Bersentuhan Kulit Tidak Membatalkan Wudhu

bangpro.xyz – Apakah bersentuhan kulit antara Laki-laki dan Perempuan (Wanita) yang bukan Muhrim membatalkan Wudhu?
bersentuhan kulit bukan muhrim tidak membatalkan wudhu

Para Ulama & 4 mazhab memang berbeda pendapat tentang bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan mahram (termasuk istri), Ada yang berpendapat membatalkan wudhu, ada yang tidak membatalkan wudhu, ada juga membatalkan wudhu jika menggunakan syahwat.

Ternyata akar masalahnya pada kata "menyentuh perempuan" itu maksudnya "menyentuh kulit" ataukah "jima' / bersetubuh"?

Coba Kita kupas dalilnya menurut Al-Quran dan Hadits untuk melihat mana yg paling baik diantara pendapat mereka.

Dalil Menyentuh Perempuan Menurut Al-Quran

Ada 2 Ayat Al-Quran tentang "menyentuh Perempuan" yaitu Surat An-Nissa Ayat 43 dan Al-Maidah Ayat 6, karena Al-Quran Ayat yang 1 dengan lainnya saling melengkapi, alangkah baiknya Kita lihat kedua Ayat ini agar jelas apa maksud tentang Menyentuh Perempuan ini.

Sebelum Kita masuk ke dalilnya yang harus diperhatikan adalah cara bersuci sebelum Sholat, yaitu:
Wudhu (Hadas Kecil),
Mandi (Hadas Besar), dan
Tayamum (Alternatif).
Perhatikan Warnanya!

Q.S Al-Maidah Ayat 6:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَا غْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَ يْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَا فِقِ وَا مْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَ رْجُلَكُمْ اِلَى الْـكَعْبَيْنِ ۗ وَاِ نْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَا طَّهَّرُوْا ۗ وَاِ نْ كُنْتُمْ مَّرْضٰۤى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَآئِطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَا مْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَ يْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗ مَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰـكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَ لِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur."


Untuk lebih jelas Kita klasifikasikan masing-masing cara bersuci berdasarkan kondisinya.
Catatan !
-Kondisi: Keadaan untuk Wudhu, atau Mandi, atau Tayamum.
-Kondisi2: bagian dari Kondisi & digunakan untuk menjelaskan Tayamum dapat menggantikan Wudhu dan Mandi.
-Perintah: yang harus dilakukan jika berada pada Kondisi tersebut.

Wudhu (Hadas Kecil)
KondisiApabila kamu hendak melaksanakan sholat
Kondisi2atau kembali dari tempat buang air (kakus)
Perintahmaka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki

- Kondisi (Wudhu): Apabila kamu hendak melaksanakan sholat
Ini yang menjadi dalil kenapa setiap hendak Sholat 5 waktu dianjurkan melakukan wudhu walaupun wudhunya belum batal. (dianjurkan bukan keharusan)

- Kondisi2 (Wudhu): atau kembali dari tempat buang air (kakus)
Maksudnya buang air (besar/kecil) termasuk kentut membatalkan wudhu.

- Perintah (Wudhu): maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki
ini adalah Dalil rukun wudhu, sedangkan sunnah Nabi Muhammad SAW memulai wudhu dengan mencuci kedua tangan dst.

Baca Juga: Tata Cara Wudhu dan Doanya

Mandi (Hadas Besar)
KondisiJika kamu junub
Kondisi2atau menyentuh perempuan
Perintahmaka mandilah

- Kondisi (Mandi): Jika kamu junub
Sederhananya Junub adalah kondisi seseorang mengalami haid, nifas, dan mengeluarkan air mani (baik mimpi basah atau bersetubuh).

- Kondisi2 (Mandi): atau menyentuh perempuan
Maksudnya Berhubungan badan (bersetubuh) baik keluar mani atau tidak keluar mani (laki-laki dan perempuan) diharuskan mandi.

- Perintah (Mandi): maka mandilah
Nabi Muhammad SAW menjelaskan mandi versi sempurna dengan meratakan air keseluruh tubuh, dll.

Baca Juga: Tata Cara Mandi Wajib dan Doanya

Tayamum (Alternatif untuk Wudhu & Mandi)
KondisiDan jika kamu sakit atau dalam perjalanan
Kondisi2atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air
Perintahmaka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu

- Kondisi (Tayamum): Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan
Dalil bolehnya tayamum saat sakit atau saat bepergian dan berhalangan menggunakan air.

- Perintah (Tayamum): maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu
Baca Juga: Tata Cara Tayamum dan Doanya

- Kondisi2 (Tayamum): atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air

*Potongan Ayat ini menjelaskan jika berhalangan menggunakan air, baik itu untuk Wudhu atau Mandi bisa digantikan dengan Tayamum, lihat tabel dibawah:
Wudhuatau kembali dari tempat buang air (kakus)
Mandiatau menyentuh perempuan
Tayamummaka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci);


*Jika Menyentuh Perempuan membatalkan Wudhu, maka Tayamum hanya untuk pengganti Wudhu saja, lihat tabel dibawah:
Wudhuatau kembali dari tempat buang air (kakus)
Wudhuatau menyentuh perempuan
Tayamummaka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci);


*Jika kata "Menyentuh Perempuan" diartikan sekedar Menyentuh Kulit, Maka pada kata "atau kembali dari tempat buang air (kakus)" berarti (sekedar) masuk ke tempat buang air (wc) membatalkan Wudhu (walaupun tidak berbuat apapun).

Ini bukan Cocokologi, tapi memang Al-Quran menggunakan bahasa yang sangat santun kemudian dijelaskan dalam Hadits, tidak ada dalam Al-Quran terang-terangan menyebutkan Bersetubuh maupun Berhubungan Badan apalagi yang lebih jorok :)

Perhatikan bagaimana Allah SWT berfirman tentang diperbolehkannya berhubungan badan / bersetubuh dengan istri dengan cara apapun yang Kamu Sukai, selama itu baik:
نِسَآ ؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَ نْفُسِكُمْ ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah Ayat 223)


Rasanya kurang kalo kita hanya melihat Al-Maidah Ayat 6 saja, Karena ada 2 Ayat tentang "Menyentuh Perempuan" agar saling melengkapi ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.
(QS. An-Nisa' Ayat 43)
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْـتُمْ سُكَا رٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَا بِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْا ۗ وَاِ نْ كُنْتُمْ مَّرْضٰۤى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَآئِطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَا مْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَ يْدِيْكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَفُوًّا غَفُوْرًا

"Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekadar melewati untuk jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun."


~ Wudhu sebelum Sholat, setelah tidak sadarkan diri
Janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan
ini dalil tambahan yang membatalkan Wudhu seperti: pingsan, mabuk, gila, dan tidur.

~ Mandi sebelum Sholat, ketika Junub
dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekadar melewati untuk jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub)

~ Tayamum dapat menggantikan Wudhu & Mandi
Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air,

~ Perintah Tayamum disebutkan 2x
maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu
Tidak seperti perintah Wudhu dan perintah Mandi yang hanya disebutkan di Surat Al-Maidah Ayat 6 saja, seakan-akan mengisyaratkan keseimbangan:
(2)Tayamum = (1)Wudhu + (1)Mandi.

Kami disini tidak untuk menyalahkan pendapat tentang menyentuh perempuan, Kami hanya berusaha mencari pendapat terbaik, ternyata: "Bersentuhan kulit Laki-laki dan Perempuan" tidak membatalkan Wudhu.

Atau mungkin lebih tepatnya menyentuh perempuan mengharuskan Mandi Wajib/Junub. Menyentuh perempuan disini maksudnya bersetubuh (suami-istri).

Dalil Menyentuh Perempuan Menurut Hadits

Jika benar Ayat Al-Quran tentang "Menyentuh Perempuan" maksudnya adalah "bersetubuh (suami-istri)", maka seharusnya Hadits akan mendukungnya. Bukankah itu tugasnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulallah untuk menjelaskan Al-Quran?
وَمَاۤ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْـكِتٰبَ اِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اخْتَلَـفُوْا فِيْهِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

"Dan Kami tidak menurunkan Kitab (Al-Qur'an) ini kepadamu (Muhammad), melainkan agar engkau dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu, serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. An-Nahl Ayat 64)


Ada banyak hadist yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW Sholat malam memegang kaki Aisyah ketika Sujud:
dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata, "Aku pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sementara kedua kakiku di arah Qiblat (shalatnya). Jika sujud beliau menyentuh kakiku, maka aku tarik kedua kakiku. Dan jika berdiri aku kembali meluruskan kakiku." 'Aisyah berkata, "Pada saat itu di rumah-rumah belum ada lampu penerang." [Al-Bukhari:369] [Muslim:796] [Abu-Dawud:612] [An-Nasai:168]


Bunda Aisyah adalah sosok yang cerdas, dia menambahkan keterangan dalam keadaan gelap, dan tidak disebutkan menggunakan selimut / kain pembatas.

Ini cukup memberi jawaban untuk pertanyaan, Apakah terdapat Kain penghalang saat Rasulallah Menyentuh Kaki Aisyah?
Insyaallah tidak ada kain penghalang, karena dia tidak menyebutkan ada kain penghalang (hanya memberi keterangan keadaannya gelap).

Dalam Kasus yang lebih ekstrim daripada bersentuhan kulit, Rasulallah pernah diriwayatkan mencium Aisyah Lalu Sholat tanpa berwudhu lagi:
Aisyah berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mencium sebagian isterinya kemudian pergi shalat tanpa berwudlu dahulu, "
Aku berkata, "Bukankah yang beliau cium engkau sendiri?."
Aisyah pun tertawa. [Ibnu-Majah:495] [An-Nasai:170] [At-Tirmidzi:79]


Sekali lagi tulisan ini bukan untuk mencerca kaum yang meyakini bersentuhan kulit lawan jenis yang bukan muhrim membatalkan Wudhu.

Menjaga jarak dengan lawan jenis yang bukan muhrim untuk menjauhi zina itu baik, pikirkanlah untuk menghilangkan ketakutan, menjaga jarak berlebihan karena takut batal wudhunya kalau bersentuhan kulit dengan lawan jenis apalagi suami/istri yang seharusnya penuh kasih sayang.

Dan ingatlah kalimat terakhir surat Al-Maidah Ayat:6
"Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur."
PROxyz

Sesungguhnya diantara orang-orang yang mengetahui ada yang lebih mengetahui. (Wallahu alam) facebook twitter pinterest

Jangan ragu gunakan Komentar jika ada kesalahan informasi, agar dapat segera Kami perbaiki.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama