Hadits Bukhari Tentang Bacaan Shalat

bangpro.xyz — kumpulan Hadits Shahih Imam Al-Bukhari Hadits Tentang Bacaan Shalat (Kitab Adzan).

HaditsShahih Al-Bukhari
KitabAdzan
TentangGerakan & Bacaan Shalat
Nomor690 - 805
No. VersiFathul Bari


Wajibnya Membaca Takbir dan Do'a Pembuka (Istiftah) Shalat
telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik Al Anshari,

"bahwa pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengendarai kudanya dan terjatuh terhempas pada lambung kanannya."

Anas radliallahu 'anhu berkata, "Maka pada suatu hari Beliau shalat mengimami kami di antara shalat-shalatnya dengan duduk. Maka kamipun shalat di belakang Beliau dengan duduk.

Beliau kemudian bersabda: "Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti. Jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri, jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengangkat kepala maka angkatlah kepala kalian, jika ia sujud maka sujudlah kalian,

jika ia mengucapkan ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya)˝, maka ucapkanlah oleh kalian: ˝RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian)˝."
(Hadits Bukhari No. 690)

dari Anas bin Malik ia berkata,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jatuh dari kudanya hingga beliau pun cedera. Beliau lalu shalat mengimami kami dengan duduk, dan kami juga shalat dengan duduk.

Setelah selesai beliau bersabda: "Sesungguhnya imam, atau dijadikannya imam adalah untuk diikuti. Jika ia takbir maka bertakbirlah kalian, jika ia rukuk maka rukuklahkalian, jika ia mengangkat kepala maka angkatlah kepala kalian, jika ia mengucapkan ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya)˝, maka ucapkanlah oleh kalian ˝RABBANAA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian)˝, dan jika ia sujud maka sujudlah kalian."
(Hadits Bukhari No. 691)

dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Dijadikannya Imam itu untuk diikuti, jika ia takbir maka bertakbirlah kalian, jika ia rukuk maka rukuklah kalian, jika ia mengucapkan ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya)˝, maka ucapkanlah oleh kalian ˝RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian)˝,

jika ia sujud maka suudlah kalian, dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semua dengan duduk."
(Hadits Bukhari No. 692)

Mengangkat Kedua Belah Tangan Pada Takbiratul Ihram (Pertama) Bersamaan dengan Pembukaan Shalat
dari Salim bin 'Abdullah dari Bapaknya,

"bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat tangannya sejajar dengan pundaknya ketika memulai shalat, ketika takbir untuk rukuk dan ketika bangkit dari rukuk dengan mengucapkan: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian)˝.

Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud."
(Hadits Bukhari No. 693)

Mengangkat Kedua Belah Tangan pada Takbir Pertama, Hendak Ruku' dan Ketika Bangkit dari Ruku'
dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma berkata,

"Aku melihat jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan pundaknya.

Beliau melakukan seperti itu ketika takbir untuk rukuk dan bangkit dari rukuk dengan mengangkat kepalanya sambil mengucapkan: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya)˝.

Namun beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud."
(Hadits Bukhari No. 694)

dari Abu Qilabah

"bahwa dia melihat Malik Al Huwairits ketika shalat, dia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya, apabila hendak rukuk mengangkat tangannya, dan ketika mengangkat kepalanya dari rukuk dia juga mengangkat kedua tangannya.

Lalu dia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbuat seperti itu."
(Hadits Bukhari No. 695)

Batas Mengangkat Kedua Belah Tangan
Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma berkata,

"Aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memulai shalat dengan bertakbir. Beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir hingga meletakkan kedua tangannya sejajar dengan pundaknya.

Ketika takbir untuk rukuk beliau juga melakukan seperti itu, jika mengucapkan: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar siapa yang memuji-Nya)˝, beliau juga melakukan seperti itu sambil mengucapkan: ˝RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian)˝.

Namun Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud."
(Hadits Bukhari No. 696)

Mengangkat Kedua Belah Tangan Ketika Bangkit dari Raka'at Kedua
dari Nafi'

"bahwa Ibnu 'Umar ketika memulai shalat, dia bertakbir dengan mengangkat kedua tangannya, dan ketika rukuk mengangkat kedua tangannya, dan ketika mengucapkan: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH˝ mengangkat kedua tangannya, dan ketika berdiri dari dua rakaat mengangkat kedua tangannya.

Lalu Ibnu 'Umar mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakukan seperti itu."
(Hadits Bukhari No. 697)

Meletakkan Tangan Kanan di atas Tangan Kiri Ketika Berdiri dalam Shalat
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah
dari Malik
dari Abu Hazim
dari Sahl bin Sa'd berkata,

"Orang-orang diperintahkan agar meletakkan tangan kanannya di atas lengan kiri dalam shalat."

Abu Hazim berkata, "Aku tidak mengetahui dia Sahl kecuali bahwa dia menyandarkan hal tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."

Isma'il berkata, "Hadits ini dimarfu'kan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bukan mengatakan dia mengambil dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 698)

Khusyu' dalam Shalat
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Apakah kalian melihat arah kiblatku ini? Demi Allah, tidak ada yang tersembunyi bagiku rukuk dan juga khusyu' kalian, karena aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku."
(Hadits Bukhari No. 699)

Khusyuk dalam Shalat
dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Luruskanlah dalam rukuk dan sujud. Demi Allah, aku dapat melihat kalian dari belakangku."

Seakan beliau mengatakan: "Aku dapat melihat kalian dari belakangku ketika kalian rukuk dan sujud."
(Hadits Bukhari No. 700)

Bacaan (doa) Setelah Takbir Pertama
dari Anas bin Malik,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar dan 'Umar radliallahu 'anhuma, mereka memulai shalat dengan membaca: ˝ALHAMDU LILLAHI RABBIL 'AALAMIIN˝."
(Hadits Bukhari No. 701)

Bacaan (doa iftitah) Setelah Takbir Pertama
Abu Zur'ah berkata,
telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiam antara takbir dan bacaan Al Qur'an."

Abu Zur'ah berkata, Aku mengira Abu Hurairah berkata, ˝Berhenti sebentar, lalu aku berkata, "Wahai Rasulullah, demi bapak dan ibuku! Tuan berdiam antara takbir dan bacaan. Apa yang tuan baca diantaranya?."

Beliau bersabda: "Aku membaca;
ALLAHUMMA BAA'ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA'ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLAHUMMA NAQQINII MIN KHATHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADLU MINAD DANAS. ALLAHUMMAGHSILNII MIN KHATHAAYAAYA BILMAA'I WATSTSALJI WAL BARAD
(Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah kesalahanku sebagaimana pakaian yang putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, salju dan es yang dingin)."
(Hadits Bukhari No. 702)

Bacaan (doa) Setelah Takbir Pertama
Nafi' bin 'Umar berkata,
telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah
dari Asma' binti Abu Bakar Ash Shiddiiq

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengerjakan shalat gerhana, maka Beliau berdiri dan dipanjangkan (lama) berdirinya, kemudian rukuk maka dipanjangkannya rukuk, kemudian berdiri lagi dan dipanjangkan berdirinya, kemudian rukuk maka dipanjangkannya rukuk, kemudian bangkit (dari rukuk), kemudian sujud dan memanjangkan sujudnya, kemudian mengangkat (kepala dari sujud), kemudian sujud dan memanjangkan sujudnya,

kemudian berdiri lagi dan memanjangkan berdirinya, kemudian rukuk maka dipanjangkannya rukuk, kemudian berdiri (bangkit dari rukuk) dan dipanjangkan berdirinya, kemudian rukuk maka dipanjangkannya rukuk, kemudian bangkit (dari rukuk), kemudian sujud maka dipanjangkannya sujud, kemudian mengangkat (kepala dari sujud), lalu sujud dan dipanjangkannya sujud,

selesai salam beliau bersabda: ˝Telah didekatkan surga kepadaku hingga seandainya aku dibenarkan (berani) untuk mengambilnya tentu aku akan bawakan kepada kalian kurma dari kurma-kurma didalamnya. Dan didekatkan juga neraka kepadaku hingga aku berkata, ˝Wahai Rabb, aku bersama mereka. Tiba-tiba aku melihat seorang wanita˝."

Aku (Nafi') menduga beliau mengatakan, "Dicakar-cakar oleh seekor kucing. Aku bertanya, ˝Apa yang menyebabkan demikian?˝

Mereka menjawab, ˝Wanita tersebut menahan kucing tersebut hingga mati karena kelaparan karena dia tidak memberinya makan atau membiarkan kucing tersebut pergi mencari makan˝."

Nafi' berkata, "Aku menduga beliau mengatakan, ˝Mencari makan dari serangga di permukaan tanah˝."
(Hadits Bukhari No. 703)

Mengarahkan Pandangan Kepada Imam Ketika Shalat
dari Abu Ma'mar berkata,

Kami bertanya kepada Khabbab, "apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca surah dalam shalat Zhuhur dan 'Ashar?"
Dia menjawab, "Ya."

Kami tanyakan lagi, "Bagaimana kalian bisa mengetahuinya?"
Dia menjawab, "Dari gerakan jenggot Beliau."
(Hadits Bukhari No. 704)

Mengarahkan Pandangan Kepada Imam Ketika Shalat
Al Bara` menceritakan kepada kami -dan ia bukan seorang pendusta-,

"Para sahabat jika shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, jika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, para sahabat tetap berdiri sampai mereka melihat beliau telah sujud."
(Hadits Bukhari No. 705)

Mengarahkan Pandangan Kepada Imam Ketika Shalat
dari 'Abdullah bin 'Abbas berkata,

Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian beliau melaksanakan shalat gerhana.

Orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah, kami lihat tuan mengambil sesuatu saat di posisimu, lalu tuan mundur kembali?"

Beliau menjawab: "Aku diperlihatkan surga, lalu aku diberikan setandan anggur. Jika aku mengambilnya niscaya kalian akan memakannya yang akan mengakibatkan terabaikannya urusan dunia."
(Hadits Bukhari No. 706)

dari Anas bin Malik berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memimpin shalat kami, kemudian Beliau naik ke atas mimbar lalu memberi isyarat (menunjuk) dengan tangannya ke arah kiblat masjid seraya bersabda:

"Sejak aku memimpin shalat kalian hingga sekarang, aku diperlihatkan surga dan neraka secara bersamaan di hadapan dinding ini. Dan aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini."

Beliau mengucapkannya tiga kali.
(Hadits Bukhari No. 707)

(jangan) Mengarahkan Pandangan ke Langit Ketika Shalat
Anas bin Malik ia menceritakan kepada mereka, ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Kenapa orang-orang mengarahkan pandangan mereka ke langit ketika mereka sedang shalat? Suara beliau semakin tinggi hingga beliau bersabda: ˝Hendaklah mereka menghentikannya atau Allah benar-benar akan menyambar penglihatan mereka˝."
(Hadits Bukhari No. 708)

Menoleh Ketika Shalat
dari 'Aisyah berkata,

"Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang menoleh dalam shalat."

Maka Beliau bersabda: "Itu adalah sambaran yang sangat cepat yang dilakukan oleh setan terhadap shalatnya hamba."
(Hadits Bukhari No. 709)

dari 'Aisyah,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan mengenakan baju yang ada gambarnya, beliau lalu bersabda:

"Gambar-gambar pada pakaian ini menggangguku. Kembalikanlah kepada Abu Jahm, agar dia mengganti dengan pakaian yang terbuat dari bulu kasar yang tidak bergambar."
(Hadits Bukhari No. 710)

Apakah Orang Yang Sedang Shalat Boleh Menoleh Karena Adanya Sesuatu atau Melihat Sesuatu atau Adanya Dahak di Arah Qiblat?
dari Ibnu 'Umar bahwa dia berkata,

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat ludah di dinding arah kiblat masjid. Saat itu Beliau sedang shalat di hadapan orang banyak, beliau kemudian menggosoknya seraya mengatakan:

"Sesungguhnya seseorang dari kalian ketika berdiri shalat, dia sedang berhadapan dengan Allah. Maka itu janganlah dia meludah ke arah depannya ketika dia sedang shalat."
(Hadits Bukhari No. 711)

Apakah Orang Yang Sedang Shalat Boleh Menoleh Karena Adanya Sesuatu atau Melihat Sesuatu atau Adanya Dahak di Arah Qiblat?
Anas bin Malik berkata,

"Ketika Kaum Muslimin melaksanakan shalat Fajar tidak ada sesuatu yang mengagetkan mereka kecuali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang tiba-tiba membuka tabir kamar Aisyah sambil memandang ke arah mereka.

Saat itu mereka sudah berbaris dalam shaf, beliau tersenyum lalu tertawa. Maka Abu Bakar berniat mundur ke belakang untuk mempersilakan beliau masuk dalam shaf, karena menduga beliau akan keluar.

Dan Kaum Muslimin hampir saja terfitnah (berpaling dan memutus) dalam shalat mereka. Namun ternyata Beliau memberi isyarat kepada mereka: ˝Teruskanlah shalat kalian.˝

Beliau kemudian menutup tabir, dan setelah itu beliau meninggal pada hari itu juga."
(Hadits Bukhari No. 712)

Memanjangkan dua rakaat pertama dan memendekkan dua rakaat terakhir
telah menceritakan kepada kami 'Abdul Malik bin 'Umair
dari Jabir bin Samrah berkata,

Penduduk Kufah mengadukan Sa'd (bin Abu Waqash) kepada 'Umar. Maka 'Umar menggantinya dengan 'Ammar. Mereka mengadukan Sa'd karena dianggap tidak baik dalam shalatnya.

Maka Sa'd dikirim kepada 'Umar dan ditanya, "Wahai Abu Ishaq, penduduk Kufah menganggap kamu tidak baik dalam shalat?"

Abu Ishaq menjawab, "Demi Allah, aku memimpin shalat mereka sebagaimana shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Tidaklah aku mengurangi sedikitpun dalam melaksanakan shalat 'Isya bersama mereka. Aku memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama dan aku pendekkan pada dua rakaat yang akhir."

'Umar berkata, "wahai Abu Ishaq, kami juga menganggap begitu terhadapmu."

Kemudian 'Umar mengutus seorang atau beberapa orang bersama Sa'd ke Kufah. Orang itu kemudian bertanya kepada para penduduk tentang Sa'd, tidak ada satupun masjid yang dikunjungi tanpa menanyakan tentang Sa'd, mereka semua mengagumi Sa'd dan mengenalnya dengan baik.

Hingga akhirnya sampai ke sebuah masjid milik bani 'Abs, lalu salah seorang dari mereka yang bernama Usamah bin Qatadah dengan nama panggilan Abu Sa'dah berkata, "Jika kalian minta pendapat kami, maka kami katakan bahwa Sa'd adalah seorang yang tidak memudahkan pasukan, bila membagi tidak sama dan tidak adil dalam mengambil keputusan."

Maka Sa'd berkata, "Demi Allah, sungguh aku akan berdo'a dengan tiga do'a; Ya Allah jika dia, hambamu ini, berdusta, dan mengatakan ini dengan maksud riya' atau sum'ah, maka panjangkanlah umurnya, panjangkanlah kefakirannya dan campakkanlah dia dengan berbagai fitnah."

Setelah beberapa masa kemudian, orang tersebut bila ditanya mengapa keadaannya jadi sengsara begitu, maka ia menjawab, "Aku orang tua renta yang terkena fitnah akibat do'anya Sa'd."

'Abdul Malik berkata, "Aku sendiri melihat kedua alisnya telah panjang ke bawah menutupi kedua matanya, dan sungguh dia tersia-siakan saat berada di jalan-jalan."
(Hadits Bukhari No. 713)

Wajibnya Membaca (Surah Al-Fatihah) Bagi Imam dan Ma'mum dalam Setiap Shalat, Baik Ketika Muqim Maupun Sedang Bepergian, Baik Shalat Jahriyah (suara dikeraskan) Maupun Sirriyyah
dari 'Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah)."
(Hadits Bukhari No. 714)

dari Abu Hurairah,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke masjid, lalu ada juga seorang laki-laki masuk Masjid dan langsung shalat kemudian memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Beliau menjawab dan berkata kepadanya, "Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!"

Maka orang itu mengulangi shalatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi kemudian datang menghadap kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan memberi salam.

Namun Beliau kembali berkata: "Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!"

Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata, "Demi Dzat yang mengutus Tuan dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarkanlah aku!"

Beliau lantas berkata: "Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al Qur'an kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan thuma'ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma'ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma'ninah.

Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh shalat (rakaat) mu."
(Hadits Bukhari No. 715)

Sa'd berkata,

"Aku pernah mengimami mereka di antara dua shalat pada malam hari (Maghrib atau Isya) sebagaimana shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku mengurangi sedikitpun. Aku memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama dan aku pendekkan pada dua rakaat yang akhir."

'Umar radliallahu 'anhu lalu berkata, "Begitulah anggapan kami terhadapmu."
(Hadits Bukhari No. 716)

Bacaan dalam Shalat Zhuhur
dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada dua rakaat pertama dalam shalat Zhuhur membaca Al Fatihah dan dua surah, beliau memanjangkan rakaat pertama dan memendekkan pada rakaat kedua, dan terkadang beliau memperdengarkan bacaannya.

Dalam shalat Ashar beliau membaca Al Fatihah dan dua surah, dan memanjangkan pada rakaat yang pertama.

Demikian pula dalam shalat Shubuh, beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan memendekkakan pada rakaat kedua."
(Hadits Bukhari No. 717)

dari Abu Ma'mar berkata,

"Kami bertanya kepada Khabbab, apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca surah dalam shalat Zhuhur dan 'Ashar?"

Dia menjawab, "Ya."
Kami tanyakan lagi, "Bagaimana kalian bisa mengetahuinya?"
Dia menjawab, "Dari gerakan jenggot beliau."
(Hadits Bukhari No. 718)

Bacaan dalam Shalat 'Ashar
dari Abu Ma'mar berkata,

Aku bertanya kepada Khabbab bin Al Arat, "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca surah dalam shalat Zhuhur dan 'Ashar?"
Dia menjawab, "Ya."

Kami tanyakan lagi, "Bagaimana kalian bisa mengetahui bacaan Beliau?"
Dia menjawab, "Dari gerakan jenggot Beliau."
(Hadits Bukhari No. 719)

dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya ia berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada dua rakaat pertama dalam shalat Zhuhur dan 'Ashar membaca Al Fatihah dan surah masing-masing, dan terkadang Beliau memperdengarkannya kepada kami ayat yang dibacanya."
(Hadits Bukhari No. 720)

Bacaan dalam Shalat Maghrib
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu dia mengatakan

bahwa Ummu Al Fadll pernah mendengarnya membaca Wal mursalaati 'urfa.

Maka Ummu Al Fadll pun berkata, "Wahai ananda, bacaan surahmu ini telah mengingatkan aku. Sungguh itu adalah surah terakhir yang aku dengar dibaca oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau membacanya pada shalat Maghrib."
(Hadits Bukhari No. 721)

Bacaan dalam Shalat Maghrib
dari Marwan bin Al Hakam berkata,

Zaid bin Tsabit berkata kepdaku, "Kenapa kamu dalam shalat Maghrib membaca surah-surah yang pendek? Sungguh aku pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca dengan surah-surah yang panjang."
(Hadits Bukhari No. 722)

Jahriyah (mengeraskan bacaan) dalam Shalat Maghrib
dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im dari Bapaknya berkata,

Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat Maghrib membaca "Ath-Thur."
(Hadits Bukhari No. 723)

Jahriyah (mengeraskan bacaan) dalam Shalat Isya
dari Abu Rafi' berkata,

Aku shalat 'Isya bersama Abu Hurairah, lalu ia membaca ˝IDZAS SAMAA'UNSYAQQAT˝ lalu dia sujud, maka hal itu kemudian aku tanyakan kepadanya.

Maka dia menjawab, "Aku pernah sujud bersama di belakang Abu Al Qashim (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) dalam ayat tersebut, dan aku akan selalu sujud di dalamnya hingga aku berjumpa dengannya."
(Hadits Bukhari No. 724)

dari 'Adi berkata, Aku mendengar Al Bara',

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika safar (bepergian) pada shalat 'Isya membaca pada salah satu dari dua rakaatnya dengan ˝WAT TIINI WAZ ZAITUUN˝."
(Hadits Bukhari No. 725)

Membaca Surah Al-Insyiqaq (ada ayat sujud tilawah) dalam Shalat Isya
dari Abu Rafi' berkata,

Aku shalat 'Isya bersama Abu Hurairah, lalu ia membaca ˝IDZAS SAMAA'UNSYAQQAT˝ lalu ia sujud. Maka aku pun bertanya kepadanya kenapa melakukan hal tersebut.

Dia lantas menjawab, "Aku pernah sujud di belakang Abu Al Qashim (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) setelah membaca surah tersebut, dan aku akan selalu sujud di dalamnya hingga aku berjumpa dengannya."
(Hadits Bukhari No. 726)

Bacaan dalam Shalat Isya
Al Bara berkata,

"Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca ˝WAT TIINI WAZ ZAITUUN˝ pada shalat 'Isya. Dan belum pernah aku mendengar seseorang yang suaranya atau bacaan lebih baik dari beliau."
(Hadits Bukhari No. 727)

Memanjangkan Bacaan al-Qur'an Pada Dua Raka'at Pertama dan Meniadakannya Pada Dua Raka'at Terakhir
Jabir bin Samrah berkata,

Umar berkata kepada Sa'd, "Orang-orang banyak mengeluhkan tentangmu hingga dalam masalah shalat!"

Maka Sa'd menjelaskan, "Dalam shalat aku selalu memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama dan aku pendekkan pada dua rakaat yang akhir. Dan tidak ada yang aku ubah dari apa yang aku dapat ambil dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

'Umar berkata, "Kamu benar. Aku juga menganggap kamu seperti itu."
(Hadits Bukhari No. 728)

Bacaan dalam Shalat Fajar (Shubuh)
Sayyar bin Salamah berkata,

Aku dan bapakku datang menemui Abu Barzah Al Aslami, lalu kami bertanya kepadanya tangtang waktu-waktu shalat. Dia lalu berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur ketika matahari sudah condong, shalat 'Ashar saat seseorang kembali ke ujung Kota Madinah sementara matahari masih panas, dan aku lupa apa yang dijelaskannya tentang shalat Maghrib.

Dan tidak jarang Beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat 'Isya hingga sepertiga malam yang akhir, beliau tidak menyukai tidur sebelum shalat Isya dan mengobrol sesudahnya.

Dan Beliau melaksanakan shalat Shubuh pada waktu dimana bila sudah selesai, seseorang akan dapat mengenali siapa yang shalat di sampingnya.

Beliau membaca surah dalam shalat Shubuh pada kedua rakaatnya, atau salah satunya kira-kira enam puluh hingga seratus ayat."
(Hadits Bukhari No. 729)

Abu Hurairah berkata,

"Pada setiap rakaat ada bacaannya. Apa yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam perdengarkan (keraskan) bacaannya kepada kami maka kamipun akan perdengarkan kepada kalian, dan apa yang Beliau sembunyikan (tidak mengeraskan bacaan) kepada kami, maka kamipun tidak mengeraskannya kepada kalian.

Jika kalian tidak tambah selain Al Fatihah, maka itu sudah cukup. Namun bila kalian tambah setelahnya itu lebih baik."
(Hadits Bukhari No. 730)

Jahriyah (mengeraskan bacaan) dalam Shalat Fajar (Shubuh)
dari 'Abdullah bin 'Abbas berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersama sekelompok sahabat berangkat menuju pasar 'Ukazh. Saat itu telah ada penghalang antara setan dan berita-berita langit dimana telah dikirim kabut kepada setan sebagai penghalang.

Maka setan-setan kembali menemui kaumnya, lalu kaumnya berkata, "Apa yang terjadi dengan kalian?"
Setan-setan tersebut menjawab, "Telah ada penghalang antara kami dan berita-berita langit dengan dikirimnya kabut."

Kaumnya berkata, "Tidak ada penghalang antara kalian dan berita-berita langit kecuali telah ada sesuatu yang terjadi. Pergilah kalian ke seluruh penjuru timur bumi dan baratnya, lalu perhatikanlah apa penghalang yang ada antara kalian dan berita-berita langit!"

Maka berangkatlah setan-setan yang ada di Tihamah untuk mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat Beliau yang sedang berada di pasar 'Ukazh. Saat itu beliau dan para sahabat sedang melaksanakan shalat fajar.

Ketika setan-setan itu mendengar Al Qur'an, mereka menyimaknya dengan baik hingga mereka pun berkata, "Demi Allah, inilah yang menjadi penghalang antara kalian dan berita-berita langit."

Dan perkataan ini pula yang disampaikan ketika mereka kembali kepada kaum mereka.

Lantas mereka berkata kepada kaumnya, "Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan. (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami) (Qs. Al Jin: 1-2)."

Maka kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam: ˝(Katakanlah (hai Muhammad): ˝Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Qur'an))˝ (Qs. Al Jin: 1).

Yakni diwahyukan kepada beliau perkataan jin."
(Hadits Bukhari No. 731)

Jahriyah (mengeraskan bacaan) dalam Shalat Fajar (Subuh)
dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca (dengan suara dikeraskan) sesuai apa yang diperintahkan dan juga diam (tidak mengeraskan) sesuai apa yang diperintahkan ˝(Dan tidaklah Rabbmu lupa)˝ (Qs. Maryam: 64).

˝(Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)˝ (Qs. Al Ahzab: 21)."
(Hadits Bukhari No. 732)

Menggabungkan bacaan Dua Surah dalam Satu Raka'at Dan Membaca Ayat-ayat Akhir Suatu Surah atau Membaca Satu demi Satu Surah
Abu Wa'il berkata,

"Seorang laki-laki datang kepada Ibnu Mas'ud lalu berkata, ˝Tadi malam aku membaca surat-surat Al Musfashal dalam satu rakaat.˝

Ibnu Mas'ud berkata, ˝Hah! (cepat sekali kamu dalam membaca), ini seperti membaca syair! Sungguh aku mengetahui surah-surah sepadan (panjangnya) yang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam gabungkan saat membaca.˝

Ibnu Mas'ud kemudian menyebutkan dua puluh surah dari Al Mufashshal (yang dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), yakni dua surah untuk setiap rakaat."
(Hadits Bukhari No. 733)

Membaca Surah Al-Fatihah Pada Dua Raka'at Terakhir
dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat Zhuhur membaca Al Fathihah dan dua surah pada dua rakaat pertama. Dan pada dua rakaat akhir membaca Al Fatihah, yang terkadang ayat yang beliau baca terdengar.

Beliau memanjangkannya pada rakaat pertama, dan pada rakaat keduanya tidak sepanjang pada rakaat pertama. Beliau lakukan seperti ini juga dalam shalat 'Ashar, begitu pula pada shalat Shubuh."
(Hadits Bukhari No. 734)

Orang Yang Tidak Mengeraskan Bacaan Pada Shalat Zuhur dan Ashar
dari Abu Ma'mar,

aku bertanya kepada Khabbab, "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca surah dalam shalat Zhuhur dan 'Ashar?"

Dia menjawab, "Ya."
Kami tanyakan lagi, "Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?"
Dia menjawab, "Dari gerakan jenggot Beliau."
(Hadits Bukhari No. 735)

Jika Imam Memperdengarkan Bacaan Ayat (Pada Shalat Siriyah)
Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca Al-Fatihah dan dua surah pada dua rakaat pertama dalam shalat Zhuhur dan Ashar.

Terkadang beliau memperdengarkan (mengeraskan bacaan) ayat yang dibacanya, dan beliau biasa memanjangkannya pada rakaat pertama."
(Hadits Bukhari No. 736)

Memanjangkan Bacaan Surah Pada Raka'at Pertama
dari 'Abdullah bin Abu Qatadah dari Bapaknya,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat Zhuhur memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dan memendekkannya pada rakaat kedua. Beliau lakukan pula seperti itu pada shalat Shubuh."
(Hadits Bukhari No. 737)

Imam Mengeraskan Bacaan "Amin"
dari Ibnu Syihab
dari Sa'id bin Al Musayyab dan Abu Salamah bin 'Abdurrahman bahwa keduanya mengabarkan kepadanya

dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika Imam membaca 'Amiin', maka bacalah 'Amiin', karena barangsiapa bacaan 'Amiin' nya bersamaan dengan bacaan Malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni."

Ibnu Syihab berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga membaca amin."
(Hadits Bukhari No. 738)

Keutamaan Membaca " Amin "
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian 'Amiin' dan para Malaikat yang ada di langit juga membaca 'Amiin', lalu bacaan salah satunya bersamaan dengan bacaan yang lain, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni."
(Hadits Bukhari No. 739)

Ma'mum Mengeraskan Bacaan "Amin"
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika Imam membaca GHAIRIL MAGHDLUUBI 'ALAIHIM WALADL DLAALLIIN, maka ucapkanlah ˝AMIIN˝.

Karena siapa yang ucapan 'AMIIN' nya bersamaan dengan 'AMIIN' nya Malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni."
(Hadits Bukhari No. 740)

Jika Seseorang Rukuk Diluar Barisan (Belum Sampai Dalam Shaf)
dari Abu Bakrah,

bahwa dia pernah mendapati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang rukuk, maka dia pun ikut rukuk sebelum sampai ke dalam barisan shaf.

Kemudian dia menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu bersabda: "Semoga Allah menambah semangat kepadamu, namun jangan diulang kembali."
(Hadits Bukhari No. 741)

Menyempurnakan Takbir Dalam Rukuk
dari 'Imran bin Hushain berkata,

Dia shalat bersama 'Ali radliallahu 'anhu di Bashrah. Lalu ia berkata, "Orang ini mengingatkan kami tentang shalat yang kami lakukan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dia menyebutkan bahwa Beliau bertakbir setiap mengangkat tangan dan setiap menurunkan tangan."
(Hadits Bukhari No. 742)

Menyempurnakan Takbir Dalam Rukuk
dari Abu Hurairah,

bahwa dia shalat mengimami para sahabat, Abu Hurairah lalu takbir setiap menurunkan tangan dan setiap mengangkat tangan.

Selesai shalat ia berkata, "Sungguh, aku adalah orang yang shalatnya paling mirip dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam daripada kalian semua."
(Hadits Bukhari No. 743)

Menyempurnakan Takbir Dalam Sujud
dari Mutharrif bin 'Abdullah berkata,

Aku dan 'Imran bin Hushain shalat di belakang 'Ali bin Abu Thalib radliallahu 'anhu. Ali bertakbir ketika sujud, ketika mengangkat kepalanya, dan ketika bangkit dari dua rakaat (menuju rakaat tiga).

Selesai 'Imran bin Hushain memegang tanganku seraya berkata, "Sunguh dia telah mengingatkan aku tentang shalatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam."

Atau dia berkata, "Sungguh dia telah shalat bersama kami dengan shalatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 744)

Menyempurnakan Takbir Dalam Sujud
dari 'Ikrimah berkata,

Aku melihat seseorang shalat di dekat Maqam (Masjidil Haram), lalu dia bertakbir pada setiap menurunkan tangan, setiap mengangkat tangan dan ketika berdiri dan turun.

Aku lalu kabarkan hal itu kepada Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu, maka ia berkata, "Bagaimana kamu ini, bukankah memang begitu caranya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalatnya!"
(Hadits Bukhari No. 745)

Membaca Takbir Ketika Bangkit dari Sujud
dari 'Ikrimah berkata,

Aku shalat di belakang seorang syaikh di Makkah. Orang itu bertakbir sejumlah dua puluh dua kali.

Lalu aku katakan kepada Ibnu Abbas, "Betapa bodohnya orangitu!"

Maka Ibnu 'Abbas pun berkata, "Celaka kamu. Sungguh dia telah mempraktekkan sunnah yang dicontohlan oleh Abu Al Qasim shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 746)

Membaca Takbir Ketika Bangkit dari Sujud
Abu Hurairah berkata,

"Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat,
beliau takbir saat memulai berdiri (takbiratul Ikram),
kemudian ketika akan rukuk sambil membaca: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya)˝,
ketika mengangkat punggungnya dari rukuk, dalam saat posisi berdiri beliau membaca: ˝RABBANAA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik-Mu lah segala pujian)˝."

'Abdullah bin Shalih dari Al Laits menyebutkan," ˝WA LAKAL HAMDU˝,
kemudian bertakbir ketika turun (sujud),
kemudian bertakbir ketika mengangkat kepala (dari sujud),
lalu bertakbir ketika sujud dan ketika mengangkat kepalanya (dari sujud),
kemudian Beliau melakukan seperti itu dalam shalat seluruhnya hingga selesai.

Dan beliau juga bertakbir ketika bangkit dari dua rakaat setelah duduk (tasyahud awal)."
(Hadits Bukhari No. 747)

Meletakkan Kedua Telapak Tangan di atas Lutut Ketika Rukuk
Mush'ab bin Sa'd berkata,

Aku shalat di samping ayahku, lalu aku rapatkan tanganku dan aku letakkan di atas pahaku.

Maka ayahku pun melarangnya seraya berkata, "Kami pernah mengerjakan seperti itu lalu kami dilarang (oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), dan kami diperintahkan untuk meletakkan tangan kami pada lutut-lutut kami."
(Hadits Bukhari No. 748)

Jika Seseorang Tidak Menyempurnakan Rukuk
Zaid bin Wahb berkata,

Hudzaifah melihat seseorang shalat namun tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.

Maka dia berkata, "Kamu belum shalat. Seandainya kamu meninggal dunia, maka kamu mati dalam keadaan di luar fithrah (agama), padahal Allah telah menciptakan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berada diatasnya."
(Hadits Bukhari No. 749)

Ukuran Sempurnanya Rukuk, I'tidal dan Thuma'ninah
dari Al Bara' berkata,

"Rukuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sujudnya, (duduk) antara dua sujud, dan ketika mengangkat kepala dari rukuk, tidaklah berbeda antara berdiri (i'tidal) dan duduknya melainkan semuanya sama (dalam thu'maninah)."
(Hadits Bukhari No. 750)

Perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam Kepada Seseorang Yang Tidak Menyempurnakan Rukuknya Untuk Mengulang Kembali Shalatnya
dari Abu Hurairah,

bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk ke dalam Masjid dan shalat, kemudian orang itu datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab salamnya kemudian bersabda: "Kembali dan ulangilah shalatmu, karena kamu belum shalat!"

Orang itu kemudian mengulangi shalat dan kembali datang menghadap kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sambil memberi salam.

Namun beliau kembali bersabda: "Kembali dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat!"

Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali dan akhirnya, sehingga ia berkata, "Demi Dzat yang mengutus tuan dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarilah aku."

Beliau pun bersabda: "Jika kamu mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al Qur'an.
Kemudian rukuklah hingga benar-benar rukuk dengan tenang,
lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak,
setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud,
lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk,
Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud,

Kemudian lakukanlah seperti cara tersebut di seluruh shalat (rakaat) mu."
(Hadits Bukhari No. 751)

Bacaan Doa Ketika Rukuk
dari 'Aisyah ia berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca do'a dalam rukuk dan sujudnya dengan bacaan: ˝SUBHAANAKALLAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII
(Maha suci Engkau wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku)˝."
(Hadits Bukhari No. 752)

Apa Yang Dibaca oleh Imam dan Ma'mum Ketika Mengangkat Kepala dari Rukuk
dari Abu Hurairah berkata,

"Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)˝,
maka beliau melanjutkan dengan: ˝RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian)˝.

Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam rukuk dan mengangkat kepalanya (dari sujud), beliau bertakbir, dan jika bangkit dari dua sujud (dua rakaat), beliau mengucapkan ˝Allahu Akbar˝."
(Hadits Bukhari No. 753)

Keutamaan Bacaan "Allahumma Rabbanaa lakal hamdu"
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Jika Imam mengucapkan ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)˝,
maka ucapkanlah: ˝ALLAHUMMA RABBANAA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu lah segala pujian)˝.

Karena barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan Malaikat, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni."
(Hadits Bukhari No. 754)

Qunut di rakaat terakhir setelah rukuk
dari Abu Hurairah berkata,

"Aku akan contohkan shalatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Abu Hurairah radliallahu 'anhu membaca do'a qunut pada rakaat terakhir dalam shalat Zhuhur, shalat 'Isya dan shalat Shubuh setelah mengucapkan ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)˝.

Maka dia mendo'akan Kaum Mu'minin dan melaknat orang-orang kafir."
(Hadits Bukhari No. 755)

dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata,

"Doa qunut itu ada dalam shalat Maghrib dan Shubuh."
(Hadits Bukhari No. 756)

Bacaan Doa itidal
dari Rifa'ah bin Rafi' Az Zuraqi berkata,

Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar punjian orang yang memuji-Nya)˝.

Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca; ˝RABBANAA WA LAKAL HAMDU HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI
(Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah)˝.

Selesai shalat beliau bertanya: "Siapa orang yang membaca kalimat tadi?"
Orang itu menjawab, "Saya."

Beliau bersabda: "Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut."
(Hadits Bukhari No. 757)

Thuma'ninah Ketika Mengangkat Kepala dari Rukuk
dari Tsabit berkata,

"Anas pernah menceritakan sifat shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada kami, jika beliau shalat dan mengangkat kepalanya dari rukuk, maka beliau berdiri (lama) hingga kami mengatakan ˝beliau telah lupa˝."
(Hadits Bukhari No. 758)

Thuma'ninah Ketika Mengangkat Kepala dari Rukuk
dari Al Bara' berkata,

"Rukuknya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sujudnya dan ketika mengangkat kepala dari rukuk, serta duduk antara dua sujud, semuanya hampir sama (lama dan thumani'ninah)."
(Hadits Bukhari No. 759)

Thuma'ninah Ketika Mengangkat Kepala dari Rukuk
dari Abu Qilabah berkata,

" Malik bin Al Huwirits pernah memperlihatkan kepada kami tata cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Ia lakukan itu bukan pas waktu shalat.
Dia lalu berdiri hingga dengan thuma'ninah,
lalu rukuk dengan thuma'ninah,
lalu mengangkat kepalanya dan berdiam diri sejenak,
kemudian dia berkata, ˝Guru (syaikh) kami ini Abu Buraid pernah shalat memimpin kami.˝

Jika Abu Buraid mengangkat kepalanya dari sujud yang akhir, maka dia duduk dengan lurus sejenak lalu bangkit berdiri."
(Hadits Bukhari No. 760)

Turun Sambil Membaca Takbir Ketika Hendak Sujud
telah mengabarkan kepadaku Abu Bakar bin 'Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam dan Abu Salamah bin Abdurrahman

bahwa Abu Hurairah bertakbir dalam setiap shalat yang wajib dan yang lainnya baik pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.

Dia bertakbir ketika berdiri dan ketika akan rukuk,
kemudian dia mengucapkan: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)˝,
kemudian sebelum sujud dia membaca: ˝RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji)˝,
lalu mengucapkan: ˝Allahu Akbar˝ ketika akan turun sujud.

Kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya dari sujud,
kemudian bertakbir lagi ketika akan sujud,
kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya dari sujud,
dan ketika bangkit berdiri dari duduk setelah dua rakaat (tasyahud awal) ia juga bertakbir kembali.

Dan dalam setiap rakaat shalat dia mengerjakan seperti itu, lalu setelah selesai ia berkata, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah mencontohkan kepada kalian shalat seperti shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Sungguh inilah cara shalatnya hingga beliau meninggalkan dunia ini."
(Hadits Bukhari No. 761)

Qunut
Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengangkat kepalanya dari rukuk sambil mengucapkan: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya. Wahai Rabb kami, dan milik-Mu lah segala pujian)˝,

kemudian beliau berdo'a: "Ya Allah, selamatkanlah Al Walid bin Al Walid, Salamah bin Hisyam, 'Ayyasy bin Abu Rabi'ah orang-orang lemah dari kaum Mukminin. Ya Allah, timpakanlah kerasnya siksa-Mu kepada Mudlar dan jadikanlah siksa-Mu untuk mereka berupa paceklik seperti paceklik yang terjadi pada zaman Nabi Yusuf."

Pada waktu itu, orang-orang penduduk Masyriq menyelisih atau menentang Mudlar.
(Hadits Bukhari No. 762)

telah menceritakan kepada kami Sufyan tidak hanya sekali
dari Az Zuhri berkata,
"Aku mendengar Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terjatuh dari kudanya,"

dimungkinkan Sufyan juga menyebutkan, "Beliau jatuh dari kudanya hingga bagian lambung kananannya terluka. Lalu kami pun menjenguk beliau, tidak lama kemudian masuk waktu shalat, beliau lalu shalat mengimami kami sambil duduk, kemudian kami shalat di belakangnya dengan duduk."

Sekali waktu Sufyan menyebutkan, "Kami shalat dengan duduk. Setalah selesai shalat beliau bersabda:

˝Hanyasanya dijadikannya imam adalah agar diikuti, jika dia takbir maka takbirlah, jika dia rukuk maka rukuklah, jika ia mengangkat kepala maka angkatlah kepala kalian,
dan jika ia mengucapkan ’SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)’, maka ucapkanlah oleh kalian ’RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian)’.
Dan jika dia sujud maka sujudlah kalian˝."

Sufyan berkata, "Apakah begitu yang dibawa oleh Ma'mar?"
Aku jawab, "Ya."
Lalu Sufyan berkata, "Sungguh dia telah menjaga (memelihara) masalah ini."

Az Zuhri berkata, "Segala puji bagi Engkau ya Allah. Sungguh aku masih ingat bahwa beliau terhempas pada bagian kanan lambungnya."

Setelah kami berpisah dari Az Zuhri, Ibnu Juraij berkata, "Saat itu aku ada di sisi beliau, lalu terjatuhlah beliau pada lambung bagian kanannya."
(Hadits Bukhari No. 763)

Keutamaan Sujud
Sa'id bin Al Musayyab dan 'Atha' bin Yazid Al Laitsi bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepada keduanya,

bahwa orang-orang berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat nanti?"

Beliau menjawab: "Apakah kalian dapat membantah (bahwa kalian dapat melihat) bulan pada malam purnama, bila tidak ada awan yang menghalanginya?"
Mereka menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah."

Beliau bertanya lagi: "Apakah kalian dapat membantah (bahwa kalian dapat melihat) matahari, bila tidak ada awan yang menghalanginya?"
Mereka menjawab, "Tidak."

Beliau lantas bersabda: "Sungguh kalian akan dapat melihat-Nya seperti itu juga. Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat, lalu Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman: ˝Barangsiapa menyembah sesuatu, maka ia akan ikut dengannya.˝

Maka di antara mereka ada yang mengikuti matahari, di antara mereka ada yang mengikuti bulan dan di antara mereka ada pula yang mengikuti thaghut-thaghut. Maka tinggallah ummat ini, yang diantaranya ada para munafiknya.

Maka Allah mendatangi mereka dan lalu berfirman: ˝Aku adalah Rabb kalian.˝
Mereka berkata, ˝Inilah tempat kedudukan kami hingga datang Rabb kami. Apabila Rabb kami telah datang pasti kami mengenalnya.˝
Maka Allah mendatangi mereka seraya berfirman: ˝Akulah Rabb kalian.˝

Allah kemudian memanggil mereka, lalu dibentangkanlah Ash Shirath di atas neraka Jahannam. Dan akulah orang yang pertama berhasil melewatinya di antara para Rasul bersama ummatnya. Pada hari itu tidak ada seorangpun yang dapat berbicara kecuali para Rasul, dan ucapan para Rasul adalah: ˝Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.˝

Dan di dalam Jahannam ada besi yang ujungnya bengkok seperti duri Sa'dan (tumbuhan yang berduri tajam). Pernahkah kalian melihat duri Sa'dan?"
Mereka menjawab: "Ya, pernah."

Beliau melanjutkan: "Sungguh dia seperti duri Sa'dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya duri tersebut kecuali Allah. Duri tersebut akan menusuk-nusuk manusia berdasarkan amal amal mereka. Di antara mereka ada yang dikoyak-koyak hingga binasa disebabkan amalnya, ada pula yang dipotong-potong kemudian selamat melewatinya.

Hingga apabila Allah berkehendak memberikan rahmat-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya dari penghuni neraka, maka Allah memerintahkan Malaikat untuk mengeluarkan siapa saja yang pernah menyembah Allah. Maka para Malikat mengeluarkan mereka, yang mereka dikenal berdasarkan tanda bekas-bekas sujud (atsarus sujud).

Dan Allah telah mengharamkan kepada neraka untuk memakan (membakar) atsarus sujud, lalu keluarlah mereka dari neraka. Setiap anak keturunan Adam akan dibakar oleh neraka kecuali mereka yang memiliki atsarus sujud. Maka mereka keluar dalam keadaan sudah hangus terbakar (gosong), lalu mereka disiram dengan air kehidupan kemudian jadilah mereka tumbuh seperti tumbuhnya benih di tepian aliran sungai.

Setelah itu selesailah Allah memutuskan perkara di antara hamba-hambaNya. Dan yang tinggal hanyalah seorang yang berada antara surga dan neraka, dan dia adalah orang terakhir yang memasuki surga di antara penghuni neraka yang berhak memasukinya, dia sedang menghadapkan wajahnya ke neraka seraya berkata, ˝Ya Rabb, palingkanlah wajahku dari neraka! Sungguh anginnya neraka telah meracuni aku dan baranya telah memanggang aku.˝

Lalu Allah berfirman: ˝Apakah seandainya kamu diberi kesempatan kali yang lain kamu tidak akan meminta yang lain lagi?˝
Orang itu menjawab: ˝Tidak, demi kemuliaan-Mu, ya Allah!˝
Maka Allah memberikan kepadanya janji dan ikatan perjanjian sesuai apa yang dikehendati orang tersebut.

Kemudian Allah memalingkan wajah orang tersebut dari neraka. Maka ketika wajahnya dihadapkan kepada surga, dia meliahat taman-taman dan keindahan surga lalu terdiam dengan tertegun sesuai apa yang Allah kehendaki. Kemudian orang itu berkata, ˝Ya Rabb, dekatkan aku ke pintu surga!˝

Allah Azza Wa Jalla berfirman: ˝Bukankah kamu telah berjanji dan mengikat perjanjian untuk tidak meminta sesuatu setelah permintaan kamu sebelumnya?˝
Orang itu menjawab, ˝Ya Rabb, aku tidak mau menjadi ciptaan-Mu yang paling celaka.˝

Allah kembali bertanya: ˝Apakah kamu bila telah diberikan permintaanmu sekarang ini, nantinya kamu tidak akan meminta yang lain lagi?˝
Orang itu menjawab, ˝Tidak, demi kemuliaan-Mu. Aku tidak akan meminta yang lain setelah ini.˝

Maka Rabbnya memberikan kepadanya janji dan ikatan sesuai apa yang dikehendaki orang tersebut. Lalu orang tersebut didekatkan ke pintu surga. Maka manakala orang itu sudah sampai di pintu surga, dia melihat keindahan surga dan taman-taman yang hijau serta kegembiraan yang terdapat didalamnya, orang itu terdiam dengan tertegun sesuai apa yang Allah kehendaki.

Kemudian orang itu berkata, ˝Ya Rabb, masukkanlah aku ke surga!˝
Allah berfirman: ˝Celakalah kamu dari sikap kamu yang tidak menepati janji. Bukankah kamu telah berjanji dan mengikat perjanjian untuk tidak meminta sesuatu setelah kamu diberikan apa yang kamu pinta?˝
Orang itu berkata, ˝Ya Rabb, janganlah Engkau menjadikan aku ciptaan-Mu yang paling celaka.˝

Maka Allah Azza Wa Jalla tertawa mendengarnya. Lalu Allah mengizinkan orang itu memasuki surga. Setelah itu Allah Azza Wa Jalla berfirman: ˝Bayangkanlah!˝

Lalu orang itu membayangkan hingga setelah selesai apa yang ia bayangkan, Allah berfirman kepadanya: ˝Dari sini.˝

Dan demikianlah Rabbnya mengingatkan orang tersebut hingga manakala orang tersebut selesai membayangkan, Allah berfirman lagi: ˝Ini semua untuk kamu dan yang serupa dengannya˝."

Abu Sa'id Al Khudri berkata kepada Abu Hurairah, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Allah berfirman: ˝Ini semua untukmu dan sepuluh macam yang serupa dengannya˝."

Abu Hurairah berkata, "Aku tidak mengingat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kecuali sabdanya: ˝Ini semua untuk kamu dan yang serupa dengannya˝."

Abu Sa'id Al Khudri berkata, "Sungguh aku mendengar Beliau menyebutkan: ˝Ini semua untukmu dan sepuluh macam yang serupa dengannya˝."
(Hadits Bukhari No. 764)

Menampakkan dan Merenggangkan Kedua Lengan Ketika Sujud
dari 'Abdullah bin Malik bin Buhainah,

"bahwa jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat, beliau membentangkan kedua lengannya hingga tampak putih ketiaknya."
(Hadits Bukhari No. 765)

Jika Tidak Menyempurnakan Sujud
dari Abu Wa'il
dari Hudzaifah,

bahwa dia melihat seorang laki-laki shalat namun tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Setelah laki-laki tersebut selesai dari shalatnya, Hudzaifah berkata kepadanya, "Kamu belumlah shalat."

Abu Wail berkata, "Menurutku ia mengatakan, ˝Seandainya engkau mati, maka engkau mati bukan di atas sunnah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam˝."
(Hadits Bukhari No. 766)

Sujud Dengan Tujuh Tulang (Anggota Badan)
dari Ibnu 'Abbas:

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh anggota sujud; muka, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua kaki tidak boleh terhalang oleh rambut atau pakaian."
(Hadits Bukhari No. 767)

Sujud Dengan Tujuh Tulang (Anggota Badan)
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Kami diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud), dan dilarang menahan rambut atau pakaian (sehingga menghalangi anggota sujud)."
(Hadits Bukhari No. 768)

tidak mendahului imam
Al Bara' bin 'Azib -dan dia bukanlah pendusta- bahwa dia berkata,

"Kami pernah shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ketika beliau mengucapkan: ˝SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)˝, tidak seorang pun dari kami yang membungkukkan punggungnya hingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan keningnya di atas tanah."
(Hadits Bukhari No. 769)

Sujud Dengan (Menempelkan) Hidung
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu, ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Aku diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening -beliau lantas memberi isyarat dengan tangannya menunjuk hidung- kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari dari kedua kaki dan tidak boleh menahan rambut atau pakaian (sehingga menghalangi anggota sujud)."
(Hadits Bukhari No. 770)

Sujud Dengan (Menempelkan) Hidung di atas Tanah
dari Abu Salamah berkata,

Aku pergi menemui Abu Sa'id Al Khudri, lalu aku bertanya kepadanya, "Maukah anda pergi bersama kami ke bawah pohon kurma lalu kita berbincang-bincang di sana?"

Ia pun pergi dan bercakap-cakap bersama kami. Aku kemudian berkata, "Ceritakanlah kepadaku apa yang pernah anda dengar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang Lailatul Qadar."

Dia lalu menjelaskan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam yang awal dari Ramadan, dan kami juga ikut beri'tikaf bersama beliau.

Lalu datanglah Malaikat Jibril berkata, ˝Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (pada malam berikutnya).˝
Maka Beliau beri'tikaf pada sepuluh malam pertengahannnya dan kami pun ikut beri'tikaf bersama Beliau.

Kemudian Malaikat Jibril datang lagi dan berkata, ˝Sesungguhnya apa yang kamu cari ada di depan kamu (pada malam berikutnya).˝
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri memberi khuthbah kepada kami pada pagi hari di hari ke dua puluh dari bulan Ramadan, sabdanya:

˝Barangsiapa sudah beri'tikaf bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka pulanglah, karena aku diperlihatkan (dalam mimpi) Lailatul Qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti. Namun dia ada pada sepuluh malam-malam akhir dan pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku sujud di atas tanah dan air (yang becek).˝

Pada masa itu atap masjid masih terbuat dari daun dan pelepah pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatu di atas langit hingga kemudian datang awan dan turunlah air hujan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama kami hingga aku melihat sisa-sisa tanah dan air pada wajah dan ujung hidung Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai bukti kebenaran mimpi beliau."
(Hadits Bukhari No. 771)

Mengikat dan Mengencangkan Pakaian dan Orang Yang Memegangi Bajunya karena Khawatir Auratnya Tersingkap
dari Sahal bin Sa'd berkata,

Orang-orang shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan mengikatkan kain mereka di leher-leher karena kainnya kecil.

Lalu dikatakan kepada Kaum Wanita: "Janganlah kalian mengangkat kepala kalian hingga para laki-laki telah duduk."
(Hadits Bukhari No. 772)

Hendaknya Tidak Menahan Rambut (Supaya Tidak Menghalangi Ketika Sujud)
dari Ibnu 'Abbas berkata,

"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh anggota sujud, tidak boleh mengumpulkan rambutnya atau pakaiannya (sehingga menghalangi anggota sujud)."
(Hadits Bukhari No. 773)

Hendaknya Tidak Menahan Pakaian (Supaya Tidak Menghalangi Ketika Sujud)
dari Ibnu 'Abbas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Aku diperintahkan untuk melaksanakan sujud dengan tujuh anggota sujud, dan dilarang mengumpulkan rambut atau pakaian (sehingga menghalangi anggota sujud)."
(Hadits Bukhari No. 774)

Bacaan Tasbih dan Doa Ketika Sujud
dari 'Aisyah berkata,

"Saat rukuk dan sujud Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memperbanyak membaca do'a:
˝SUBHAANAKALLAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIKA ALLAHUMMAGHFIRLII (Maha suci Engkau wahai Tuhan kami, segala puji bangi-Mu, ya Allah ampunilah aku)˝,
sebagai pengamalan perintah Al Qur'an."
(Hadits Bukhari No. 775)

Diam Diantara Dua Sujud
dari Ayyub
dari Abu Qilabah

dari Malik bin Al Huwairits ia berkata kepada para sahabatnya, "Maukah kalian aku sampaikan cara shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?˝
padahal saat itu bukan pada waktu shalat.

Malik kemudian berdiri lalu rukuk dan bertakbir, kemudian mengangkat kepalanya lalu berdiri dan berdiam sejenak. Kemudian dia sujud, lalu mengangkat kepalanya, lalu (duduk) sejenak. Dia shalat seperti shalatnya 'Amru bin Salamah, guru kita ini."

Ayyub berkata, "Dia mengerjakan sesuatu yang tidak pernah aku lihat orang-orang melakukannya, dia duduk pada setiap akan berdiri ke rakaat ketiga dan keempat. Maka kami menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berdiam di sisi beliau.

Beliau kemudian bersabda: "Jika kalian kembali kepada keluarga kalian, maka shalatlah dengan cara ini pada waktu begini, dan shalat ini pada waktu begini. Jika telah datang waktu shalat maka hendaklah seseorang dari kalian adzan, dan hendaklah yang mengimami shalat adalah yang paling tua di antara kalian."
(Hadits Bukhari No. 776)

Diam Diantara Dua Sujud
dari Al Bara' berkata,

"Sujudnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, rukuk, dan duduknya antara dua sujud semuanya hampir sama (panjangnya)."
(Hadits Bukhari No. 777)

Diam Diantara Dua Sujud
dari Tsabit
dari Anas bin Malik berkata,

"Aku tidak akan segan-segan untuk mencontohkan kepada kalian cara shalat sebagaimana aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melakanakan shalat bersama kami."

Tsabit berkata, "Anas bin Malik mengerjakan sesuatu yang belum pernah aku melihat kalian mengerjakannya. Dia mengangkat kepala dari rukuk lalu berdiri (lama sekali) hingga ada seseorang berkata, ˝Dia lupa˝, dan jika duduk di antara dua sujud dia berdiam lama hingga ada seseorang berkata, ˝Dia lupa˝."
(Hadits Bukhari No. 778)

Tidak Menempelkan Sikut Ke Tanah Ketika Sujud
dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:

"Seimbanglah kalian salam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian membentangkan kedua sikunya sebagaimana anjing membentangkan tangannya."
(Hadits Bukhari No. 779)

Orang yang Duduk Sejenak pada Raka'at Ganjil dalam Shalatnya lalu Berdiri
dari Abu Qilabah berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik bin Al Huwairits AL Laitsi,

"bahwa dia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat, jika sampai pada rakaat yang ganjil, maka beliau tidak bangkit berdiri hingga duduk sejenak."
(Hadits Bukhari No. 780)

Bagaimana Cara Bertopang Di Atas Tanah Ketika Berdiri dari Raka'at
dari Ayyub
dari Abu Qilabah berkata,

Malik bin Al Huwairits datang kepada kami lalu shalat bersama di masjid milik ini, kemudian berkata, "Aku bukan ingin melaksanakan shalat, tapi aku akan menerangkan kepada kalian bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat."

Ayyub berkata, "Lalu aku bertanya kepada Abu Qilabah, "Bagaimana cara shalat dia?"

Abu Qilabah menjawab, "Seperti shalatnya guru (syaikh) kita ini, yaitu 'Amru bin Salamah."

Ayyub berkata, "Guru kita itu selalu menyempurnakan takbir. Dan jika mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua dia duduk di atas tanah, kemudian baru berdiri."
(Hadits Bukhari No. 781)

Membaca Takbir Bersamaan Ketika Bangkit Berdiri dari Dua Sujud
dari Sa'id bin Al Harits berkata,

Abu Sa'id memimpin kami shalat, dia lalu mengeraskan bacaan takbirnya ketika mengangkat kepala dari sujud, ketika mau sujud, ketika mengangkat (kepala dari sujud) dan ketika bangkit berdiri dari rakaat kedua,

setelah itu ia berkata, "Begitulah aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 782)

Membaca Takbir Bersamaan Ketika Bangkit Berdiri dari Dua Sujud
dari Mutharrif berkata,

Aku dan 'Imran pernah shalat di belakang 'Ali bin Abu Thalib radliallahu 'anhu, jika sujud ia bertakbir, jika rukuk ia bertakbir, jika mengangkat (kepala dari sujud) ia bertakbir, jika bangkit berdiri dari rakaat ia juga bertabir.

Selesai salam, 'Imran memegang tanganku lalu berkata, "Sungguh dia telah shalat bersama kita dengan tata cara shalatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam."

Atau dia berkata, "Sungguh dengan shalatnya ini dia telah mengingatkan aku tentang shalatnya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam."
(Hadits Bukhari No. 783)

Sunnahnya Duduk (iftirasy)
dari 'Abdullah bin 'Abdullah ia mengabarkan kepadanya,

bahwa dia pernah melihat 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma mengerjakan shalat dengan cara bersimpuh dengan kedua kakinya ketika duduk. Maka aku juga melakukan hal serupa. Saat itu aku masih berusia muda.

Namun 'Abdullah bin 'Umar melarangku berbuat seperti itu. Ia mengatakan, "Sesungguhnya yang sesuai sunnah adalah kamu menegakkan telapak kakimu yang kanan sedangkan yang kiri kamu masukkan dibawahnya (melipat)."

Aku pun berkata, "Tapi aku melihat anda melakukan hal itu!"
Dia menjawab, "Kakiku tidak mampu."
(Hadits Bukhari No. 784)

Tentang Duduk iftirasy dan Tawarruk dalam shalat
dari Muhammad bin 'Amru bin 'Atha',

bahwasanya dia duduk bersama beberapa orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mereka bercerita tentang shalatnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Maka berkatalah Abu Hamid As Sa'idi, "Aku adalah orang yang paling hafal dengan shalatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, jika shalat aku melihat beliau takbir dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya, jika rukuk maka beliau menempatkan kedua tangannya pada lutut dan meluruskan punggungnya. Jika mengangkat kepalanya, beliau berdiri lurus hingga seluruh tulang punggungnya kembali pada tempatnya semula.

Dan jika sujud maka beliau meletakkan tangannya dengan tidak menempelkan lengannya ke tanah atau badannya, dan dalam posisi sujud itu beliau menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat.

Apabila duduk pada rakaat kedua, beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan. Dan jika duduk pada rakaat terakhir, maka beliau memasukkan kaki kirinya (di bawah kaki kanannya) dan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk pada tempat duduknya."
(Hadits Bukhari No. 785)

Mereka Yang Memandang Tasyahud Awal Bukan Wajib
'Abdurrahman bin Hurmuz mantan budak Bani 'Abdul Muthalib -sekali waktu ia menyebutkan- mantan budak Rabi'ah bin Al Harits,

bahwa 'Abdullah Ibnu Buhainah dia berasal dari suku Azdi Sya'unah, sekutunya Bani 'Abdu Manaf, dan dia adalah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur bersama mereka, lalu beliau berdiri pada dua rakaat yang pertama dan tidak duduk (untuk tasyahud), dan orang-orang ikut berdiri.

Sehingga ketika shalat akan selesai, dan orang-orang menanti salamnya, beliau bertakbir dalam posisi duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam (Sujud Sahwi), setelah itu baru beliau salam."
(Hadits Bukhari No. 786)

Lupa Tahiyat Awal
dari Abdullah bin Malik Ibnu Buhainah berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur bersama kami, lalu beliau berdiri yang semestinya beliau duduk. Kemudian di akhir shalatnya, beliau sujud dua kali dalam posisi duduk."
(Hadits Bukhari No. 787)

Bacaan Doa ketika Tasyahud / Tahiyat
Abdullah berkata,

"Jika kami shalat di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kami membaca: ˝ASSALAAMU 'ALAA JIBRIL WA MIKAA'IL. ASSALAAMU 'ALAA FULAN WA FULAN (Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada malaikat Jibril dan Mika'il, dan semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada si anu dan si anu)˝.

Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menoleh ke arah kami seraya bersabda: "Sesungguhnya Allah, Dialah As-Salaam. Maka jika seseorang dari kalian shalat, hendaklah ia membaca:
˝ATTAHIYYAATU LILLAHI WASHSHALAWAATU WATHTHAYYIBAAT. ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHANNABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH. ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALAA 'IBAADILLAHISH SHAALIHIIN (Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada engkau wahai Nabi dan juga rahmat dan berkah-Nya. Dan juga semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih)˝.

Sesungguhnya jika kalian mengucapkan seperti ini, maka kalian telah mengucapkan salam kepada seluruh hamba Allah yang shalih di langit maupun di bumi. (Dan lanjutkanlah dengan bacaan): ˝ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHU WA RASUULUH (Aku bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya')˝."
(Hadits Bukhari No. 788)

Doa sebelum Salam
dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia telah mengabarkan kepadanya,

bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam shalat membaca do'a: ˝ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MIN 'ADZAABIL QABRI, WA A'UUDZU BIKA MIN FITNATIL MASIIHID DAJJAAL, WA A'UUDZU BIKA MIN FITNATIL MAHYAA WA FITNATIL MAMAAT. ALLAHUMMA INNII A'UUDZU BIKA MINAL MA'TSAMI WAL MAGHRAM
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al Masihid Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan hutang)˝.

Tiba-tiba ada seseorang berkata kepada beliau, "Kenapa tuan banyak meminta perlindungan dari hutang?"
Beliau menjawab, "Sesungguhnya seseorang apabila berhutang dia akan cenderung berkata dusta dan berjanji lalu mengingkarinya."

Jalur Lain
Aisyah radliallahu 'anha berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalatnya meminta perlindungan dari fitnah Dajjal."
(Hadits Bukhari No. 789)

Do'a Sebelum Salam
dari Abu Bakar Ash Shiddiq radliallahu 'anhu,

ia berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Ajarkanlah aku suatu do'a yang bisa aku panjatkan saat shalat!"

Maka Beliau pun berkata: "Bacalah
˝ALLAHUMMA INNII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WA LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUBA ILLAA ANTA FAGHFIRLII MAGHFIRATAN MIN 'INDIKA WARHAMNII INNAKA ANTAL GHAFUURUR RAHIIM
(Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) ˝."
(Hadits Bukhari No. 790)

Memilih Doa Tertentu Setelah Membaca Doa Tasyahud Hukumnya Bukan Wajib
dari 'Abdullah berkata,

Jika kami shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kami mengucapkan:
˝ASSALAAMU 'ALAALLAH MIN 'IBAADIHIS SALAAMU 'ALAA FULAAN WA FULAAN (Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada Allah dari hamba-hamba Nya, dan semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada si anu dan si anu)˝.

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mengucapkan:
˝ASSALAAMU 'ALAALLAH (Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada Allah)˝, karena sesungguhnya Allah, Dialah As-Salaam.

Akan tetapi bacalah:
˝ATTAHIYYAATU LILLAHI WASHSHALAAWAATU WATHTHAYYIBAAT ASSALAAMU 'ALAIKA AYYUHANNABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH ASSALAAMU 'ALAINAA WA 'ALAA 'IBAADILLAHISH SHAALIHIIN
(Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada engkau wahai Nabi dan juga rahmat dan berkah-Nya. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih)˝.

Karena apabila kalian mengucapkan seperti ini, maka berarti kalian telah mengucapkan salam kepada seluruh yang ada di langit atau yang berada di antara langit dan bumi."
(Dan lanjutkanlah dengan bacaan): ˝ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN 'ABDUHU WA RASUULUH (Aku bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)˝.

Lalu ia memilih doa yang paling ia sukai kemudian berdoa dengannya."
(Hadits Bukhari No. 791)

Orang Yang Tidak Mengusap Dahi dan Hidung Setelah Shalatnya Selesai
dari Abu Salamah berkata,

Aku bertanya kepada Abu Sa'id Al Khudri (tentang Lailatul Qadar).

Lalu ia menjawab, "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sujud di atas air dan lumpur hingga aku bisa melihat bekas lumpur itu di dahi beliau."
(Hadits Bukhari No. 792)

Mengucapkan Salam
Ummu Salamah radliallahu 'anha berkata,

"Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan salam, maka seketika selesainya salam beliau itu pula mereka langsung bangkit, sementara beliau berdiam diri sebentar sebelum berdiri."

Ibnu Syihab berkata, "Menurutku -dan hanya Allah yang tahu- beliau melakukan itu agar kaum wanita punya kesempatan untuk pergi sehingga seseorang yang berlalu pulang dari kalangan laki-laki tidak bertemu dengan mereka."
(Hadits Bukhari No. 793)

Mengucapkan Salam Ketika Imam Mengucapkannya
dari 'Itban bin Malik berkata,

"Kami pernah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka kami salam ketika beliau salam."
(Hadits Bukhari No. 794)

Orang Yang Berpendapat Tidak Perlunya Menjawab Salamnya Imam dan Mencukupkannya Sebagai Salam Penutup Shalat
telah mengabarkan kepadaku Mahmud bin Ar Rabi',

dia mengklaim bahwa ia telah membuat perjanjian dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan meminta keberkahan lewat air yang diambil dari sumur yang ada di dalam mereka.

Dia berkata, Aku mendengar 'Itban bin Malik Al Anshari kemudian seseorang dari suku Bani Salim berkata, "Aku pernah memimpin shalat kaumku, Bani Salim. Pada kemudian hari aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu aku berkata kepada beliau, ˝Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang sudah lemah penglihatan sedangkan genangan-genangan dari saluran air sering menghalangi antara aku dan masjid kaumku. Seandainya tuan berkenan, bolehlah tuan datang berkunjung lalu shalat di rumahku pada suatu tempat yang akan aku jadikan masjid.˝

Maka Beliau berkata, ˝Aku akan datang, Insyaallah.˝

Kemudian beliau datang kepadaku bersama Abu Bakar di waktu siang yang terik. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu minta izin masuk dan aku pun mengizinkannya.

Sebelum duduk beliau langsung bersabda: ˝Mana tempat yang kau sukai untuk aku shalat padanya di rumahmu ini?˝

Maka Itban memberi isyarat kepada Beliau tempat yang disukainya supaya Beliau shalat di tempat tersebut. Beliau lalu berdiri shalat dan kamipun berdiri shalat mengatur shaf di belakangnya.

Kemudian Beliau mengakhiri shalat dengan salam, maka kamipun mengucapkan salam setelah Beliau salam."
(Hadits Bukhari No. 795)

Dzikir Setelah Shalat
Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma mengabarkan kepadanya,

bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah orang selesai menunaikan shalat fardhu terjadi di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Ibnu 'Abbas mengatakan, "Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalat itu karena aku mendengarnya."
(Hadits Bukhari No. 796)

Dzikir Setelah Shalat
dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata,

"Aku mengetahui selesainya shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari suara takbir."
(Hadits Bukhari No. 797)

Keutamaan Dzikir Setelah Shalat
dari Abu Hurairah berkata,

Pernah datang para fuqara kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Orang-orang kaya, dengan harta benda mereka itu, mereka mendapatkan kedudukan yang tinggi, juga kenikmatan yang abadi. Karena mereka melaksanakan shalat seperti juga kami melaksanakan shalat. Mereka shaum sebagaimana kami juga shaum. Namun mereka memiliki kelebihan disebabkan harta mereka, sehingga mereka dapat menunaikan ibadah haji dengan harta tersebut, juga dapat melaksnakan umrah bahkan dapat berjihad dan bersedekah."

Maka beliau pun bersabda: "Maukah aku sampaikan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian ambil (sebagai amal ibadah) kalian akan dapat melampaui (derajat) orang-orang yang sudah mengalahkan kalian tersebut, dan tidak akan ada yang dapat mengalahkan kalian dengan amal ini sehingga kalian menjadi yang terbaik di antara kalian dan di tengah-tengah mereka kecuali bila ada orang yang mengerjakan seperti yang kalian amalkan ini.

Yaitu kalian membaca tasbih (Subhaanallah), membaca tahmid (Alhamdulillah) dan membaca takbir (Allahu Akbar) setiap selesai dari shalat sebanyak tiga puluh tiga kali."

Kemudian setelah itu di antara kami terdapat perbedaan pendapat. Di antara kami ada yang berkata, "Kita bertasbih tiga puluh tiga kali, lalu bertahmid tiga puluh tiga kali, lalu bertakbir empat puluh tiga kali."

Kemudian aku kembali menemui Beliau shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu bersabda: "Bacalah ˝Subhaanallah walhamdulillah wallahu Akbar˝ hingga dari itu semuanya berjumlah tiga puluh tiga kali."
(Hadits Bukhari No. 798)

Dzikir Setelah Shalat
dari Warrad penulisnya Al Mughirah bin Syu'bah, berkata,

"Al Mughirah bin Syu'bah meminta aku untuk menulis (hadits) buat dikirim kepada Mu'awiyyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdo'a setiap selesai dari shalat fardhu:

˝LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA 'ALAA KULLI SYAI'IN QADIIR. ALLAHUMMA LAA MAANI'A LIMA A'THAITA WA LAA MU'THIYA LIMA MANA'TA WA LAA YANFA'U DZAL JADDI MINKAL JADDU
(Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang Tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan, dan milik-Nya segala pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan dari apa yang Engkau berikan dan dan tidak ada yang dapat memberi dari apa yang Engkau tahan. Dan tidak bermanfaat kekayaan orang yang kaya di hadapan-Mu sedikitpun)˝."

Jalur Lain
Al Hasan berkata, "Al Jaddu artinya adalah kekayaan."
(Hadits Bukhari No. 799)

Imam Menghadap Makmum Setelah Memberi Salam
dari Samrah bin Jundub berkata,

"Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selesai dari menunaikan shalat, beliau menghadapkan wajahnya ke arah kami."
(Hadits Bukhari No. 800)

Imam Menghadap Makmum Setelah Memberi Salam
dari Zaid bin Khalid Al Juhaini bahwasanya dia berkata,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memimpin kami shalat Shubuh di Hudaibiyyah pada suatu malam sehabis turun hujan.

Setelah selesai Beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda: "Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?"
Orang-orang menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui."

Beliau bersabda: (Allah berfirman): "Di pagi ini ada hamba-hamba Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir.

Orang yang berkata, ˝Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya˝, maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang.

Adapun yang berkata, ˝(Hujan turun disebabkan) bintang ini atau itu˝, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang."
(Hadits Bukhari No. 801)

Imam Menghadap Makmum Setelah Memberi Salam
dari Anas bin Malik berkata,

Pada suatu malam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengakhirkan shalat hingga pertengahan malam, lalu beliau keluar menemui kami (untuk melaksanakan shalat).

Selesai shalat beliau menghadap ke arah kami dan bersabda: "Manusia sudah selesai melaksanakan shalat lalu mereka tidur. Dan kalian akan tetap dalan hitungan shalat selama kalian masih menunggu (pelaksanaan) shalat."
(Hadits Bukhari No. 802)

Imam Berdiam Sejenak Setelah Salam Di Tempat Shalatnya
dari Ummu Salamah,

"bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jika selesai salam, beliau tetap berdiam di tempatnya sejenak."

Ibnu Syihab berkata, "Menurut kami -dan Allah yang lebih tahu-, hal itu agar wanita yang akan pergi punya kesempatan."

Jalur Lain
Ummu Salamah ia berkata, "Ketika beliu salam, para wanita bergegas kembali ke rumah-rumah mereka masing-masing sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beranjak pergi."
(Hadits Bukhari No. 803)

Orang Yang Selesai Memimpin Shalat Jama'ah Lalu Teringat Sesuatu Keperluan Kemudian Berjalan Melangkahi Para Makmum
dari 'Uqbah berkata,

Aku pernah shalat 'Ashar di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di kota Madinah. Setelah salam, tiba-tiba beliau berdiri dengan tergesa-gesa sambil melangkahi leher-leher orang banyak menuju sebagian kamar isteri-isterinya.

Orang-orang pun merasa heran dengan ketergesa-gesaan beliau. Setelah itu beliau keluar kembali menemui orang banyak, dan beliau lihat orang-orang merasa heran.

Maka beliau pun bersabda: "Aku teringat dengan sebatang emas yang ada pada kami. Aku khawatir itu dapat menggangguku, maka aku perintahkan untuk dibagi-bagikan."
(Hadits Bukhari No. 804)

Berpaling dan Beranjak dari Sebelah Kanan atau Kiri
dari Al Aswad berkata

Abdullah berkata, "Janganlah salah seorang dari kalian memberi peluang sedikitpun kepada setan untuk menggangu shalatnya."

Dia berpendapat bahwa tidak boleh seseorang beranjak pergi kecuali dari sebelah kanannya, dan aku melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sering beranjak pergi dari sebelah kirinya.
(Hadits Bukhari No. 805)

« Tentang Bawang Shalat Berjamaah »

Tentang Wudhu
Tentang Mandi
Tentang Haid
Tentang Tayamum
Kitab Shalat
Shalat 5 Waktu
Adzan dan Iqomah
Semua Hadits Shahih BukhariImam Bukhari

PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama