Hadits Bukhari Tentang ilmu

bangpro.xyz — Kumpulan Hadits Shahih Imam Al-Bukhari Kitab tentang ilmu.

HaditsShahih Al-Bukhari
Kitabilmu
Nomor57 - 131
No. VersiFathul Bari


Hilangnya amanah tanda kiamat dan amanah butuh ilmu (ahlinya)
dari Abu Hurairah berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum,

tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya: "Kapan datangnya hari kiamat?"

Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap melanjutkan pembicaraannya.

Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata; "beliau mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, "

dan ada pula sebagian yang mengatakan; "bahwa beliau tidak mendengar perkataannya."

Hingga akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata: "Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?"

Orang itu berkata: "saya wahai Rasulullah!".

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat".

Orang itu bertanya: "Bagaimana hilangnya amanat itu?"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat".
(Hadits Bukhari No. 57)

Boleh mengeraskan suara saat menyampaikan ilmu
dari Abdullah bin 'Amru berkata:

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu perjalanan yang kami lakukan hingga Beliau mendapatkan kami sementara waktu shalat sudah hampir habis, kami berwudlu' dengan hanya mengusap kaki kami.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berseru dengan suara yang keras: "celakalah bagi tumit-tumit yang tidak basah akan masuk neraka."

Beliau serukan hingga dua atau tiga kali.
(Hadits Bukhari No. 58)

Perumpamaan ucapan ahli hadits, telah bercerita/mengabarkan kepada kami...
dari Ibnu Umar berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim".

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Katakanlah kepadaku, pohon apakah itu?"

Maka para sahabat beranggapan bahwa yang dimaksud adalah pohon yang berada di lembah.
Abdullah berkata: "Aku berpikir dalam hati pohon itu adalah pohon kurma, tapi aku malu mengungkapkannya.

Kemudian para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, pohon apakah itu?"
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Pohon kurma".
(Hadits Bukhari No. 59)

Memberikan pertanyaan untuk mengetahui kadar ilmu
dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Sesungguhnya diantara pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim".

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Katakanlah padaku, pohon apakah itu?"

Maka para sahabat beranggapan bahwa yang dimaksud adalah pohon yang berada di lembah.
Abdullah berkata: Aku berpikir dalam hati pohon itu adalah pohon kurma, tapi aku malu mengungkapkannya.

Kemudian orang-orang berkata: "Wahai Rasulullah, pohon apakah itu?"
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Pohon kurma".
(Hadits Bukhari No. 60)

Bertanya untuk mengonfirmasi informasi
Anas bin Malik berkata: Ketika kami sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam didalam Masjid, ada seorang yang menunggang unta datang lalu menambatkannya di dekat Masjid lalu berkata kepada mereka (para sahabat): "Siapa diantara kalian yang bernama Muhammad?"

Pada saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersandaran di tengah para sahabat, lalu kami menjawab: "orang Ini, yang berkulit putih yang sedang bersandar".

Orang itu berkata kepada Beliau; "Wahai putra Abdul Muththalib"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Ya, aku sudah menjawabmu".

Maka orang itu berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Aku bertanya kepadamu persoalan yang mungkin berat buatmu namun janganlah kamu merasakan sesuatu terhadapku."

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tanyalah apa yang menjadi persoalanmu".

Orang itu berkata: "Aku bertanya kepadamu demi Rabbmu dan Rabb orang-orang sebelummu. Apakah Allah yang mengutusmu kepada manusia seluruhnya?"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Demi Allah, ya benar!"

Kata orang itu: "Aku bersumpah kepadamu atas nama Allah, apakah Allah yang memerintahkanmu supaya kami shalat lima (waktu) dalam sehari semalam?"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Demi Allah, ya benar!"

Kata orang itu: "Aku bersumpah kepadamu atas nama Allah, apakah Allah yang memerintahkanmu supaya kami puasa di bulan ini dalam satu tahun?"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Demi Allah, ya benar!"

Kata orang itu: "Aku bersumpah kepadamu atas nama Allah, apakah Allah yang memerintahkanmu supaya mengambil sedekah dari orang-orang kaya di antara kami lalu membagikannya kepada orang-orang fakir diantara kami?"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Demi Allah, ya benar!"

Kata orang itu: "Aku beriman dengan apa yang engkau bawa dan aku adalah utusan kaumku, aku Dlamam bin Tsa'labah saudara dari Bani Sa'd bin Bakr."
(Hadits Bukhari No. 61)

mengutus seseorang untuk menyebarkan ilmu
Abdullah bin 'Abbas telah mengabarkannya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mengutus seseorang dengan membawa surat dan memerintahkan kepadanya untuk memberikan surat tersebut kepada Pemimpin Bahrain.

Lalu Pemimpin Bahrain itu memberikannya kepada Kisra. Tatkala dibaca, surat itu dirobeknya.

Aku mengira kemudian Ibnu Musayyab berkata; lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdoa agar mereka (kekuasaannya) dirobek-robek sehancur-hancurnya.
(Hadits Bukhari No. 62)

Surat-menyurat untuk menyebarkan ilmu
dari Anas bin Malik berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menulis surat atau bermaksud menulis surat, lalu dikatakan kepada Beliau, bahwa mereka tidak akan membaca tulisan kecuali tertera stempel.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membuat stempel yang terbuat dari perak yang bertanda; Muhammad Rasulullah.

Seakan-akan aku melihat warna putih pada tangan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam".

Lalu aku bertanya kepada Qotadah: "Siapa yang membuat tanda Muhammad Rasulullah?"
Jawabnya: "Anas".
(Hadits Bukhari No. 63)

Keutamaan Majelis ilmu
dari Abu Waqid Al Laitsi, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang.

Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dimana satu diantaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi,

Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: "Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?"

Adapun seorang diantara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia.

Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya.

Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya".
(Hadits Bukhari No. 64)

banyak orang yang hanya mendapat penyampaian lebih paham, dibanding orang yang mendengarnya langsung
dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dari bapaknya, dia menuturkan, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam duduk diatas untanya sementara orang-orang memegangi tali kekang unta tersebut.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Hari apakah ini? '.

Kami semua terdiam dan menyangka bahwa Beliau akan menamakan nama lain selain nama hari yang sudah dikenal.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Bukankah hari ini hari Nahar?"
Kami menjawab: "Benar".

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kembali bertanya: "Bulan apakah ini? '.

Kami semua terdiam dan menyangka bahwa Beliau akan menamakan nama lain selain nama bulan yang sudah dikenal.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Bukankah ini bulan Dzul Hijjah?"
Kami menjawab: "Benar".

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian sesama kalian haram (suci) sebagaimana sucinya hari kalian ini, bulan kalian ini dan tanah kalian ini.

(Maka) hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena orang yang hadir semoga dapat menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya".
(Hadits Bukhari No. 65)

Mempersiapkan diri dari jauh hari
dari Ibnu Mas'ud berkata;

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memperingatkan kami dengan suatu pelajaran tentang hari-hari yang sulit yang akan kami hadapi.
(Hadits Bukhari No. 66)

jadilah sosok yang bersahabat
dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari."
(Hadits Bukhari No. 67)

Memberi ruang untuk menghindari kebosanan
dari Abu Wa'il berkata; bahwa Abdullah memberi pelajaran kepada orang-orang setiap hari Kamis,

kemudian seseorang berkata: "Wahai Abu Abdurrahman, sungguh aku ingin kalau anda memberi pelajaran kepada kami setiap hari"

dia berkata: "Sungguh aku enggan melakukannya, karena aku takut membuat kalian bosan, dan aku ingin memberi pelajaran kepada kalian sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi pelajaran kepada kami karena khawatir kebosanan akan menimpa kami".
(Hadits Bukhari No. 68)

Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah pahamkan dia tentang agama
Humaid bin Abdurrahman berkata; aku mendengar Mu'awiyyah memberi khutbah untuk kami, dia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi.

Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah".
(Hadits Bukhari No. 69)

ilmu tidak dilihat dari umur
Mujahid berkata; aku pernah menemani Ibnu Umar pergi ke Madinah, namun aku tidak mendengar dia membicarakan tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kecuali satu kejadian dimana dia berkata:

Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu Beliau dipertemukan dengan jama'ah.

Kemudian Beliau bersabda: "Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang merupakan perumpamaan bagi seorang muslim".

Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma namun karena aku yang termuda maka aku diam.

Maka kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Itu adalah pohon kurma".
(Hadits Bukhari No. 70)

Boleh iri dengan orang yang mengajarkan ilmunya
Abdullah bin Mas'ud berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidak boleh mendengki kecuali terhadap dua hal;

(terhadap) seorang yang Allah berikan harta lalu dia pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran

dan seseorang yang Allah berikan hikmah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain".
(Hadits Bukhari No. 71)

Kisah Nabi Musa AS, Diatas orang berilmu masih ada yg lebih berilmu (lagi)
dari Ibnu 'Abbas, bahwasanya dia dan Al Hurru bin Qais bin Hishin Al Fazari berdebat tentang sahabat Musa 'Alaihis salam,

Ibnu 'Abbas berkata; dia adalah Khidlir 'Alaihis salam.

Tiba-tiba lewat Ubay bin Ka'b di depan keduanya, maka Ibnu 'Abbas memanggilnya dan berkata: "Aku dan temanku ini berdebat tentang sahabat Musa 'Alaihis salam, yang ditanya tentang jalan yang akhirnya mempertemukannya, apakah kamu pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan masalah ini?"

Ubay bin Ka'ab menjawab: Ya, benar, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ketika Musa di tengah pembesar Bani Israil, datang seseorang yang bertanya: apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih pandai darimu?"

Berkata Musa 'Alaihis salam: "Tidak".

Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada Musa 'Alaihis salam: "Ada, yaitu hamba Kami bernama Hidlir."

Maka Musa 'Alaihis Salam meminta jalan untuk bertemu dengannya. Allah menjadikan ikan bagi Musa sebagai tanda dan dikatakan kepadanya;
"jika kamu kehilangan ikan tersebut kembalilah, nanti kamu akan berjumpa dengannya".

Maka Musa 'Alaihis Salam mengikuti jejak ikan di lautan. Berkatalah murid Musa 'Alaihis salam: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan".

Maka Musa 'Alaihis Salam berkata:."Itulah (tempat) yang kita cari".

Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Maka akhirnya keduanya bertemu dengan Hidlir 'Alaihis salam."

Begitulah kisah keduanya sebagaimana Allah ceritakan dalam Kitab-Nya.
(Hadits Bukhari No. 72)

Mendoakan orang agar berilmu
Ibnu 'Abbas berkata: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di sampingku lalu bersabda:

"Ya Allah, ajarkanlah dia Kitab".
(Hadits Bukhari No. 73)

Kapan dibolehkan mendengarkan pendapat anak kecil
Abdullah bin 'Abbas berkata; aku datang dengan menunggang keledai betina, yang saat itu aku hampir menginjak masa baligh, dan Rasulullah sedang shalat di Mina dengan tidak menghadap dinding.

Maka aku lewat di depan sebagian shaf kemudian aku melepas keledai betina itu supaya mencari makan sesukanya.

Lalu aku masuk kembali di tengah shaf dan tidak ada orang yang menyalahkanku".
(Hadits Bukhari No. 74)

Mahmud bin Ar Rabbi' berkata:

"Aku mengingat dari Nabi, saat Beliau melumuri air ludah Beliau di wajahku, saat itu aku baru berumur lima tahun".
(Hadits Bukhari No. 75)

Pergi untuk menuntut ilmu
dari Ibnu 'Abbas bahwasanya dia dan Al Hurru bin Qais bin Hishin Al Fazari berdebat tentang sahabat Musa 'Alaihis salam,

Ibnu 'Abbas berkata; dia adalah Khidlir 'Alaihis salam.

Tiba-tiba lewat Ubay bin Ka'b di depan keduanya, maka Ibnu 'Abbas memanggilnya dan berkata: "Aku dan temanku ini berdebat tentang sahabat Musa 'Alaihis salam, yang ditanya tentang jalan yang akhirnya mempertemukannya, apakah kamu pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan masalah ini?"

Ubay bin Ka'ab menjawab: Ya, benar, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ketika Musa di tengah pembesar Bani Israil, datang seseorang yang bertanya: apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih pandai darimu?"

Berkata Musa 'Alaihis salam: "Tidak".

Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada Musa 'Alaihis salam: "Ada, yaitu hamba Kami bernama Hidlir."

Maka Musa 'Alaihis Salam meminta jalan untuk bertemu dengannya. Allah menjadikan ikan bagi Musa sebagai tanda dan dikatakan kepadanya; "jika kamu kehilangan ikan tersebut kembalilah, nanti kamu akan berjumpa dengannya".

Maka Musa 'Alaihis Salam mengikuti jejak ikan di lautan. Berkatalah murid Musa 'Alaihis salam: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan".

Maka Musa 'Alaihis Salam berkata:."Itulah (tempat) yang kita cari".

Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Maka akhirnya keduanya bertemu dengan Hidlir 'Alaihis salam."

Begitulah kisah keduanya sebagaimana Allah ceritakan dalam Kitab-Nya.
(Hadits Bukhari No. 76)

Keutamaan ilmu agama Islam
dari Abu Musa dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah.

Diantara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak.

Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman.

Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman.

Perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa'atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya".

Berkata Abu Abdullah; Ishaq berkata:
"Dan diantara jenis tanah itu ada yang berbentuk lembah yang dapat menampung air hingga penuh dan diantaranya ada padang sahara yang datar".
(Hadits Bukhari No. 77)

Diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan
Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasul shallallahu 'alaihi wasallam:

"Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan dan diminumnya khamer serta praktek perzinahan secara terang-terangan".
(Hadits Bukhari No. 78)

dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu dan merebaknya kebodohan, perzinahan secara terang-terangan, jumlah perempuan yang lebih banyak dan sedikitnya laki-laki, sampai-sampai (perbandingannya) lima puluh perempuan sama dengan hanya satu orang laki-laki.
(Hadits Bukhari No. 79)

Keutamaan ilmu
Ibnu Umar berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Ketika aku tidur, aku bermimpi diberi segelas susu lalu aku meminumnya hingga aku melihat pemandangan yang bagus keluar dari kuku-kukuku, kemudian aku berikan sisanya kepada sahabat muliaku Umar bin Al Khaththab".

Orang-orang bertanya: "Apa ta'wilnya wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab: "Ilmu".
(Hadits Bukhari No. 80)

ilmu untuk tetap tenang
dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash; bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di Mina pada haji wada' memberi kesempatan kepada manusia untuk bertanya kepada beliau.

Lalu datanglah seseorang dan berkata: "Aku tidak menyadari, ternyata saat aku mencukur rambut aku belum menyembelih."
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sembelihlah, tidak apa-apa"

Kemudian datang orang lain dan berkata: "Aku tidak menyadari, ternyata ketika berkurban aku belum melempar (jumrah) ".
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "lemparlah dan tidak apa-apa".

Dan tidaklah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya tentang sesuatu perkara sebelum dan sesudahnya kecuali beliau menjawab: "Lakukanlah dan tidak apa-apa".
(Hadits Bukhari No. 81)

Menjawab dengan isyarat
dari Ibnu 'Abbas; bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya seseorang tentang haji yang dilakukannya,

orang itu bertanya: "Aku menyembelih hewan sebelum aku melempar jumrah".
Beliau memberi isyarat dengan tangannya, yang maksudnya "tidak apa-apa".

"Dan aku mencukur sebelum menyembelih".
Beliau memberi isyarat dengan tangannya yang maksudnya "tidak apa-apa".
(Hadits Bukhari No. 82)

Menjawab dengan berbicara dan menjelaskannya dengan isyarat
Salim berkata; aku mendengar Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Ilmu akan diangkat dan akan tersebar kebodohan dan fitnah merajalela serta banyak timbul kekacauan".

Ditanyakan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kekacauan?"

Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Begini".

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat dengan tangannya lalu memiringkannya. Seakan yang dimaksudnya adalah pembunuhan.
(Hadits Bukhari No. 83)

isyarat dengan tangan dan anggukan kepala
dari Fatimah dari Asma' berkata: Aku menemui Aisyah saat dia sedang shalat.

Setelah itu aku tanyakan kepadanya: "Apa yang sedang dilakukan orang-orang?"
Aisyah memberi isyarat ke langit.
Ternyata orang-orang sedang melaksanakan shalat (gerhana matahari).
Maka Aisyah berkata: "Maha suci Allah".

Aku tanyakan lagi: "Satu tanda saja?"
Lalu dia memberi isyarat dengan kepalanya, maksudnya mengangguk tanda mengiyakan.

Maka akupun ikut shalat namun timbul perasaan yang membingungkanku, hingga aku siram kepalaku dengan air.

Dalam khutbahnya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memuji Allah dan mensucikan-Nya, lalu bersabda:

"Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku, kecuali aku sudah melihatnya dari tempatku ini hingga surga dan neraka, lalu diwahyukan kepadaku: bahwa kalian akan terkena fitnah dalam kubur kalian seperti -atau hampir berupa- fitnah -yang aku sendiri tidak tahu apa yang diucapkan Asma' diantaranya adalah fitnah Al Masihud dajjal-;

"akan ditanyakan kepada seseorang (didalam kuburnya);
"Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini?"

Adapun orang beriman atau orang yang yakin, -Asma' kurang pasti mana yang dimaksud diantara keduanya-

akan menjawab: 'Dia adalah Muhammad Rasulullah telah datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk. Maka kami sambut dan kami ikuti. Dia adalah Muhammad, ' diucapkannya tiga kali.

Maka kepada orang itu dikatakan: 'Tidurlah dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang yang yakin'.

Adapun orang Munafiq atau orang yang ragu, -Asma' kurang pasti mana yang dimaksud diantara keduanya-,

akan menjawab; "aku tidak tahu siapa dia, aku mendengar manusia membicarakan sesuatu maka akupun mengatakannya".
(Hadits Bukhari No. 84)

Menyebarkan ilmu dengan mengutus seseorang
-Al Hantam (bejana yang terbuat dari tembikar)
- Ad Dubba' (wadah bundar dari pohon labu yang digunakan untuk membuat perasan anggur)
- Al Muzaffat (wadah yang dipolesi dengan ter)
- An naqir (wadah dari pohon kurma yang dilubangi)
dari Abu Jamrah berkata aku pernah menjadi penerjemah antara Ibnu 'Abbas dan orang-orang,

katanya; bahwasanya telah datang rombongan utusan Abdul Qais menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Utusan siapakah ini atau kaum manakah ini?"

Utusan itu menjawab: "Rabi'ah".
Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "Selamat datang kaum atau para utusan dengan sukarela dan tanpa menyesal".

Para utusan berkata: "Wahai Rasulullah kami datang dari perjalanan yang jauh sementara diantara kampung kami dan engkau ada kampung kaum kafir (suku) Mudlor, dan kami tidak sanggup untuk mendatangi engkau kecuali di bulan suci. Ajarkanlah kami dengan satu perintah yang jelas, yang dapat kami amalkan dan kami ajarkan kepada orang-orang di kampung kami dan dengan begitu kami dapat masuk surga."

Lalu mereka bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang minuman.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan mereka dengan empat hal dan melarang dari empat hal, memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah satu-satunya,

beliau berkata: "Tahukah kalian apa arti beriman kepada Allah satu-satunya?"
Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan: "Persaksian tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan kalian mengeluarkan seperlima dari harta rampasan perang".

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang mereka dari empat perkara, yaitu dari meminum dari dari al hantam, ad Dubbaa` dan al Muzaffaat.

Syu'bah menerangkan; terkadang beliau menyebutkan an naqir dan terkadang muqoyyir (bukan naqir).

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "jagalah semuanya dan beritahukanlah kepada orang-orang di kampung kalian".
(Hadits Bukhari No. 85)

Bepergian untuk mencari jawaban tentang masalah yang terjadi
dari 'Uqbah bin Al Harits; bahwasanya dia menikahi seorang perempuan putri Ibnu Ihab bin 'Aziz.

Lalu datanglah seorang perempuan dan berkata: "Aku pernah menyusui 'Uqbah dan wanita yang dinikahinya itu".

Maka 'Uqbah berkata kepada perempuan itu: "Aku tidak tahu kalau kamu pernah menyusuiku dan kamu tidak memberitahu aku."

Maka 'Uqbah mengendarai kendaraannya menemui Rasul shallallahu 'alaihi wasallam di Madinah dan menyampaikan masalahnya.

Maka Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "harus bagaimana lagi, sedangkan dia sudah mengatakannya".

Maka 'Uqbah menceraikannya dan menikah dengan wanita yang lain.
(Hadits Bukhari No. 86)

Bergantian dalam mencari ilmu dan mengonfirmasi informasi dugaan (anti hoax)
dari Umar berkata: Aku dan tetanggaku dari Anshar berada di desa Banu Umayyah bin Zaid dia termasuk orang kepercayaan di Madinah,

kami saling bergantian menimba ilmu dari Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sehari aku yang menemui Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dan hari lain dia yang menemui Beliau shallallahu 'alaihi wasallam,

Jika giliranku tiba, aku menanyakan seputar wahyu yang turun hari itu dan perkara lainnya. Dan jika giliran tetanggaku tiba, ia pun melakukan hal yang sama.

Ketika hari giliran tetanggaku tiba, dia datang kepadaku dengan mengetuk pintuku dengan sangat keras, seraya berkata: "Apakah dia ada disana?"

Maka aku kaget dan keluar menemuinya. Dia berkata: "Telah terjadi persoalan yang gawat!".

Umar berkata: "Aku pergi menemui Hafshah, dan ternyata dia sedang menangis, aku bertanya kepadanya: "Apakah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menceraikanmu?"
Hafshah menjawab: "Aku tidak tahu".

Maka aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sambil berdiri aku tanyakan: "Apakah engkau menceraikan istri-istri engkau?"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak".
Maka aku ucapkan: "Allah Maha Besar".
(Hadits Bukhari No. 87)

Marah ketika memberi nasehat dan mengajar jika melihat sesuatu yang dibenci (bukan mengumpat marah-marah)
dari Abu Al Mas'ud Al Anshari berkata, seorang sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, aku hampir tidak sanggup shalat yang dipimpin seseorang dengan bacaannya yang panjang."

Maka aku belum pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi peringatan dengan lebih marah dari yang disampaikannya hari itu seraya bersabda:

"Wahai manusia, kalian membuat orang lari menjauh. Maka barangsiapa shalat mengimami orang-orang ringankanlah. Karena diantara mereka ada orang sakit, orang lemah dan orang yang punya keperluan".
(Hadits Bukhari No. 88)

ilmu barang dan hewan yang hilang
dari Zaid bin Khalid Al Juhani bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya oleh seseorang tentang barang temuan,

maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kenalilah tali pengikatnya, atau Beliau berkata; kantong dan tutupnya, kemudian umumkan selama satu tahun, setelah itu pergunakanlah.
Jika datang pemiliknya maka berikanlah kepadanya".

Orang itu bertanya: "Bagaimana dengan orang yang menemukan unta?"

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam marah hingga nampak merah mukanya, lalu berkata: "apa urusanmu dengan unta itu, sedang dia selalu membawa air di perutnya, bersepatu sehingga dapat hilir mudik mencari minum dan makan rerumputan, maka biarkanlah dia hingga pemiliknya datang mengambilnya".

Orang itu bertanya lagi tentang menemukan kambing,
maka Beliau menjawab: "Itu untuk kamu atau saudaramu atau serigala".
(Hadits Bukhari No. 89)

Ekspresi marah cukup pada wajah, jangan sampai mengumpat
dari Abu Musa berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu yang Beliau tidak suka, ketika terus ditanya, Beliau marah lalu berkata kepada orang-orang: "Bertanyalah kepadaku sesuka kalian".

Maka seseorang bertanya: "Siapakah bapakku?"
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Bapakmu adalah Hudzafah".

Yang lain bertanya: "Siapakah bapakku wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?:
"Bapakmu Salim, sahaya Syaibah"

Ketika Umar melihat apa yang ada pada wajah Beliau, dia berkata: "Wahai Rasulullah, kami bertaubat kepada Allah 'azza wajalla".
(Hadits Bukhari No. 90)

Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar,

lalu Abdullah bin Hudzafah menghadap kepadanya dan berkata: "Siapakah bapakku?"
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Bapakmu Hudzaafah".

Ketika semakin banyak pertanyaan, Nabi bersabda: "Bertanyalah kalian kepadaku?"

Maka Umar turun berlutut seraya berkata: "Kami ridla Allah sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai Nabi Kami."

Maka Abdullah bin Hudzafah terdiam.
(Hadits Bukhari No. 91)

Mengulang hadits sampai tiga kali agar dapat difahami
dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila memberi salam, diucapkannya tiga kali dan bila berbicara dengan satu kalimat diulangnya tiga kali.
(Hadits Bukhari No. 92)

dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila berbicara diulangnya tiga kali hingga dapat dipahami dan bila mendatangi kaum, Beliau memberi salam tiga kali.
(Hadits Bukhari No. 93)

dari Abdullah bin 'Amru berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu perjalanan yang kami lakukan, hingga Beliau mendapatkan kami sementara waktu shalat sudah hampir habis, maka kami berwudlu' dengan hanya mengusap kaki kami.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berseru dengan suara yang keras: "celakalah bagi tumit-tumit yang tidak basah akan masuk neraka."

Diserukannya hingga dua atau tiga kali.
(Hadits Bukhari No. 94)

Mengajarkan ilmu kepada hamba sahaya dan keluarganya
Abu Burdah dari bapaknya berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Ada tiga orang yang akan mendapat pahala dua kali;
seseorang dari Ahlul Kitab yang beriman kepada Nabinya dan beriman kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam,
dan seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya.
Dan seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita lalu dia memperlakukannya dengan baik, mendidiknya dengan baik, dan mengajarkan kepadanya dengan sebaik-baik pengajaran, kemudian membebaskannya dan menikahinya, maka baginya dua pahala".

Berkata 'Amir: "Aku berikan permasalahan ini kepadamu tanpa imbalan, dan sungguh telah ditempuh untuk memperolehnya dengan menuju Madinah".
(Hadits Bukhari No. 95)

Pemimpin memberikan nasehat dan pengajaran kepada kaum wanita
'Atho' berkata; aku mendengar Ibnu 'Abbas berkata:

aku menyaksikan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam -sedang menurut 'Atho', dia berkata; aku menyaksikan Ibnu 'Abbas berkata; - bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar bersama Bilal, -dan dia mengira bahwa dia tidak mendengar, -

maka Nabi memberi pelajaran kepada para wanita dan memerintahkan untuk bersedekah, maka seorang wanita memberikan anting dan cincin emasnya, dan Bilal memasukkannya ke saku bajunya.
(Hadits Bukhari No. 96)

Antusias untuk mencari hadits
dari Abu Hurairah, bahwa dia berkata: ditanyakan (kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari kiamat?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadits.

Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya".
(Hadits Bukhari No. 97)

Cara dicabutnya ilmu
dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan".
(Hadits Bukhari No. 98)

Perlukah menetapkan hari tertentu untuk megajarkan ilmu kepada kaum wanita?
dari Abu Sa'id Al Khudri; kaum wanita berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "kaum lelaki telah mengalahkan kami untuk bertemu dengan engkau, maka berilah kami satu hari untuk bermajelis dengan diri tuan"

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berjanji kepada mereka satu untuk bertemu mereka, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi pelajaran dan memerintahkan kepada mereka, diantara yang disampaikannya adalah:

"Tidak seorangpun dari kalian yang didahului oleh tiga orang dari anaknya kecuali akan menjadi tabir bagi dirinya dari neraka".

Berkata seseorang: "bagaimana kalau dua orang?"
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Juga dua".

Jalur Lain
dari Abu Hurairah berkata:
"Tiga orang yang belum baligh".
(Hadits Bukhari No. 99)

Siapa yang mendengar sesuatu namun belum dipahaminya hendaklah dia kembali (mendengarkannya) sampai mengerti
bahwa Aisyah istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidaklah mendengar sesuatu yang tidak dia mengerti kecuali menanyakannya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sampai dia mengerti,

dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Siapa yang dihisab berarti dia disiksa"

Aisyah berkata: maka aku bertanya kepada Nabi: "Bukankah Allah Ta'ala berfirman: "Kelak dia akan dihisab dengan hisab yang ringan"

Aisyah berkata:
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang dimaksud itu adalah pemaparan (amalan).

Akan tetapi barangsiapa yang didebat hisabnya pasti celaka".
(Hadits Bukhari No. 100)

Orang yang hadir hendaklah menyampaikan ilmu yang didengarnya kepada yang tidak hadir
dari Abu Syuraih bahwa dia berkata kepada 'Amru bin Sa'id saat dia mengutus rombongan ke Makkah,

"Wahai amir, izinkan aku menyampaikan satu persoalan yang pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sampaikan dalam khutbahnya saat pembebasan Makkah. Kedua telingaku mendengar, hatiku merasakannya dan kedua mataku melihat, beliau memuji Allah dan mensucikan Allah seraya bersabda:

'Sesungguhnya Makkah, Allah telah mensucikannya dan orang-orang (Musyrikin Makkah) tidak mensucikannya.
Maka tidak halal bagi setiap orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menumpahkan darah di dalamnya, dan tidak boleh mencabut pepohonan di dalamnya.
Jika seseorang minta keringanan karena peperangan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalamnya maka katakanlah 'sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengizinkan Rasul-Nya dan tidak mengizinkan kepada kalian.'

Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengizinkanku pada satu saat pada siang hari kemudian dikembalikan kesuciannya hari ini sebagaimana disucikannya sebelumnya. Maka hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir."

Maka dikatakan kepada Abu Syuraij, "Apa yang dikatakan 'Amru?"
Dia berkata, "Aku lebih mengetahui daripadamu wahai Abu Syuraij: "Beliau tidak akan melindungi orang yang bermaksiat, orang yang menumpahkan darah dan orang yang mencuri."
(Hadits Bukhari No. 101)

dari Muhammad dari Ibnu Abu Bakrah dari Abu Bakrah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan:

"Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, Muhammad berkata; menurutku beliau mengatakan,
"dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian ini di bulan kalian ini. Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir."

Dan Muhammad berkata, "Benarlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seperti apa yang disabdakannya, 'Bukankah aku telah menyampaikannya? '

beliau ulangi hingga dua kali.
(Hadits Bukhari No. 102)

Dosa orang yang berdusta atas nama Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam
Rib'i bin Jirasy berkata, aku mendengar 'Ali berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Janganlah kalian berdusta terhadapku (atas namaku), karena barangsiapa berduasta terhadapku dia akan masuk neraka."
(Hadits Bukhari No. 103)

dari 'Amir bin 'Abdullah bin Az Zubair dari Bapaknya berkata, "Aku berkata kepada Az Zubair,

"Aku belum pernah mendengar kamu membicarakan sesuatu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana orang-orang lain membicarakannya?"

Az Zubair menjawab, "Aku tidak pernah berpisah dengan beliau, aku mendengar beliau mengatakan:

"Barangsiapa berdusta terhadapku maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka."
(Hadits Bukhari No. 104)

Anas berkata, "Beliau melarangku untuk banyak menceritakan hadits kepada kalian karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa sengaja berdusta terhadapku (atas namaku), maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka."
(Hadits Bukhari No. 105)

dari Salamah berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka."
(Hadits Bukhari No. 106)

dari Abu Hurairah ia berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Berikanlah nama dengan namaku dan jangan dengan julukanku. Karena barangsiapa melihatku dalam mimpinya sungguh dia benar-benar telah melihatku, karena setan tidak sanggup menyerupai bentukku.

Dan barangsiapa berdusta terhadapku, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya dalam neraka."
(Hadits Bukhari No. 107)

Penulisan ilmu
dari Abu Juhaifah berkata, "Aku bertanya kepada 'Ali bin Abu Thalib, "Apakah kalian memiliki kitab?"

ia menjawab, "Tidak, kecuali Kitabullah atau pemahaman yang diberikan kepada seorang Muslim, atau apa yang ada pada lembaran ini."

Aku katakan, "Apa yang ada dalam lembaran ini?"

Dia menjawab, "Tebusan, membebaskan tawanan, dan jangan sampai seorang Muslim dibunuh demi membela seorang kafir."
(Hadits Bukhari No. 108)

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Al Fadll bin Dukain berkata, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah,

bahwa suku Khaza'ah telah membunuh seorang laki-laki dari Bani Laits saat hari pembesan Makkah, sebagai balasan terbunuhnya seorang laki-laki dari mereka (suku Laits).

Peristiwa itu lalu disampaikan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu naik kendaraannya dan berkhutbah:

"Sesungguhnya Allah telah membebaskan Makkah dari pembunuhan, atau pasukan gajah."

Abu Ubaidullah berkata, "Demikian Abu Nu'aim menyebutkannya, mereka ragu antara 'pembunuhan' dan 'gajah'.
Sedangkan yang lain berkata, "Gajah.

Lalu Allah memenangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum Mukminin atas mereka.

Beliau bersabda: "Ketahuilah tanah Makkah tidaklah halal bagi seorangpun baik sebelumku atau sesudahku, ketahuilah bahwa sesungguhnya ia pernah menjadi halal buatku sesaat di suatu hari. Ketahuilah, dan pada saat ini ia telah menjadi haram; durinya tidak boleh dipotong, pohonnya tidak boleh ditebang, barang temuannya tidak boleh diambil kecuali untuk diumumkan dan dicari pemiliknya.

Maka barangsiapa dibunuh, dia akan mendapatkan satu dari dua kebaikan; meminta tebusan atau meminta balasan dari keluarga korban."

Lalu datang seorang penduduk Yaman dan berkata, "Wahai Rasulullah, tuliskanlah buatku?"
beliau lalu bersabda: "Tuliskanlah untuk Abu fulan."

Seorang laki-laki Quraisy lalu berkata, "Kecuali pohon Idzhir wahai Rasulullah, karena pohon itu kami gunakan di rumah kami dan di kuburan kami."
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kecuali pohon Idzhir, kecuali pohon Idzhir."

Lalu dikatakan kepada Abu Abdullah, "Apa yang dituliskan untuknya?"
Ia menjawab, "Khutbah tadi."
(Hadits Bukhari No. 109)

Abu Hurairah berkata,

"Tidaklah ada seorangpun dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang lebih banyak haditsnya dibandingkan aku, kecuali 'Abdullah bin 'Amru.

Sebab ia bisa menulis sedang saya tidak."
(Hadits Bukhari No. 110)

dari Ibnu 'Abbas berkata, "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertambah parah sakitnya,

beliau bersabda: "Berikan aku surat biar aku tuliskan sesuatu untuk kalian sehingga kalian tidak akan sesat setelahku."

Umar berkata, "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semakin berat sakitnya dan di sisi kami ada Kitabullah, yang cukup buat kami.

Kemudian orang-orang berselisih dan timbul suara gaduh, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pergilah kalian menjauh dariku, tidak pantas terjadi perdebatan di hadapanku."

Maka Ibnu 'Abbas keluar seraya berkata, "Ini adalah musibah, dan sungguh segala musibah tidak boleh terjadi di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan Al Qur'an."
(Hadits Bukhari No. 111)

Menyampaikan ilmu dan pelajaran di malam hari
dari Ummu Salamah berkata, "Pada suatu malam Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terbangun lalu bersabda:

"Subhaanallah (Maha suci Allah), fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Dan apa yang dibuka dari dua perbendaharaan (Ramawi dan Parsi)?

Bangunlah wahai orang-orang yang ada di balik dinding (kamar-kamar), karena betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Allah di dunia ini namun akan telanjang nanti di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan)."
(Hadits Bukhari No. 112)

Membicarakan ilmu sebelum tidur
'Abdullah bin 'Umar berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat Isya' bersama kami di akhir hayatnya. Setelah selesai memberi salam beliau berdiri dan bersabda:

"Tidakkah kalian perhatikan malam kalian ini?.
Sesungguhnya pada setiap penghujung seratus tahun darinya tidak akan tersisa seorangpun dari muka bumi ini."
(Hadits Bukhari No. 113)

dari Ibnu 'Abbas berkata, "Aku bermalam di rumah bibiku (Maimunah binti Al Harits), isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan saat itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersamanya karena memang menjadi gilirannya.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat isya`, lalu beliau pulang ke rumahnya dan shalat empat rakaat, kemudian tidur dan bangun lagi untuk shalat."

Ibnu Abbas berkata, "Beliau lalu tidur seperti anak kecil (sebentar-sebentar bangun) -atau kalimat yang semisal itu-, kemudian beliau bangun shalat.

Kemudian aku bangun dan berdiri si sisi kirinya, beliau lalu menempatkan aku di kanannya.

Setelah itu beliau shalat lima rakaat, kemudian shalat dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar dengkurannya, kemudian beliau keluar untuk melaksanakan shalat subuh."
(Hadits Bukhari No. 114)

Menghafal dan menyampaikan ilmu
dari Abu Hurairah berkata, "Sesungguhnya orang-orang mengatakan, "Abu Hurairah adalah yang paling banyak (menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam), kalau bukan karena dua ayat dalam Kitabullah aku tidak akan menyampaikannya."

Lalu dia membaca ayat: '(Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan dan petunjuk) ' ……hingga akhir ayat.. '(Allah Maha Penyayang) ' (Qs. Al Baqarah: 159-160).

Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan Muhajirin, mereka disibukkan dengan perdagangan di pasar-pasar, dan saudara-saudara kita dari kalangan Anshar, mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka dalam mengurus harta mereka.

sementara Abu Hurairah selalu menyertai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan lapar, ia selalu hadir saat orang-orang tidak bisa hadir, dan ia dapat menghafal saat orang-orang tidak bisa menghafalnya."
(Hadits Bukhari No. 115)

dari Abu Hurairah berkata "Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah mendengar dari tuan banyak hadits namun aku lupa.
Beliau lalu bersabda: "Hamparkanlah selendangmu."

Maka aku menghamparkannya, beliau lalu (seolah) menciduk sesuatu dengan tangannya, lalu bersabda: "Ambillah."

Aku pun mengambilnya, maka sejak itu aku tidak pernah lupa lagi."
(Hadits Bukhari No. 116)

dari Abu Hurairah berkata, "Aku menyimpan ilmu (hadits) dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada dua wadah.

Yang satu aku sebarkan dan sampaikan, yang satu lagi sekiranya aku sampaikan maka akan terputuslah tenggorakan ini."
(Hadits Bukhari No. 117)

Diam untuk mendengarkan ulama
dari Jarir, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya saat beliau diminta untuk memberi nasihat kepada orang-orang waktu haji wada'

"Janganlah kalian kembali menjadi kafir, sehingga kalian saling membunuh satu sama lain."
(Hadits Bukhari No. 118)

Anjuran untuk seorang alim, bila ditanya tentang siapakah yang lebih mengetahui, hendaklah mengembalikan ilmu kepada Allah dan sabar butuh ilmu
Sa'id bin Jubair berkata, aku berkata kepada Ibnu 'Abbas, "Sesungguhnya Nauf Al Bakali menganggap bahwa Musa bukanlah Musa Bani Isra'il, tapi Musa yang lain."

Ibnu Abbas lalu berkata, "Musuh Allah itu berdusta, sungguh Ubay bin Ka'b telah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
"Musa Nabi Allah berdiri di hadapan Bani Isra'il memberikan khutbah, lalu dia ditanya:
"Siapakah orang yang paling pandai?"
Musa menjawab: "Aku."

Maka Allah Ta'ala mencelanya karena dia tidak diberi pengetahuan tentang itu.

Lalu Allah Ta'ala memahyukan kepadanya: "Ada seorang hamba di antara hamba-Ku yang tinggal di pertemuan antara dua lautan lebih pandai darimu."
Lalu Musa berkata, "Wahai Rabb, bagaimana aku bisa bertemu dengannya?"
Maka dikatakan padanya: "Bawalah ikan dalam keranjang, bila nanti kamu kehilangan ikan itu, maka itulah petunjuknya."

Lalu berangkatlah Musa bersama pelayannya yang bernama Yusya' bin Nun, dan keduanya membawa ikan dalam keranjang hingga keduanya sampai pada batu besar. Lalu keduanya meletakkan kepalanya di atas batu dan tidur.

Kemudian keluarlah ikan itu dari keranjang (lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu) ' (Qs. Al Kahfi: 61). Kejadian ini mengherankan Musa dan muridnya, maka keduanya melanjutkan sisa malam dan hari perjalannannya.

Hingga pada suatu pagi Musa berkata kepada pelayannya, '(Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa lelah karena perjalanan kita ini) ' (Qs. Al Kahfi: 62).

Musa tidak merasakan kelelahan kecuali setelah sampai pada tempat yang dituju sebagaimana diperintahkan.

Maka muridnya berkata kepadanya: '(Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa menceritakan ikan itu. Dan tidaklah yang melupakan aku ini kecuali setan) ' (Qs. Al Kahfi: 63).

Musa lalu berkata: '(Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula) ' (Qs. Al Kahfi: 64). Ketika keduanya sampai di batu tersebut, didapatinya ada seorang laki-laki mengenakan pakaian yang lebar, Musa lantas memberi salam.

Khidlir lalu berkata, "Bagaimana cara salam di tempatmu?"
Musa menjawab, "Aku adalah Musa."
Khidlir balik bertanya, "Musa Bani Isra'il?"
Musa menjawab, "Benar."
Musa kemudian berkata: '(Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?) '
Khidlir menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama Aku) ' (Qs. Al Kahfi: 66-67).

Khidlir melanjutkan ucapannya, "Wahai Musa, aku memiliki ilmu dari ilmunya Allah yang Dia mangajarkan kepadaku yang kamu tidak tahu, dan kamu juga punya ilmu yang diajarkan-Nya yang aku juga tidak tahu."

Musa berkata: '(Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun) ' (Qs. Al Kahfi: 69).

Maka keduanya berjalan kaki di tepi pantai sementara keduanya tidak memiliki perahu, lalu melintaslah sebuah perahu kapal. Mereka berbicara agar orang-orang yang ada di perahu itu mau membawa keduanya.

Karena Khidlir telah dikenali maka mereka pun membawa keduanya dengan tanpa bayaran. Kemudian datang burung kecil hinggap di sisi perahu mematuk-matuk di air laut untuk minum dengan satu atau dua kali patukan.

Khidlir lalu berkata, "Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu bila dibandingkan dengan ilmu Allah tidaklah seberapa kecuali seperti patukan burung ini di air lautan."

Kemudian Khidlir sengaja mengambil papan perahu lalu merusaknya.

Musa pun berkata, "Mereka telah membawa kita dengan tanpa bayaran, tapi kenapa kamu merusaknya untuk menenggelamkan penumpangnya?"

Khidlir berkata: '(Bukankah aku telah berkata, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku) '

Musa menjawab: '(Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku) ' (Qs. Al Kahfi: 72-73).

Kejadian pertama ini karena Musa terlupa. Kemudian keduanya pergi hingga bertemu dengan anak kecil yang sedang bermain dengan dua temannya.

Khidlir lalu memegang kepala anak itu, mengangkat dan membantingnya hingga mati.

Maka Musa pun bertanya: '(Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain?) ' (Qs. Al Kahfi: 74).

Khidlir menjawab: '(Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?) ' (Qs. Al Kahfi: 75).

Ibnu 'Uyainah berkata, "Ini adalah sebuah penegasan.

'(Maka keduanya berjalan hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka.

Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh. Maka Khidlir menegakkan dinding itu) ' (Qs. Al Kahfi: 77).

Rasulullah meneruskan ceritanya: "Khidlir melakukannya dengan tangannya sendiri.
Lalu Musa berkata, '(Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.
Khidlir menjawab, "Inilah saat perpisahan antara aku dan kamu) ' (Qs. Al Kahfi: 77-78).

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semoga Allah merahmati Musa. Kita sangat berharap sekiranya Musa bisa sabar sehingga akan banyak cerita yang bisa kita dengar tentang keduanya."
(Hadits Bukhari No. 119)

Bertanya sambil berdiri kepada seorang alim yang sedang duduk dan Maksud Jihad / perang di jalan Allah SWT
dari Abu Musa berkata, "Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya,

"Wahai Rasulullah, apakah yang disebut dengan perang fi sabilillah (di jalan Allah)? Sebab di antara kami ada yang berperang karena marah dan ada yang karena semangat?"

Beliau lalu mengangkat kepalanya ke arah orang yang bertanya, dan tidaklah beliau angkat kepalanya kecuali karena orang yang bertanya itu berdiri.

Beliau lalu menjawab: "Barangsiapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka dia perperang di jalan Allah 'azza wajalla."
(Hadits Bukhari No. 120)

Bertanya dan memberi fatwa ketika sedang melempar jumrah
dari 'Abdullah bin 'Amru berkata, "Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di sisi jumrah sedang ditanya.

Seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, aku menyembelih hewan sebelum aku melempar?"
Beliau lalu bersabda: "Melemparlah sekarang, dan kau tidak dosa."

Kemudian datang orang lain dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah mencukur rambut sebelum aku menyembelih?"
Beliau menjawab: "Sembelihlah sekarang, tidak kau tidak berdosa."

Dan tidaklah beliau ditanya tentang sesuatu yang dikerjakan lebih dahulu atau sesuatu yang diakhirkan dalam mengerjakannya kecuali menjawab: "Lakukanlah dan tidak dosa."
(Hadits Bukhari No. 121)

Firman Allah Ta'ala : "Dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedidkit…"
dari 'Abdullah berkata, "Ketika aku berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di sekitar pinggiran Kota Madinah, saat itu beliau membawa tongkat dari batang pohon kurma.

Beliau lalu melewati sekumpulan orang Yahudi,
maka sesama mereka saling berkata, "Tanyakanlah kepadanya tentang ruh!"
Sebagian yang lain berkata, "Janganlah kalian bicara dengannya hingga ia akan mengatakan sesuatu yang kalian tidak menyukainya."
Lalu sebagian yang lain berkata, "Sungguh, kami benar-benar akan bertanya kepadanya."

Maka berdirilah seorang laki-laki dari mereka seraya bertanya, "Wahai Abul Qasim, ruh itu apa?"
Beliau diam.
Maka aku pun bergumam, "Sesungguhnya beliau sedang menerima wahyu."

Ketika orang itu berpaling,
beliau pun membaca: '(Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) ' (Qs. Al Israa`: 85).

Al A'masy berkata, "Seperti inilah dalam qira`ah kami."
(Hadits Bukhari No. 122)

Meninggalkan sebagian ikhtiar karena khawatir sebagian manusia tidak memahaminya sehingga melakukan kesalahan yang lebih besar
dari Al Aswad berkata, Ibnu Az Zubair berkata kepadaku, " 'Aisyah banyak merahasiakan (hadits) kepadamu. Apa yang pernah dibicarakannya kepadamu tentang Ka'bah?"

Aku berkata, "Aisyah berkata kepadaku,
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadaku:
"Wahai 'Aisyah, kalau bukan karena kaummu masih dekat zaman mereka,
Az Zubair menyebutkan, "Dengan kekufuran, maka Ka'bah akan aku rubah, lalu aku buat dua pintu untuk orang-orang masuk dan satu untuk mereka keluar."

Di kemudian hari hal ini dilaksanakan oleh Ibnu Zubair."
(Hadits Bukhari No. 123)

Mengkhususkan sebagian iilmu kepada sebagian orang karena khawatir yag lainnya tidak dapat memahami
Dan Ali berkata,

"Berbicaralah dengan manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka, apakah kalian ingin jika Allah dan rasul-Nya didustakan?"
(Hadits Bukhari No. 124)

dari Qatadah berkata, telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menunggang kendaraan sementara Mu'adz membonceng di belakangnya.

Beliau lalu bersabda: "Wahai Mu'adz bin Jabal!"
Mu'adz menjawab, "Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu."

Beliau memanggil kembali: "Wahai Mu'adz!"
Mu'adz menjawab, "Wahai Rasulullah, aku penuhi panggilanmu."

Hal itu hingga terulang tiga kali,
Beliau lantas bersabda: "Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, tulus dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan baginya neraka."

Mu'adz lalu bertanya, "Apakah boleh aku memberitahukan hal itu kepada orang, sehingga mereka bergembira dengannya?"
Beliau menjawab: "Nanti mereka jadi malas (untuk beramal)."

Mu'adz lalu menyampaikan hadits itu ketika dirinya akan meninggal karena takut dari dosa."
(Hadits Bukhari No. 125)

Anas bin Malik berkata, "Disebutkan kepadaku bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepada Mu'adz bin Jabal:

"Barangsiapa berjumpa Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga."

Mu'adz bertanya, "Bolehkan jika itu aku sampaikan kepada manusia?"
Beliau menjawab: "Jangan, karena aku khawatir mereka akan jadi malas (untuk beramal)."
(Hadits Bukhari No. 126)

Tentang ilmu genetika
dari Ummu Salamah ia berkata, "Ummu Sulaim datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata,

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dalam perkara yang hak. Apakah bagi wanita wajib mandi jika ia bermimpi?"

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Ya, jika dia melihat air."

Ummu Salamah lalu menutupi wajahnya seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah seorang wanita itu bermimpi?"

Beliau menjawab: "Ya. Celaka kamu. (jika tidak) Lantas dari mana datangnya kemiripan seorang anak itu?"
(Hadits Bukhari No. 127)

Malu dalam (menuntut) ilmu?
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya di antara pohon-pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya, dan itu adalah perumpamaan bagi seorang Muslim. Ceritakan kepadaku pohon apakah itu?"

Maka orang-orang menganggapnya sebagai pohon-pohon yang ada di lembah, sedangkan menurut perkiraanku bahwa itu adalah pohon kurma."

'Abdullah berkata, "Tetapi aku malu (untuk mengungkapkannya).
Lalu orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kami pohon apakah itu?"

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun menjawab: "Dia adalah pohon kurma."

'Abdullah berkata, "Kemudian aku ceritakan hal itu kepada bapakku,
Maka bapakku berkata, "Aku lebih suka bila engkau ungkapkan saat itu dari pada aku memiliki begini dan begini."
(Hadits Bukhari No. 128)

Orang yang malu bertanya lalu menyuruh orang lain untuk bertanya
dari 'Ali bin Abu Thalib berkata, "Aku adalah seorang laki-laki yang mudah mengeluarkan madzi, lalu suruh Miqdad bin Al Aswad untuk menanyakan hal itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Lalu ia pun menanyakannya kepada beliau, dan beliau menjawab: "Padanya ada kewajiban wudlu."
(Hadits Bukhari No. 129)

Menyampaikan ilmu dan fatwa di dalam masjid
dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa ada seorang laki-laki datang berdiri di masjid lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, dari mana Tuan memerintahkan kami untuk bertalbiyah?"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu menjawab: "Bagi penduduk Madinah bertalbiyah dari Dzul Hulaifah, penduduk Syam dari Al Juhfah, dan penduduk Najed dari Qarn."

Ibnu Umar berkata, "Orang-orang mengklaim bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan mengatakan bahwa penduduk Yaman bertalbiyah dari Yalamlam."

Sementara Ibnu Umar berkata, "Aku tidak yakin bahwa (yang terakhir) ini dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 130)

Menjawab pertanyaan melebihi yang ditanyakan
dari Ibnu 'Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa ada seorang laki-laki bertanya, "Apa yang harus dikenakan oleh orang yang melakukan ihram?"

Beliau menjawab: "Ia tidak boleh memakai baju, Imamah (surban yang dililitkan pada kepala), celana panjang, mantel, atau pakaian yang diberi minyak wangi atau za'faran. Jika dia tidak mendapatkan sandal, maka ia boleh mengenakan sepatu dengan memotongnya hingga di bawah mata kaki."
(Hadits Bukhari No. 131)

« Tentang Wudhu Tentang Iman »
Semua Hadits Shahih BukhariImam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama