. Lalu dia menyebutkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau shalat di atas kuburnya."
(Hadits Bukhari No. 440)

Para tawanan dan orang yang bermaksiat diikat di masjid
Rauh dan Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah dari Muhammad bin Ziyad

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Sesungguhnya 'Ifrit dari bangsa Jin baru saja menggangguku untuk memutus shalatku tapi Allah memenangkan aku atasnya, dan aku berkehendak untuk mengikatnya di salah satu tiang masjid sampai waktu shubuh sehingga tiap orang dari kalian dapat melihatnya.

Namun aku teringat ucapan saudaraku Sulaiman Alaihis Salam ketika berdo'a: '(Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak akan dimiliki oleh seorangpun setelah aku) ' (QS. Shaad: 35).

Rauh berkata, "Kemudian beliau mengusirnya dalam keadaan hina."
(Hadits Bukhari No. 441)

Mandi bagi orang yang baru masuk Islam dan mengikat tawanan di masjid
Abu Hurairah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengirim pasukan berkuda mendatangi Najed, pasukan itu lalu kembali dengan membawa seorang laki-laki dari bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal.

Mereka kemudian mengikat laki-laki itu di salah satu tiang masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu keluar menemuinya dan bersabda: "Lepaskanlah Tsumamah."

Tsumamah kemudian masuk ke kebun kurma dekat Masjid untuk mandi. Setelah itu ia kembali masuk ke Masjid dan mengucapkan, "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selian Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."
(Hadits Bukhari No. 442)

Kemah di dalam masjid bagi orang yang sakit dan selain mereka
dari 'Aisyah berkata,

"Pada hari peperangan Khandaq, Sa'd terluka pada bagian lengannya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian mendirikan tenda untuk menjenguk Sa'd dari dekat, sementara di Masjid banyak juga tenda milik bani ghifar.

Kemudian banyak darah yang mengalir ke arah mereka (orang-orang bani Ghifar), maka mereka pun berkata, ˝Wahai penghuni tenda! Cairan apa yang mengenai kami ini? Ia muncul dari arah kalian?˝

Dan ternyata cairan itu adalah darah Sa'd yang keluar sehingga ia pun meninggal."
(Hadits Bukhari No. 443)

Memasukkan unta ke dalam masjid karena suatu alasan
dari Ummu Salamah berkata,

Aku mengadu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwa aku mengalami rasa sakit. Beliau kemudian bersabda: ˝Thawaflah di belakang orang dengan berkendaraan.˝

Maka aku pun melakukan thawaf, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat di sisi Ka'bah dengan membaca: ˝WATHTHUUR WA KITAABIM MASTHUUR (Demi bukit, dan Kitab yang ditulis)˝ (Qs. Ath Thuur: 1-2).
(Hadits Bukhari No. 444)

telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik,

"bahwa dua orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari kediaman beliau pada malam yang gelap gulita.

Dan seakan pada keduanya ada lampu kecil yang menerangi keduanya, ketika keduanya berpisah, masing-masing dari sahabat tersebut diiringi cahaya hingga tiba menemui keluarganya."
(Hadits Bukhari No. 445)

Pintu dan jalan untuk berlalu lalang di masjid
dari Abu Sa'id Al Khudru berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khuthbahnya, ˝Sesungguhnya Allah telah menawarkan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Kemudian hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah.˝

Maka tiba-tiba Abu Bakar Ash Shidiq menangis.
Aku berpikir dalam hati, apa yang membuat orang tua ini menangis, hanya karena Allah menawarkan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah?"

Dan ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah yang dimaksud hamba tersebut. Dan Abu Bakr adalah orang yang paling memahami isyarat itu.
Kemudian beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, janganlah kamu menangis. Sesungguhnya manusia yang paling terpercaya di hadapanku dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakar.
Seandainya aku boleh mengambil kekasih dari ummatku, tentulah Abu Bakar orangnya.
Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam.

Sungguh, tidak ada satupun pintu di dalam Masjid yang tersisa melainkan akan tertutup kecuali pintunya Abu Bakar."
(Hadits Bukhari No. 446)

dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dalam keadaan sakit yang membawa pada ajalnya. Saat itu kepalanya dibalut dengan kain, beliau lalu naik mimbar dan mengucapkan puja dan puji kepada Allah.

Kemudian beliau bersabda: ˝Sesungguhnya tidak ada seorangpun yang paling amanah dihadapanku, baik pada dirinya maupun hartanya melebihi Abu Bakar bin Abu Qahafah.

Seandainya aku boleh mengambil kekasih dari ummatku tentulah aku ambil Abu Bakar sebagai kekasihku.
Akan tetapi persaudaraan Islam lebih utama.
Tutuplah semua pintu dariku kecuali pintu Abu Bakar."
(Hadits Bukhari No. 447)

Pintu-pintu dan kunci untuk Ka'bah atau masjid
dari Ibnu 'Umar

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengunjungi Makkah (Ka'bah) seraya memanggil 'Utsman bin Thalhah,
'Utsman bin Thalhah kemudian membuka pintu (Ka'bah) dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun masuk diikuti oleh Bilal, Usamah bin Zaid, dan 'Utsman bin Thalhah, lalu pintu ditutup.
Beliau berada di dalam sesaat kemudian mereka keluar."

Ibnu Umar berkata, "Aku segera menemui Bilal untuk menanyakan sesuatu,
Bilal pun menjawab, "Beliau melaksanakan shalat di dalam (Ka'bah)."
Aku bertanya lagi, "Di sebelah mana?"
Bilal menjawab, "Di antara dua tiang."

Ibnu Umar berkata, "Lalu aku lupa untuk bertanya berapa beliau shalat."
(Hadits Bukhari No. 448)

Masuknya orang musyrik ke dalam masjid
Abu Hurairah berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengirim pasukan berkuda mendatangi Najed, kemudian pasukan tersebut kembali dengan membawa tawanan seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal.

Kemudian laki-laki itu diikat di salah satu tiang masjid."
(Hadits Bukhari No. 449)

Mengeraskan suara di masjid
dari As Sa'ib bin Yazid berkata,

Ketika aku berdiri di dalam masjid tiba-tiba ada seseorang melempar aku dengan kerikil, dan ternyata setelah aku perhatikan orang itu adalah ' Umar bin Al Khaththab. Dia berkata, "Pergi dan bawalah dua orang ini kepadaku."

Maka aku datang dengan membawa dua orang yang dimaksud, Umar lalu bertanya, "Siapa kalian berdua?" Atau "Dari mana asalnya kalian berdua?"

Keduanya menjawab, "Kami berasal dari Tha'if"

'Umar bin Al Khaththab pun berkata, "Sekiranya kalian dari penduduk sini maka aku akan hukum kalian berdua! Sebab kalian telah meninggikan suara di Masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 450)

Mengeraskan suara di masjid
Ka'b bin Malik mengabarkan kepadanya,

bahwa ia menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam masjid hingga suara keduanya meninggi dan didengar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang berada di rumah.

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian keluar menemui keduanya sambil menyingkap kain gorden kamar.

Beliau memanggil Ka'b bin Malik: "Wahai Ka'b!"
Ka'b bin Malik menjawab, "Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu."

Beliau memberi isyarat dengan tangannya agar ia membebaskan setengah dari hutangnya.
Ka'b bin Malik berkata, "Wahai Rasulullah, aku sudah lakukan."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Sekarang bayarlah."
(Hadits Bukhari No. 451)

Membuat halaqah (majelis) dan duduk-duduk di masjid
dari 'Abdullah bin 'Umar berkata,

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang pada saat itu sedang di atas mimbar, "Bagaimana cara shalat malam?"

Beliau menjawab: "Dua rakaat dua rakaat. Apabila dikhawatirkan masuk shubuh, maka shalatlah satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalatnya sebelumnya."

Ibnu 'Umar berkata, "Jadikanlah witir sebagai shalat terakhir kalian, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan hal yang demikian."
(Hadits Bukhari No. 452)

Cara shalat tahajud
dari Ibnu 'Umar berkata,

Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau sedang berkhuthbah. Katanya, "Bagaimana cara shalat malam?"

Beliau menjawab: "Dua rakaat dua rakaat. Apabila dikhawatirkan masuk subuh, maka shalatlah satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah kamu laksanakan sebelumnya."
(Hadits Bukhari No. 453)

bermajelis di masjid
dari Abu Waqid Al Laitsi berkata,

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di masjid, maka datanglah tiga orang laki-laki.
Dua orang menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan seorang lagi pergi.
Satu di antara dua orang ini nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang yang satu lagi duduk di belakang mereka.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai (menyampaikan pengajaran) beliau bersabda: "Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?
Adapun seorang di antara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah maka Allah lindungi dia.
Yang kedua, dia malu kepada Allah maka Allah pun malu kepadanya.
Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya."
(Hadits Bukhari No. 454)

(Rebahan) Terlentang dan meluruskan kaki di masjid
dari 'Abbad bin Tamim dari Pamannya

"bahwa dia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbaring di dalam masjid dengan meletakkan satu kakinya di atas kaki yang lain."

Dan dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Al Musayyab berkata, "'Umar dan 'Utsman juga melakukan hal serupa."
(Hadits Bukhari No. 455)

Masjid yang terletak di jalan hendaklah tidak mengganggu orang
'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata,

"Aku belum mengerti kedua orang tuaku kecuali saat keduanya telah memeluk agama ini. Dan tidak berlalu suatu haripun dalam kehidupan kami kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang menemui kami di penghujung hari, baik pada saat paginya maupun sore.

Aku ingat saat nampak keIslaman Abu Bakar, ketika dia di masjid dan shalat di sana dengan membaca Al Qur'an. Maka wanita-wanita dan anak-anak Musyrik memperhatikan dia dengan penuh keheranan.

Sementara Abu Bakar adalah seseorang yang sangat mudah menangis, yang tidak bisa menguasai air matanya apabila dia membaca Al Qur'an.

Dan kejadian itu telah menggemparkankan para pembesar Musyrikin Quraisy."
(Hadits Bukhari No. 456)

Shalat di masjid pasar
dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Shalat berjama'ah lebih utama dari shalatnya sendirian di rumah atau di pasarnya sebanyak dua puluh lima derajat.

Jika salah seorang dari kalian berwudhu lalu membaguskan wudhunya kemudian mendatangi masjid dengan tidak ada tujuan lain kecuali shalat, maka tidak ada langkah yang dilakukannya kecuali Allah akan mengangkatnya dengan langkah itu setinggi satu derajat, dan mengahapus darinya satu kesalahan hingga dia memasuki masjid.

Dan jika dia telah memasuki masjid, maka dia akan dihitung dalam keadaan shalat selagi dia meniatkannya, dan para malaikat akan mendoakannya selama dia masih berada di tempat yang ia gunakan untuk shalat, ˝Ya Allah ampunkanlah dia. Ya Allah rahmatilah dia˝.

Selama dia belum berhadas."
(Hadits Bukhari No. 457)

Menghilangkan jari-jari tangan di masjid dan lainnya
'Abdullah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Wahai 'Abdullah bin 'Amru, mengapa jika kamu bersama orang-orang lemah itu kamu berbuat begini?"
(Hadits Bukhari No. 458)

dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain."

kemudian beliau menganyam jari jemarinya.
(Hadits Bukhari No. 459)

dari Ibnu Sirin
dari Abu Hurairah berkata,

"Rasulullah bersama kami melaksanakan salah satu dari shalat yang berada di waktu malam."

Ibnu Sirin berkata, ˝Abu Hurairah menyebutkan menyebutkan (nama) shalat tersebut, tetapi aku lupa.˝

Abu Hurairah mengatakan, "Beliau shalat bersama kami dua rakaat kemudian salam, kemudian beliau mendatangi kayu yang tergeletak di masjid. Beliau lalu berbaring pada kayu tersebut seolah sedang marah dengan meletakkan lengan kanannya di atas lengan kirinya serta menganyam jari jemarinya, sedangkan pipi kanannya diletakkan pada punggung telapak tangan kiri. Kemudian beliau keluar dari pintu masjid dengan cepat.

Orang-orang pun berkata, "Apakah shalat telah diqashar (diringkas)?"

Padahal ditengah-tengah orang banyak tersebut ada Abu Bakar dan 'Umar, dan keduanya enggan membicarakannya.

Sementara di tengah kerumunan tersebut ada seseorang yang tangannya panjang dan dipanggil dengan nama Dzul Yadain, dia berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Tuan lupa atau shalat diqashar?"

Beliau menjawab: "Aku tidak lupa dan shalat juga tidak diqashar."
Beliau bertanya: "Apakah benar yang dikatakan Dzul Yadain?"
Orang-orang menjawab, "Benar."

Beliau kemudian maju ke depan dan mengerjakan shalat yang tertinggal kemudian salam. Setelah itu beliau takbir dan sujud seperti sujudnya yang dilakukannya atau lebih lama lagi. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan takbir, kemudian takbir dan sujud seperti sujudnya atau lebih lama lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir."

Bisa jadi orang-orang bertanya kepadanya (Ibnu Sirin), apakah dalam hadits ada lafadz 'Kemudian beliau salam' lalu ia berkata; aku mendapat berita bahwa Imran bin Hushain berkata; kemudian beliau salam'."
(Hadits Bukhari No. 460)

Masjid-masjid yang terletak di jalan kota Madinah dan tempat-tempat dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam pernah shalat di dalamnya
Musa bin 'Uqbah berkata,

"Aku melihat Salim bin 'Abdullah memilih tempat di suatu jalan lalu melaksanakan shalat di tempat tersebut. Dan dia menceritakan bahwa Bapaknya pernah shalat di tempat itu, dan bapaknya pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga shalat di tempat itu."

Telah menceritakan kepadaku Nafi' dari Ibnu 'Umar bahwa dia pernah shalat di tempat itu, dan aku bertanya kepada Salim, dan aku juga tidak mengetahuinya kecuali dia sepakat dengan Nafi' tentang tempat yang dimaksud. Namun keduanya berbeda pendapat tentang masjid yang berada di Syarfil Rawha'."
(Hadits Bukhari No. 461)

dari Nafi' bahwa 'Abdullah bin 'Umar mengabarkan kepadanya,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhenti di Dzul Hulaifah di bawah pohon samurah ketika melaksanakan 'Umrah dan hajinya, yaitu tempat yang sekarang digunakan sebagai masjid di daerah Dzul Hulaifah.

Ketika beliau kembali dari suatu peperangan, atau haji, atau umrah, dan melewati jalan tersebut beliau turun melalui dasar lembah, dan ketika telah sampai di dasar lembah beliau singgah di Bathha' (saluran tempat mengalirnya air) yang terletak di tebing sebelah timur dari lembah tersebut.

Di situ beliau bermalam dan beristirahat sampai pagi. Beliau tidak singgah di masjid yang berbatu dan tidak juga di bukit yang ada masjidnya. Di lembah itu terdapat celah yang pernah digunakan oleh 'Abdullah untuk melekasanakan shalat. Di dasar lembah tersebut ada gundukan pasir dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di situ. Suatu hari aliran air di Bathha' menyeret gundukan pasir tersebut sehingga menutup celah yang pernah digunakan oleh 'Abdullah untuk shalat.

'Abdullah bin 'Umar menceritakan kepadanya (Nafi') bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat di masjid kecil, bukan masjid yang terdapat di Syarful Rauha'.

'Abdullah mengetahui tempat yang pernah digunakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk shalat.
Ia berkata, ˝Disana, di sebelah kanan jika kamu berdiri shalat di masjid itu. Masjid itu terletak di sebelah kanan jalan jika kamu berjalan menuju ke arah Makkah. Jarak masjid tersebut dengan masjid besar sejauh lemparan batu atau kurang lebihnya sekitar itu.˝

'abdullah bin 'Umar juga pernah shalat di lembah 'Irqi yang terletak diperbatasan Rauha'. Lembah ini ujungnya di sisi jalan di bawah masjid yang posisinya di sebelah kanan jika kamu berjalan menuju Makkah. Disana sudah dibangun masjid namun 'Abdullah bin 'Umar belum pernah shalat di masjid tersebut. Dia melewati masjid tersebut dari sebelah kiri dan belakangnya, kemudian ia shalat di depannya di lembah 'Irq itu sendiri. Pernah ketika dia kembali dari Rauha', dia tidak shalat Zhuhur (di tempat lain) hingga sampai di tempat tersebut, kemudian dia shalat Zhuhur di tempat tersebut. Jika dia kembali dari Makkah dan melewati tempat itu satu jam sebelum Shubuh atau di akhir waktu sahar (menjelang shubuh), dia beristirahat hingga shalat Shubuh di tempat itu.

'Abdullah juga menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berhenti singgah di bawah pohon besar di desa Ar-Ruwaitsah di sebelah kanan jalan menghadap ke jalan, yakni pada tempat yang rendah dan datar. Sehingga beliau bisa melalui tebing datar yang jaraknya dua mil dari ujung jalan yang datar desa Ar-Ruwaitsah. Tebing itu bagian atasnya sudah banyak yang rontok dan berjatuhan di sisi bawahnya, namun tebing itu masih berdiri tegak pada landasannya sekalipun pada sisinya itu banyak terdapat celah.

'Abdullah bin 'Umar juga menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di dekat air terjun yang posisinya di belakang desa Al 'Arj jika kamu menuju desa Hadlbah. Pada masjid itu ada dua atau tiga kuburan yang ditandai dengan batu yang berada di sebelah kanan jalan, pada jalan yang datar. Di sisi kanan jalan yang datar itulah 'Abdullah pernah melintas ketika kembali dari desa Al 'Irj setelah matahari condong pada tengah hari, lalu dia shalat Zhuhur di masjid itu.

'Abdullah bin 'Umar juga menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah singgah di pohon-pohon besar di sebelah kiri jalan di tempat saluran air dekat desa Harsya. Saluran air itu letaknya berhubungan dengan ujung jalan desa Harsya yang jaraknya sejauh lemparan anak panah (kira-kira dua pertiga mil). 'Abdullah pernah shalat di dekat pohon yang paling besar dan paling tinggi di antara pohon-pohon besar tersebut.

'Abdullah juga menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah singgah pada saluran air yang terletak dekat lembah yang disebut dengan Marrul Zhahran, yakni sebelum Madinah jika menuruni lembah Shafrawat. Beliau singgah dan turun hingga ke bawah yang posisinya ada di sebelah kiri jalan jika kamu menuju arah Makkah. Jarak antara saluran air yang beliau singgahi dengan jalan hanya berjarak tidak lebih dari sejauh lemparan batu.

'Abdullah bin 'Umar juga menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah singgah di Dzu Thuwa dan bermalam di sana sampai subuh, ia lalu melaksanakan shalat subuh di sana ketika Beliau pergi mengunjungi Makkah. Tempat shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tersebut posisinya pada sebuah bukit besar, bukan pada posisi di mana sekarang dibangun masjid, yaitu pada dasar bukit tersebut.

'Abdullah bin 'Umar juga menceritakan kepadanya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menghadap dua jalan masuk menuju gunung yang jaraknya dengan puncak gunung sekitar sebesar Ka'bah, posisinya sekarang di sebelah kiri dari masjid yang didirikan. Dan tempar shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam letaknya lebih rendah dari tebing yang berwarna hitam. Jarak tempat itu dari tebing tersebut sepuluh hasta atau kurang lebih sekitar itu. Dan jika kamu shalat menghadap dua jalan ke gunung tersebut maka tempat tersebut berada di tengah antara kamu berdiri dengan Ka'bah."
(Hadits Bukhari No. 462)

Sutrah (pembatas) tempat shalat
dari 'Abdullah bin 'Abbas bahwa dia berkata,

"Pada suatu hari aku datang sambil menunggang keledai betina dan pada saat itu usiaku hampir baligh. Saat itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang shalat bersama orang banyak di Mina tanpa ada dinding (tabir) di hadapannya.

Maka aku lewat didepan sebagian shaf, aku lantas turun dan aku biarkan keledaiku mencari makan. Kemudian aku masuk ke barisan shaf dan tidak ada seorang pun yang menegurku."
(Hadits Bukhari No. 463)

Sutrah (pembatas) tempat shalat
dari Ibnu 'Umar,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika keluar untuk shalat 'ied, beliau meminta sebuah tombak lalu ditancapkannya di hadapannya. Kemudian beliau shalat dengan menghadap ke arahnya, sedangkan orang-orang shalat di belakangnya.

Beliau juga berbuat seperti itu ketika dalam bepergian, yang kemudian diteruskan oleh para pemimpin (Khulafa Rasyidun)."
(Hadits Bukhari No. 464)

dari 'Aun bin Abu Juhaifah berkata, aku mendengar Bapakku,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat bersama para sahabat di daerah Bathha`, dan di hadapan beliau ditancapkan sebuah tombak kecil.

Beliau mengerjakan shalat Zhuhur dua rakaat dan shalat Ashar dua rakaat, sementara wanita dan keledai berlalu lalang di hadapannya."
(Hadits Bukhari No. 465)

Sutrah bagi imam juga sebagai bagi orang yang shalat di belakangnya
dari Sahl bin Sa'd berkata,

"Jarak antara tempat shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan dinding (pembatas) adalah selebar untuk jalan kambing."
(Hadits Bukhari No. 466)

Jarak Sutrah
dari Salamah berkata,

"Jarak antara dinding masjid di mimbar kira-kira seukuran kambing bisa lewat."
(Hadits Bukhari No. 467)

Shalat menghadap tombak kecil
dari 'Abdullah bin 'Umar,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menancapkan sebuah tombak lalu shalat menghadapnya."
(Hadits Bukhari No. 468)

Shalat menghadap tongkat
'Aun bin Abu Juhaifah berkata, "Aku mendengar Bapakku berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami saat terik matahari. Kemudian beliau diberi bejana berisi air, lalu beliau berwudhu dan mengerjakan shalat Zhuhur dan 'Ashar bersama kami.

Sementara itu dihadapannya ditancapkan sebuah tonggak, sementara para wanita dan keledai berlalu lalang di belakang tonggak kayu tersebut."
(Hadits Bukhari No. 469)

Shalat menghadap tongkat
Anas bin Malik berkata,

"Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar untuk buang hajat, maka aku dan seorang anak kecil mengikuti beliau dengan membawa tongkat, atau sebatang kayu, atau bekas tombak dan bejana berisi air. Jika beliau selesai dari buang hajat, maka kami memberikan bejana tersebut kepada beliau."
(Hadits Bukhari No. 470)

Sutrah ketika shalat di Makkah dan tempat lain
dari Abu Juhaifah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar saat terik matahari. Kemudian beliau melaksanakan shalat Zhuhur dan 'Ashar dua rakaat dua rakaat di Bathha`.

Sementara dihadapannya ditancapkan sebuah tongkat. Ketika beliau berwudhu, maka orang-orang mengusapkan bekas air wudhunya (ke badan)."
(Hadits Bukhari No. 471)

Shalat di hadapan tiang
Yazid bin Abu 'Ubaid berkata,

"Aku dan Salamah bin Al Akwa' datang (ke Masjid), lalu dia shalat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf.

Lalu aku tanyakan, ˝Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat shalat dekat tiang ini?˝

Dia menjawab, "Sungguh aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memilih untuk shalat di situ˝."
(Hadits Bukhari No. 472)

dari Anas bin Malik berkata,

"Aku pernah melihat para sahabat senior berlomba mendekati tiang saat adzan Maghrib."

Syu'bah menambahkan dari 'Amru dari Anas, "Sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar."
(Hadits Bukhari No. 473)

Shalat di antara dua tiang dengan tidak berjama'ah
dari Ibnu 'Umar berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah bersama Usamah bin Zaid, 'Utsman bin Thalhah dan Bilal dalam waktu yang cukup lama.

Kemudian beliau keluar dan akulah orang yang pertama kali masuk setelah beliau keluar.

Aku lantas bertanya kepada Bilal, ˝Dimana beliau tadi melaksanakan shalat?˝
Bilal menjawab, "Di antara dua tiang depan."
(Hadits Bukhari No. 474)

dari 'Abdullah bin 'Umar,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Ka'bah bersama Usamah bin Zaid, Bilal dan 'Utsman bin Thalhah Al Hajabi kemudian pintu ditutup, dan beliau berada di dalamnya.

Kemudian setelah beliau keluar aku bertanya kepada Bilal apa yang dilakukan oleh beliau di dalamnya.

Bilal menjawab, ˝Beliau menjadikan tiang berada di sebelah kiri, lalu satu di sebelah kanan dan tiga tiang berada di belakangnya -saat itu tiang Ka'bah berjumlah enam buah- kemudian beliau shalat˝."

Isma'il menyebutkan kepada kami; Malik menceritakan kepadaku, ia sebutkan, "Dua tiang di sebelah kanannya."
(Hadits Bukhari No. 475)

Abdullah bin 'Umar,

"bahwa jika ia masuk ke dalam Ka'bah, ia berjalan ke arah depan sementara pintu Ka'bah di belakangnya. Ia terus berjalan hingga antara dia dan dinding dihadapannya kira-kira tiga hasta, lalu dia shalat di tempat dimana Bilal mengabarkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat di posisi itu."

'Abdullah bin 'Umar berkata, "Dan tidak mengapa jika di antara kami shalat di dalam Ka'bah menghadap kemana saja yang dia mau."
(Hadits Bukhari No. 476)

Shalat di hadapan hewan tunggangan, unta, pohon ataupun pelana
dari Nafi'
dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

"bahwa beliau pernah menambatkan tunggangannya lalu shalat menghadap ke arahnya."

Aku (Nafi') berkata, ˝Apakah kamu pernah melihat bahwa tunggangannya itu berjalan pergi?˝

Ibnu 'Umar menjawab, ˝Beliau ambil tali pelananya lalu meletakkannya di depannya, kemudian shalat menghadap ke arahnyanya.˝

Dan Ibnu 'Umar juga pernah melakukannya."
(Hadits Bukhari No. 477)

Shalat di hadapan tempat tidur
dari 'Aisyah berkata,

"Apakah kalian menyamakan kami dengan anjing dan keledai? Sungguh, aku pernah berbaring di atas tikar, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang dan berdiri melaksanakan shalat di tengah tikar.

Aku tidak ingin mengganggu beliau, maka aku geser kakiku pelan-pekan dari tikar hingga aku keluar dari selimutku."
(Hadits Bukhari No. 478)

Orang yang sedang shalat mencegah orang yang lewat di depannya (tanpa ada penghalang atau lewat ditengah-tengah antara orang yg sedang shalat dan pembatas)
Abu Shalih as Samman berkata,

"Pada hari jum'at aku melihat Abu Sa'id Al Khudri shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang-orang (yang lewat). Kemudian ada seorang pemuda dari Bani Abu Mu'aith hendak lewat di depannya.

Maka Abu Sa'id menghalangi orang itu dengan menahan dadanya. Pemuda itu mencari jalan tapi tidak ada kecuali di depan Abu Sa'id. Maka pemuda itu mengulangi lagi untuk lewat. Abu Sa'id kembali menghadangnya dengan lebih keras dari yang pertama.

Kemudian pemuda itu pergi meninggalkan Abu Sa'id dan menemui Marwan, ia lalu mengadukan peristiwa yang terjadai antara dirinya dengan Abu Sa'id. Setelah itu Abu Sa'id ikut menemui Marwan,

Marwan pun berkata, ˝Apa yang kau lakukan terhadap anak saudaramu ini, wahai Abu Sa'id?˝

Abu Sa'id menjawab, ˝Aku pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dari orang, kemudian ada seseorang yang hendak lewat dihadapannya maka hendaklah dicegah. Jika dia tidak mau maka perangilah dia, karena dia adalah setan."
(Hadits Bukhari No. 479)

Dosa orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat
dari Abu An Nadlr mantan budak 'Umar bin 'Abaidullah
dari Busr bin Sa'id

bahwa Zaid bin Khalid mengutusnya kepada Abu Juhaim untuk menanyakan apa yang didengarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat.

Abu Juhaim lalu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sekiranya orang yang lewat di depan orang yang mengerjakan shalat mengetahui apa akibat yang akan ia tanggung, niscaya ia berdiri selama empat puluh lebih baik baginya dari pada dia lewat di depan orang yang sedang shalat."

Abu An Nadlr berkata, "Aku tidak tahu yang dimaksud dengan jumlah ˝empat puluh itu˝, apakah empat puluh hari, atau bulan, atau tahun."
(Hadits Bukhari No. 480)

Orang yang shalat menghadap orang yang juga sedang shalat
dari 'Aisyah,

bahwa telah disebutkan di sisinya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat, orang-orang mengatakan, ˝Yang dapat memutus shalat diantaranya adalah anjing, keledai dan wanita.˝

Maka 'Aisyah pun berkata, "Sungguh kalian telah menganggap kami (kaum wanita) sebagaimana anjing. Sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat, sementara aku berbaring di atas tikar antara beliau dan dengan arah kiblatnya. Saat aku ada keperluan dan aku tidak ingin menghadapnya, maka aku pergi dengan pelan-pelan."
(Hadits Bukhari No. 481)

Shalat di belakang orang yang sedang tidur
dari 'Aisyah ia berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat sedangkan aku tidur di atas ranjangnya dengan membentang dihapannya. Ketika akan witir, beliau membangunkan aku hingga aku pun shalat witir."
(Hadits Bukhari No. 482)

Shalat sunnah di belakang seorang wanita
dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata,

"Aku pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kakiku berada di arah kiblatnya. Jika akan sujud beliau menyentuhku dengan tangannya, maka aku pun menarik kakiku. Dan jika beliau berdiri aku luruskan kembali kakiku."

'Aisyah berkata, "Pada zaman itu rumah-rumah tidak memiliki lampu."
(Hadits Bukhari No. 483)

Pendapat yang menyatakan bahwa shalat tidak dapat diputus oleh suatu apapun
dari 'Aisyah,

bahwa telah disebutkan kepadanya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat; anjing, keledai dan wanita.

Maka ia pun berkata, "Kalian telah menyamakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, aku pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat sedangkan aku berbaring di atas tikar antara beliau dan arah kiblatnya.

Sehingga ketika aku ada suatu keperluan dan aku tidak ingin duduk hingga menyebabkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terganggu, maka aku pun pergi diam-diam dari dekat kedua kaki beliau."
(Hadits Bukhari No. 484)

telah menceritakan kepadaku Anak saudara Ibnu Syihab,

bahwa dia pernah bertanya kepada Pamannya tentang sesuatu yang dapat memutuskan shalat.

Maka pamannya menjawab, "Tidak ada yang dapat memutuskan shalat. Aku telah mendapat kabar dari 'Urwah bin Az Zubair bahwa 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata,

˝Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdiri melaksanakan shalat malam sedangkan aku berbaring membentang antara beliau dan arah kiblatnya di tempat tidur keluarga."
(Hadits Bukhari No. 485)

Memanggul anak kecil di pundak ketika sedang shalat
dari Abu Qatadah Al Anshari,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat dengan menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

Dan menurut riwayat Abu Al 'Ash bin Rabi'ah bin 'Abdu Syamsi, ia menyebutkan, "Jika sujud beliau letakkan anak itu dan bila berdiri beliau gendong lagi."
(Hadits Bukhari No. 486)

Shalat menghadap tempat tidur yang ditempati wanita yang sedang haid
Maimunah binti Al Harits mengabarkan kepadaku, ia berkata,

"Tempat tidurku berhadapan dengan tempat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan terkadang pakaian beliau mengenaiku saat aku sedang tidur."
(Hadits Bukhari No. 487)

Maimunah berkata,

"Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat sedangkan aku tidur disampingnya. Jika sujud baju beliau mengenaiku, padahal saat itu aku sedang haid."
(Hadits Bukhari No. 488)

Apakah boleh seseorang yang sedang shalat menepuk istrinya yang tidur melintang di hadapannya agar dapat sujud dengan sempurna
dari 'Aisyah berkata,

"Sangat buruk apa yang kalian lakukan dengan menyamakan kami dengan anjing dan keledai! Sungguh, aku pernah lihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat sedangkan aku berbaring antara beliau dan arah kiblatnya.

Jika akan sujud beliau mendorong kakiku dengan tangannya, maka aku pun segera menarik kedua kakiku."
(Hadits Bukhari No. 489)

Wanita menghilangkan kotoran dari orang yang sedang shalat
dari 'Abdullah berkata,

"Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat di dekat Ka'bah, ada orang-orang Quraisy yang sedang duduk-duduk di majelis mereka.

Ketika itu ada seorang laki-laki dari mereka yang berkata, ˝Tidakkah kalian melihat kepada orang yang riya' ini? Siapa dari kalian yang dapat mengambilkan buatku sisa unta yang baru disembelih milik fulan, lalu dia kumpulkan kotorannya, darah dan plasenta (ari-ari) nya!˝

Maka ada seorang laki-laki datang dengan membawa kotoran tersebut, ia menunggu sampai beliau sujud. Sehingga ketika beliau sujud, ia ia bisa meletakkan kotoran tersebut di antara bahu beliau. Maka ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud, orang itu meletakkan kotoran-kotoran unta itu di antara dua bahu beliau. Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap dalam keadaan sujud, mereka pun tertawa hingga sebagian condong kepada sebagian yang lain.

Lalu ada seseorang menemui Fatimah radliallahu 'anha, dan orang itu adalah Juwairiyah. Maka Fatimah bergegas mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu masih dalam keadaan sujud. Kemudian Fatimah membersihkan kotoran-kotoran unta tersebut dari beliau. Kemudian Fatimah menghadap ke arah mereka dan mengumpat orang-orang Quraisy tersebut.

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyelesaikan shalat dan berdo'a: "Ya Allah kuserahkan (urusan) Quraisy kepada-Mu, Ya Allah kuserahkan Quraisy kepada-Mu, Ya Allah kuserahkan Quraisy kepada-Mu."

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebut satu persatu nama-nama mereka: "Ya Allah kuserahkan (urusan) 'Amru bin Hisyam kepada-Mu, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Al Walid bin 'Utbah, Umayyah bin Khalaf, 'Uqbah bin Abu Mu'aith dan 'Umarah bin Al Walid."

'Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi Allah, aku melihat orang-orang yang disebut Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tersebut terbantai pada perang Badar, kemudian mereka dibuang ke lembah Badar."

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jadilah para penghuni lembah ini diiringi dengan kutukan."
(Hadits Bukhari No. 490)

« Shalat 5 Waktu Tentang Tayamum »

Bacaan Shalat
Shalat Berjamaah
Adzan dan Iqomah
Tentang Wudhu
Tentang Mandi
Tentang Haid
Semua Hadits Shahih BukhariImam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama